<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996</id><updated>2011-10-19T22:24:25.170-07:00</updated><title type='text'>fehan oan lian</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://volkes.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-6571442024192580364</id><published>2011-01-18T17:06:00.000-08:00</published><updated>2011-01-18T17:22:48.564-08:00</updated><title type='text'>Mama Ma’a, Dalam Kenangan</title><content type='html'>Oleh :&lt;br /&gt;Olyvianus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Fehan Oan"&lt;/span&gt; Dadi Lado&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok peremp&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TTY8YDavbtI/AAAAAAAAAC4/6Y7DgchzN6A/s1600/Beta%2Bpung%2Bmama.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 235px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TTY8YDavbtI/AAAAAAAAAC4/6Y7DgchzN6A/s320/Beta%2Bpung%2Bmama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563700773594820306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;uan tua berbadan besar itu terbaring tanpa sadar di atas ranjang besi berwarna putih dalam sebuah ruangan berukuran 3 x 4 di Rumah Sakit Penyangga Perbatasan Webua-Betun kabupaten Belu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah menjelang sore, detik demi detik terus berlalu, tak ada kemajuan berarti, sejak tiga hari lalu saat dibawa ke rumah sakit itu, perempuan tua itu tak mengeluarkan sepatah katapun, matanya terus terpejam, ia tak bereaksi sedikitpun ketika disapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu erangan perlahan yang keluar dari mulutnya saat saya tiba dan berbisik ke telinganya pagi itu, seakan jadi penghibur dan menguatkan semua saudara saya yang ada dalam ruangan sempit itu. Kembali terbesit harapan bahwa bahwa ia akan sembuh. Ya…ia adalah mama bagi enam orang anak, lima perempuan kakak saya dan seorang lelaki, saya sendiri, si bungsu. Oleh dokter, Mama dikatakan menderita Malaria Cerebral , malaria yang menyerang otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap, mentari sore mulai menghilang dibalik punggung bukit Kateri. Lampu dalam ruangan itu sudah menyala, pertanda sudah jam enam sore. Tiba-tiba,  “Uhhh…ahhhh..uuhhh..hhhh,” terdengar jelas dari mulut mama, tubuhnya bergetar semakin lama semakin keras, ia menggigil hebat, ranjang besi itu ikut bergetar hingga mengeluarkan bunyi. Sontak, kami semua berlarian menghampiri ranjang itu, seorang kakak saya mengulurkan tanganya meraba dahi mama, “Panas skali,” kata Loni, kakak saya yang nomor tiga. “Panggil dokterrr..!” teriak saya saat melihat mama semakin payah bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorong rumah sakit yang belum lama dibangun pemerintah itu, ramai oleh bunyi tapak kaki yang berlarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, seorang perawat datang membawa tabung O2 berukuran kecil, segera dipasangnya ke hiduang dan mulut mama. Getaran tubuh mama perlahan mulai reda. Dokter jaga tiba tak lama setelah itu, ia memasang statoscope ke jantung mama, lalu memeriksa pupil mata mama, lalu meraba denyut nadi, Ia berpaling pada perawatnya memerintahkan sesuatu yang tak saya mengerti, mungkin karena sedang kalut, saya tak ingat apa yang ia perintahkan kepada perawat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter itu, memandangi kami satu persatu, “Ada anak-anak di sini?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dokter, saya anaknya,” jawab secepat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama sudah sangat parah, kita akan coba sebisa mungkin e.. Dan sebaiknya adik-adik berdoa,” katanya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun, saya mengerti benar arti dibalik kalimat itu, kepala saya tertunduk, air mata mulai menggenangi ujung pelupuk mata. Suara isak tangis tertahan mulai terdengar dari mulut saudara-saudara saya. “Saya harus kuat, harus, harus,” kata saya berulangkali dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu pengobatan oleh dokter, saya memeluk kakak-kakak saya sambil meminta mereka untuk tetap kuat dan berdoa. Lalu kami berdoa bersama memohon kekuatan dan memasrahkan keadaan mama ke tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hati saya sedikit lega usai berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik demi detik berlalu, jarum jam sudah menunjuk angka enam, tersisa satu menit hampir setengah tujuh malam. Tiba-tiba,”Hhhuuuuhhhh,” hembusan bafas panjang dari mulut mama disertai sedikit getaran pada lengannya yang saya pegang. Dokter yang berdiri tepat di samping ranjang langsung meraba denyut nadi