Sebuah cerita pendek menyongsong Kopi darat Forum academia NTT akhir maret nanti
Oleh : Olyvianus Dadi Lado
Suatu pagi di hari selasa (09/3), Ale Mesak Lewedalu sudah bangun sejak jam enam di kos-nya, pagi ini tugasnya di warung internet (warnet) menggantikan Jener temannya yang bertugas semalam suntuk. Ia seorang anak muda dari Kisar-Maluku Tenggara.
Jam delapan, ia sudah menuju Unum Net, nama warnet tempat ia bekerja. Unum Net adalah sebuah warnet milik CIS Timor, ia hadir sebagai tempat belajar berwira usaha, selain itu sebagai sebuah LSM lokal yang sudah hampir sepuluh tahun berdiri, CIS masih bergantung sepenuhnya pada donorship. Ini sebuah usaha awal untuk membangun kemandirian.
Unum Net terletak di jalan Timor Raya sekitar 50 meter dari pertigaan Oesapa-Kupang-Penfui. Sebuah bilik kecil berukuran 5x4 meter persegi yang disewa selama lima tahun untuk keperluan usaha ini. Modal awalnya juga masih berupa pinjaman. Memiliki delapan unit komputer untuk client dan satu unit sebagai server, beroperasi 24 jam seminggu dengan tarif Rp. 4500 per jam, selama bulan pertama pelanggan diberi pemotongan 20% bagian dari promosi. Ia dibuka sejak tanggal 02 Maret lalu. Seminggu beroperasi Unum Net rata-rata menghasilkan Rp. 650.000,- atau setiap hari menghasilkan Rp. 92.857, setiap jamnya diasumsikan menghasilkan Rp. 3.869,- (perhitungan bersih setelah potongan 20% per jam selama sebulan promosi)
Setibanya di Unum Net, “Bos listrik mati,” kata Jener Bana setelah membukakan pintu warnet. Jener adalah seorang pemuda asal SoE, ia baru saja tamat dari Fakultas Teknik dan Science Universitas Nusa Cendana.
“Ahhhhhhhhhhh...PLN pukara’a dong ni..” umpat Ale, “Kamarin dulu malam mati...masa ini pagi mati lai.” Senyum sejak berangkat dari kos dibibirnya yang hitam akibat kebanyakan rokok itu hilang.
Ia kesal karena sejak warnet beroperasi, sudah tiga kali mati, padahal belum sebulan.
“Karmana mau kas kambali utang cepat kalo model bagini tarusss,” keluhnya.
“Ho PLN ni sakarang mati su sambarang sa...kapan mau mati na mati sonde pake giliran lai,” kata Jener. “Katong yang di Oesapa deng Penfui mati tarus-tarus sa.. su bagitu lama lai.”
Ale dan Jener pantas kesal karena untuk membuka usaha ini pinjaman untuk modal awal mencapai 50-an juta rupiah. Menurut perhitungannya jika berjalan normal maka dalam satu setengah tahun sudah kembali modal awal.
Karena tak bisa beroperasi, mereka memutuskan pergi ke posko CIS Timor di Walikota.
Olkes terkejut melihat mereka berdua muncul di ruang media sepagi itu. “Sapa yang jaga warnet?” tanya Olkes
“Listrik mati na ka. Jadi katong datang sini sa dari pada tanganga di sana,” jawab Jener.
Olkes adalah koordinator unit media di CIS Timor, Unum Net ada dalam tanggungjawabnya.
Jener dan Ale duduk tak jauh dari meja kerja Olkes. “Jadi kermana su ni kaka?” tanya Ale.
“Mau kermana lai ko ais listrik mati bagitu,” jawab Olkes. “Ais komputer dong aman ko?”
“Aman ka’. Tapi kalo bagini tarus bisa lewat e..” jawab Ale (lewat : rusak)
“Nah nanti katong usaha satu UPS sa untuk taro di server pung,” kata Olkes. “Beta yang nanti omong deng om Win ko ame UPS satu dari posko Atambua pung taro tahan di warnet.” (om Win adalah nama panggilan Winston Rondo ia direktur CIS Timor; UPS : alat untuk penyimpan energi listrik sementara).
“Iya kaka itu perlu karna sama ke kapan hari mati tiba-tiba tu..katong sonde tau orang su pake brapa lama, akhirnya katong kas farei sa su ma,” timpal Jener.
“Ho e.. nanti katong tambah rugi lai tu ma kalo sonde pake UPS,” sambung Ale pula.
Theo Wetangterah yang baru selesai mengambil segelas kopi di dapur ikut nimbrung, “Iyo yang mati kapan malam tu...pung lama lai, ada hampir empat jam ko, beta sampe pamalas tunggu.” Theo juga anggota bagian media, kadang ia membantu menjaga warnet pada malam hari karena kos-nya tak jauh dari warnet.
Kegelisahan yang dialami keempatnya bukan tak mungkin juga dialami oleh banyak pengusaha kecil yang mengandalkan listrik sebagai sumber energinya. Maklum mereka tak mampu mengadakan generator laiknya para pengusaha besar. Pada hal perputaran uang dalam kota Kupang banyak andilnya dari para pengusaha kecil ini.
Saya berandai dalam sebulan jika berjalan normal, Unum Net mungkin bisa menghasilkan 150-200 ribu perhari atau sebulannya Rp.4.500.000 sampai Rp. 6.000.000,-. Dikurangi dengan ongkos sewa provider speedy sebesar dua juta-an, biaya listrik dan air plus honor dua orang karyawan dan pajak, keuntungan bersihnya berkisar satu sampai dua juta rupiah.
Sayangnya situasi tak berjalan normal, lebih parahnya lagi tak tahu sampai kapan situasi tak normal ini akan berlangsung.
Theo, Ale, Jener dan Olkes hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menghembuskan nafas sekeras mungkin seolah dapat mengusir bayangan utang dalam kepala mereka.
Monday, March 16, 2009
Saturday, August 30, 2008
'Tamu Kehormatan' di Jatilaran
'Tamu Kehormatan' di Jatilaran
“Kami terima kamu sebagai seorang perempuan cantik di rumah kami...”
Oleh : Olkes Dadi Lado
Suatu sore pada awal Mei lalu di permukiman mandiri Jati Laran, sinar matahari sudah mulai pudar menyisakan semburat jingga di ufuk barat langit.
Tujuh orang perempuan tua berpakaian adat lengkap dengan segala aksesorisnya duduk di atas sebuah tikar yang digelar di tengah-tengah permukiman, di belakang mereka ada sekelompok bapak-bapak yang juga duduk dengan penuh khidmat, seolah menanti kedatangan tamu terhormat . Suasana hening, degup jantung serasa makin cepat.
Di antara mereka bertujuh yang tertua adalah Martina Da Costa dan Francelina Baros. Kedua nenek inilah yang duduk dibarisan depan. Mereka menghadap ke moncong sebuah pipa besi berukuran satu dime. Sebuah tempat sirih terbuat dari anyaman daun tuak yang bermotif dan berwarna-warni diletakan tak jauh dari moncong pipa itu.
Detik demi detik...mereka terus menunggu, degup jantung serasa semakin kencang berdetak, hingga pada suatu saat dari moncong pipa itu keluar aliran air yang mengucur kian lama kian keras.
Dari mulut lima perempuan tua itu keluarlah ungkapan-ungkapan dalam bahasa Mambai, “Kami terima kamu sebagai seorang perempuan cantik di rumah kami. Kami minta supaya kamu tinggal bersama-sama dengan kami sampai selama-lamanya dan beri kami makan dan minum, beri kami hidup, rawat kami dan beri kami hidup baik.”
Mereka lalu menyodorkan tempat sirih yang sudah diisi dengan sirih, pinang dan kapur sebagai tanda penghormatan dan selamat datang bagi tamu kehormatan yang telah ditunggu-tunggu itu.
Tamu kehormatan itu adalah air. “Be ne mak bele halo ami moris*,” kata Lemos De Jesus, ia seorang lelaki peruh baya, bertubuh pendek. Nama sebenarnya adalah Lemos De Deus entah mengapa nama di KTP-nya berubah menjadi De Jesus. Ia biasa dipanggil bapak Lemos, ia adalah koordinator 18 warga baru penghuni permukiman Jati Laran. Ia mengatakan kepada saya kemudian dalam suatu wawancara pada minggu kedua Juni lalu, Air bagi mereka berarti Hidup, “Be la iha, ita mate e**,” tegasnya. (*Air ini yang bisa membuat kami bisa hidup, **Air tak ada, kita mati : bahasa tetum) “Maka itu kita harus terima dengan adat,” ujarnya.
Lima perempuan tua yang dipilih untuk menyambut masuknya air ke lokasi itu juga adalah yang sudah berusia lanjut, “Karena perempuan itu adalah tuan rumah jadi mereka yang harus menerima e,” jelasnya soal acara adat penyambutan saat air mengalir masuk ke lokasi mereka. Pergumulannya sejak pertama kali melihat lokasi itu terjawab sudah.
Lemos de Jesus mengaku satu hal yang menjadi beban pikiran bagi dia dan komunitasnya ketika memutuskan untuk pindah ke Jati Laran adalah masalah ketersediaan air bersih. “Waktu saya datang di sini, saya duduk-duduk, -lalu-saya pikir bagaimana supaya bisa dapat air di sini,” kata Lemos.
Memang sangat sulit karena letaknya yang berada di punggung bukit yang lumayan curam dan berbatu makanya sangat sukar jika harus dibikinkan sebuah sumur di situ.
***
Permukiman Jati Laran adalah sebuah permukiman warga baru yang sudah ada sejak tahun 2005-2006. Lemos De Jesus dan komunitasnya pindah ke sana pada tahun lalu. Mereka berhasil membeli lahan di lereng bukit yang penuh dengan pohon jati itu seharga enam juta rupiah.
Permukiman ini secara administratif masuk dalam wilayah dusun IV Rt 09 desa Lakekun Barat. Terletak di sebelah kiri jalan menuju Metamauk. Dari tepi jalan permukiman ini sudah bisa terlihat jelas karena letaknya yang berada di ketinggian. Jalan masuk ke sana sekitar seratusan meter jauhnya namun cukup curam sehingga bisa dipastikan jika berjalan kaki maka nafas kita akan tersengal dan sudah pasti berkeringat.
Kelompok ini merupakan salah satu kelompok penerima bantuan bahan bangunan rumah dalam kegiatan Shelter proyek ATUP II yang dibiayai Uni Eropa dan Oxfam GB. Mereka didampingi oleh CIS Timor sebagai mitra lokal Oxfam GB Timor Barat.
Selain rumah sebanyak 18 unit, mereka juga mendapatkan dukungan bibit ternak kambing dari kegiatan peningkatan ketahanan pangan serta pembangunan sarana air bersih dan sanitasi lingkungan juga dilakukan kegiatan penyuluhan kesehatan umum bagi para warga.
Awalnya lokasi ini tidak masuk dalam lokasi target kegiatan pembangunan sarana air bersih karena dari rencana awal berupa sumur ternyata sulit maka lokasi ini kemudian dicoret. Tapi Lemos De Jesus dan komunitasnya tidak berputus asa, setiap hari saat bertemu dengan staf lapangan CIS Timor, mereka selalu mengajak diskusi untuk memecahkan masalah air. Tak segan-segan mereka juga pergi ke kantor program CIS Timor di Betun.
Mereka lalu teringat akan sebuah sumber air yang mereka temukan tak sengaja setahun yang lalu, “Kami dulu kan masih pergi pulang untuk urus tanah di sini. Nah kalo tidak ada uang kami jalan kaki saja ikut belakang ini. Jalan potong, waktu itu kami ada lihat mata air” kata Lemos. Rupanya di hutan Jati di belakang bukit itu terdapat jalan pintas menuju Numponi. Lemos dan komunitasnya dulu tinggal di sebuah kamp darurat di desa Numponi, tepatnya di cabang Koloweuk. Sumber air itu kemudian diinformasikan ke tim Watsan CIS Timor. Bersama-sama dengan Lemos dan beberapa bapak-bapak dari kelompok ini, Adi Tuaty, koordinator teknisi CIS Timor di Betun pergi melihat sumber air itu. Setelah melihat sumber air dan topografi sekitar serta memperkirakan jaraknya ke lokasi, Adi menemukan bahwa yang bisa dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan air bersih bagi 18 keluarga itu adalah dengan membangun jaringan pipa. Masalah barupun muncul, apakah debit air itu cukup untuk dialirkan sampai ke permukiman?
Pertanyaan itu mengemuka dalam pikiran Adi, ia lalu meminta Lemos dan kawan-kawannya untuk mencoba membendung air itu secara sederhana menggunakan lumpur. Setelah dilihat hasilnya, berdasarkan pengalamannya selama ini, ia menaksir debit air itu cukup besar. Selesai masalah itu, muncul pula masalah lainnya lagi. Jati Laran bukan lagi target intervensi Watsan, kalaupun belum dicoret ia bukan lokasi yang dintervensi dengan pembangunan jaringan pipa, hanya tiga lokasi saja yakni Molosoan I, II dan Namfalus.
“Beta ke Atambua ketemu dengan Nona Lina, katong dua mulai diskusi dan cari cara supaya bisa dapat celah untuk bantu di Jati Laran, karena setelah kita usulkan ke Oxfam, sudah tidak ada lagi budget untuk itu,” kata Adi Tuaty kepada saya. Nona Lina adalah koordinator teknisi Watsan CIS Timor dalam proyek ATUP II.
Akhirnya jalan keluar itupun mereka dapatkan, dengan menggunakan sisa-sisa material watsan dan pipa-pipa sisa dari proyek ATUP I, maka jaringan pipa air bersih sepanjang 500 meter di Jati Laran bisa dimungkinkan.
Salah satu alasan kuat yang membuat Adi Tuaty dan timnya membantu memperjuangkan hadirnya sarana air bersih di Jati Laran adalah di lokasi itu hanya terdapat sebuah sumur yang terletak di permukiman sebelah bawah tepat di pinggir jalan besar.
Sumur itu yang menjadi sumber air bagi 60 keluarga termasuk 18 keluarga Lemos dan komunitasnya, juga letak sumur yang berada di bawah sekalipun jaraknya masih ada dalam toleransi standar sphere tapi sangat menyulitkan bagi kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak yang pergi mengambil air karena harus berjalan mendaki dengan membawa beban berat.
Namun tantangan belum selesai, sumber air terletak di luar lahan yang dibeli lemos dan kawan-kawan. Ia berada di dalam kawasan hutan jati milik desa Lakekun Barat, maka ijin dari pemerintah desa dan tokoh adat-pun harus mereka kantongi sebelum pembangunan jaringan pipa itu dilakukan. Lemos dan tetua dalam komunitas itu kemudian berkonsultasi dengan pemerintah desa, mereka menemui kepala desa dan tokoh adat desa Lakekun Barat untuk meminta ijin, “Kami pergi ketemu dan minta juga di tuan air itu,” kata Lemos.
Tuan air yang dimaksud adalah orang yang pertama kali menemukan sumber air itu dan merawatnya. “Waktu kami ketemu mata air itu kami lihat ada pagar, juga ada pohon tempat orang buat adat di situ jadi pasti ada orang yang lebih dulu ketemu dan jaga itu air e..,” jelasnya lanjut.
Ternyata tak ada keberatan dari pihak-pihak itu. Bahkan mereka menyambut baik jika ada yang hendak membangun jaringan pipa dari sumber air itu ke permukiman dengan syarat harus diadakan upacara adat di sumber air itu sebelum mulai melakukan pekerjaan dan setiap tahun secara rutin mereka harus mengundang ‘Tuan Air’ untuk memimpin upacara adat di situ.
Setelah beres semua perijinan, pada 04 Mei 2008 dilakukanlah upacara adat di sumber air yang terletak di tengah –tengah hutan di atas bukit itu. Darah seekor kambing dan seekor babi mengucur membasahi tanah di sekitar sumber air sebagai tanda penghargaan dan penghormatan kepada alam maka mulailah pekerjaan pembangunan jaringan pipa itu dilakukan.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah membangun lebih dahulu bak penampungan utama karena sumber air itu ada dua. Satunya terletak di ujung bak, satunya lagi dekat sebatang pohon kesambi yang jadi tempat dilangsungkannya ritus adat. Dari kedua sumber air yang berbentuk sumur kecil itulah air meresap ke dalam tanah dan mengalir ke bak yang dibangun agak ke bawah. Setelah itu barulah jaringan pipa siap untuk dipasang.
Jaringan pipa sepanjang 500 meter itu bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan apalagi jaringan pipa itu harus melalui lekukan-lekukan tanah di sepanjang bukit Jati Laran.
Pemasangan jaringan pipa sendiri memakan waktu tiga hari. Hari pertama, dengan penuh percaya diri dibawah bimbingan Adi, mereka memasang pipa dari dari bak penampung utama.
Saat mencoba aliran air dengan memasang pipa kecil airnya langsung mengalir maka giranglah hati semua orang yang ada saat itu. Mereka kemudian mencoba mengganti dengan pipa yang lebih besar diameternya, “Waktu ganti pipa besar, air sonde jalan,” kata Adi pada saya di rumah Lemos De Jesus, pada suatu siang di minggu kedua Juni lalu. Lemos dan beberapa bapak yang ada saat itu ikut menganggukan kepala mengiyakan.
“Semua heran. Periksa sana-sini sonde ada yang tasumbat. Dudukan –pipa- juga sonde berubah. Su coba kasi turun ju sama sa,” kata Adi.
Semuanya bingung. Hampir seharian mereka hanya duduk dan bingung memikirkan hal itu. Hari sudah sore barulah mereka menemukan sumber masalahnya. “Ternyata ada anak-anak dong yang mandi di mata air,” kata Lemos menyambung penjelasan Adi.
Setelah ditimbang-timbang mereka meyakini bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap upacara adat yang sudah di buat maka diutuslah Martino Pereira, salah seorang tetua di situ untuk melakukan acara adat, ia meminta maaf dalam bahasa Mambai di sumber air itu. Barulah air mulai mengalir memasuki pipa tadi.
Hari kedua, ketika jalur pipa itu mulai terpasang hampir setengahnya, timbul-lah percekcokan antara Adi dan Lemos. Keduanya bertengkar hebat mengenai jalur mana yang harus dilalui oleh pipa itu.
Lemos menginginkan agar jalur pipa itu langsung lurus saja menuju ke lokasi, Adi mengusulkan agar digeser sedikit ke bawah agak melingkari gundukan melalui arah bawah barulah dibelokan ke lokasi. “Saya tidak mau e..saya pikir nanti pipa itu masuk di lokasi bawah. Saya mau langsung di kami pung lokasi,” ujar Lemos menjelaskan alasannya saat itu.
Pertengkaran itu semakin memanas hingga akhirnya Adi mulai mengalah ketika mendengar perkataan terakhir Lemos De Jesus, “Kalo begitu biar batal saja. Kita tidak usah kerja lagi,” kata Lemos tak mau kalah.
Lemos dan kawan-kawanya melanjutkan pemasangan pipa mengikuti jalur yang ia usulkan. Jalur itu memang sedikit lebih pendek namun ia harus melewati sebuah gundukan yang lumayan tinggi sebelum sampai ke permukiman.
Alhasil pipa yang sudah dipasang itu tak mengeluarkan air sedikitpun. Lemos lemas melihat itu, ia tersentak.
“Wah ternyata pak Adi pung -pendapat- yang benar. Memang dasar kita orang bodoh ini maunya ikut kita pung padahal air tidak keluar,” ujarnya saat itu.
Sementara itu, Adi yang sudah pulang, sepanjang malam terus gelisah. Ia gelisah karena ia sangat yakin jika mengikuti usulan Lemos maka air tak akan bisa mengalir sampai ke lokasi. “Sepanjang malam beta tidur sonde tenang. Beta kuatir sekali kalo air di Jati Laran sonde jadi maka beta pung pengalaman selama ini sonde ada artinya dan beta akan malu sekali. Beta hanya bisa berdoa sa harap supaya air bisa sampai ke lokasi” cerita Adi pada saya diatas motor dalam perjalanan pulang dari lokasi.