ditangan mama, helaan nafasnya berat, ia lalu membuka kelopak mata mama untuk melihat pupil mata mama, ia menutupnya lagi, lalu menolehkan kepalanya kepada saya, “Mama sudah pergi..,”kalimat pendek itu keluar tak tertahankan dari mulutnya. Lalu ia berpaling ke perawatnya, “Waktu kematian, jam 6.30.” si perawat mencatatkan itu pada kertas yang dipegangnya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan yang tadi tertahan-tahan keluar sejadi-jadinya, tak terbendung lagi, kami semua menangis. Saya juga menangis, entah mengapa saya juga tak yakin benar mengapa saya menangis?. Apakah karena tak rela kepergian mama? Apakah karena saya nanti mersa kesepian dan tak bisa melihat mama lagi?, apakah karena sebuah penyesalan sebab belum membahagiakan mama? Saya tak tahu alasan sebenarnya, yang pasti saat itu saya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;handycam&lt;/span&gt; yang saya bawa dari Kupang, Sebenarnya tak biasa saya membawa handycam kemana-mana diluar tugas kantor. Anehnya ketika mendengar mama masuk rumah sakit, tanpa pikir panjang saya meminjam kamera sony milik kantor untuk dibawa. Rupanya itu pertanda bahwa mama akan pergi meninggalkan kami semua anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perginya siang berganti malam nan gelap pada hari itu, menjadi pertanda kembalinya mama tercinta ke pangkuan Sang Khalik. Ada siang ada malam, ada kelahiran adapula kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     ****&lt;br /&gt;Hari ini, tepat tiga tahun sudah mama pergi meninggalkan kami. Yah secara fisik ia meninggalkan kami anak-anaknya namun semangat dan inspirasinya tetap ada menyertai kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama saya bernama lengkap Martha Homa, biasa dipanggila Ma’a. Ia dilahirkan di Sumbawa Besar, pada 27 Maret 1936. Anak kedua dari tiga puteri pasangan Wellem Homa dan Margaretha Homa - Ke Weo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghabiskan masa kecilnya di Sumbawa Besar-Nusa Tenggara Barat bersama kedua saudarinya, Mathelda Katrin Homa, sang kakak  dan Yakoba Homa adiknya, hingga tahun 1942 karena Perang Dunia II pecah dan Jepang menyerbu ke Indonesia, mereka pindah ke Kupang dan menetap di Tarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kupang-lah, ia mengecap dunia pendidikan, sejak dari SR pada tahun 1945 – 1951, dilanjutkannya ke SMP Kristen pada tahun 1952 – 1956, dan pada tahun 1958, ia meneruskan pendidikannya ke Sekolah Theologia di SoE-TTS. Ia tamat dan dithabiskan sebagai pendeta pada tahun 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun pertamanya sebagai pendeta, Mama Ma’a ditugaskan ke wilayah Bokong –Takari-Noelmina hingga tahun 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1963, ia dipindahkan ke wilayah Klasis Belu, sebagai pendeta penginjil. Selama di Belu, Ia melayani hampir di seluruh wilayah klasis Belu. Mulai dari Atambua, Lakafehan, Atapupu, Motaain, Asuulun, Weluli, Kakuun hingga Maktihan. Selain di Belu ia juga melayani hingga ke Tuamese, Ponu dan Kaubele di wilayah TTU. Jika beruntung dan ada yang meminjamkan kudanya, mama pergi melayani menunggang kuda tapi kebanyakan mama pergi melayani hanya bermodalkan kedua kakinya.&lt;br /&gt;Selama bertugas di Atambua, mama juga menyempatkan untuk mengabdikan diri pada dunia pendidikan dengan menjadi pengajar di TK Kristen Polycarpus Atambua bersama adiknya, Yakoba Muni – Homa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengalami masa-masa kelam dalam sejarah Indonesia pada tahun 1965, ketika itu ia sering dijemput paksa pada malam hari untuk mendoakan para korban pembantaian yang dituduh sebagai antek PKI, Ia tak bisa melawan pembantaian itu, ia hanya bisa mendoakan keluarga para korban agar kuat menghadapi situasi sulit pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1966 adalah masa dimana, mama Ma’a bertemu dengan tambatan hatinya, Lambertus Eduard Dadi Lado, juga seorang pendeta di bagian selatan Belu. Pada tahun 1967, keduanya sepakat menikah di Camplong. Pada tahun itu juga, Mama Ma’a dipindah-tugaskankan ke wilayah Maktihan, tempat sang suami melayani. Maka wilayah Maktihan dilayani oleh dua pendeta pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1968, karena kondisi perekonomian jemaat saat itu yang rendah, tentu saja jemaat sangat kesulitan untuk membiayai dua orang pendeta sekaligus, keduanya bersepakat agar salah satu mengundurkan diri dari status karyawan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), maka Mama Ma’a lah yang mengundurkan diri saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tak tercatat lagi sebagai karyawan GMIT, status kependetaannya tetap melekat karena itu  dalam kesehariannya ia tetap bahu membahu dengan suaminya melayani sebagai pendeta bagi umat Tuhan di wilayah Maktihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana banjir, kelaparan, ancaman perpecahan jemaat dan berbagai tantangan hidup lainnya tak membuat keduanya beranjak dari Rai Fehan (wilayah selatan Belu sering disebut sebagai Rai Fehan). Semua penderitaan yang mereka alami justeru semakin menguatkan iman dan kesetiaan mereka dalam melayani umat Tuhan di Rai Fehan – Rai Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika banyak orang belum meributkan soal pelayanan yang holistik, keduanya sudah melakukannya tanpa berbicara banyak.  Seingat saya, rumah kami dihuni oleh berbagai macam manusia, mulai dari anak yatim piatu, anak yang diusir oleh orang tuanya, orang yang menderita kelainan jiwa, menderita lumpuh, penyandang cacat, semuanya ditampung ada di rumah sederhana beratap daun dan berdinding pelepah gewang di desa Besikama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang timbul cemburu dalam hati kami, karena Mama dan papa kadang lebih memperhatikan mereka ketimbang kami anak-anak kandungnya. Kelak setelah kematian keduanya, baru saya sadari bahwa untuk itulah keduanya hadir di dunia ini, yaitu melayani mereka terpinggirkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian bapak tercinta Pdt. Emr. Lambertus Eduard Dadi Lado pada 25 Januari 2001 di RSUD Atambua, tak membuat Mama Ma’a meninggalkan umat Tuhan di wilayah Maktihan, sekalipun usianya makin uzur dan kondisi fisiknya tak memungkin lagi ia naik mimbar, hingga akhir hayatnya ia tetap melayani dengan menjadi pembina Persekutuan Do’a wilayah kependetaan Maktihan. Masih tetap mengulurkan tanganya membantu mereka yang membutuhkan pertolongan sekalipun mama digolongkan sebagai keluarga miskin dalam data pemerintah desa. Ia membuktikan bahwa kata miskin tak ada dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                    ***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sapa mau sangka…sapa mau sangka…&lt;br /&gt;Musti jadi bagini e sio mama…&lt;br /&gt;Mama su pigi …mama su pigi…&lt;br /&gt;Seng bale- bale lai …mama ee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katong su datang dar tanah orang&lt;br /&gt;Asal mau dengar mama punya suara&lt;br /&gt;Mar janji jua seng….Pasangpun jua seng&lt;br /&gt;Sio mama sampe hati ...e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancor di dada…ancor di dada..&lt;br /&gt;Rasa mau putus jantong e..&lt;br /&gt;Sio kalo inga …sio kalo inga…&lt;br /&gt;inga mama pung piara … mama …e…e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deng kurang-kurang&lt;br /&gt;deng susah-susah&lt;br /&gt;sampe katong su jadi orang …e&lt;br /&gt;sio mama hati tuang e..sio mama hati tuang e…&lt;br /&gt;paling manis lawang..e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sio mama ..e…sio mama e…&lt;br /&gt;katong sambayang…&lt;br /&gt;katong sambayang par Tetemanis..e.&lt;br /&gt;sio mama ..e…sio mama e…&lt;br /&gt;mau bilang apalai..samua ini Tuhan pung rencana&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantunan syair lagu ini, mengiringi prosesi ibadah pemakaman, kami menyanyikannya sebagai penghormatan terakhir sebelum mama terkasih kami dibawa ke liang lahat untuk dimakamkan pada 21 Januari 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang sedih, tapi mengajarkan tentang sebuah kepasrahan terhadap kehendak Yang Kuasa pemilik kehidupan ini. Semua orang, siapapun dia pada suatu saat, cepat atau lambat, pasti akan dipanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, ribuan jemaat dengan kepala tertunduk ikut menghantar kepergian mama Ma’a. ia sosok yang sederhana dan bersahaja, ia miskin harta, tak ada harta yang ia tinggalkan, tetapi kehadiran ribuan orang siang itu menjadi bukti bahwa yang ia investasikan semasa hidupnya adalah perbuatan baik pada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, mama adalah orang yang kaya. Ia kaya akan manusia. Apa yang sudah ia lakukan semasa hidupnya terbukti sudah pada akhir hayatnya. Benar apa yang dikatakan Steven Cofey, “Mulailah dari akhir pikiran” dalam buku Seven Habbits-nya yang terkenal itu. Hebatnya, mama Ma’a tak pernah mambaca buku ini tapi ia sudah melakukannya, ia mempelajarinya dari buku kehidupan yang ia yakini, dari Alkitab yang selama ia jadikan pegangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tiga tahun sudah Mama Ma’a tiada, namun sebuah makam sederhana di halaman rumah tua kami di desa Besikama menjadi saksi pernah ada seorang perempuan tangguh di wilayah selatan Belu. Kasih sayangnya bukan hanya telah membesarkan enam anaknya tapi juga fehan oan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mama su pi gi…mama su pi gi …son balek-balek lai&lt;/span&gt; tapi semangatnya dan pelajaran hidup yang sudah mama ajarkan tak akan hilang, karean akan terus menjadi inspirasi bagi saya untuk membuat hidup ini lebih berwarna. Terima kasih Tuhan karena sudah mengijinkan saya jadi anak dari Mama Ma’a dan Papa Edu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In Memorian Mama Tercinta Pdt. Emeritus. Martha Homa&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-6571442024192580364?