Pada hari ketiga, Lemos yang sudah menyadari kesalahannya kembali mengubah jalur pipa sesuai anjuran Adi. Sepanjang pagi hingga siang mereka habiskan dengan bongkar pasang pipa sepanjang 500 meter itu. Menjelang sore pipa itu mulai memasuki lokasi permukiman membawa tamu kehormatan yang telah dinanti-nantikan dan disambut dengan upacara adat. Hari itu tepat pada tanggal 08 Mei 2008. Lemos De Jesus yang selalu gelisah soal ketersediaan air bersih akhirnya bisa bernapas lega saat melihat percikan air yang mengalir keluar dari moncong pipa sore itu.
“Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa akhirnya kami bisa dapat air. Kami terima kasih juga kepada Tuhan karena bisa bantu kami lewat Uni Eropa, Oxfam dan CIS yang turun langsung ke sini,” kata Lemos, matanya berkaca-kaca mengenang saat pertama kali air yang dianggap sebagai seorang perempuan yang cantik, sebagai seorang ibu, sebagai seorang tamu kehormatan itu tiba di lokasi mereka.
***
Kini ‘tamu kehormatan’ itu menempati sebuah bak air berkapasitas 2500 liter dan terus mengalir tak henti-hentinya. Hingga saat wawancara saya dengan-nya pada 12 Juni 2008 lalu, “Kami sudah pake air ini selama satu bulan,” kata Lemos De Jesus tersenyum lebar.

catatan :
Foto 1, oleh Buce Ga : Seorang anak gadis warga baru eks Timor Timur penghuni permukiman baru Jatilaran sedang mengambil air untuk kebutuhan keluarganya dari jaringan pipa yang belum selesai dikerjakan.
Foto 2, oleh Olkes : permukiman baru Jatilaran dilihat dari tepi jalan raya.
Beta : Saya (bahasa Kupang)
Katong : Kami
Dong : dorang atau mereka
Kalo : Kalau
Kasi : beri
Sa : saja
Ju : Juga
Tasumbat : tersumbat
Pung : punya
“Kami terima kamu sebagai seorang perempuan cantik di rumah kami...”
Oleh : Olkes Dadi Lado
Suatu sore pada awal Mei lalu di permukiman mandiri Jati Laran, sinar matahari sudah mulai pudar menyisakan semburat jingga di ufuk barat langit. Tujuh orang perempuan tua berpakaian adat lengkap dengan segala aksesorisnya duduk di atas sebuah tikar yang digelar di tengah-tengah permukiman, di belakang mereka ada sekelompok bapak-bapak yang juga duduk dengan penuh khidmat, seolah menanti kedatangan tamu terhormat . Suasana hening, degup jantung serasa makin cepat.
Di antara mereka bertujuh yang tertua adalah Martina Da Costa dan Francelina Baros. Kedua nenek inilah yang duduk dibarisan depan. Mereka menghadap ke moncong sebuah pipa besi berukuran satu dime. Sebuah tempat sirih terbuat dari anyaman daun tuak yang bermotif dan berwarna-warni diletakan tak jauh dari moncong pipa itu.
Detik demi detik...mereka terus menunggu, degup jantung serasa semakin kencang berdetak, hingga pada suatu saat dari moncong pipa itu keluar aliran air yang mengucur kian lama kian keras.
Dari mulut lima perempuan tua itu keluarlah ungkapan-ungkapan dalam bahasa Mambai, “Kami terima kamu sebagai seorang perempuan cantik di rumah kami. Kami minta supaya kamu tinggal bersama-sama dengan kami sampai selama-lamanya dan beri kami makan dan minum, beri kami hidup, rawat kami dan beri kami hidup baik.”
Mereka lalu menyodorkan tempat sirih yang sudah diisi dengan sirih, pinang dan kapur sebagai tanda penghormatan dan selamat datang bagi tamu kehormatan yang telah ditunggu-tunggu itu.
Tamu kehormatan itu adalah air. “Be ne mak bele halo ami moris*,” kata Lemos De Jesus, ia seorang lelaki peruh baya, bertubuh pendek. Nama sebenarnya adalah Lemos De Deus entah mengapa nama di KTP-nya berubah menjadi De Jesus. Ia biasa dipanggil bapak Lemos, ia adalah koordinator 18 warga baru penghuni permukiman Jati Laran. Ia mengatakan kepada saya kemudian dalam suatu wawancara pada minggu kedua Juni lalu, Air bagi mereka berarti Hidup, “Be la iha, ita mate e**,” tegasnya. (*Air ini yang bisa membuat kami bisa hidup, **Air tak ada, kita mati : bahasa tetum) “Maka itu kita harus terima dengan adat,” ujarnya.
Lima perempuan tua yang dipilih untuk menyambut masuknya air ke lokasi itu juga adalah yang sudah berusia lanjut, “Karena perempuan itu adalah tuan rumah jadi mereka yang harus menerima e,” jelasnya soal acara adat penyambutan saat air mengalir masuk ke lokasi mereka. Pergumulannya sejak pertama kali melihat lokasi itu terjawab sudah.
Lemos de Jesus mengaku satu hal yang menjadi beban pikiran bagi dia dan komunitasnya ketika memutuskan untuk pindah ke Jati Laran adalah masalah ketersediaan air bersih. “Waktu saya datang di sini, saya duduk-duduk, -lalu-saya pikir bagaimana supaya bisa dapat air di sini,” kata Lemos.
Memang sangat sulit karena letaknya yang berada di punggung bukit yang lumayan curam dan berbatu makanya sangat sukar jika harus dibikinkan sebuah sumur di situ.
***
Permukiman ini secara administratif masuk dalam wilayah dusun IV Rt 09 desa Lakekun Barat. Terletak di sebelah kiri jalan menuju Metamauk. Dari tepi jalan permukiman ini sudah bisa terlihat jelas karena letaknya yang berada di ketinggian. Jalan masuk ke sana sekitar seratusan meter jauhnya namun cukup curam sehingga bisa dipastikan jika berjalan kaki maka nafas kita akan tersengal dan sudah pasti berkeringat.
Kelompok ini merupakan salah satu kelompok penerima bantuan bahan bangunan rumah dalam kegiatan Shelter proyek ATUP II yang dibiayai Uni Eropa dan Oxfam GB. Mereka didampingi oleh CIS Timor sebagai mitra lokal Oxfam GB Timor Barat.
Selain rumah sebanyak 18 unit, mereka juga mendapatkan dukungan bibit ternak kambing dari kegiatan peningkatan ketahanan pangan serta pembangunan sarana air bersih dan sanitasi lingkungan juga dilakukan kegiatan penyuluhan kesehatan umum bagi para warga.
Awalnya lokasi ini tidak masuk dalam lokasi target kegiatan pembangunan sarana air bersih karena dari rencana awal berupa sumur ternyata sulit maka lokasi ini kemudian dicoret. Tapi Lemos De Jesus dan komunitasnya tidak berputus asa, setiap hari saat bertemu dengan staf lapangan CIS Timor, mereka selalu mengajak diskusi untuk memecahkan masalah air. Tak segan-segan mereka juga pergi ke kantor program CIS Timor di Betun.
Mereka lalu teringat akan sebuah sumber air yang mereka temukan tak sengaja setahun yang lalu, “Kami dulu kan masih pergi pulang untuk urus tanah di sini. Nah kalo tidak ada uang kami jalan kaki saja ikut belakang ini. Jalan potong, waktu itu kami ada lihat mata air” kata Lemos. Rupanya di hutan Jati di belakang bukit itu terdapat jalan pintas menuju Numponi. Lemos dan komunitasnya dulu tinggal di sebuah kamp darurat di desa Numponi, tepatnya di cabang Koloweuk. Sumber air itu kemudian diinformasikan ke tim Watsan CIS Timor. Bersama-sama dengan Lemos dan beberapa bapak-bapak dari kelompok ini, Adi Tuaty, koordinator teknisi CIS Timor di Betun pergi melihat sumber air itu. Setelah melihat sumber air dan topografi sekitar serta memperkirakan jaraknya ke lokasi, Adi menemukan bahwa yang bisa dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan air bersih bagi 18 keluarga itu adalah dengan membangun jaringan pipa. Masalah barupun muncul, apakah debit air itu cukup untuk dialirkan sampai ke permukiman?
Pertanyaan itu mengemuka dalam pikiran Adi, ia lalu meminta Lemos dan kawan-kawannya untuk mencoba membendung air itu secara sederhana menggunakan lumpur. Setelah dilihat hasilnya, berdasarkan pengalamannya selama ini, ia menaksir debit air itu cukup besar. Selesai masalah itu, muncul pula masalah lainnya lagi. Jati Laran bukan lagi target intervensi Watsan, kalaupun belum dicoret ia bukan lokasi yang dintervensi dengan pembangunan jaringan pipa, hanya tiga lokasi saja yakni Molosoan I, II dan Namfalus.
“Beta ke Atambua ketemu dengan Nona Lina, katong dua mulai diskusi dan cari cara supaya bisa dapat celah untuk bantu di Jati Laran, karena setelah kita usulkan ke Oxfam, sudah tidak ada lagi budget untuk itu,” kata Adi Tuaty kepada saya. Nona Lina adalah koordinator teknisi Watsan CIS Timor dalam proyek ATUP II.
Akhirnya jalan keluar itupun mereka dapatkan, dengan menggunakan sisa-sisa material watsan dan pipa-pipa sisa dari proyek ATUP I, maka jaringan pipa air bersih sepanjang 500 meter di Jati Laran bisa dimungkinkan.
Salah satu alasan kuat yang membuat Adi Tuaty dan timnya membantu memperjuangkan hadirnya sarana air bersih di Jati Laran adalah di lokasi itu hanya terdapat sebuah sumur yang terletak di permukiman sebelah bawah tepat di pinggir jalan besar.
Sumur itu yang menjadi sumber air bagi 60 keluarga termasuk 18 keluarga Lemos dan komunitasnya, juga letak sumur yang berada di bawah sekalipun jaraknya masih ada dalam toleransi standar sphere tapi sangat menyulitkan bagi kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak yang pergi mengambil air karena harus berjalan mendaki dengan membawa beban berat.
Namun tantangan belum selesai, sumber air terletak di luar lahan yang dibeli lemos dan kawan-kawan. Ia berada di dalam kawasan hutan jati milik desa Lakekun Barat, maka ijin dari pemerintah desa dan tokoh adat-pun harus mereka kantongi sebelum pembangunan jaringan pipa itu dilakukan. Lemos dan tetua dalam komunitas itu kemudian berkonsultasi dengan pemerintah desa, mereka menemui kepala desa dan tokoh adat desa Lakekun Barat untuk meminta ijin, “Kami pergi ketemu dan minta juga di tuan air itu,” kata Lemos.
Tuan air yang dimaksud adalah orang yang pertama kali menemukan sumber air itu dan merawatnya. “Waktu kami ketemu mata air itu kami lihat ada pagar, juga ada pohon tempat orang buat adat di situ jadi pasti ada orang yang lebih dulu ketemu dan jaga itu air e..,” jelasnya lanjut.
Ternyata tak ada keberatan dari pihak-pihak itu. Bahkan mereka menyambut baik jika ada yang hendak membangun jaringan pipa dari sumber air itu ke permukiman dengan syarat harus diadakan upacara adat di sumber air itu sebelum mulai melakukan pekerjaan dan setiap tahun secara rutin mereka harus mengundang ‘Tuan Air’ untuk memimpin upacara adat di situ.
Setelah beres semua perijinan, pada 04 Mei 2008 dilakukanlah upacara adat di sumber air yang terletak di tengah –tengah hutan di atas bukit itu. Darah seekor kambing dan seekor babi mengucur membasahi tanah di sekitar sumber air sebagai tanda penghargaan dan penghormatan kepada alam maka mulailah pekerjaan pembangunan jaringan pipa itu dilakukan.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah membangun lebih dahulu bak penampungan utama karena sumber air itu ada dua. Satunya terletak di ujung bak, satunya lagi dekat sebatang pohon kesambi yang jadi tempat dilangsungkannya ritus adat. Dari kedua sumber air yang berbentuk sumur kecil itulah air meresap ke dalam tanah dan mengalir ke bak yang dibangun agak ke bawah. Setelah itu barulah jaringan pipa siap untuk dipasang.
Jaringan pipa sepanjang 500 meter itu bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan apalagi jaringan pipa itu harus melalui lekukan-lekukan tanah di sepanjang bukit Jati Laran.
Pemasangan jaringan pipa sendiri memakan waktu tiga hari. Hari pertama, dengan penuh percaya diri dibawah bimbingan Adi, mereka memasang pipa dari dari bak penampung utama.
Saat mencoba aliran air dengan memasang pipa kecil airnya langsung mengalir maka giranglah hati semua orang yang ada saat itu. Mereka kemudian mencoba mengganti dengan pipa yang lebih besar diameternya, “Waktu ganti pipa besar, air sonde jalan,” kata Adi pada saya di rumah Lemos De Jesus, pada suatu siang di minggu kedua Juni lalu. Lemos dan beberapa bapak yang ada saat itu ikut menganggukan kepala mengiyakan.
“Semua heran. Periksa sana-sini sonde ada yang tasumbat. Dudukan –pipa- juga sonde berubah. Su coba kasi turun ju sama sa,” kata Adi.
Semuanya bingung. Hampir seharian mereka hanya duduk dan bingung memikirkan hal itu. Hari sudah sore barulah mereka menemukan sumber masalahnya. “Ternyata ada anak-anak dong yang mandi di mata air,” kata Lemos menyambung penjelasan Adi.
Setelah ditimbang-timbang mereka meyakini bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap upacara adat yang sudah di buat maka diutuslah Martino Pereira, salah seorang tetua di situ untuk melakukan acara adat, ia meminta maaf dalam bahasa Mambai di sumber air itu. Barulah air mulai mengalir memasuki pipa tadi.
Hari kedua, ketika jalur pipa itu mulai terpasang hampir setengahnya, timbul-lah percekcokan antara Adi dan Lemos. Keduanya bertengkar hebat mengenai jalur mana yang harus dilalui oleh pipa itu.
Lemos menginginkan agar jalur pipa itu langsung lurus saja menuju ke lokasi, Adi mengusulkan agar digeser sedikit ke bawah agak melingkari gundukan melalui arah bawah barulah dibelokan ke lokasi. “Saya tidak mau e..saya pikir nanti pipa itu masuk di lokasi bawah. Saya mau langsung di kami pung lokasi,” ujar Lemos menjelaskan alasannya saat itu.
Pertengkaran itu semakin memanas hingga akhirnya Adi mulai mengalah ketika mendengar perkataan terakhir Lemos De Jesus, “Kalo begitu biar batal saja. Kita tidak usah kerja lagi,” kata Lemos tak mau kalah.
Lemos dan kawan-kawanya melanjutkan pemasangan pipa mengikuti jalur yang ia usulkan. Jalur itu memang sedikit lebih pendek namun ia harus melewati sebuah gundukan yang lumayan tinggi sebelum sampai ke permukiman.
Alhasil pipa yang sudah dipasang itu tak mengeluarkan air sedikitpun. Lemos lemas melihat itu, ia tersentak.
“Wah ternyata pak Adi pung -pendapat- yang benar. Memang dasar kita orang bodoh ini maunya ikut kita pung padahal air tidak keluar,” ujarnya saat itu.
Sementara itu, Adi yang sudah pulang, sepanjang malam terus gelisah. Ia gelisah karena ia sangat yakin jika mengikuti usulan Lemos maka air tak akan bisa mengalir sampai ke lokasi. “Sepanjang malam beta tidur sonde tenang. Beta kuatir sekali kalo air di Jati Laran sonde jadi maka beta pung pengalaman selama ini sonde ada artinya dan beta akan malu sekali. Beta hanya bisa berdoa sa harap supaya air bisa sampai ke lokasi” cerita Adi pada saya diatas motor dalam perjalanan pulang dari lokasi.
Pada hari ketiga, Lemos yang sudah menyadari kesalahannya kembali mengubah jalur pipa sesuai anjuran Adi. Sepanjang pagi hingga siang mereka habiskan dengan bongkar pasang pipa sepanjang 500 meter itu. Menjelang sore pipa itu mulai memasuki lokasi permukiman membawa tamu kehormatan yang telah dinanti-nantikan dan disambut dengan upacara adat. Hari itu tepat pada tanggal 08 Mei 2008. Lemos De Jesus yang selalu gelisah soal ketersediaan air bersih akhirnya bisa bernapas lega saat melihat percikan air yang mengalir keluar dari moncong pipa sore itu.
“Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa akhirnya kami bisa dapat air. Kami terima kasih juga kepada Tuhan karena bisa bantu kami lewat Uni Eropa, Oxfam dan CIS yang turun langsung ke sini,” kata Lemos, matanya berkaca-kaca mengenang saat pertama kali air yang dianggap sebagai seorang perempuan yang cantik, sebagai seorang ibu, sebagai seorang tamu kehormatan itu tiba di lokasi mereka.
***

catatan :
Foto 1, oleh Buce Ga : Seorang anak gadis warga baru eks Timor Timur penghuni permukiman baru Jatilaran sedang mengambil air untuk kebutuhan keluarganya dari jaringan pipa yang belum selesai dikerjakan.
Foto 2, oleh Olkes : permukiman baru Jatilaran dilihat dari tepi jalan raya.
Beta : Saya (bahasa Kupang)
Katong : Kami
Dong : dorang atau mereka
Kalo : Kalau
Kasi : beri
Sa : saja
Ju : Juga
Tasumbat : tersumbat
Pung : punya
Tuesday, October 16, 2007
Arti Sebuah Kesetiaan
Tulisan ini untuk mengenang “ambei koster katuas” yang telah berpulang pada awal Juni 2007 lalu. Yang mengajarkan arti sebuah kesetiaan dan totalitas melayani.
Oleh :
Olyvianus Dadi Lado
Jumad, 8 Juni 2007. Tit…tit….tit ...bunyi sms dari HP Nokia 1100 butut milik saya. Ternyata sms dari kakak tertua saya di Besikama,
“Oll, om koster tua su meninggal tadi malam”. Sontak saya terhenyak beberapa saat.
***
Tubuhnya kurus, pendek, berkulit hitam. Rambut dikepalanya sudah memutih dan jarang-jarang karena termakan usia. Sebagian besar giginya yang hitam karena sirih pinang sudah tanggal. Ia tak mengenal baca-tulis.
Terakhir saya bertemu dengannya akhir april lalu saat mengikuti kebaktian di gereja Imanuel Maktihan di Besikama, sebuah desa di kecamatan Malaka Barat bagian selatan kabupaten Belu. Gereja Imanuel Maktihan termasuk dalam wilayah Klasis Belu. Merupakan gereja induk dari 12 mata jemaat di wilayah kependetaan Maktihan. Awalnya gereja ini berlokasi di desa Maktihan kemudian pindah ke Besikama.
Ia adalah koster pertama di gereja itu. Sejak gereja Maktihan hadir pada tahun 50-an ia sudah melayani. Menurut cerita banyak orang, dulunya ia adalah seorang pencuri ulung yang ditakuti dimana-mana. Kemudian ia bertobat dan melayani sebagai koster.
Ia bersama mama Robe, sang isteri memiliki tujuh orang anak. Dua diantaranya sudah berkeluarga. Mereka tinggal tak jauh dari gedung gereja Imanuel Maktihan di kampung Makfatin, hanya sekitar dua ratusan meter jauhnya.
Sesampai saya di Besikama, pada sabtu sore sehari setelah mendapat berita duka, malamnya bersama beberapa teman pemuda gereja dan pak Pendeta Angkol Tangwal dan isterinya yang juga pendeta di wilayah Loomaten, pdt. Loni Tangwal – Ndoen, kami pergi melayat. Pendeta Angkol mulai bertugas di Besikama sekitar enam tahun lalu. Sekalipun berasal dari Alor, ia sudah bisa berbahasa fehan bahkan sangat fasih melafalkan lagu-lagu rohani dalam bahasa fehan.