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/6571442024192580364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/6571442024192580364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2011/01/mama-maa-dalam-kenangan.html' title='Mama Ma’a, Dalam Kenangan'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TTY8YDavbtI/AAAAAAAAAC4/6Y7DgchzN6A/s72-c/Beta%2Bpung%2Bmama.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-4546136164547877302</id><published>2010-07-19T21:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T21:33:59.081-07:00</updated><title type='text'>'Relawan Posyandu' Bercerita</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CM3d14%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Palatino Linotype"; 	panose-1:2 4 5 2 5 5 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-536870009 1073741843 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11pt;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;Relawan Posyandu Bercerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Olyvianus Dadi Lado&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CM3d14%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Palatino Linotype"; 	panose-1:2 4 5 2 5 5 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-536870009 1073741843 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h3 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:3; 	font-size:13.5pt; 	font-family:"Times New Roman";} span.uistorymessage 	{mso-style-name:uistory_message;} span.textexposedhide 	{mso-style-name:text_exposed_hide;} span.textexposedshow 	{mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;h3 style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TEUl9kwT4wI/AAAAAAAAACk/QpFQpbAJVFM/s1600/Jendela+pesan+FB.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 350px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TEUl9kwT4wI/AAAAAAAAACk/QpFQpbAJVFM/s320/Jendela+pesan+FB.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495840660044112642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal; font-style: italic;font-size:100%;" lang="IN" &gt;“&lt;span class="uistorymessage"&gt;19 &amp;amp; 20 Juli 2010, pukul 15.00 WITA. Menjadi hari yang penting bagi Kader Posyandu se-Oesapa. Pada har&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: normal; font-style: italic;" class="uistorymessage"&gt;i2 itu, apa yang tersimpan dalam hati, yang selama ini hanya menjadi "cerita2 pojok" akan disampaikan langsung kepada semua. Aula kelurahan menjadi saksi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Impian mereka tentang oesapa yang sehat, setara &amp;amp; damai menjadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal; font-style: italic;" class="textexposedhide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" class="textexposedshow"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... impian semua. Mari, datang dan bertindak!”&lt;/span&gt;. Ini bunyi pesan pada dinding akun Facebook saya. Ia diposting oleh Alfred Djami, salah seorang teman. Saya menyukai postingan ini dan sedikit berminat untuk menghadirinya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Sekitar jam lima sore saya sudah memasuki halaman kantor lurah Oesapa. Belasan sepeda motor diparkir tak beraturan di halaman kantor kelurahan. Sepi tak seorangpun di sana. Suasana berbeda justeru ada di aula pertemuannya. Seorang ibu berbaju biru, sedang berbicara menggunakan mic di depan 46 orang warga yang memenuhi hampir seluruh aula pertemuan. Pak Lurah Oesapa, Ebed Jusuf, S.Pt&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;duduk di depan tekun menyimak cerita ibu itu, sesekali ia mencatat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Ibu berbaju biru itu biasa dipanggil mama Oga, seorang kader Posyandu atau mungkin bisa disebut sebagai relawan Posyandu. Pertemuan yang dinamakan diskusi kampung itu sudah berlangsung sejak jam empat sore. Mama Oga mewakili 25 kawannya menceritakan suka duka bekerja sebagai relawan posyandu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Diskusi kampung ini dirancang secara sengaja oleh Ma Ros dan teman-temannya. Ma Ros bernama lengkap Roswita Djaro. Ia koordinator project Oesapa Setara, Oesapa Nyaman atau OSON. Ini project yang dikerjakan oleh CIS Timor, sebuah organisasi relawan di Timor Barat. Project ini bertujuan mempromosikan hidup setara di kelurahan Oesapa lewat kegiatan Posyandu. Tak bisa dipungkiri selama ini jika mendengar kata Posyandu, yang terlintas dalam kepala kebanyakan dari kita adalah Posyandu itu ya identik dengan ibu-ibu atau perempuan dan anak-anak. Kaum lelaki terutama bapak-bapak dan pemuda sangat jarang terlibat bahkan bisa dihitung dengan jari tangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Cerita mama Oga ditampilkan lewat proyektor LCD. Ceritanya dibikin sistematis menggunakan Power Point sehingga sangat membantunya. Ini kali pertama ia tampil di depan forum resmi ditingkat kelurahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam diskusi kampung ini, yang menjadi nara sumber adalah mama Oga dan kawan-kawan sesama relawan posyandu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Mama Oga menceritakan keprihatinannya soal kurangnya perhatian warga dan pemerintah akan posyandu terutama kaum lelaki yang menganggap urusan posyandu adalah urusan para ibu atau urusan perempuan, Dalam hati kecil, saya ikut merasa bersalah karena saya juga termasuk dalam golongan yang kurang peduli itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Menurutnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;posyandu sebenarnya bisa menjadi alat yang tepat untuk menghadirkan keluarga yang sehat terutama anak-anak dan ibunya asalkan semua pihak mau mendukungnya. Berdasarkan data yang ada pada mereka jumlah balita gizi buruk di kelurahan Oesapa mencapai 35 orang, “Ini menurut standar yang dikeluarkan oleh WHO,” kata Mama Oga. Hati saya miris mendengar informasi ini, kelurahan Oesapa adalah wilayah kota, mayoritas warganya berpendidikan baik umumnya mereka tamat SMA. Tapi mengapa begitu banyak balita yang berstatus gizi buruk? Apakah karena orang tuanya tak paham? Saya kira tidak. Ataukah karena kemiskinan? Mungkin iya mungkin tidak. Lalu apa? Pertanyaan ini terus berkecamuk dalam kepala saya.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Dalam ceritanya, mama Oga juga mengeluhkan semakin berkurangnya minat warga untuk mau terlibat secara sukarela mengurus posyandu di lingkungannya. Banyak yang ketika diminta menjadi kader posyandu, “Dorang tanya, ada uang ko sonde?” tuturnya. Soal ongkos pelaksanaan posyandu ini menjadi salah satu sisi yang diceritakannya. Menurutnya berdasarkan anggaran yang ada jika dibagi ke semua pos dan kader yang ada, dalam sebulan untuk operasional para kader atau relawan posyandu ini, mereka hanya dibekali dengan 16 ribu rupiah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Saat ini di Keluarahan Oesapa terdapat 10 posyandu yang melayani 2.128 &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bayi dan balita. Jumlah relawan posyandu sebanyak 51 orang. 10 posyandu itu belum satupun yang memiliki gedung khusus. Mereka masih meminjam halaman warga atau beranda rumah warga. Begitu juga dengan fasilitas lainnya seperti kursi dan meja. Timbangan bayi[un belum dimiliki semua pos, sehingga sesama pos masih harus saling meminjam. Beruntung jadwal posyandunya tidak sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Mama Jeni Adu Ga, teman mama Oga mengatakan jangan menganggap pekerjaan mereka di posyandu hanya sebatas menimbang dan mencatat berat badan bayi dan balita. “Katong ju harus bikin laporan, trus kalo ada mama-mama yang sonde datang, katong pi dia pung rumah, tanya dia atau lihat dia jangan sampe ada sakit ko apa bagitu. Jadi kerja lumayan banyak,” katanya. Bahkan di beberapa posyandu sudah membuka layanan khusu untuk lansia dan wanita usia subur. Tak hanya itu, psoyandu sering dimanfaatkan untuk memberikan penyuluhan tentang PMS dan HIV-AIDS&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi para remaja usia subur, juga jadi ajang untuk promosi dan penyadaran kesetaraan jender.