Malam itu angin dingin serasa menusuk langsung ke tulang saya. Tanah yang becek dan berlumpur karena hujan yang turun selama seminggu sebelumnya turut menambah dingin malam itu.
Jenasah koster tua itu disemayamkan di rumahnya, sebuah rumah yang sederhana. Beratap rumput ilalang, berdinding bebak, namun hanya seperempat bagian rumah itu yang berdinding, hanya sebuah kamar di bagian depan berukuran kira-kira 2x3 meter tempat jenasahnya dibaringkan. Halaman rumah yang berlumpur, memaksa tenda duka digelar lebih ke depan lagi.
Sudah banyak orang hadir disana, hampir semuanya saya kenal, ada tokoh-tokoh jemaat, ada tetangga sekampung saya, ada teman-teman sepermainan semasa kecil dulu, juga ada orang-orang yang sengaja datang untuk berjudi sebuah kebiasaan buruk yang sudah berakar urat di Belu ketika ada kedukaan, bukannya mereka datang untuk menghibur keluarga yang berduka tapi datang untuk mencari untung ditengah kedukaan orang lain.
Setelah tegur sapa dengan beberapa orang tua, saya langsung menuju ke ruang kosong di rumah duka.
Di dalam kamar tepat di bagian kiri pintu masuk, Mama Robe duduk lemas di samping ranjang kayu sederhana tempat suaminya berbaring, rambutnya yang kusut diikat asal jadi. Kain hitamnya sudah bercampur lumpur coklat pada bagian bawah dan belakang, kebaya putihnya sudah hampir berganti warna menjadi kuning.
Saya menyalami tangan dinginnya, sepasang mata tua itu nanar menatap saya, “Oll, ambei ba tia’an”, ujarnya lirih hampir tenggelam dalam hiruk pikuk suara dari luar. (Oll, bapak tua sudah pergi - fehan).
Ia mengatakan, menjelang kepergiannya, koster katuas hanya menanyakan kapan anak-anaknya datang untuk menengok dia. Anak-anak yang dimaksud adalah anak-anak dari alm pendetanya dulu, yakni saya dan saudara-saudara saya yang sudah lama tak pergi melihatnya.
“Loron-loron nusu emi dei.” Lanjut mama Robe, tangannya sesekali mengelus-elus pinggiran tais berwarnah merah penuh motif khas Fehan yang menutupi sekujur tubuh suaminya. (tais : sarung tradisional-fehan)
Saya tak mampu berkata-kata, hanya tepekur dalam diam mendengarnya. Rasa bersalah perlahan menyelimuti sudut-sudut hati. Mata saya mulai berkaca-kaca, bukan karena kepergiannya tapi menyesal karena tak sempat menemuinya pada saat-saat terakhir hidupnya. Di sisi lain, saya juga bersyukur ia telah dipanggil pulang, bersyukur karena ia telah dilepaskan dari penderitaan di dunia ini.
Ia sudah lama menderita sakit “bengek”, ISPA akut. Batuk parah yang dideritanya membuat ia sering kesulitan bernafas, bahkan untuk berjalan-jalan di sekeliling rumahnya saja ia harus berulang kali berhenti sejenak mengatur nafas. Setiap melangkah hampir seluruh anggota tubuhnya gemetar, begitu juga ketika ia berbicara atau mencoba tersenyum. Sudah berulang kali diobati entah itu obat-obatan dari puskesmas maupun obat tradisional sudah dikonsumsinya namun penyakit itu tetap tak sembuh. Tubuh ringkihnya itu kian hari kian menyusut. Mukanya yang tirus kian menampakan tulang.
Satu kelebihannya yang selalu saya ingat adalah selalu tersenyum sepanjang saya bertemu dengannya baru sekali saya melihat ia bersedih dan meneteskan air mata, yakni saat ayah saya, yang biasa dia panggil dengan “Ama pendeta Dadi” meninggal pada 2001 lalu.
Malam itu ditengah suasana duka, saya mencoba merangkai kembali ingatan saya akan sosok seorang koster katuas yang terbujur kaku dihadapan saya.
Ada banyak kenangan bersamanya, bukan hanya saya namun seluruh jemaat Imanuel Maktihan tak mengingkari kalau banyak suka dan duka yang telah dilewati bersamanya hingga saat ini.
Pada masa aktifnya sebagai koster gereja sekitar akhir tahun 50-an hingga akhir 80-an, Besikama belum seramai sekarang. Belum ada angkutan kota (angkot) dan ojek. Saat itu alat transportasi yang paling banyak digunakan adalah kuda, itu bagi yang memilikinya, yang tidak ya harus berjalan kaki.
Mata jemaat dalam wilayah Maktihan saat itu meliputi daerah perbatasan Belu dan TTS di Biudukfoho hingga daerah di sebelah sungai Benenai di Kobudiin, Angkaes dan Makwar yang secara pemerintahan termasuk wilayah kecamatan Malaka Tengah. Pada masa itu sarana jalan raya dan jembatan belum sebagus sekarang, jembatan Benenai baru ada pada sekitar tahun 1983.
Persebaran jemaat GMIT di wilayah Maktihan yang begitu luas membuat komunikasi dan koordinasi antara pendeta wilayah di gereja induk Maktihan saat itu pendetanya adalah alm. Pendeta Lambertus E. Dadi Lado, dengan penanggungjawab di setiap mata jemaat, hanya mengandalkan kurir untuk menyampaikan pesan. Entah dalam bentuk surat maupun lisan.
Penyampai pesan yang paling sering melakukan itu adalah koster katuas. Kadang ia ditemani oleh beberapa pengurus gereja, namun pada saat mendesak ia harus melakukannya sendiri. Ini membuat ia tak lagi dikenal dan ditakuti sebagai seorang pencuri ulung namun dikenal dan dihormati sebagai seorang pelayan Tuhan.
Saya termenung, sering kita menganggap remeh peran seorang koster. Sering kita menganggap dia sebagai seorang pesuruh. Bayangkan betapa repot dan susahnya jika harus membagi tugas diantara jemaat atau, pemuda atau majelis gereja sekalipun hanya untuk membersihkan gedung gereja, menyiapkan peralatan dan lain-lainnya sebelum kebaktian setiap minggunya.
Tanpa disiplin koster untuk bangun setiap pagi di hari minggu mungkin kita kesulitan mendengar irama bunyi lonceng gereja, bukankah bunyi sebuah lonceng gerejapun bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi banyak orang Kristen?
“Lonceng gereja su babunyi gandong..e..e...”. Baris pertama dari lagu yang pernah dinyanyikan Melki Goeslaw, bukti lonceng gereja yang dibunyikan oleh seorang koster bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Irama lonceng yang membahana di Besikama setiap pagi di hari minggu yang memberi motivasi, semangat hidup, panggilan bahkan inspirasi bagi jemaat itu juga yang membuat gangguan permanen pendengaran pada telinga Koster Katuas. Namun itu tak membuatnya berhitung untung – rugi. Sunggingan senyum di bibirnya justeru semakin lebar ketika melihat bangku-bangku kayu yang disusunnya itu terisi penuh oleh jemaat yang pergi beribadah.
Menurut saya, ini bentuk paling sederhana dari arti sebuah kesetiaan, totalitas dan ketulusan melayani. Setiap hari minggu, ia adalah orang pertama yang hadir di gereja, sehabis kebaktian ia juga yang paling akhir pulang.
Kesetiaannya hampir tak ada duanya di Besikama menurut saya. Dalam keadaan sakit, empat hari sebelum kepergiannya pada hari minggu pagi, 03 Juni 2007, ia masih pergi berbakti di gereja.
Dengan tertatih-tatih sambil memegang tongkat kayu kusam miliknya, ia tetap bersemangat menuju gereja. Jarak sejauh dua ratusan meter itu ditempuhnya dalam waktu yang cukup lama bahkan lebih lama dari seorang anak kecil.
Sekalipun ia harus berhenti hingga belasan kali untuk mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga, ia tetap berjalan memenuhi panggilan Tuhannya lewat bunyi lonceng gereja yang dulu sering ia lakukan.
Pada hari kamis, 7 Juni 2007, sekitar jam delapan malam, kesunyian malam di Besikama terusik bunyi lonceng gereja. Lonceng yang dulunya sering dibunyikannya untuk memberi kabar kepada jemaat wilayah maktihan untuk pergi beribadah, berbunyi lagi memberi kabar tentang kepergian seorang koster katuas, koster pertama di gereja itu. Lonceng itu dibunyikan oleh koster muda penerusnya.
Inspirasi yang pernah ia berikan lewat bunyi lonceng, semangat melayani yang telah ia tunjukan membuat rasa duka saya dan jemaat yang malam itu hadir terobati. Kami justeru seharusnya bersyukur atas peristiwa ini. Karena kepergiannyalah kami bisa melakukan permenungan atas apa yang sudah pernah dibuatnya.
Sepanjang malam hingga pukul tiga dini hari, kami terus bernyanyi memuji Tuhan. Laki-laki, perempuan. Tua, muda semuanya ikut bernyanyi. Kecuali sekelompok orang yang masih terus bicara soal politik tanpa juntrungan di tenda yang digelar tak jauh dari rumah duka dan sekelompok lagi yang kecewa karena keinginan berjudi mereka malam itu tak bisa diwujudkan setelah ditegur oleh polisi.
***
Senin, 11 Juni 2007. Langit di atas Besikama hitam, tak setitikpun warna biru nampak. Matahari sore tak menampakan sinarnya. Tanah masih becek dan berlumpur seperti hari-hari kemarin, sekalipun hujan sudah tak turun sejak empat hari lalu.
Orang-orang mulai berkumpul di bawah tenda duka. Beberapa tokoh jemaat di kampung Makfatin sibuk mengatur kursi dan mempersiapkan keperluan kebaktian. Sore itu, empat hari sudah koster katuas berbaring kaku di ranjang kayu sederhana miliknya. Ia akan dikuburkan.
Kuburan untuknya sudah disiapkan, seratus-an meter dari rumahnya di seberang jalan kampung. Saya dan beberapa pemuda gereja juga sudah bersiap membawakan lagu dalam kebaktian itu.
Sekitar jam empat kebaktian dimulai. Kepala-kepala kami hanya menunduk sepanjang kebaktian berlangsung mendengar renungan yang disampaikan pendeta Angkol Tangwal.
“Tuhan memang Maha Kuasa. Ia memakai potensi yang ada pada ambei koster katuas, bapak Hendrikus Klau ini untuk pekerjaannya,” ujar pendeta Angkol.
Seketika saya mendongakkan kepala, nama itu baru saya ketahui. Selama ini saya hanya mengenalnya dengan nama ambei koster katuas. Nama Hendrikus Klau seakan asing bagi telinga ini. “Ah...hh, ternyata sayapun tak begitu mengenalnya” batin saya. Kepala ini kembali tertunduk, mata saya kembali basah.
Pendeta Angkol mengibaratkan koster katuas dengan cerita tentang pertobatan rasul Paulus. Koster katuas yang dulunya adalah seorang pencuri kemudian bertobat dan menjadi saksi Kristus lewat pekerjaan sebagai koster. Begitu juga dengan rasul Paulus yang dulunya bernama Saulus, adalah seseorang yang namanya membuat gentar banyak orang Kristen pada masanya. Namun lewat cara Tuhan, ia bertobat dan Tuhan memakai keahliannya dan potensinya menjadikan ia seorang penginjil yang militan, setia dan total dalam melayani Tuhan bahkan hingga ia mati.
Sekitar jam lima jelang enam sore, peti kayu sederhana berisi tubuh kaku koster katuas dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kuburannya juga sederhana, tak ada keramik atau porselin dari marmer seperti kuburan pejabat gereja lainnya. Yang mengantarnyapun bukan orang-orang “besar”, hanya orang-orang kecil, jemaat yang pernah menikmati alunan irama bunyi lonceng gereja dari tangannya.
“Loro atu monu onan kroman lakon ba ti’an....” syair sebuah lagu fehan yang menjadi pembuka saat kebaktian tadi serasa seirama dengan malam yang mulai turun.
Kuburan itu kembali sunyi, hanya terdengar desiran angin mempermainkan dedaunan pohon kapuk yang menaunginya.
***
Ia memang telah meninggalkan jemaat Imanuel Maktihan namun teladannya telah ditinggalkan bagi penerus-penerusnya. Kesetiaan dan totalitas melayaninya yang tanpa pamrih adalah pelajaran berharga dari Hendrikus Klau yang lebih dikenal dengan nama Koster Katuas.
Oleh :
Olyvianus Dadi Lado
Jumad, 8 Juni 2007. Tit…tit….tit ...bunyi sms dari HP Nokia 1100 butut milik saya. Ternyata sms dari kakak tertua saya di Besikama,
“Oll, om koster tua su meninggal tadi malam”. Sontak saya terhenyak beberapa saat.
***
Tubuhnya kurus, pendek, berkulit hitam. Rambut dikepalanya sudah memutih dan jarang-jarang karena termakan usia. Sebagian besar giginya yang hitam karena sirih pinang sudah tanggal. Ia tak mengenal baca-tulis.
Terakhir saya bertemu dengannya akhir april lalu saat mengikuti kebaktian di gereja Imanuel Maktihan di Besikama, sebuah desa di kecamatan Malaka Barat bagian selatan kabupaten Belu. Gereja Imanuel Maktihan termasuk dalam wilayah Klasis Belu. Merupakan gereja induk dari 12 mata jemaat di wilayah kependetaan Maktihan. Awalnya gereja ini berlokasi di desa Maktihan kemudian pindah ke Besikama.
Ia adalah koster pertama di gereja itu. Sejak gereja Maktihan hadir pada tahun 50-an ia sudah melayani. Menurut cerita banyak orang, dulunya ia adalah seorang pencuri ulung yang ditakuti dimana-mana. Kemudian ia bertobat dan melayani sebagai koster.
Ia bersama mama Robe, sang isteri memiliki tujuh orang anak. Dua diantaranya sudah berkeluarga. Mereka tinggal tak jauh dari gedung gereja Imanuel Maktihan di kampung Makfatin, hanya sekitar dua ratusan meter jauhnya.
Sesampai saya di Besikama, pada sabtu sore sehari setelah mendapat berita duka, malamnya bersama beberapa teman pemuda gereja dan pak Pendeta Angkol Tangwal dan isterinya yang juga pendeta di wilayah Loomaten, pdt. Loni Tangwal – Ndoen, kami pergi melayat. Pendeta Angkol mulai bertugas di Besikama sekitar enam tahun lalu. Sekalipun berasal dari Alor, ia sudah bisa berbahasa fehan bahkan sangat fasih melafalkan lagu-lagu rohani dalam bahasa fehan.
Malam itu angin dingin serasa menusuk langsung ke tulang saya. Tanah yang becek dan berlumpur karena hujan yang turun selama seminggu sebelumnya turut menambah dingin malam itu.
Jenasah koster tua itu disemayamkan di rumahnya, sebuah rumah yang sederhana. Beratap rumput ilalang, berdinding bebak, namun hanya seperempat bagian rumah itu yang berdinding, hanya sebuah kamar di bagian depan berukuran kira-kira 2x3 meter tempat jenasahnya dibaringkan. Halaman rumah yang berlumpur, memaksa tenda duka digelar lebih ke depan lagi.
Sudah banyak orang hadir disana, hampir semuanya saya kenal, ada tokoh-tokoh jemaat, ada tetangga sekampung saya, ada teman-teman sepermainan semasa kecil dulu, juga ada orang-orang yang sengaja datang untuk berjudi sebuah kebiasaan buruk yang sudah berakar urat di Belu ketika ada kedukaan, bukannya mereka datang untuk menghibur keluarga yang berduka tapi datang untuk mencari untung ditengah kedukaan orang lain.
Setelah tegur sapa dengan beberapa orang tua, saya langsung menuju ke ruang kosong di rumah duka.
Di dalam kamar tepat di bagian kiri pintu masuk, Mama Robe duduk lemas di samping ranjang kayu sederhana tempat suaminya berbaring, rambutnya yang kusut diikat asal jadi. Kain hitamnya sudah bercampur lumpur coklat pada bagian bawah dan belakang, kebaya putihnya sudah hampir berganti warna menjadi kuning.
Saya menyalami tangan dinginnya, sepasang mata tua itu nanar menatap saya, “Oll, ambei ba tia’an”, ujarnya lirih hampir tenggelam dalam hiruk pikuk suara dari luar. (Oll, bapak tua sudah pergi - fehan).
Ia mengatakan, menjelang kepergiannya, koster katuas hanya menanyakan kapan anak-anaknya datang untuk menengok dia. Anak-anak yang dimaksud adalah anak-anak dari alm pendetanya dulu, yakni saya dan saudara-saudara saya yang sudah lama tak pergi melihatnya.
“Loron-loron nusu emi dei.” Lanjut mama Robe, tangannya sesekali mengelus-elus pinggiran tais berwarnah merah penuh motif khas Fehan yang menutupi sekujur tubuh suaminya. (tais : sarung tradisional-fehan)
Saya tak mampu berkata-kata, hanya tepekur dalam diam mendengarnya. Rasa bersalah perlahan menyelimuti sudut-sudut hati. Mata saya mulai berkaca-kaca, bukan karena kepergiannya tapi menyesal karena tak sempat menemuinya pada saat-saat terakhir hidupnya. Di sisi lain, saya juga bersyukur ia telah dipanggil pulang, bersyukur karena ia telah dilepaskan dari penderitaan di dunia ini.
Ia sudah lama menderita sakit “bengek”, ISPA akut. Batuk parah yang dideritanya membuat ia sering kesulitan bernafas, bahkan untuk berjalan-jalan di sekeliling rumahnya saja ia harus berulang kali berhenti sejenak mengatur nafas. Setiap melangkah hampir seluruh anggota tubuhnya gemetar, begitu juga ketika ia berbicara atau mencoba tersenyum. Sudah berulang kali diobati entah itu obat-obatan dari puskesmas maupun obat tradisional sudah dikonsumsinya namun penyakit itu tetap tak sembuh. Tubuh ringkihnya itu kian hari kian menyusut. Mukanya yang tirus kian menampakan tulang.
Satu kelebihannya yang selalu saya ingat adalah selalu tersenyum sepanjang saya bertemu dengannya baru sekali saya melihat ia bersedih dan meneteskan air mata, yakni saat ayah saya, yang biasa dia panggil dengan “Ama pendeta Dadi” meninggal pada 2001 lalu.
Malam itu ditengah suasana duka, saya mencoba merangkai kembali ingatan saya akan sosok seorang koster katuas yang terbujur kaku dihadapan saya.
Ada banyak kenangan bersamanya, bukan hanya saya namun seluruh jemaat Imanuel Maktihan tak mengingkari kalau banyak suka dan duka yang telah dilewati bersamanya hingga saat ini.
Pada masa aktifnya sebagai koster gereja sekitar akhir tahun 50-an hingga akhir 80-an, Besikama belum seramai sekarang. Belum ada angkutan kota (angkot) dan ojek. Saat itu alat transportasi yang paling banyak digunakan adalah kuda, itu bagi yang memilikinya, yang tidak ya harus berjalan kaki.
Mata jemaat dalam wilayah Maktihan saat itu meliputi daerah perbatasan Belu dan TTS di Biudukfoho hingga daerah di sebelah sungai Benenai di Kobudiin, Angkaes dan Makwar yang secara pemerintahan termasuk wilayah kecamatan Malaka Tengah. Pada masa itu sarana jalan raya dan jembatan belum sebagus sekarang, jembatan Benenai baru ada pada sekitar tahun 1983.
Persebaran jemaat GMIT di wilayah Maktihan yang begitu luas membuat komunikasi dan koordinasi antara pendeta wilayah di gereja induk Maktihan saat itu pendetanya adalah alm. Pendeta Lambertus E. Dadi Lado, dengan penanggungjawab di setiap mata jemaat, hanya mengandalkan kurir untuk menyampaikan pesan. Entah dalam bentuk surat maupun lisan.