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Mama Oga dan kawan-kawannya berharap lewat diskusi kampung ini, akan ada laki-laki yang tertarik untuk ikut menjadi relawan psoyandu dan terutama semakin banyak orang yang peduli terhadap posyandu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Hampir setengah dari peserta diskusi sore itu adalah para lelaki. Mereka bersemanhgat memberikan pendapat ketika diberi kesempatan. Macam-macam tanggapan mereka. Ada yang langsung memberikan usulan nyata untuk dilakukan penggalangan sumbangan sukarela warga. Ada juga yang menyampaikan penyesalan meraka karena selama ini kurang peduli terhadap masalah ini dan berjanji untuk menjadi relawan posyandu. Tapi ada juga yang hanya menyampaikan kekesalannya karena pemerintah tak memperhatikan kesejahteraan para relawan posyandu serta menyiapkan fasilitas pendukung posyandu sehingga ia mengusulkan untuk posyandu juga menjadi agenda dalam setiap rapat di tingkat kelurahan, “Karena selama ini posyandu ini sonde pernah disinggung dalam rapat di kelurahan,” kata bapak Darius Kohe, ketua RT 39. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;Satu kesamaan dari pendapat para bapak-bapak atau suami-suami ini adalah ada tekad untuk memberikan dukungan, minimal tenaga mereka saat kegiatan psoyandu berlangsung dilingkungan mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sore itu saya pulang dengan tekad yang sama, pada tanggal lima setiap bulan saya harus menyempatkan diri membawa Terra Anatha, si Malaikat Kecil kami ke posyandu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-4546136164547877302?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/4546136164547877302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/4546136164547877302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2010/07/relawan-posyandu-bercerita.html' title='&apos;Relawan Posyandu&apos; Bercerita'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TEUl9kwT4wI/AAAAAAAAACk/QpFQpbAJVFM/s72-c/Jendela+pesan+FB.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-5036374304932853704</id><published>2010-07-10T05:11:00.000-07:00</published><updated>2010-07-10T05:33:57.374-07:00</updated><title type='text'>Sepotong Cerita dari Kamp Tuapukan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TDhmsmEOqeI/AAAAAAAAACU/Qw75vf_Vz8s/s1600/35279_1376971981688_1153509864_30882045_2129754_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TDhmKNG6qBI/AAAAAAAAACE/iICBDvVrS90/s1600/35279_1376972021689_1153509864_30882046_1671382_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 674px; height: 449px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TDhmKNG6qBI/AAAAAAAAACE/iICBDvVrS90/s320/35279_1376972021689_1153509864_30882046_1671382_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492252071081715730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TDhmUhUmiLI/AAAAAAAAACM/NKrsSQ-72W8/s1600/35279_1376971981688_1153509864_30882045_2129754_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepotong Cerita dari Kamp Tuapukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olyvianus Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamp Tuapukan pagi ini (10/7) masih sepi, belum banyak aktivitas penghuninya ketika kami tiba di sana. Saya, Medja, None, Yomi, dan om Mika ke Tuapukan membawa Janet Steele untuk melihat-lihat suasana kamp. Janet, seorang pengajar di The George Washington University – Amerika. Saya mengenal dia saat mengikuti program kursus Jurnalisme Sasterawi yang dibikin Pantau pada tahun 1996, ia salah satu pengampu kursus itu. Ini kali pertama ia ke NTT karena diundang untuk berbicara dalam sebuah pelatihan jurnalistik di Flores pada dua hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore saat kami berdiskusi di Posko CIS Timor, ia menyatakan keinginannya untuk melihat situasi pengungsian di kamp pengungsi yang ada di Kupang sebelum ia kembali ke Jakarta pada siangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; Kamp Tuapukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kamp Tuapukan jauh berbeda dibanding situasi tahun 1999 pada awal pengungsian hingga 2008 lalu. Kini kamp yang pernah menjadi kamp konsentrasi pengungsi Timor Timur terbesar di Kupang itu nampak lengang, lebih lega atau dalam bahasa Kupang lebe longgar alias sonde basesak.  Pada masa sebelum tahun 2008, terutama 1999-2003, hampir tak ada tanah kosong. Semuanya terdiri dari bangunan-bangunan darurat yang lebih tepat disebut gubuk atau mungkin lapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamp Tuapukan ini berada di atas tanah milik pemerintah yang dulunya direncanakan akan dibangun pabrik garam oleh salah seoarang anak penguasa negeri ini. Luasnya hampir empat kali lapangan sepak bola. Ia dihuni oleh pengungsi Timor-Timur dari berbagai kabupaten di wilayah bagian tengah sampai ke Timur yaitu; Los Palos, Viqueque, Manatuto, Baucau, dan Aileu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar dari mereka saat ini sudah pulang kembali ke tanah kelahiran mereka pada periode akhir 1999, 2000 hingga 2002. sebagiannya lagi sudah pindah lokasi permukiman baru yang dibangun pemerintah di Oebelo, Raknamo, Manusak, Oefafi dan kelurahan Merdeka. Keempat tempat ini adalah desa tetangga dari desa Tuapukan. Yang tersisa di kamp hanya pengungsi yang berasal dari Viqueque dan sedikit dari Baucau dan Manatuto. Jumlahnya tak sampai seperempat dari jumlah mereka pada awal pengungsian yang berjumlah ratusan ribu orang saat itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung ke Kamp Tuapukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan kami pagi itu langsung disambut dengan lambaian tangan dan teriakan “ Kaka Meriiii...” itu panggilan kepada Medja atau Meri Djami. Ia lama bertugas sebagai relawan CIS Timor di kamp ini. Ia bertugas di sana sejak tahun 2000 sampai dengan 2005, sebelum ia pindah bekerja di wilayah perbatasan di Belu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami langsung menuju ke rumah mama Olandina Ximenes. Ia bagi kami adalah seorang mama. Ia selalu menerima kami dengan tangan terbuka sejak awal mengenalnya pada 1999. Rumah sederhananya  adalah rumah singgah kami ketika ke kamp atau kemalaman di kamp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Oland berasal dari desa Ossu, kabupaten atau saat ini di Timor Leseta memakai istilah distrik Viqueque. Ia mengungsi ke Timor Barat bersama dua anaknya, suaminya seorang tentara Indonesia, sudah meninggal pada akhir tahun 1998 di Timor Leste saat situasi mulai memanas di sana menjelang referendum. Dua anaknya yang lain tertinggal saat itu di Dili karena tinggal bersama nenek mereka sehingga tak sempat dibawa mama Oland ketika mengungsi dulu. Mama Oland sulit untuk kembali, ia sudah menentukan pilihan untuk tetap menjadi warga Indonesia. Namun ia tetap mendorong dan menguatkan mereka yang berniat pulang kembali ke Timor Leste. Ia sering membantu kami pada tahun 2001-2003 menghubungi orang-orang yang berniat kembali ke Timor Leste. Baginya,  pilihan politiknya adalah pilihan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janet senang berkenalan dengannya, ia dan anaknya Sonia yang saat itu ada di rumah sempat dipotret Janet. Mama Oland juga menemani kami berkeliling kamp. Hampir sebagian besar tanah di kamp Tuapukan yang kosong ditanami kacang-kacangan, singkong, pepaya, dan berbagai jenis sayur.   Bagi kami (Saya, Medja, dan None) yang pernah bertugas di kamp Tuapukan, kunjungan ini seakan membawa kami kembali pada masa lalu kami. “Ini su ke reuni sa deng dong di sini”, kata saya pada Medja dan None.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bertemu Abo Laulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah kamp, ada sebuah gubuk yang sudah hampir roboh, dindingnya dari pelepah gewang dan kelapa, sudah bolong sana-sini. Tipenya satu air. Di halaman gubuk itu banyak tumbuh singkong dan jenis sayuran yang ditanami penghuninya. Seorang nenek tua (Abo = bahasa Tetum) tertatih-tatih menyambut kami ketika mama Oland menyapanya, tangan keriputnya menggenggam erat sekumpulan cabe yang baru saja ia petik. Mama Oland dan Janet segera menghampiri, memegang tangannya, memapah dia menuju teras gubuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bernama Laulu, usianya ditaksir sudah mencapai 80-an tahun, ia sendiri tak berapa usianya. Ia berasal dari desa (suco = bahasa Tetum) Beacu, distrik Viqueque. Ia mengungsi ke Timor Barat bersama anak lelakinya Sisto Gomes. Namun kebersamaan mereka hanya lima bulan, anaknya yang bekerja sebagai pegawai adminstrasi di Kodim itu meninggal dunia karena sakit, almarhum dikuburkan tak jauh dari gubuk tempat Laulu tinggal. Laulu melalui hari-harinya selama hampir sebelas tahun ini bersama sang adik, Gamulu yang juga sudah tua dan menderita penyakit kaki gajah. Gamulu juga ada di sana saat kami datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abo Laulu dan Apa Gamulu, hanya hidup berdua di kamp Tuapukan, tak ada sanak famili yang tinggal bersama mereka. Keduanya dibantu oleh tetangga sekitar untuk kebutuhan makan mereka seperti beras dan jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abo Laulu sekalipun sudah renta, ingatannya masih baik, pendengarannya juga masih berfungsi baik. Ia tak bisa berbahasa Indonesia sehingga kami mengandalkan mama Oland untuk berbicara dengan dia.  Ia ingin pulang dan menghabiskan sisa hidupnya di Beacu, kampung kelahirannya, namun ia tak tahu bagaimana caranya.  