Penyampai pesan yang paling sering melakukan itu adalah koster katuas. Kadang ia ditemani oleh beberapa pengurus gereja, namun pada saat mendesak ia harus melakukannya sendiri. Ini membuat ia tak lagi dikenal dan ditakuti sebagai seorang pencuri ulung namun dikenal dan dihormati sebagai seorang pelayan Tuhan.
Saya termenung, sering kita menganggap remeh peran seorang koster. Sering kita menganggap dia sebagai seorang pesuruh. Bayangkan betapa repot dan susahnya jika harus membagi tugas diantara jemaat atau, pemuda atau majelis gereja sekalipun hanya untuk membersihkan gedung gereja, menyiapkan peralatan dan lain-lainnya sebelum kebaktian setiap minggunya.
Tanpa disiplin koster untuk bangun setiap pagi di hari minggu mungkin kita kesulitan mendengar irama bunyi lonceng gereja, bukankah bunyi sebuah lonceng gerejapun bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi banyak orang Kristen?
“Lonceng gereja su babunyi gandong..e..e...”. Baris pertama dari lagu yang pernah dinyanyikan Melki Goeslaw, bukti lonceng gereja yang dibunyikan oleh seorang koster bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Irama lonceng yang membahana di Besikama setiap pagi di hari minggu yang memberi motivasi, semangat hidup, panggilan bahkan inspirasi bagi jemaat itu juga yang membuat gangguan permanen pendengaran pada telinga Koster Katuas. Namun itu tak membuatnya berhitung untung – rugi. Sunggingan senyum di bibirnya justeru semakin lebar ketika melihat bangku-bangku kayu yang disusunnya itu terisi penuh oleh jemaat yang pergi beribadah.
Menurut saya, ini bentuk paling sederhana dari arti sebuah kesetiaan, totalitas dan ketulusan melayani. Setiap hari minggu, ia adalah orang pertama yang hadir di gereja, sehabis kebaktian ia juga yang paling akhir pulang.
Kesetiaannya hampir tak ada duanya di Besikama menurut saya. Dalam keadaan sakit, empat hari sebelum kepergiannya pada hari minggu pagi, 03 Juni 2007, ia masih pergi berbakti di gereja.
Dengan tertatih-tatih sambil memegang tongkat kayu kusam miliknya, ia tetap bersemangat menuju gereja. Jarak sejauh dua ratusan meter itu ditempuhnya dalam waktu yang cukup lama bahkan lebih lama dari seorang anak kecil.
Sekalipun ia harus berhenti hingga belasan kali untuk mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga, ia tetap berjalan memenuhi panggilan Tuhannya lewat bunyi lonceng gereja yang dulu sering ia lakukan.
Pada hari kamis, 7 Juni 2007, sekitar jam delapan malam, kesunyian malam di Besikama terusik bunyi lonceng gereja. Lonceng yang dulunya sering dibunyikannya untuk memberi kabar kepada jemaat wilayah maktihan untuk pergi beribadah, berbunyi lagi memberi kabar tentang kepergian seorang koster katuas, koster pertama di gereja itu. Lonceng itu dibunyikan oleh koster muda penerusnya.
Inspirasi yang pernah ia berikan lewat bunyi lonceng, semangat melayani yang telah ia tunjukan membuat rasa duka saya dan jemaat yang malam itu hadir terobati. Kami justeru seharusnya bersyukur atas peristiwa ini. Karena kepergiannyalah kami bisa melakukan permenungan atas apa yang sudah pernah dibuatnya.
Sepanjang malam hingga pukul tiga dini hari, kami terus bernyanyi memuji Tuhan. Laki-laki, perempuan. Tua, muda semuanya ikut bernyanyi. Kecuali sekelompok orang yang masih terus bicara soal politik tanpa juntrungan di tenda yang digelar tak jauh dari rumah duka dan sekelompok lagi yang kecewa karena keinginan berjudi mereka malam itu tak bisa diwujudkan setelah ditegur oleh polisi.
***
Senin, 11 Juni 2007. Langit di atas Besikama hitam, tak setitikpun warna biru nampak. Matahari sore tak menampakan sinarnya. Tanah masih becek dan berlumpur seperti hari-hari kemarin, sekalipun hujan sudah tak turun sejak empat hari lalu.
Orang-orang mulai berkumpul di bawah tenda duka. Beberapa tokoh jemaat di kampung Makfatin sibuk mengatur kursi dan mempersiapkan keperluan kebaktian. Sore itu, empat hari sudah koster katuas berbaring kaku di ranjang kayu sederhana miliknya. Ia akan dikuburkan.
Kuburan untuknya sudah disiapkan, seratus-an meter dari rumahnya di seberang jalan kampung. Saya dan beberapa pemuda gereja juga sudah bersiap membawakan lagu dalam kebaktian itu.
Sekitar jam empat kebaktian dimulai. Kepala-kepala kami hanya menunduk sepanjang kebaktian berlangsung mendengar renungan yang disampaikan pendeta Angkol Tangwal.
“Tuhan memang Maha Kuasa. Ia memakai potensi yang ada pada ambei koster katuas, bapak Hendrikus Klau ini untuk pekerjaannya,” ujar pendeta Angkol.
Seketika saya mendongakkan kepala, nama itu baru saya ketahui. Selama ini saya hanya mengenalnya dengan nama ambei koster katuas. Nama Hendrikus Klau seakan asing bagi telinga ini. “Ah...hh, ternyata sayapun tak begitu mengenalnya” batin saya. Kepala ini kembali tertunduk, mata saya kembali basah.
Pendeta Angkol mengibaratkan koster katuas dengan cerita tentang pertobatan rasul Paulus. Koster katuas yang dulunya adalah seorang pencuri kemudian bertobat dan menjadi saksi Kristus lewat pekerjaan sebagai koster. Begitu juga dengan rasul Paulus yang dulunya bernama Saulus, adalah seseorang yang namanya membuat gentar banyak orang Kristen pada masanya. Namun lewat cara Tuhan, ia bertobat dan Tuhan memakai keahliannya dan potensinya menjadikan ia seorang penginjil yang militan, setia dan total dalam melayani Tuhan bahkan hingga ia mati.
Sekitar jam lima jelang enam sore, peti kayu sederhana berisi tubuh kaku koster katuas dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kuburannya juga sederhana, tak ada keramik atau porselin dari marmer seperti kuburan pejabat gereja lainnya. Yang mengantarnyapun bukan orang-orang “besar”, hanya orang-orang kecil, jemaat yang pernah menikmati alunan irama bunyi lonceng gereja dari tangannya.
“Loro atu monu onan kroman lakon ba ti’an....” syair sebuah lagu fehan yang menjadi pembuka saat kebaktian tadi serasa seirama dengan malam yang mulai turun.
Kuburan itu kembali sunyi, hanya terdengar desiran angin mempermainkan dedaunan pohon kapuk yang menaunginya.
***
Ia memang telah meninggalkan jemaat Imanuel Maktihan namun teladannya telah ditinggalkan bagi penerus-penerusnya. Kesetiaan dan totalitas melayaninya yang tanpa pamrih adalah pelajaran berharga dari Hendrikus Klau yang lebih dikenal dengan nama Koster Katuas.
Surat dari seorang Ayah
Ini adalah sebuah surat dari sepasang orang tua yang berjuang bagi kesembuahan puteri semata wayang mereka yang baru berusia 3 bulan lebih, yang mengalami gangguan pada jantung dan infeksi paru
"Setelah 6 tahun berumah tangga, kami akhirnya diperkenankan Tuhan untuk memiliki seorang anak yang terlahir pada 20 Juni 2007, setelah sebelumya istri saya; Pdt Desiana Rondo Effendy sempat mengalami keguguran sebanyak 4 kali. kami begitu gembira dan bahagia atas anugerah terindah yang kami terima. Bayi perempuan yang cantik ini kami beri nama Liliane Gratia Imanuela Rondo, kami sangat bersukur karena penantian panjang kami diberkati Tuhan.
Gratia terlahir melalui proses bedah Cesar karena dokter Alfonsius Anapaku, Spog. mendiagnosa placenta bayi kami mulai kering padahal belum ada tanda-tanda melahirkan. Waktu itu, jantung sang bayi tidak dapat dideteksi karena sangat lemah. setelah proses Cesar yang menegangkan, Gratia terlahir dengan panjang badan 51 cm serta berat badan 3,1 kg. Gratia nampak sehat dan gemuk, walau tubuhnya memang terlihat agak kuning serta pucat. Ia juga minum susu dot dengan sangat lancar.
Pada hari kelima, Dr Simplicia Fernandes (spesialis anak) berkomentar saat kami bawa Gratia untuk diperiksa bahwa ia menduga gratia mengalami VSD (ventrikel septhal deffect) atau kebocoran pada bilik jantung, karena 'bising' jantungnya terdengar. Tetapi menurutnya perlu pemeriksaan lebih lanjut pada dokter ahli jantung anak di Surabaya atau Jakarta. Kami shock dan kaget, karena Gratia nampak sehat. karena penasaran kami bawa Gratia ke ahli anak lainnya yakni: Dr Sammy Nalley dan Dr. Frans Taolin, kedua dokter ini membuat kesimpulan sama bahwa ada indikasi VSD tetapi mungkin relatif kecil dan pada sejumlah kasus dapat sembuh sendiri karena pertumbuhan dan gizi. ia kami periksa seperti biasa dan diimunisasi.
Setelah 3 bulan kami mulai melihat kondisi Gratia semakin menurun, pertumbuhan bobot badannya kecil sekali, semakin sering sesak napas, sering menangis, sulit sekali untuk minum susu, batuknya juga tidak sembuh-sembuh, denyut napasnya juga selalu terlihat memburu walaupun dalam keadaan tidur. karena situasi tidak banyak berubah maka persis seminggu setelah Gratia dibaptis, atas desakan dan rujukan Dr simplicia, kami membawanya periksa di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta.
Pada tanggal 28 September setelah diperiksa marathon via EKG, ECHO, Rontgen dan pemeriksaan darah Dr. Poppy Roebiono, SpJp memastikan bahwa pada jantung kecil Gratia putri kami ada kebocoran sekat jantung di 3 tempat berbeda, ukurannya bervariasi hingga 9mm. Prof Bambang ahli jantung anak lainnya juga memastikan bahwa ada infeksi paru-paru karena dampak masalah pada jantung. Dokter merekomendasi perlunya Operasi Jantung, mereka memberikan waktu 2 mnggu bagi keluarga untuk pikir-pikir.
Kami menangis sedih sekali dan sangat terpukul, kami tak sangka, bayi cantik dan lucu ini ternyata menyimpan derita yang berat sekali. kami menelpon semua sahabat dan keluarga memohon dukungan Doa, kami masih berharap mujizat Tuhan Yesus terjadi, kami percaya Gratia milik Tuhan, semua cara dan maksud Tuhan pasti indah walaupun sering pahit dan tak terselami oleh kemanusiaan kami.
Saat ini sebagai keluarga kami bingung untuk memberi jawab pada dokter poppy pada 10 oktober mendatang soal rencana Operasi jantung Gratia, kami sangat terbebani dengan besarnya biaya yang harus ditanggung untuk operasi seperti ini. sehari-hari pekerjaan saya adalah aktifis LSM pada Perkumpulan Relawan CIS TIMOR yang bekerja untuk penanganan eks pengungsi Timor-timur di Kamp-kamp Pengungsi di Kabupaten Belu, dekat perbatasan Timor leste. Sedangkan istri saya Desy adalah Pendeta GMIT di jemaat kecil wilayah Airkom, 40 km dari kota Kupang.
Melalui surat ini, kami mohon dukungan doa dan sekiranya memungkinkan dukungan Dana yang dapat membantu kami dalam pembiayaan operasi bayi kami Gratia. Kami sungguh-sungguh mohon maaf atas kelancangan kami mengirim surat seperti ini. Kami percaya kami tak pernah sendirian dalam persoalan ini, Selalu ada cahaya terang diujung lorong paling gelap sekalipun.
Saat ini kami tinggal dirumah keluarga di Semper-plumpang- Jakarta Utara. Komunikasi lebih lanjut bisa dilakukan melalui telp (021) 4409887 atau HP: 0811383960 (Winston) atau 0811382643 (Desy)".
Kami seluruh relawan di CIS Timor mengharapkan dukungan dari semua pembaca situs ini bagi kesembuhan buah hati saudara kami Winston Rondo dan Deasy Effendy
TTD
Relawan CIS Timor
ps.
Buat yang ingin membantu biaya operasi Gratia Rondo bisa mengirimkan ke rekening,
An. Winston Rondo,
Bank Mandiri Cabang Moh. Hatta No. 145-0005186198
Yang mau bikin International Transfer, Swift Code - BEIIIDJA
"Setelah 6 tahun berumah tangga, kami akhirnya diperkenankan Tuhan untuk memiliki seorang anak yang terlahir pada 20 Juni 2007, setelah sebelumya istri saya; Pdt Desiana Rondo Effendy sempat mengalami keguguran sebanyak 4 kali. kami begitu gembira dan bahagia atas anugerah terindah yang kami terima. Bayi perempuan yang cantik ini kami beri nama Liliane Gratia Imanuela Rondo, kami sangat bersukur karena penantian panjang kami diberkati Tuhan.
Gratia terlahir melalui proses bedah Cesar karena dokter Alfonsius Anapaku, Spog. mendiagnosa placenta bayi kami mulai kering padahal belum ada tanda-tanda melahirkan. Waktu itu, jantung sang bayi tidak dapat dideteksi karena sangat lemah. setelah proses Cesar yang menegangkan, Gratia terlahir dengan panjang badan 51 cm serta berat badan 3,1 kg. Gratia nampak sehat dan gemuk, walau tubuhnya memang terlihat agak kuning serta pucat. Ia juga minum susu dot dengan sangat lancar.
Pada hari kelima, Dr Simplicia Fernandes (spesialis anak) berkomentar saat kami bawa Gratia untuk diperiksa bahwa ia menduga gratia mengalami VSD (ventrikel septhal deffect) atau kebocoran pada bilik jantung, karena 'bising' jantungnya terdengar. Tetapi menurutnya perlu pemeriksaan lebih lanjut pada dokter ahli jantung anak di Surabaya atau Jakarta. Kami shock dan kaget, karena Gratia nampak sehat. karena penasaran kami bawa Gratia ke ahli anak lainnya yakni: Dr Sammy Nalley dan Dr. Frans Taolin, kedua dokter ini membuat kesimpulan sama bahwa ada indikasi VSD tetapi mungkin relatif kecil dan pada sejumlah kasus dapat sembuh sendiri karena pertumbuhan dan gizi. ia kami periksa seperti biasa dan diimunisasi.
Setelah 3 bulan kami mulai melihat kondisi Gratia semakin menurun, pertumbuhan bobot badannya kecil sekali, semakin sering sesak napas, sering menangis, sulit sekali untuk minum susu, batuknya juga tidak sembuh-sembuh, denyut napasnya juga selalu terlihat memburu walaupun dalam keadaan tidur. karena situasi tidak banyak berubah maka persis seminggu setelah Gratia dibaptis, atas desakan dan rujukan Dr simplicia, kami membawanya periksa di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta.
Pada tanggal 28 September setelah diperiksa marathon via EKG, ECHO, Rontgen dan pemeriksaan darah Dr. Poppy Roebiono, SpJp memastikan bahwa pada jantung kecil Gratia putri kami ada kebocoran sekat jantung di 3 tempat berbeda, ukurannya bervariasi hingga 9mm. Prof Bambang ahli jantung anak lainnya juga memastikan bahwa ada infeksi paru-paru karena dampak masalah pada jantung. Dokter merekomendasi perlunya Operasi Jantung, mereka memberikan waktu 2 mnggu bagi keluarga untuk pikir-pikir.
Kami menangis sedih sekali dan sangat terpukul, kami tak sangka, bayi cantik dan lucu ini ternyata menyimpan derita yang berat sekali. kami menelpon semua sahabat dan keluarga memohon dukungan Doa, kami masih berharap mujizat Tuhan Yesus terjadi, kami percaya Gratia milik Tuhan, semua cara dan maksud Tuhan pasti indah walaupun sering pahit dan tak terselami oleh kemanusiaan kami.
Saat ini sebagai keluarga kami bingung untuk memberi jawab pada dokter poppy pada 10 oktober mendatang soal rencana Operasi jantung Gratia, kami sangat terbebani dengan besarnya biaya yang harus ditanggung untuk operasi seperti ini. sehari-hari pekerjaan saya adalah aktifis LSM pada Perkumpulan Relawan CIS TIMOR yang bekerja untuk penanganan eks pengungsi Timor-timur di Kamp-kamp Pengungsi di Kabupaten Belu, dekat perbatasan Timor leste. Sedangkan istri saya Desy adalah Pendeta GMIT di jemaat kecil wilayah Airkom, 40 km dari kota Kupang.
Melalui surat ini, kami mohon dukungan doa dan sekiranya memungkinkan dukungan Dana yang dapat membantu kami dalam pembiayaan operasi bayi kami Gratia. Kami sungguh-sungguh mohon maaf atas kelancangan kami mengirim surat seperti ini. Kami percaya kami tak pernah sendirian dalam persoalan ini, Selalu ada cahaya terang diujung lorong paling gelap sekalipun.
Saat ini kami tinggal dirumah keluarga di Semper-plumpang- Jakarta Utara. Komunikasi lebih lanjut bisa dilakukan melalui telp (021) 4409887 atau HP: 0811383960 (Winston) atau 0811382643 (Desy)".
Kami seluruh relawan di CIS Timor mengharapkan dukungan dari semua pembaca situs ini bagi kesembuhan buah hati saudara kami Winston Rondo dan Deasy Effendy
TTD
Relawan CIS Timor
ps.
Buat yang ingin membantu biaya operasi Gratia Rondo bisa mengirimkan ke rekening,
An. Winston Rondo,
Bank Mandiri Cabang Moh. Hatta No. 145-0005186198
Yang mau bikin International Transfer, Swift Code - BEIIIDJA
Koleduki Sudah Berubah
Koleduki yang dulunya dipenuhi semak belukar dan tak terurus kini berubah wajah
Oleh : Olkes Dadi Lado
Hampir jam sepuluh pagi di hari rabu, 18 Juli 2007, dua mobil kijang mengkilap memasuki jalan berdebu kampung Koleduki, desa Manusak.
Mereka adalah rombongan dari Oxfam GB, sebuah LSM Internasional dari Inggris yang saat ini beroperasi di Timor Barat.
Ada Joseph Curtin, Area Program Manager-nya, para koordinator sektor dari proyek ATUP fase II, baik sektor Food security, AP-Shelter, PHP maupun PHE, seperti Jhon Ello, Frans Panthur, Mei, dan Toni Leik. Juga ada staff lapangan, seperti Yoris, elen, Nur, Merry dan Yaret. Saya juga turut dalam rombongan itu.
Mereka pergi untuk melihat kemajuan kegiatan di pemukiman mandiri Koleduki. Sedangkan saya pergi untuk meliput kegiatan di sana.
Dari jalan Timor raya, jalan sumbu yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste, tepat di belokan yang sering dikenal dengan sebutan Asam Tiga, ada sebuah cabang jalan tanah menuju ke sana, jauhnya sekitar 2-3 kilometer, saya tak tahu persis, tak ada penunjuk jarak di sana.
Ini merupakan lokasi pemukiman baru yang tanahnya diusahakan oleh komunitas eks pengungsi dari Tuapukan dan Naibonat. Alfredo Ximenes dan kawan-kawannya.
(Cerita awal tentang mereka ada dalam LL edisi 72)
Dua kali sudah saya datang ke lokasi ini. Ketika datang pertama kali, lokasi ini masih kosong, hanya terlihat ilalang dan semak belukar yang belum selesai ditebas. Beberapa bidang lahan sudah bersihkan dan diberi tanda, sebagian lagi belum.
Pemandangan pertama itu kini berganti deretan rumah-rumah setipe yang berdiri rapi dari timur ke barat.
Rumah-rumah setengah tembok, beratap seng, berukuran 5x6 meter itu, adalah unit rumah yang dibangun dari proyek bantuan perumahan hasil kerja sama departemen Sosial RI dan TNI.
Ada 28 unit yang dibangun. Semuanya hampir rampung, “Sisa, pintu, jendela, plester tembok dengan cor lantai bagian dalam sa,” ujar Alfredo. Rumahnya tepat di ujung pemukiman dari jalan kampung. Tak jauh dari situ, di bagian belakang rumahnya terdapat sebuah sumur berair dangkal sedalam 13 meter yang belum rampung. Beberapa cincin sumur dari campuran semen dan beton tergeletak di sekitar sumur itu.
“Kami gali itu dari bulan empat lalu,” ujar Feliciano Henriques. salah satu calon penghuni.
Karena debit airnya mulai berkurang, direncanakan akan digali lagi lebih dalam. “Akan aman kalau pada bulan Oktober nanti airnya tidak kering,” ujar Yoris, sosial worker Oxfam GB yang menadampingi komunitas di lokasi itu pada protek ATUP fase II ini.
Ia mengatakan jika airnya tidak kering pada oktober nanti maka sepanjang tahun kemungkinan persediaan air sumur akan selalu ada sepanjang tahun. Ini karena, di NTT, khususnya Timor, puncak musim panas pada bulan Oktober.
Pembuatan sumur itu menurut Norberth Bere Tarak, teknisi Watsan Oxfam GB saat saya temui di kantornya pada kamis pagi, 19 juli lalu, mengatakan ini dilakukan karena mereka melihat semangat dan kemauan keras dari komunitas untuk pindah namun terhalang ketersediaan air, sehingga dengan adanya sumur ini bisa membantu percepatan pembangunan di lokasi, selain untuk kebutuhan air minum ketika bekerja juga membantu dalam pekerjaan pembangunan rumah.
Sumur tersebut belum rampung, baru dipasang tiga buah cincin dibagian dasar, sedangkan sisanya belum. “Masih harus digali lagi karena debit airnya semakin menurun sehingga kita kuatir nanti setelah selesai pasang justeru persediaan airnya sedikit dan tak mencukupi,” kata Norbert. Pagi itu ia ditemani oleh Jhon Ello, koordinator PHE atau teknisi watsan Oxfam GB.
Alfredo dan komunitasnya berencana pindah setelah pembangunan unit rumah bantuan pemerintah ini rampung. “Sehingga kami bisa mulai kerja WC, kamar mandi ka atau sumur dengan dapur,” katanya.
Bahkan niatan untuk pindah ini sudah ada sejak selesai urusan pembelian tanah pada akhir maret lalu. “Biar rumah kecil seperti inipun saya tetap mau pindah, karena sudah punya tanah sendiri to,” lanjutnya sambil menunjuk pondok sederhana dari daun gebang tempat kami beristirahat siang itu.
Awalnya rencana pindah, ditentang oleh sebagian anggota komunitasnya. “Waktu itu rame, kami sampai pertemuan tiga hari,” ujarnya.
“Mereka kuatir nanti kalau sudah pindah, tidak dapat bantuan rumah dari pemerintah lagi,” lanjut Alfredo.
Karena, sepengetahuannya, jika sudah dapat dukungan dari LSM maka, pemerintah tidak akan bantu lagi padahal mereka sudah memasukan usulan untuk mendapat bantuan perumahan dari proyek perumahan kerja sama Departemen Sosial RI dan TNI. Setelah beberapa kali pertemuan disepkatai untuk hal tersebut dikoordinasikan dengan pihak TNI sebagai pelaksana teknis proyek perumahan tersebut. Antara lain dengan Koramil di Camplong hingga tingkat Korem. Oxfam GB sebagai pendamping di wilayah itu juga intensif melakukan koordinasi hingga mendapat kepastian pembangunan 28 unit rumah di lokasi mereka, barulah anggota komunitas yang lain setuju untuk rencana pindah.
Setiap hari Alfredo dan saudara-saudaranya pulang balik Tuapukan – Koleduki untuk memantau perkembangan pembangunan disana, bahkan terkadang mereka juga ikut bekerja membantu para tukang bangunan.
“Waktu material bangunan turun di sini itu tanggal lima juni, tanggal empatnya kami sudah tidur di sini tunggu,” timpal Feliciano Henriques.
Saking bersemangatnya, mereka sampai harus membangun tenda-tenda darurat untuk menginap sementara di lokasi.
Sebulan telah terlewati, lokasi pemukiman baru di Koleduki sudah menunjukan perubahan wajahnya. Sekalipun belum selesai pembangunan rumah namun kehadiran rumah-rumah yang belum rampung, dan kesibukan calon-calon warganya memberi warna tersendiri. Selain sebidang lahan itu, juga membawa perbedaan bagi warga lokal di sekitarnya. Lokasi yang dulunya sepi, hanya dipenuhi semak belukar dan tanaman jagung serta singkong saat musim berkebun, kini sudah mulai ramai.
Salah seorang warga lokal yang menurut pendapat Alfredo dan kawan, bahkan juga diakui Yoris, senang dengan kehadiran warga baru di lokasi ini adalah bapak Meno, seorang petani yang berkebun tak jauh dari lokasi itu. Setiap pagi dan sore, selesai mengiris tuak di kebunnya, ia selalu menyampiri mereka dengan membawa, hasil kebunnya. Entah itu tuak manis, laru putih, gula air hingga singkong rebus. Yoris, Nur, Yaret, staff lapangan Oxfam GB, juga pernah menikmati hasil kebunnya saat berkunjung ke sana.
“Dia orang baik. Malam pertama kami datang gali sumur itu saja, dia sudah pikul bawa tikar dengan bantal datang tidur di sini temani kami kerja, ” ujar Feliciano sambil menunjuk ke arah sumur.
“Suatu hari, dia pung anak dua orang yang tinggal di kampung sebelah datang ke kami. Mereka bilang, tolong perhatikan kami punya bapak karena bapak tinggal di kebun di kebun sini sa. Saudara dong di sini yang paling dekat jadi tolong perhatikan dia, kalo ada apa-apa tolong kasi tahu kami,” cerita Alfredo. Ia mengatakan mereka juga bertekad untuk berusaha sebias mungkin beradaptasi dengan kebiasaan dan adat setempat. “Kami masuk di sini berarti kami harus ikut aturan di sini e,” lanjutnya.
Di lokasi ini, Oxfam GB akan membantu pembangunan shelter untuk dapur. Sesuai kesepakatan yang telah dibuat dengan komunitas shelter tersebut akan dibangun dibelakang rumah yang dibangun pemerintah.
Alfredo dan komunitasnya menargetkan pembangunan yang akan dimulai setelah pemindahan warga ke lokasi tersebut akan selesai pada akhir agustus nanti, jika materialnya sudah didistribusi pada awal bulan agustus.
Menurut Norbert dan Jhon Ello, Selain itu direncanakan akan dibangun sebuah kamar mandi umum, dan dua septic tank di dua WC yang letaknya berdekatan dengan sumur yang ada. Karena standar kesehatan yang dipakai dalam proyek ATUP fase II yakni standar sphere mengahruskan jarak antara septic tank dengan smumur itu harus 30 meter. Standar sphere adalah sebuah standar untuk proyek-proyek kesehatan yang sering dipakai oleh LSM-LSM dari tingkat lokal hingga internasional di seluruh dunia.
“Sebelumnya tentu kita harus melewati tahapan perencanaan bersama komunitas dulu,” ujar Norbert.
Untuk menata pemukiman ini, Alfredo dan komunitasnya, terutama yang berasal dari kamp Tuapukan sekitar dua puluhan keluarga, berencana untuk membuat pagar di sekeliling pemukiman dan setiap rumah, “Sehingga kelihatan rapi,” ujar Alfredo.
Untuk menghijaukan lingkungan, Yoris yang siang itu sangat senang melihat semangat yang ditunjukan Alfredo dan kawan-kawannya mengatakan telah berencana dengan mereka untuk menanam anakan Angsana di sekeliling lokasi, “Cuma saya belum tahu mau ambil dari mana anakan angsana itu,” katanya.
Kini, Alfredo dan komunitasnya sudah cukup lega karena telah memiliki tanah dan rumah sendiri. “Saya bersyukur sekali akhirnya bisa punya tanah sendiri, dapat bantuan rumah. Sekarang saya tidak perlu kuatir untuk orang usir karena ini tanah milik saya.” Tuturnya.
Senada dengan itu juga dikatakan Joao, seorang kawannya yang juga ada siang itu, “Saya senan karena su puna tanah sendiri dibanding kalo kita masih di kamp, tiap hari kita tinggal di oran puna tanah kita malu juga e”.
Mama Ana Teresa Dos Santos (30) yang siang itu sedang menimba air dari sumur baru mereka, mengaku senang dengan kondisi mereka saat ini, “Pasti senang e..mau apalagi. Sekarang kita sudah punya tanah, rumah juga sudah ada, nanti dapur lagi, sumur juga sudah ada. Saya sudah senang,” ujarnya sambil tangannya terus menarik seember berisi air dari dalam sumur.
Itu semua bukan akhir dari perjuangan panjang menuju sebuah solusi yang layak dan bertahan, sebagai sebuah syarat menuju tertatanya sebuah kehidupan baru bagi komunitas eks pengungsi Timor Timur. Alfredo, Feliciano, Joao, mama Ana dan keluarga-keluarga lain calon warga baru Koleduki, masih harus berjuang mendapatkan sebidang lahan garapan untuk bertani. “Memang itu masih jadi persoalan bagi kami. Sekarang kami sudah coba untuk minta tapi belum semuanya berhasil dapat, baru sebagian saja,” ujar Alfredo. Saat ini mereka masih konsentrasi pada penataan lokasi tinggal yang baru, “Setelah kami semua tinggal di sini baru kami mulai dekati lagi saudara-saudara di kampung sini,” lanjutnya.
Siang itu saya senang, komunitas yang dulunya pesimis bahkan menolak dimotivasi untuk mencari lahan secara mandiri, kini telah sadar dan sudah menunjukan tindakan nyata atas pilihan yang mereka putuskan bersama. Lebih dari separuh jalan menuju solusi layak telah terlewati.
Oleh : Olkes Dadi Lado
Hampir jam sepuluh pagi di hari rabu, 18 Juli 2007, dua mobil kijang mengkilap memasuki jalan berdebu kampung Koleduki, desa Manusak.
Mereka adalah rombongan dari Oxfam GB, sebuah LSM Internasional dari Inggris yang saat ini beroperasi di Timor Barat.
Ada Joseph Curtin, Area Program Manager-nya, para koordinator sektor dari proyek ATUP fase II, baik sektor Food security, AP-Shelter, PHP maupun PHE, seperti Jhon Ello, Frans Panthur, Mei, dan Toni Leik. Juga ada staff lapangan, seperti Yoris, elen, Nur, Merry dan Yaret. Saya juga turut dalam rombongan itu.
Mereka pergi untuk melihat kemajuan kegiatan di pemukiman mandiri Koleduki. Sedangkan saya pergi untuk meliput kegiatan di sana.
Dari jalan Timor raya, jalan sumbu yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste, tepat di belokan yang sering dikenal dengan sebutan Asam Tiga, ada sebuah cabang jalan tanah menuju ke sana, jauhnya sekitar 2-3 kilometer, saya tak tahu persis, tak ada penunjuk jarak di sana.
Ini merupakan lokasi pemukiman baru yang tanahnya diusahakan oleh komunitas eks pengungsi dari Tuapukan dan Naibonat. Alfredo Ximenes dan kawan-kawannya.
(Cerita awal tentang mereka ada dalam LL edisi 72)
Dua kali sudah saya datang ke lokasi ini. Ketika datang pertama kali, lokasi ini masih kosong, hanya terlihat ilalang dan semak belukar yang belum selesai ditebas. Beberapa bidang lahan sudah bersihkan dan diberi tanda, sebagian lagi belum.
Pemandangan pertama itu kini berganti deretan rumah-rumah setipe yang berdiri rapi dari timur ke barat.
Rumah-rumah setengah tembok, beratap seng, berukuran 5x6 meter itu, adalah unit rumah yang dibangun dari proyek bantuan perumahan hasil kerja sama departemen Sosial RI dan TNI.
Ada 28 unit yang dibangun. Semuanya hampir rampung, “Sisa, pintu, jendela, plester tembok dengan cor lantai bagian dalam sa,” ujar Alfredo. Rumahnya tepat di ujung pemukiman dari jalan kampung. Tak jauh dari situ, di bagian belakang rumahnya terdapat sebuah sumur berair dangkal sedalam 13 meter yang belum rampung. Beberapa cincin sumur dari campuran semen dan beton tergeletak di sekitar sumur itu.
“Kami gali itu dari bulan empat lalu,” ujar Feliciano Henriques. salah satu calon penghuni.
Karena debit airnya mulai berkurang, direncanakan akan digali lagi lebih dalam. “Akan aman kalau pada bulan Oktober nanti airnya tidak kering,” ujar Yoris, sosial worker Oxfam GB yang menadampingi komunitas di lokasi itu pada protek ATUP fase II ini.
Ia mengatakan jika airnya tidak kering pada oktober nanti maka sepanjang tahun kemungkinan persediaan air sumur akan selalu ada sepanjang tahun. Ini karena, di NTT, khususnya Timor, puncak musim panas pada bulan Oktober.
Pembuatan sumur itu menurut Norberth Bere Tarak, teknisi Watsan Oxfam GB saat saya temui di kantornya pada kamis pagi, 19 juli lalu, mengatakan ini dilakukan karena mereka melihat semangat dan kemauan keras dari komunitas untuk pindah namun terhalang ketersediaan air, sehingga dengan adanya sumur ini bisa membantu percepatan pembangunan di lokasi, selain untuk kebutuhan air minum ketika bekerja juga membantu dalam pekerjaan pembangunan rumah.
Sumur tersebut belum rampung, baru dipasang tiga buah cincin dibagian dasar, sedangkan sisanya belum. “Masih harus digali lagi karena debit airnya semakin menurun sehingga kita kuatir nanti setelah selesai pasang justeru persediaan airnya sedikit dan tak mencukupi,” kata Norbert. Pagi itu ia ditemani oleh Jhon Ello, koordinator PHE atau teknisi watsan Oxfam GB.
Alfredo dan komunitasnya berencana pindah setelah pembangunan unit rumah bantuan pemerintah ini rampung. “Sehingga kami bisa mulai kerja WC, kamar mandi ka atau sumur dengan dapur,” katanya.
Bahkan niatan untuk pindah ini sudah ada sejak selesai urusan pembelian tanah pada akhir maret lalu. “Biar rumah kecil seperti inipun saya tetap mau pindah, karena sudah punya tanah sendiri to,” lanjutnya sambil menunjuk pondok sederhana dari daun gebang tempat kami beristirahat siang itu.
Awalnya rencana pindah, ditentang oleh sebagian anggota komunitasnya. “Waktu itu rame, kami sampai pertemuan tiga hari,” ujarnya.
“Mereka kuatir nanti kalau sudah pindah, tidak dapat bantuan rumah dari pemerintah lagi,” lanjut Alfredo.
Karena, sepengetahuannya, jika sudah dapat dukungan dari LSM maka, pemerintah tidak akan bantu lagi padahal mereka sudah memasukan usulan untuk mendapat bantuan perumahan dari proyek perumahan kerja sama Departemen Sosial RI dan TNI. Setelah beberapa kali pertemuan disepkatai untuk hal tersebut dikoordinasikan dengan pihak TNI sebagai pelaksana teknis proyek perumahan tersebut. Antara lain dengan Koramil di Camplong hingga tingkat Korem. Oxfam GB sebagai pendamping di wilayah itu juga intensif melakukan koordinasi hingga mendapat kepastian pembangunan 28 unit rumah di lokasi mereka, barulah anggota komunitas yang lain setuju untuk rencana pindah.
Setiap hari Alfredo dan saudara-saudaranya pulang balik Tuapukan – Koleduki untuk memantau perkembangan pembangunan disana, bahkan terkadang mereka juga ikut bekerja membantu para tukang bangunan.
“Waktu material bangunan turun di sini itu tanggal lima juni, tanggal empatnya kami sudah tidur di sini tunggu,” timpal Feliciano Henriques.
Saking bersemangatnya, mereka sampai harus membangun tenda-tenda darurat untuk menginap sementara di lokasi.
Sebulan telah terlewati, lokasi pemukiman baru di Koleduki sudah menunjukan perubahan wajahnya. Sekalipun belum selesai pembangunan rumah namun kehadiran rumah-rumah yang belum rampung, dan kesibukan calon-calon warganya memberi warna tersendiri. Selain sebidang lahan itu, juga membawa perbedaan bagi warga lokal di sekitarnya. Lokasi yang dulunya sepi, hanya dipenuhi semak belukar dan tanaman jagung serta singkong saat musim berkebun, kini sudah mulai ramai.
Salah seorang warga lokal yang menurut pendapat Alfredo dan kawan, bahkan juga diakui Yoris, senang dengan kehadiran warga baru di lokasi ini adalah bapak Meno, seorang petani yang berkebun tak jauh dari lokasi itu. Setiap pagi dan sore, selesai mengiris tuak di kebunnya, ia selalu menyampiri mereka dengan membawa, hasil kebunnya. Entah itu tuak manis, laru putih, gula air hingga singkong rebus. Yoris, Nur, Yaret, staff lapangan Oxfam GB, juga pernah menikmati hasil kebunnya saat berkunjung ke sana.
“Dia orang baik. Malam pertama kami datang gali sumur itu saja, dia sudah pikul bawa tikar dengan bantal datang tidur di sini temani kami kerja, ” ujar Feliciano sambil menunjuk ke arah sumur.
“Suatu hari, dia pung anak dua orang yang tinggal di kampung sebelah datang ke kami. Mereka bilang, tolong perhatikan kami punya bapak karena bapak tinggal di kebun di kebun sini sa. Saudara dong di sini yang paling dekat jadi tolong perhatikan dia, kalo ada apa-apa tolong kasi tahu kami,” cerita Alfredo. Ia mengatakan mereka juga bertekad untuk berusaha sebias mungkin beradaptasi dengan kebiasaan dan adat setempat. “Kami masuk di sini berarti kami harus ikut aturan di sini e,” lanjutnya.
Di lokasi ini, Oxfam GB akan membantu pembangunan shelter untuk dapur. Sesuai kesepakatan yang telah dibuat dengan komunitas shelter tersebut akan dibangun dibelakang rumah yang dibangun pemerintah.
Alfredo dan komunitasnya menargetkan pembangunan yang akan dimulai setelah pemindahan warga ke lokasi tersebut akan selesai pada akhir agustus nanti, jika materialnya sudah didistribusi pada awal bulan agustus.
Menurut Norbert dan Jhon Ello, Selain itu direncanakan akan dibangun sebuah kamar mandi umum, dan dua septic tank di dua WC yang letaknya berdekatan dengan sumur yang ada. Karena standar kesehatan yang dipakai dalam proyek ATUP fase II yakni standar sphere mengahruskan jarak antara septic tank dengan smumur itu harus 30 meter. Standar sphere adalah sebuah standar untuk proyek-proyek kesehatan yang sering dipakai oleh LSM-LSM dari tingkat lokal hingga internasional di seluruh dunia.
“Sebelumnya tentu kita harus melewati tahapan perencanaan bersama komunitas dulu,” ujar Norbert.
Untuk menata pemukiman ini, Alfredo dan komunitasnya, terutama yang berasal dari kamp Tuapukan sekitar dua puluhan keluarga, berencana untuk membuat pagar di sekeliling pemukiman dan setiap rumah, “Sehingga kelihatan rapi,” ujar Alfredo.
Untuk menghijaukan lingkungan, Yoris yang siang itu sangat senang melihat semangat yang ditunjukan Alfredo dan kawan-kawannya mengatakan telah berencana dengan mereka untuk menanam anakan Angsana di sekeliling lokasi, “Cuma saya belum tahu mau ambil dari mana anakan angsana itu,” katanya.
Kini, Alfredo dan komunitasnya sudah cukup lega karena telah memiliki tanah dan rumah sendiri. “Saya bersyukur sekali akhirnya bisa punya tanah sendiri, dapat bantuan rumah. Sekarang saya tidak perlu kuatir untuk orang usir karena ini tanah milik saya.” Tuturnya.
Senada dengan itu juga dikatakan Joao, seorang kawannya yang juga ada siang itu, “Saya senan karena su puna tanah sendiri dibanding kalo kita masih di kamp, tiap hari kita tinggal di oran puna tanah kita malu juga e”.
Mama Ana Teresa Dos Santos (30) yang siang itu sedang menimba air dari sumur baru mereka, mengaku senang dengan kondisi mereka saat ini, “Pasti senang e..mau apalagi. Sekarang kita sudah punya tanah, rumah juga sudah ada, nanti dapur lagi, sumur juga sudah ada. Saya sudah senang,” ujarnya sambil tangannya terus menarik seember berisi air dari dalam sumur.
Itu semua bukan akhir dari perjuangan panjang menuju sebuah solusi yang layak dan bertahan, sebagai sebuah syarat menuju tertatanya sebuah kehidupan baru bagi komunitas eks pengungsi Timor Timur. Alfredo, Feliciano, Joao, mama Ana dan keluarga-keluarga lain calon warga baru Koleduki, masih harus berjuang mendapatkan sebidang lahan garapan untuk bertani. “Memang itu masih jadi persoalan bagi kami. Sekarang kami sudah coba untuk minta tapi belum semuanya berhasil dapat, baru sebagian saja,” ujar Alfredo. Saat ini mereka masih konsentrasi pada penataan lokasi tinggal yang baru, “Setelah kami semua tinggal di sini baru kami mulai dekati lagi saudara-saudara di kampung sini,” lanjutnya.
Siang itu saya senang, komunitas yang dulunya pesimis bahkan menolak dimotivasi untuk mencari lahan secara mandiri, kini telah sadar dan sudah menunjukan tindakan nyata atas pilihan yang mereka putuskan bersama. Lebih dari separuh jalan menuju solusi layak telah terlewati.
Friday, September 15, 2006
9/9/99
Renungan seorang relawan saat pagi menjelang di hari ulang tahun CIS Timor
Olkes Dadi Lado
Jarum jam sudah menunjukan angka 12 lewat, tersisa sembilan menit lagi sudah pukul satu dini hari. Pertanda sudah hampir sejam lamanya hari berganti, jumad berganti sabtu. Tanggal delapan ke sembilan.
Teman-teman sudah tertidur, tersisa saya, entah kenapa belum bisa menutup mata sejak tadi.
Hati saya gelisah. Memang ada ganjalan di hati tapi itu sangat personal dan tak layak di ceritakan di sini.
Bunyi kokok ayam jantan terdengar samar. Di luar sunyi.
Sesekali terdengar lolongan anjing di kejauhan pertanda si anjing ingin kawin.
Ditemani segelas teh panas dan sebungkus rokok LA light, saya masih terus terjaga.
Hari ini (9/9), CIS berusia tujuh tahun.
CIS Timor adalah adalah sebuah lembaga perkumpulan relawan yang bermarkas di Timor Barat.
Pada saat yang sama tujuh tahun yang lalu, di jalan pendidikan II no 2 Kota Baru, beberapa aktivis dari GMKI cabang Kupang dan GAMKI DPD I NTT berkumpul dan mendeklarasikan berdirinya sebuah organisasi dengan nama posko relawan CIS GAMKI-GMKI NTT.
Nama CIS adalah akronim dari Center for Internaly Displaced People’s Service. Nama ini diberikan oleh ibu Stien Djalil, seorang pengurus PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).
Berganti nama menjadi CIS Timor kemudian, saat pengurusan status legalnya pada 2004 lalu.
CIS hadir karena kepedulian akan kondisi pengungsian yang terjadi akibat konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur 1999 lalu.
Dalam kesendirian dengan iringan lagu "Ku tak Bisa Jauh" milik Slank dari winamp komputer, saya kembali mengingat kenangan bersama CIS.
Kumpulan anak-anak muda yang umumnya adalah aktivis GMKI dan GAMKI, kebanyakan mahasiswa ada juga yang sudah selesai bahkan ada yang barusan tamat SMA, pada waktu itu hanya bergerak dengan sumber daya terbatas, mereka tergerak untuk menolong pengungsi Timor Timur dengan apa yang ada pada mereka.
Hampir pasti pada saat itu, hanya tenaga dan semangat yang menjadi modal dasar.
Pada akhir 1999, dengan difasilitasi CD Bethesda Yogyakarta dan Church World Service. Mereka diberikan pelatihan bagaimana menjadi seorang relawan yang baik dalam workshop for volunteers.
Sebutan relawan-pun disandang oleh mereka. Saat itu jumlah relawan sekitar 40-an orang.
Sejak itu CIS mulai menata dirinya
Dengan donasi kecil dari CD Bethesda, juga dari CWS bahkan ada juga dari dewan Gereja Australia, mereka mulai melakukan pelayanan.
Mulai dari sekedar menjadi teman cerita para pengungsi di kamp Noelbaki, Tuapukan, Naibonat juga kamp-kamp dalam kota Kupang seperti GOR, Koni sampai ke Batakte di Kupang Barat.
Hingga membantu tim dokter CD Bethesda melakukan pelayanan kesehatan dan PMT.
Membuka sekolah tenda dan juga taman bermain anak.
Sampai hal-hal yang menyerempet bahaya, yakni mengumpulkan informasi tentang pelanggaran HAM dari para milisi.
CIS bukan hanya terlibat dalam isu pengungsi Timor Timur semata. Pada periode pertengahan 2000, CIS juga turut membantu penanganan korban bencana banjir dan longsor di seluruh kabupaten TTS, sebagian Belu dan Kupang dengan dukungan dari CWS dan Yayasan Selamat Pagi dari Yogyakarta
Kini CIS bisa dikatakan sudah cukup mapan sebagai sebuah lembaga lokal. Sejak lepas dari US Aid pada periode 2001-2002, CIS kemudian menjadi mitra kerja Oxfam GB sejak 2003 hingga sekarang. Sudah dua funding ECHO pada 2003-2004 dan Uni Eropa, 2005 hingga sekarang.
Sejalan dengan itu, model kerja CIS pun mulai berubah. Dari sekedar sebuah kerja bakti pada awal kelahirannya, sekarang sudah mengarah pada community development.
Dari sekedar memberi informasi, mendorong pengambilan keputusan hingga memfasilitasi tindakan dan realisasi atas keputusan komunitas dampingnya.
Masih tetap pada komitmen kediriannya, hingga saat ini CIS masih memberikan perhatian utama pada isu penyelesaian masalah pengungsi di Timor Barat.
Secara kelembagaanpun CIS sudah menjadi lebih baik, mulai dari pembenahan manajemen organisasi, perumusan visi, misi hingga penetapan rencana strategis.
Pengembangan jaringan kerjapun sudah semakin luas.
Bahkan dengan pemerintah sekalipun dalam perspektif pemerintah sebagai partner dengan tetap menjaga jarak kritis, CIS menjalin suatu hubungan yang sinergis.
Perjalanan CIS hingga tahap ini, juga tak lepas dari onak dan duri. Mulai dari konflik internal antara para pendirinya tentang status CIS, masalah pendanaan operasional organisasi ketika tak ada funding hingga konflik antar person di dalamnya.
Relawan CIS-pun sesuai hukum alam, tak semuanya bertahan, ada yang pergi, ada yang pula yang datang.
Saat ini relawan CIS mendekati angka 60.
CIS pernah mengalami masa sulit selama hampir setahun lamanya.
Tanpa funding pada akhir pertengahan 2000 hingga pertengahan 2001, CIS bergerak dengan dukungan dana seadanya dari para pendiri yang masih komit, ada Early Laukoli yang memberikan rumahnya dengan rela untuk dijadikan posko, ada David Radja yang selalu setia memberikan dukungan, Emy Nomleni, Alex Yakob dan masih banyak lainnya, tak kalah penting kesetiaan relawan-relawannya. Juga dukungan dari kedua lembaga pendiri.
CIS juga pernah mendapat caci maki, hujatan, cemooh, bahkan mungkin sumpah serapah dari mitra, relawannya sendiri, juga komunitas dampingannya, mungkin juga dari orang tua relawan karena anaknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk CIS.
Suka, duka, cerita sukses dan pengalaman pahit di CIS mengajarkan banyak hal buat relawan-relawannya. CIS turut membentuk diri saya.
Hampir sejam sudah saya merenung dan menulis tentang perasaan dan ingatan akan CIS selama kurun waktu tujuh tahun ini. Serasa tak cukup menuliskan semua yang pernah saya alami bersama CIS, sekalipun baru tujuh tahun kebersamaan itu.
Tujuh tahun, bukan sebuah usia yang matang, CIS masih harus bertumbuh dan terus mengembangkan dirinya.
Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak mimpi yang perlu diraih.
Ada mimpi kemandirian CIS, ada mimpi CIS untuk melayani lebih banyak orang, ada mimpi CIS juga melayani di luar Timor Barat, ada mimpi akan hadirnya sebuah keadilan dan kesetaraan gender, ada mimpi akan hadirnya sebuah komunitas yang menghargai keberagaman dan HAM dan masih banyak mimpi lainnya.
Semoga saat ini dalam tidurnya, semua relawan CIS sedang mengejar mimpi yang sama. Winston Rondo, koordinator relawan pernah mengatakan "Sebuah mimpi akan cepat menjadi kenyataan kalau impian itu diimpikan bersama".
Alunan syair lagu "Bunda" Melly Goeslaw dari winamp komputer terdengar menyejukan hati saya saat pagi menjelang di posko Atambua. Membantu saya mengingat masa-masa ketika CIS turut membentuk saya. Mata ini masih sulit terpejam.
Tiiit…..tiiit….bunyi sms masuk di hp usang bermerek nokia milik saya, mengusik lamunan.
Ternyata sms dari Frits Lake, seorang relawan CIS di Kupang, ia menulis sebuah pesan pendek,
"Satu alasan mengapa Allah menciptakan waktu adalah agar kita punya tempat untuk menguburkan kegagalan-kegagalan dan masa lalu dan menemukan kesempatan di masa sekarang untuk dapat lebih maju. Dirgahayu CIS Timor".
Ternyata bukan saya saja relawan CIS Timor yang masih terjaga menjelang pagi di hari yang spesial ini.
Hampir jam tiga subuh, suasana sekitar posko masih sepi, dengkuran-dengkuran halus teman-teman lirih terdengar.
Dalam tidur mereka, saya yakin kami semua mempunyai keinginan yang sama, keinginan akan masa depan CIS yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini dengan tetap menjaga semangat kerelawanan yang menjadi ciri dan identitas CIS itu sendiri.
Dalam hati, saya bersyukur dan memohon penyertaan dari Tuhan agar dalam pertumbuhannya CIS selalu menjadikan kasih sebagai dasar dalam setiap langkahnya.
Selamat Ulang Tahun CIS Timor
Terima kasih buat semua relawan CIS Timor dan semua orang yang pernah dan tetap peduli dengan CIS Timor yang tidak bisa disebutkan satu per satu
Juga buat semua komunitas dampingan yang turut membesarkan CIS Timor hingga saat ini.
Olkes Dadi Lado
Jarum jam sudah menunjukan angka 12 lewat, tersisa sembilan menit lagi sudah pukul satu dini hari. Pertanda sudah hampir sejam lamanya hari berganti, jumad berganti sabtu. Tanggal delapan ke sembilan.
Teman-teman sudah tertidur, tersisa saya, entah kenapa belum bisa menutup mata sejak tadi.
Hati saya gelisah. Memang ada ganjalan di hati tapi itu sangat personal dan tak layak di ceritakan di sini.
Bunyi kokok ayam jantan terdengar samar. Di luar sunyi.
Sesekali terdengar lolongan anjing di kejauhan pertanda si anjing ingin kawin.
Ditemani segelas teh panas dan sebungkus rokok LA light, saya masih terus terjaga.
Hari ini (9/9), CIS berusia tujuh tahun.
CIS Timor adalah adalah sebuah lembaga perkumpulan relawan yang bermarkas di Timor Barat.
Pada saat yang sama tujuh tahun yang lalu, di jalan pendidikan II no 2 Kota Baru, beberapa aktivis dari GMKI cabang Kupang dan GAMKI DPD I NTT berkumpul dan mendeklarasikan berdirinya sebuah organisasi dengan nama posko relawan CIS GAMKI-GMKI NTT.
Nama CIS adalah akronim dari Center for Internaly Displaced People’s Service. Nama ini diberikan oleh ibu Stien Djalil, seorang pengurus PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).
Berganti nama menjadi CIS Timor kemudian, saat pengurusan status legalnya pada 2004 lalu.
CIS hadir karena kepedulian akan kondisi pengungsian yang terjadi akibat konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur 1999 lalu.
Dalam kesendirian dengan iringan lagu "Ku tak Bisa Jauh" milik Slank dari winamp komputer, saya kembali mengingat kenangan bersama CIS.
Kumpulan anak-anak muda yang umumnya adalah aktivis GMKI dan GAMKI, kebanyakan mahasiswa ada juga yang sudah selesai bahkan ada yang barusan tamat SMA, pada waktu itu hanya bergerak dengan sumber daya terbatas, mereka tergerak untuk menolong pengungsi Timor Timur dengan apa yang ada pada mereka.
Hampir pasti pada saat itu, hanya tenaga dan semangat yang menjadi modal dasar.
Pada akhir 1999, dengan difasilitasi CD Bethesda Yogyakarta dan Church World Service. Mereka diberikan pelatihan bagaimana menjadi seorang relawan yang baik dalam workshop for volunteers.
Sebutan relawan-pun disandang oleh mereka. Saat itu jumlah relawan sekitar 40-an orang.
Sejak itu CIS mulai menata dirinya
Dengan donasi kecil dari CD Bethesda, juga dari CWS bahkan ada juga dari dewan Gereja Australia, mereka mulai melakukan pelayanan.
Mulai dari sekedar menjadi teman cerita para pengungsi di kamp Noelbaki, Tuapukan, Naibonat juga kamp-kamp dalam kota Kupang seperti GOR, Koni sampai ke Batakte di Kupang Barat.
Hingga membantu tim dokter CD Bethesda melakukan pelayanan kesehatan dan PMT.
Membuka sekolah tenda dan juga taman bermain anak.
Sampai hal-hal yang menyerempet bahaya, yakni mengumpulkan informasi tentang pelanggaran HAM dari para milisi.
CIS bukan hanya terlibat dalam isu pengungsi Timor Timur semata. Pada periode pertengahan 2000, CIS juga turut membantu penanganan korban bencana banjir dan longsor di seluruh kabupaten TTS, sebagian Belu dan Kupang dengan dukungan dari CWS dan Yayasan Selamat Pagi dari Yogyakarta
Kini CIS bisa dikatakan sudah cukup mapan sebagai sebuah lembaga lokal. Sejak lepas dari US Aid pada periode 2001-2002, CIS kemudian menjadi mitra kerja Oxfam GB sejak 2003 hingga sekarang. Sudah dua funding ECHO pada 2003-2004 dan Uni Eropa, 2005 hingga sekarang.
Sejalan dengan itu, model kerja CIS pun mulai berubah. Dari sekedar sebuah kerja bakti pada awal kelahirannya, sekarang sudah mengarah pada community development.
Dari sekedar memberi informasi, mendorong pengambilan keputusan hingga memfasilitasi tindakan dan realisasi atas keputusan komunitas dampingnya.
Masih tetap pada komitmen kediriannya, hingga saat ini CIS masih memberikan perhatian utama pada isu penyelesaian masalah pengungsi di Timor Barat.
Secara kelembagaanpun CIS sudah menjadi lebih baik, mulai dari pembenahan manajemen organisasi, perumusan visi, misi hingga penetapan rencana strategis.
Pengembangan jaringan kerjapun sudah semakin luas.
Bahkan dengan pemerintah sekalipun dalam perspektif pemerintah sebagai partner dengan tetap menjaga jarak kritis, CIS menjalin suatu hubungan yang sinergis.
Perjalanan CIS hingga tahap ini, juga tak lepas dari onak dan duri. Mulai dari konflik internal antara para pendirinya tentang status CIS, masalah pendanaan operasional organisasi ketika tak ada funding hingga konflik antar person di dalamnya.
Relawan CIS-pun sesuai hukum alam, tak semuanya bertahan, ada yang pergi, ada yang pula yang datang.
Saat ini relawan CIS mendekati angka 60.
CIS pernah mengalami masa sulit selama hampir setahun lamanya.
Tanpa funding pada akhir pertengahan 2000 hingga pertengahan 2001, CIS bergerak dengan dukungan dana seadanya dari para pendiri yang masih komit, ada Early Laukoli yang memberikan rumahnya dengan rela untuk dijadikan posko, ada David Radja yang selalu setia memberikan dukungan, Emy Nomleni, Alex Yakob dan masih banyak lainnya, tak kalah penting kesetiaan relawan-relawannya. Juga dukungan dari kedua lembaga pendiri.
CIS juga pernah mendapat caci maki, hujatan, cemooh, bahkan mungkin sumpah serapah dari mitra, relawannya sendiri, juga komunitas dampingannya, mungkin juga dari orang tua relawan karena anaknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk CIS.
Suka, duka, cerita sukses dan pengalaman pahit di CIS mengajarkan banyak hal buat relawan-relawannya. CIS turut membentuk diri saya.
Hampir sejam sudah saya merenung dan menulis tentang perasaan dan ingatan akan CIS selama kurun waktu tujuh tahun ini. Serasa tak cukup menuliskan semua yang pernah saya alami bersama CIS, sekalipun baru tujuh tahun kebersamaan itu.
Tujuh tahun, bukan sebuah usia yang matang, CIS masih harus bertumbuh dan terus mengembangkan dirinya.
Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak mimpi yang perlu diraih.
Ada mimpi kemandirian CIS, ada mimpi CIS untuk melayani lebih banyak orang, ada mimpi CIS juga melayani di luar Timor Barat, ada mimpi akan hadirnya sebuah keadilan dan kesetaraan gender, ada mimpi akan hadirnya sebuah komunitas yang menghargai keberagaman dan HAM dan masih banyak mimpi lainnya.
Semoga saat ini dalam tidurnya, semua relawan CIS sedang mengejar mimpi yang sama. Winston Rondo, koordinator relawan pernah mengatakan "Sebuah mimpi akan cepat menjadi kenyataan kalau impian itu diimpikan bersama".
Alunan syair lagu "Bunda" Melly Goeslaw dari winamp komputer terdengar menyejukan hati saya saat pagi menjelang di posko Atambua. Membantu saya mengingat masa-masa ketika CIS turut membentuk saya. Mata ini masih sulit terpejam.
Tiiit…..tiiit….bunyi sms masuk di hp usang bermerek nokia milik saya, mengusik lamunan.
Ternyata sms dari Frits Lake, seorang relawan CIS di Kupang, ia menulis sebuah pesan pendek,
"Satu alasan mengapa Allah menciptakan waktu adalah agar kita punya tempat untuk menguburkan kegagalan-kegagalan dan masa lalu dan menemukan kesempatan di masa sekarang untuk dapat lebih maju. Dirgahayu CIS Timor".
Ternyata bukan saya saja relawan CIS Timor yang masih terjaga menjelang pagi di hari yang spesial ini.
Hampir jam tiga subuh, suasana sekitar posko masih sepi, dengkuran-dengkuran halus teman-teman lirih terdengar.
Dalam tidur mereka, saya yakin kami semua mempunyai keinginan yang sama, keinginan akan masa depan CIS yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini dengan tetap menjaga semangat kerelawanan yang menjadi ciri dan identitas CIS itu sendiri.
Dalam hati, saya bersyukur dan memohon penyertaan dari Tuhan agar dalam pertumbuhannya CIS selalu menjadikan kasih sebagai dasar dalam setiap langkahnya.
Selamat Ulang Tahun CIS Timor
Terima kasih buat semua relawan CIS Timor dan semua orang yang pernah dan tetap peduli dengan CIS Timor yang tidak bisa disebutkan satu per satu
Juga buat semua komunitas dampingan yang turut membesarkan CIS Timor hingga saat ini.
Dari Manumutin, Tubaki ke Soro-Webua
Tiga kali berpindah tempat karena alam dan ulah manusia tak menyurutkan semangat mereka dalam menggapai sebuah solusi yang layak dan bertahan bagi masa depan mereka dan anak-cucu
Olkes Dadi Lado
Sebuah plang sederhana berwarna putih dari tripleks dan kayu terpampang di mulut sebuah jalan tanah sebelah kanan arah Wemasa. Di situ tertulis “Antonio Cardoso”, “RT 04/ RW 01 dusun Webua 150 m” dengan gambar anak panah warna hitam. Di ujung kanan bawah tertulis “tamu harap lapor 1 x 24 jam”. Ini tanda penunjuk ke lokasi pemukiman mandiri Soro Webua.
Dari Betun ke lokasi ini hanya membutuhkan 15 – 20 menit perjalanan menggunakan ojek maupun bemo (angkutan kota).
Kamis (10/8), sekitar jam sepuluh, saya dan Ken, staf Food security Oxfam GB memasuki jalan itu. Ini kali pertama saya mengunjunginya.
Sekitar 50 meter sebelum memasuki pemukiman, terdapat galian saluran dengan kedalaman sekitar 1-2 meter di samping kiri dan kanan jalan.
“Ini rencana saluran irigasi yang baru”, ujar Ken.
Beberapa lelaki sibuk mengangkut tanah bekas galian dari dalam saluran, sebagian lagi sibuk merapikan dinding saluran. Debu beterbangan memenuhi udara sekitarnya.
Atap seng rumah-rumah milik warga baru sudah kelihatan, sekitar seratus meter lagi.
Rumah-rumah di pemukiman baru yang dihuni 64 keluarga warga baru eks Timor Timur ini sederhana bahkan terkesan masih darurat, rata-rata atapnya dari seng bekas, ada yang masih memakai tambahan terpal , dindingnya dari bebak (pelepah gebang-red), ada juga dari belahan bambu, tak berpondasi. Namun tata letaknya cukup teratur.
Ince, staf lapangan Oxfam GB lainnya yang mendampingi kelompok ini sejak masih di kamp, sudah menunggu di depan pintu masuk, sedang berbincang-bincang dengan sekelompok pemuda. Di depan mereka, di belakang sebuah rumah, samping kanan jalan masuk kompleks itu, sekelompok lelaki dan dua orang perempuan setengah baya sibuk membangun sebuah kamar mandi.
Setelah bertegur sapa dengan mereka, Ince membawa kami memasuki kompleks lebih dalam lagi.
Di kiri kanan jalan kompleks yang berdebu itu berdiri rumah-rumah dengan bermacam-macam ukuran, tergantung kemampuan dan bahan yang dipunyai pemiliknya.
Di tengah-tengah kompleks terdapat sebuah tanah yang sengaja dibiarkan kosong, sebuah sumur permanen tepat di sebelah kiri tak jauh dari sumur itu sekitar empat meter terdapat sebuah WC, di sebelah utara berdiri sebuah pondok tanpa dinding beratap daun gebang.
Kami memasuki sebuah rumah di selatan tanah kosong itu. Rumah milik Manuel Da Silva.
Manuel demikian nama panggilannya, siang itu hanya bercelana pendek tak berbaju, tersenyum ramah menyambut kami. Rumahnya terbilang kecil untuk ditempati sebuah keluarga. Berdinding bebak seperti rata-rata rumah lainnya. Bagian depan rumahnya terdapat sebuah dipan bambu, di sampingnya dekat pintu masuk terdapat sebuah rangka lemari kayu, “Saya rencana untuk tempat taro piring ka gelas dong”, kata Manuel. Ia berusia 36 tahun, sudah mempunyai empat orang anak. “Dua orang su meninggal, sisa dua sa”, lanjutnya pelan.
“Dong pung mama ada pi kebun jadi saya yang jaga dong di rumah”, sambil mengelus kepala anaknya.
Saya teringat kisah di Asuulun. Tanpa belajar teori gender, mereka mampu untuk membagi peran dalam keluarga, ketika sang isteri pergi bekerja ke kebun, sang suami akan mengambil peran "domestik" seperti menjaga rumah dan mengurus anak.
“Kami pindah ke sini itu pada September tahun 2005, waktu itu Oxfam yang bantu kasi pindah”, katanya.
Terhitung kurang sebulan lagi komunitas ini akan merayakan ulang tahun pertama mereka di lokasi baru, hampir setahun sudah pemukiman mandiri Soro Webua hadir di desa Lakekun Barat.
Sebelum pindah, menurut Manuel, mereka terlebih dahulu mempersiapkan lokasi. Persiapan lokasi yang mereka lakukan antara lain pembersihan lahan, membagi kapling untuk setiap keluarga calon penghuni dan membangun rumah-rumah sementara, “Ami halo uluk uma ho ke’e sumur, hetan be mak ami mos pindah mai”, lanjutnya dalam bahasa tetun. (Terlebih dahulu kami bangun rumah dan menggali sumur, setelah dapat air barulah kami pindah kemari--red). Ia mengatakan bahwa kebutuhan air sangat penting karena itulah mereka mendahulukan kehadiran sumur di lokasi ini sebelum pindah, “Waktu itu Romo Sipri yang bantu cari titik airnya”. Ia mengangkat sang anak ke pangkuannya untuk menenangkan anaknya yang mulai merengek.
Sekalipun baru pertama kali ke lokasi ini, namun cerita komunitas warga baru ini sudah tidak asing lagi bagi saya.
***
Pada awal Juni tahun lalu, saya pernah mengunjungi komunitas ini ditemani Frans Panthur,kepala staf lapangan Oxfam GB. Waktu itu mereka masih tinggal di kamp Tubaki-Kamanasa.
Mereka mempunyai cerita kehidupan yang panjang dan berliku, Soro Webua merupakan tempat tinggal mereka yang ketiga selama masa pengungsian mereka di Timor Barat.
Bruno de Araujo ketua kamp Tubaki B1 pada waktu itu kepada saya, saat ditemui di rumahnya pada tanggal 10 Juni setahun yang lalu, mengatakan “ Awal kami datang itu di desa Manumutin sana, nah kemudian karena banjir tepatnya 16 Mei 2000, baru pindah ke Tubaki sini ”.
Letak tempat tinggal kedua ini tepat di lereng bukit hutan Kateri sekitar satu kilometer sebelum kota Betun. Kemiringan tanah ciri khas lereng bukit dengan kandungan batuan yang tinggi membuat mereka harus bekerja keras meratakannya agar bisa dibangun rumah di atasnya. “Waktu kita datang itu baru kita guling ini batu dong ini sehingga bisa dapat tempat yang agak rata untuk bangun rumah di situ”, lanjut Bruno, saat itu di rumahnya sedang sibuk mempersiapkan acara tabur bunga buat mendiang anaknya.
Lokasi itupun tak lama mereka tempati. Jika lokasi pertama mereka tinggalkan karena faktor alam, yakni bencana banjir bandang, maka lokasi kedua mereka di Tubaki ditinggalkan karena faktor manusia. Belum lama mereka menempati kamp Tubaki B1, B2 dan B3, pada tahun 2002 bertepatan dengan momen pemilu waktu itu, mereka sudah diminta keluar oleh pemilik lahan yang baru dengan alasan lahan tersebut akan diolah.
Dari Ainaro di Timor Timur, mengungsi karena konflik akibat ulah manusia, mereka ke Manumutin, karena ulah alam, mereka pindah lagi ke Tubaki, kembali mereka harus angkat kaki dari Tubaki karena diusir.
Mariano Felix, tokoh masyarakat dari kumpulan kamp di wilayah Tubaki, saat saya dan Frans temui di rumahnya di lokasi trans Kamanasa, ia sedang menikmati segarnya hembusan angin siang sambil menatap hijaunya hamparan padi dan rumput di areal persawahan di bawah naungan pohon mangga di belakang rumahnya, mengatakan pengusiran itu bukan dilakukan oleh pemilik tanah yang lama yang menerima mereka pada tahun 2000 yang biasa dipanggil dengan sebutan Bei Mali, namun oleh pemiliknya yang baru. Rupanya tanah itu sudah dijual oleh Bei Mali.
“Termasuk saya juga diminta keluar. Saat itu saya lagi sibuk karena terlibat dalam KPPS setempat saat pemilu lalu, sehingga saya bilang ke dia bahwa kalau begitu silahkan kamu gantikan saya karena saat ini saya sedang bertugas untuk Pemilu sedangkan saya diminta untuk keluar dalam waktu seminggu, sehingga saya bilang ke dia kasi saya waktu sebulan lagi setelah selesai Pemilu saya akan keluar”, jelasnya.
Kondisi inilah kemudian mendorong mereka untuk melakukan pertemuan komunitas guna mencari jalan keluarnya. Hasilnya seluruh komunitas bersepakat untuk mencari tanah sendiri.
Proses pencarian lahan baru bukan hal yang mudah untuk dilakukan, menurut laporan yang ada, sejak inisiatif ini keluar, sudah enam lokasi yang dinegosiasikan namun selalu gagal. Entah itu karena ketidak cocokan lokasi dengan keinginan komunitas maupun karena harga lahannya.
“Akhirnya kami dapat yang satu hektar ini, pemiliknya itu bernama Simon Bere”, kata Felix Mariano.
Sesungguhnya komunitas di kamp Tubaki B1 hingga B3 berhasil mendapatkan dua bidang, selain di Soro Webua, lahan lainnya berada di Aimalae tak jauh dari lokasi pertama.
Dari lahan seluas satu hektar di Soro Webua itu, setiap keluarga mendapat lahan seluas 9x16 meter persegi.
Lahan yang didapat juga bersertifikat sehingga mempunyai status hukum yang kuat, Felix Mariano saat itu (10/6/2005) juga menunjukan kepada saya dan Frans sertifikatnya yang diterbitkan pada tahun 1982.
Setelah semua urusan legalitas lahan selesai dilakukan, tak ketinggalan persiapan lokasinya,
Pada September 2005, dengan dukungan trasportasi dari Oxfam GB, komunitas eks pengungsi di kamp Tubaki B1, B2 dan B3 pindah ke Soro Webua (64 KK) dan Aimalae (20 KK).
Di Soro Webua, mereka masuk menjadi warga baru desa Lakekun Barat kecamatan Kobalima kabupaten Belu.
***
Di lokasi baru Soro Webua inilah, Keluarga Manuel Da Silva bersama keluarga lainnya tinggal hingga saat ini.
Umumnya sebuah pemukiman, kehadiran penghuninya berakibat pada munculnya kebutuhan sarana dan pra sarana pendukung. Komunitas sudah mengupayakan secara mandiri lahannya, rumahpun dibangun menggunakan bahan bekas dari kamp, bahkan komunitas secara swadaya telah menggali sebuah sumur.
Pertanyaannya, apakah semua itu cukup untuk menghadirkan sebuah solusi yang layak bagi mereka?
64 keluarga bukan sebuah jumlah yang kecil, jumlah mereka sudah bisa menghadirkan sebuah RT baru di dusun Webua desa Lakekun Barat.
Kebutuhan akan sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK) sangat dibutuhkan keluarga-keluarga baru ini. Manuel mengatakan salah satu kesulitan yang dihadapi pada awal kedatangan mereka di Soro Webua adalah ketiadaan sarana MCK.
“Akhirnya ami ida-ida iha ailaran deit”, katanya tersipu malu. (ami ida-ida iha ailaran dei = masing-masing ke hutan)
Karena tak tahan melihat mimik wajahnya, sayapun tertawa, Ken yang duduk tepat di belakang saya tertawa terbahak-bahak, senyuman Manuel berubah tertawa, membayangkan masa-masa sulit saat itu, panasnya udara siang itu hilang sejenak berganti keceriaan canda kami.
Dua bulan setelah pindah, Oxfam GB, sebuah LSM Internasional asal Inggeris yang melayani di wilayah Betun dan Kobalima Kabupaten Belu dengan dukungan dana dari Uni Eropa, mulai melakukan intervensi dengan kegiatan promosi kesehatan umum dan pembangunan WC serta memperbaiki sumur yang ada.
“Ada 22 unit WC di sini dan satu sumur”, kata Manuel.
Kamar mandinya tak ada karena tak disetujui komunitas untuk dibangun karena alasan sempitnya lahan.
Menurut Manuel, sekalipun hanya satu sumur namun bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga baru karena debitnya besar, “Kalo pas musim hujan kita timba pake tangan saja, tidak usah pake tali”.
Beberapa warga dipilih secara bersama untuk menjadi Relawan Penyuluh Kesehatan Masyarakat (RPKM) dan komite air, ini merupakan bagian dari kegiatan promosi kesehatan.
Mereka dibekali dengan pengetahuan dasar tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya juga kegiatan-kegiatan lain yang menunjang bagi peningkatan hidup sehat masyarakat.
Manuel selain mengurus rumah tangganya, juga membantu mengawasi dan merawat sarana MCK yang ada, “Kadang kalo yang lain sibuk pi kebun dan tidak sempat kasi bersih saluran ka wc, pasti saya pi kasi bersih”.
Ia mengakui cukup merasakan perbedaan ketika masih tinggal di kamp, “Kalo dulu di kamp kami juga punya wc tapi darurat saja dan jumlahnya sedikit jadi kadang kami harus pi hutan di atas bukit. Sekarang, di sini kami bisa pake wc karena jumlahnya cukup”. Satu WC di pakai bersama oleh tiga keluarga.
Perbedaan ini juga diakui beberapa RPKM lain yang saya temui beberapa saat sesudah dari rumah Manuel.
Di bawah naungan tenda bekas bantuan UNHCR yang masih layak pakai yang oleh pemiliknya dipasang di depan rumah sebagai tempat beristirahat saat penat atau tempat bercengkerama warga -setidaknya menurut pikir saya saat itu-, kami berdiskusi.
Ada mama Flamina Fernandes (32), Rosantina Pareira Dos Santos dan Marcia Dos Reis Soares juga Daniel David Da Silva (23).
Mereka mengakui adanya perbedaan itu, namun itu saja belum cukup karena sampai saat ini meskipun telah melakukan kegiatan promosi kesehatan namun masih ada warga yang belum betul-betul sadar akan pentingnya hidup sehat.
Kami berdiskusi banyak hal, mereka juga menyinggung soal gizi anak, sekalipun setiap bulan diadakan posyandu di pemukiman ini namun belum begitu nampak perubahan pada tingkat gizi bayi maupun balita.
“Kalo pas posyandu kita timbang anak dong di situ kita isi di KMS (Kartu Menuju Sehat), nah di KMS ini kadang naik kadang turun, jadi tidak tetap begitu”. Kata mama Flamina.
“Menurut mama, kenapa jadi begitu?” Tanya saya.
“Saya juga kurang tahu e pak kenapa ko dia bulan ini baik abis bulan berikut turun lagi”, jawabnya, bingung menghadapi masalah itu.
“Jangan sampai makanannya kurang?”
“Kalo makanan biasa sa kalo tidak ada beras ya makan jagung, biar sedikit pasti ada saja”, bantahnya lagi
“Mungkin karena orang tua dong kurang perhatikan”, sambung Rosantina dari sebelahnya, sejak tadi ia hanya diam.
“Iya pak, kadang orang tua dong hanya mau perhatikan diri mereka sendiri na”, celetuk Daniel sinis.
Menurut Daniel, faktor perhatian dan pengawasan dari orang tua juga turut menyumbang bagi peningkatan gizi anak.
Mereka mengakui bahwa masa awal berada di Soro Webua, komunitas cukup kesulitan dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan. Menurut saya, cukup wajar mengingat saat itu mereka baru saja pindah dan masuk ke lokasi yang sama sekali baru.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, Manuel dan warga lainnya masih tetap menggarap lahan di kebun lama mereka semasa di kamp dulu.
”Agora ami sei halo to’os iha estadu nian rain, iha perbatasan Kateri”, ujar Manuel. (Agora ami sei halo to’os iha estadu nian rain, iha = sekaranng kami masih kerja kebun di tanah pemerintah, di perbatasan Kateri).
Ia sadar bahwa lokasi itu sudah dilarang untuk dijadikan lahan pertanian, namun tuntutan kebutuhan akan pangan keluarga memaksanya untuk tetap melakukan hal itu, ”Ne’e bodik moris”. (Ne’e bodik moris = ini untuk hidup)
Tanamannya beragam, mulai dari jagung hingga sayuran seperti pare. Hasilnya, menurut Manuel hanya untuk kebutuhan makan keluarga, kecuali panennya bagus barulah dijual sebagian.
Komunitas ini juga mendapat dukungan program ketahanan pangan dari Oxfam berupa bibit pertanian dan peternakan. Daniel salah satu penerima bantuan pertanian dari 18 keluarga sasaran.
Kebunnya di sebelah barat, tak jauh dari kompleks sebanyak 22 bedeng dengan panjang sekitar dua meter setiap bedengnya, yang ia tanami dengan lombok, namun belum panen. Lahan tersebut adalah milik warga lama (asli setempat) yang dikontrak oleh kelompok pertanian selama dua tahun, ”Tapi tanpa bayar atau bagi hasil. Pemiliknya bilang pake saja dulu selama dua tahun”, kata Daniel yang semasa di kamp dulu mengaku tak mempunyai kebun. Siang itu berpakaian serba hijau ala tentara.
Mereka mulai mengerjakan lahan itu sejak April. Tiap anggota kelompok mendapat dukungan bibit yang beragam tergantung keinginan mereka, ada terung, tomat, lombok dan pare.
Sedangkan mayoritas warga lainnya, lebih memilih untuk beternak kambing. ”Kemarin (9/8) kami baru dibagikan kambing oleh Oxfam. Itu baru sebagian, katanya akan ada lagi ”, kata Manuel sebelumnya saat bertemu di rumahnya.
Seikat daun lamtoro digantungnya di tiang penyangga tanaman markisa di halaman depan. ”Kandangnya sudah kami buat tapi sudah rusak lagi, jadi rencananya hari minggu nanti baru kami gotong royong untuk perbaiki”, jelasnya lanjut saat saya tanyakan mengapa kambingnya tidak dikandangkan. Terdapat 53 keluarga yang menerima bantuan serupa Manuel.
Perjuangan komunitas ini untuk menggapai sebuah solusi yang layak dan bertahan, mulai menampakan titik cerah.
Perjuangan ini tidak bisa mereka lakukan sendiri, mereka juga membutuhkan dukungan pelengkap bagi modal dasar yang ada pada komunitas, modal tekad dan semangat kemandirian.
Titik cerah solusi layak di Soro Webua juga tak lepas dari dukungan pemerintah lokal, Flamina Fernandes dan teman-teman RPKM-nya, sudah tiga bulan terakhir menjadi kader kesehatan tingkat desa. Manuel juga mengaku bahwa bantuan beras untuk masyarakat miskin-pun telah mereka terima termasuk bantuan langsung tunai kompensasi BBM (BLT BBM).
Hubungan antara warga lama dan warga baru semakin hari semakin baik, menurut Manuel. ”Sore-sore begitu, biasanya dong datang main-main ke sin. Kalo ada main voli di sini atau di sana, kami main sama-sama.” contohnya.
Guna mendukung hubungan yang sudah terjalin ini, keluarga terseleksi dari warga lama sebanyak 25 keluarga juga menerima bantuan bibit peternakan.
Jelang perayaan kemerdekaan Republik tercinta ini, komunitas warga baru Soro Webua-pun tak mau ketinggalan. Tak ada kegiatan akbar yang disiapkan, hanya melakukan penataan pemukiman baru mereka. Sederhana, tak membutuhkan biaya banyak namun bermakna dan berarti bagi mereka. Kehadiran mereka di tempat ini merupakan bukti cinta mereka
Olkes, Frans, Ken dan Ince.
Olkes Dadi Lado
Sebuah plang sederhana berwarna putih dari tripleks dan kayu terpampang di mulut sebuah jalan tanah sebelah kanan arah Wemasa. Di situ tertulis “Antonio Cardoso”, “RT 04/ RW 01 dusun Webua 150 m” dengan gambar anak panah warna hitam. Di ujung kanan bawah tertulis “tamu harap lapor 1 x 24 jam”. Ini tanda penunjuk ke lokasi pemukiman mandiri Soro Webua.
Dari Betun ke lokasi ini hanya membutuhkan 15 – 20 menit perjalanan menggunakan ojek maupun bemo (angkutan kota).
Kamis (10/8), sekitar jam sepuluh, saya dan Ken, staf Food security Oxfam GB memasuki jalan itu. Ini kali pertama saya mengunjunginya.
Sekitar 50 meter sebelum memasuki pemukiman, terdapat galian saluran dengan kedalaman sekitar 1-2 meter di samping kiri dan kanan jalan.
“Ini rencana saluran irigasi yang baru”, ujar Ken.
Beberapa lelaki sibuk mengangkut tanah bekas galian dari dalam saluran, sebagian lagi sibuk merapikan dinding saluran. Debu beterbangan memenuhi udara sekitarnya.
Atap seng rumah-rumah milik warga baru sudah kelihatan, sekitar seratus meter lagi.
Rumah-rumah di pemukiman baru yang dihuni 64 keluarga warga baru eks Timor Timur ini sederhana bahkan terkesan masih darurat, rata-rata atapnya dari seng bekas, ada yang masih memakai tambahan terpal , dindingnya dari bebak (pelepah gebang-red), ada juga dari belahan bambu, tak berpondasi. Namun tata letaknya cukup teratur.
Ince, staf lapangan Oxfam GB lainnya yang mendampingi kelompok ini sejak masih di kamp, sudah menunggu di depan pintu masuk, sedang berbincang-bincang dengan sekelompok pemuda. Di depan mereka, di belakang sebuah rumah, samping kanan jalan masuk kompleks itu, sekelompok lelaki dan dua orang perempuan setengah baya sibuk membangun sebuah kamar mandi.
Setelah bertegur sapa dengan mereka, Ince membawa kami memasuki kompleks lebih dalam lagi.
Di kiri kanan jalan kompleks yang berdebu itu berdiri rumah-rumah dengan bermacam-macam ukuran, tergantung kemampuan dan bahan yang dipunyai pemiliknya.
Di tengah-tengah kompleks terdapat sebuah tanah yang sengaja dibiarkan kosong, sebuah sumur permanen tepat di sebelah kiri tak jauh dari sumur itu sekitar empat meter terdapat sebuah WC, di sebelah utara berdiri sebuah pondok tanpa dinding beratap daun gebang.
Kami memasuki sebuah rumah di selatan tanah kosong itu. Rumah milik Manuel Da Silva.
Manuel demikian nama panggilannya, siang itu hanya bercelana pendek tak berbaju, tersenyum ramah menyambut kami. Rumahnya terbilang kecil untuk ditempati sebuah keluarga. Berdinding bebak seperti rata-rata rumah lainnya. Bagian depan rumahnya terdapat sebuah dipan bambu, di sampingnya dekat pintu masuk terdapat sebuah rangka lemari kayu, “Saya rencana untuk tempat taro piring ka gelas dong”, kata Manuel. Ia berusia 36 tahun, sudah mempunyai empat orang anak. “Dua orang su meninggal, sisa dua sa”, lanjutnya pelan.
“Dong pung mama ada pi kebun jadi saya yang jaga dong di rumah”, sambil mengelus kepala anaknya.
Saya teringat kisah di Asuulun. Tanpa belajar teori gender, mereka mampu untuk membagi peran dalam keluarga, ketika sang isteri pergi bekerja ke kebun, sang suami akan mengambil peran "domestik" seperti menjaga rumah dan mengurus anak.
“Kami pindah ke sini itu pada September tahun 2005, waktu itu Oxfam yang bantu kasi pindah”, katanya.
Terhitung kurang sebulan lagi komunitas ini akan merayakan ulang tahun pertama mereka di lokasi baru, hampir setahun sudah pemukiman mandiri Soro Webua hadir di desa Lakekun Barat.
Sebelum pindah, menurut Manuel, mereka terlebih dahulu mempersiapkan lokasi. Persiapan lokasi yang mereka lakukan antara lain pembersihan lahan, membagi kapling untuk setiap keluarga calon penghuni dan membangun rumah-rumah sementara, “Ami halo uluk uma ho ke’e sumur, hetan be mak ami mos pindah mai”, lanjutnya dalam bahasa tetun. (Terlebih dahulu kami bangun rumah dan menggali sumur, setelah dapat air barulah kami pindah kemari--red). Ia mengatakan bahwa kebutuhan air sangat penting karena itulah mereka mendahulukan kehadiran sumur di lokasi ini sebelum pindah, “Waktu itu Romo Sipri yang bantu cari titik airnya”. Ia mengangkat sang anak ke pangkuannya untuk menenangkan anaknya yang mulai merengek.
Sekalipun baru pertama kali ke lokasi ini, namun cerita komunitas warga baru ini sudah tidak asing lagi bagi saya.
***
Pada awal Juni tahun lalu, saya pernah mengunjungi komunitas ini ditemani Frans Panthur,kepala staf lapangan Oxfam GB. Waktu itu mereka masih tinggal di kamp Tubaki-Kamanasa.
Mereka mempunyai cerita kehidupan yang panjang dan berliku, Soro Webua merupakan tempat tinggal mereka yang ketiga selama masa pengungsian mereka di Timor Barat.
Bruno de Araujo ketua kamp Tubaki B1 pada waktu itu kepada saya, saat ditemui di rumahnya pada tanggal 10 Juni setahun yang lalu, mengatakan “ Awal kami datang itu di desa Manumutin sana, nah kemudian karena banjir tepatnya 16 Mei 2000, baru pindah ke Tubaki sini ”.
Letak tempat tinggal kedua ini tepat di lereng bukit hutan Kateri sekitar satu kilometer sebelum kota Betun. Kemiringan tanah ciri khas lereng bukit dengan kandungan batuan yang tinggi membuat mereka harus bekerja keras meratakannya agar bisa dibangun rumah di atasnya. “Waktu kita datang itu baru kita guling ini batu dong ini sehingga bisa dapat tempat yang agak rata untuk bangun rumah di situ”, lanjut Bruno, saat itu di rumahnya sedang sibuk mempersiapkan acara tabur bunga buat mendiang anaknya.
Lokasi itupun tak lama mereka tempati. Jika lokasi pertama mereka tinggalkan karena faktor alam, yakni bencana banjir bandang, maka lokasi kedua mereka di Tubaki ditinggalkan karena faktor manusia. Belum lama mereka menempati kamp Tubaki B1, B2 dan B3, pada tahun 2002 bertepatan dengan momen pemilu waktu itu, mereka sudah diminta keluar oleh pemilik lahan yang baru dengan alasan lahan tersebut akan diolah.
Dari Ainaro di Timor Timur, mengungsi karena konflik akibat ulah manusia, mereka ke Manumutin, karena ulah alam, mereka pindah lagi ke Tubaki, kembali mereka harus angkat kaki dari Tubaki karena diusir.
Mariano Felix, tokoh masyarakat dari kumpulan kamp di wilayah Tubaki, saat saya dan Frans temui di rumahnya di lokasi trans Kamanasa, ia sedang menikmati segarnya hembusan angin siang sambil menatap hijaunya hamparan padi dan rumput di areal persawahan di bawah naungan pohon mangga di belakang rumahnya, mengatakan pengusiran itu bukan dilakukan oleh pemilik tanah yang lama yang menerima mereka pada tahun 2000 yang biasa dipanggil dengan sebutan Bei Mali, namun oleh pemiliknya yang baru. Rupanya tanah itu sudah dijual oleh Bei Mali.
“Termasuk saya juga diminta keluar. Saat itu saya lagi sibuk karena terlibat dalam KPPS setempat saat pemilu lalu, sehingga saya bilang ke dia bahwa kalau begitu silahkan kamu gantikan saya karena saat ini saya sedang bertugas untuk Pemilu sedangkan saya diminta untuk keluar dalam waktu seminggu, sehingga saya bilang ke dia kasi saya waktu sebulan lagi setelah selesai Pemilu saya akan keluar”, jelasnya.
Kondisi inilah kemudian mendorong mereka untuk melakukan pertemuan komunitas guna mencari jalan keluarnya. Hasilnya seluruh komunitas bersepakat untuk mencari tanah sendiri.
Proses pencarian lahan baru bukan hal yang mudah untuk dilakukan, menurut laporan yang ada, sejak inisiatif ini keluar, sudah enam lokasi yang dinegosiasikan namun selalu gagal. Entah itu karena ketidak cocokan lokasi dengan keinginan komunitas maupun karena harga lahannya.
“Akhirnya kami dapat yang satu hektar ini, pemiliknya itu bernama Simon Bere”, kata Felix Mariano.
Sesungguhnya komunitas di kamp Tubaki B1 hingga B3 berhasil mendapatkan dua bidang, selain di Soro Webua, lahan lainnya berada di Aimalae tak jauh dari lokasi pertama.
Dari lahan seluas satu hektar di Soro Webua itu, setiap keluarga mendapat lahan seluas 9x16 meter persegi.
Lahan yang didapat juga bersertifikat sehingga mempunyai status hukum yang kuat, Felix Mariano saat itu (10/6/2005) juga menunjukan kepada saya dan Frans sertifikatnya yang diterbitkan pada tahun 1982.
Setelah semua urusan legalitas lahan selesai dilakukan, tak ketinggalan persiapan lokasinya,
Pada September 2005, dengan dukungan trasportasi dari Oxfam GB, komunitas eks pengungsi di kamp Tubaki B1, B2 dan B3 pindah ke Soro Webua (64 KK) dan Aimalae (20 KK).
Di Soro Webua, mereka masuk menjadi warga baru desa Lakekun Barat kecamatan Kobalima kabupaten Belu.
***
Di lokasi baru Soro Webua inilah, Keluarga Manuel Da Silva bersama keluarga lainnya tinggal hingga saat ini.
Umumnya sebuah pemukiman, kehadiran penghuninya berakibat pada munculnya kebutuhan sarana dan pra sarana pendukung. Komunitas sudah mengupayakan secara mandiri lahannya, rumahpun dibangun menggunakan bahan bekas dari kamp, bahkan komunitas secara swadaya telah menggali sebuah sumur.
Pertanyaannya, apakah semua itu cukup untuk menghadirkan sebuah solusi yang layak bagi mereka?
64 keluarga bukan sebuah jumlah yang kecil, jumlah mereka sudah bisa menghadirkan sebuah RT baru di dusun Webua desa Lakekun Barat.
Kebutuhan akan sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK) sangat dibutuhkan keluarga-keluarga baru ini. Manuel mengatakan salah satu kesulitan yang dihadapi pada awal kedatangan mereka di Soro Webua adalah ketiadaan sarana MCK.
“Akhirnya ami ida-ida iha ailaran deit”, katanya tersipu malu. (ami ida-ida iha ailaran dei = masing-masing ke hutan)
Karena tak tahan melihat mimik wajahnya, sayapun tertawa, Ken yang duduk tepat di belakang saya tertawa terbahak-bahak, senyuman Manuel berubah tertawa, membayangkan masa-masa sulit saat itu, panasnya udara siang itu hilang sejenak berganti keceriaan canda kami.
Dua bulan setelah pindah, Oxfam GB, sebuah LSM Internasional asal Inggeris yang melayani di wilayah Betun dan Kobalima Kabupaten Belu dengan dukungan dana dari Uni Eropa, mulai melakukan intervensi dengan kegiatan promosi kesehatan umum dan pembangunan WC serta memperbaiki sumur yang ada.
“Ada 22 unit WC di sini dan satu sumur”, kata Manuel.
Kamar mandinya tak ada karena tak disetujui komunitas untuk dibangun karena alasan sempitnya lahan.
Menurut Manuel, sekalipun hanya satu sumur namun bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga baru karena debitnya besar, “Kalo pas musim hujan kita timba pake tangan saja, tidak usah pake tali”.
Beberapa warga dipilih secara bersama untuk menjadi Relawan Penyuluh Kesehatan Masyarakat (RPKM) dan komite air, ini merupakan bagian dari kegiatan promosi kesehatan.
Mereka dibekali dengan pengetahuan dasar tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya juga kegiatan-kegiatan lain yang menunjang bagi peningkatan hidup sehat masyarakat.
Manuel selain mengurus rumah tangganya, juga membantu mengawasi dan merawat sarana MCK yang ada, “Kadang kalo yang lain sibuk pi kebun dan tidak sempat kasi bersih saluran ka wc, pasti saya pi kasi bersih”.
Ia mengakui cukup merasakan perbedaan ketika masih tinggal di kamp, “Kalo dulu di kamp kami juga punya wc tapi darurat saja dan jumlahnya sedikit jadi kadang kami harus pi hutan di atas bukit. Sekarang, di sini kami bisa pake wc karena jumlahnya cukup”. Satu WC di pakai bersama oleh tiga keluarga.
Perbedaan ini juga diakui beberapa RPKM lain yang saya temui beberapa saat sesudah dari rumah Manuel.
Di bawah naungan tenda bekas bantuan UNHCR yang masih layak pakai yang oleh pemiliknya dipasang di depan rumah sebagai tempat beristirahat saat penat atau tempat bercengkerama warga -setidaknya menurut pikir saya saat itu-, kami berdiskusi.
Ada mama Flamina Fernandes (32), Rosantina Pareira Dos Santos dan Marcia Dos Reis Soares juga Daniel David Da Silva (23).
Mereka mengakui adanya perbedaan itu, namun itu saja belum cukup karena sampai saat ini meskipun telah melakukan kegiatan promosi kesehatan namun masih ada warga yang belum betul-betul sadar akan pentingnya hidup sehat.
Kami berdiskusi banyak hal, mereka juga menyinggung soal gizi anak, sekalipun setiap bulan diadakan posyandu di pemukiman ini namun belum begitu nampak perubahan pada tingkat gizi bayi maupun balita.
“Kalo pas posyandu kita timbang anak dong di situ kita isi di KMS (Kartu Menuju Sehat), nah di KMS ini kadang naik kadang turun, jadi tidak tetap begitu”. Kata mama Flamina.
“Menurut mama, kenapa jadi begitu?” Tanya saya.
“Saya juga kurang tahu e pak kenapa ko dia bulan ini baik abis bulan berikut turun lagi”, jawabnya, bingung menghadapi masalah itu.
“Jangan sampai makanannya kurang?”
“Kalo makanan biasa sa kalo tidak ada beras ya makan jagung, biar sedikit pasti ada saja”, bantahnya lagi
“Mungkin karena orang tua dong kurang perhatikan”, sambung Rosantina dari sebelahnya, sejak tadi ia hanya diam.
“Iya pak, kadang orang tua dong hanya mau perhatikan diri mereka sendiri na”, celetuk Daniel sinis.
Menurut Daniel, faktor perhatian dan pengawasan dari orang tua juga turut menyumbang bagi peningkatan gizi anak.
Mereka mengakui bahwa masa awal berada di Soro Webua, komunitas cukup kesulitan dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan. Menurut saya, cukup wajar mengingat saat itu mereka baru saja pindah dan masuk ke lokasi yang sama sekali baru.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, Manuel dan warga lainnya masih tetap menggarap lahan di kebun lama mereka semasa di kamp dulu.
”Agora ami sei halo to’os iha estadu nian rain, iha perbatasan Kateri”, ujar Manuel. (Agora ami sei halo to’os iha estadu nian rain, iha = sekaranng kami masih kerja kebun di tanah pemerintah, di perbatasan Kateri).
Ia sadar bahwa lokasi itu sudah dilarang untuk dijadikan lahan pertanian, namun tuntutan kebutuhan akan pangan keluarga memaksanya untuk tetap melakukan hal itu, ”Ne’e bodik moris”. (Ne’e bodik moris = ini untuk hidup)
Tanamannya beragam, mulai dari jagung hingga sayuran seperti pare. Hasilnya, menurut Manuel hanya untuk kebutuhan makan keluarga, kecuali panennya bagus barulah dijual sebagian.
Komunitas ini juga mendapat dukungan program ketahanan pangan dari Oxfam berupa bibit pertanian dan peternakan. Daniel salah satu penerima bantuan pertanian dari 18 keluarga sasaran.
Kebunnya di sebelah barat, tak jauh dari kompleks sebanyak 22 bedeng dengan panjang sekitar dua meter setiap bedengnya, yang ia tanami dengan lombok, namun belum panen. Lahan tersebut adalah milik warga lama (asli setempat) yang dikontrak oleh kelompok pertanian selama dua tahun, ”Tapi tanpa bayar atau bagi hasil. Pemiliknya bilang pake saja dulu selama dua tahun”, kata Daniel yang semasa di kamp dulu mengaku tak mempunyai kebun. Siang itu berpakaian serba hijau ala tentara.
Mereka mulai mengerjakan lahan itu sejak April. Tiap anggota kelompok mendapat dukungan bibit yang beragam tergantung keinginan mereka, ada terung, tomat, lombok dan pare.
Sedangkan mayoritas warga lainnya, lebih memilih untuk beternak kambing. ”Kemarin (9/8) kami baru dibagikan kambing oleh Oxfam. Itu baru sebagian, katanya akan ada lagi ”, kata Manuel sebelumnya saat bertemu di rumahnya.
Seikat daun lamtoro digantungnya di tiang penyangga tanaman markisa di halaman depan. ”Kandangnya sudah kami buat tapi sudah rusak lagi, jadi rencananya hari minggu nanti baru kami gotong royong untuk perbaiki”, jelasnya lanjut saat saya tanyakan mengapa kambingnya tidak dikandangkan. Terdapat 53 keluarga yang menerima bantuan serupa Manuel.
Perjuangan komunitas ini untuk menggapai sebuah solusi yang layak dan bertahan, mulai menampakan titik cerah.
Perjuangan ini tidak bisa mereka lakukan sendiri, mereka juga membutuhkan dukungan pelengkap bagi modal dasar yang ada pada komunitas, modal tekad dan semangat kemandirian.
Titik cerah solusi layak di Soro Webua juga tak lepas dari dukungan pemerintah lokal, Flamina Fernandes dan teman-teman RPKM-nya, sudah tiga bulan terakhir menjadi kader kesehatan tingkat desa. Manuel juga mengaku bahwa bantuan beras untuk masyarakat miskin-pun telah mereka terima termasuk bantuan langsung tunai kompensasi BBM (BLT BBM).
Hubungan antara warga lama dan warga baru semakin hari semakin baik, menurut Manuel. ”Sore-sore begitu, biasanya dong datang main-main ke sin. Kalo ada main voli di sini atau di sana, kami main sama-sama.” contohnya.
Guna mendukung hubungan yang sudah terjalin ini, keluarga terseleksi dari warga lama sebanyak 25 keluarga juga menerima bantuan bibit peternakan.
Jelang perayaan kemerdekaan Republik tercinta ini, komunitas warga baru Soro Webua-pun tak mau ketinggalan. Tak ada kegiatan akbar yang disiapkan, hanya melakukan penataan pemukiman baru mereka. Sederhana, tak membutuhkan biaya banyak namun bermakna dan berarti bagi mereka. Kehadiran mereka di tempat ini merupakan bukti cinta mereka
Olkes, Frans, Ken dan Ince.
Subscribe to:
Posts (Atom)