Karena CIS Timor baru saja memfasilitasi kepulangan 12 jiwa ke Dilor- Viqueque pada akhir juni lalu, Medja mencoba menawarkan bantuan kepada Abo Laulu. Ia mau tapi ia takut dan kuatir, “Siapa yang nanti antar saya?, saya takut kalo sendiri.” Katanya dalam bahasa Makasae. Medja melalui mama Oland meyakinkan dia bahwa kami yang akan mengantarnya. Ia tetap tak mau, ia sepertinya tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah beberapa saat ia mengatakan kalau ia mau pulang asalkan keponakannya datang menjemput dia. Keponakannya itu bernama Leopoldina Suares anak dari almarhumah Laluloi, kakak perempuannya. Menurutnya, keponakannya jika masih hidup pasti tinggal di Beacu-Viqueque. Ia tak tahu keluarga lainnya, cuma Leopoldina satu-satunya yang ia ketahui dan ia percayai.  Bagi kami, ini cukup sulit karena Leopoldina Suares satu-satunya kunci untuk Abo Laulu menggapai mimpinya menikmati sisa hidup di kampung halamannya. Kami harus berpikir keras mencari cara untuk mencari tahu informasi tentang Leopoldina Suares.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janet menggamit tangan saya, “Olkes, berapa budget yang dibutuhkan satu orang untuk bisa sampai ke sana?” tanya Janet, sebutir bening air mata meleleh perlahan dari sudut matanya. Mata saya mulai perih, sekuat mungkin menahan air mata yang mulai tergenang di pelupuk mata.&lt;br /&gt;“Karena kita harus mendatangkan juga saudaaranya dari Timor Leste, mungkin bsia sampai tiga jutaan,” kata saya meragu. Saya tak bisa memastikan jumlah rupiah yang dibutuhkan bagi Abo Laulu untuk bisa sampai ke Beacu.&lt;br /&gt;“Oh oke, saya tidak punya cukup cash di tangan, tapi kalau kita bisa ke ATM saya ingin menyumbang untuk dia,” kata Janet sambil menyeka air matanya.    ”Please don’t cry Janet. Nanti kami juga ikut menangis,” kata saya sambil mengusap bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;None mengambil gambar kakak beradik itu beberapa kali sebelum kami beranjak meninggalkan mereka, melanjutkan keliling kamp Tuapukan bersama Janet. Kami berencana menghubungi teman-teman di Timor Leste untuk bersama mencari jalan keluar bagi Abo Laulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Masih ada yang mau pulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami tiba di bagian kamp yang dihuni pengungsi dari Dilor, kami bertemu dengan seorang bapak,  saudara dari Falur Rate Laek. Falur adalah adalah tokoh yang cukup dihormati komunitas ini. Hampir semua pengungsi asal Viqueque di Kamp Tuapukan mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eurico nama bapak itu. Kami tak akrab dengannya. Selama kami melayani di kamp Tuapukan, ia salah satu yang kami kenali sebagai orang yang pendiam, jarang tersenyum dan selalu menyendiri.  Namun gambaran itu hilang pagi itu ketika kami mengatakan kepadanya bahwa Janet pernah ke Timor Leste dan pernah bertemu Falur, sontak senyuman ramah tersungging di bibirnya. Ia yang biasanya jarang berbicara berubah semangat, ada keceriaan di raut wajahnya. Saya menangkap sebuah kerinduan yang terpendam dalam dirinya akan kampung halamannya di Timor Leste.  Tanpa diminta, penuh semangat ia menceritakan tentang keindahan alam di desa Loihunu, kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, tak segaja dalam perjalanan kembali ke rumah mama Oland, kami bertemu dengan bapak Selestino Mendonc’a. Kami mengenalnya, rumahnya juga sering kami singgahi. Ia sama seperti mama Oland yang juga selalu terbuka menerima kami.  Ia baru saja pulang dari Timor Leste semalam, “Saya juga mau pulang. Keluarga di sana minta saya pulang sudah.” Katanya. Kami senang dengan keputusannya itu. Sepengetahuan kami ia termasuk orang yang sulit diajak pulang, mungkin 11 tahun di pengungsian ini telah membuat dia untuk  mengambil keputusan yang luar biasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pulang ke Kupang dengan senang, namun kami juga masih punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di Timor Barat. Masih banyak pengungsi Timor Timur di Timor Barat yang membutuhkan dukungan. Salah satunya Abo Laulu dan bapak Selestino yang memiliki mimpi melanjutkan hidup di kampung halaman mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-5036374304932853704?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5036374304932853704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5036374304932853704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2010/07/sepotong-cerita-dari-kamp-tuapukan.html' title='Sepotong Cerita dari Kamp Tuapukan'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/TDhmKNG6qBI/AAAAAAAAACE/iICBDvVrS90/s72-c/35279_1376972021689_1153509864_30882046_1671382_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-5552439629293573674</id><published>2010-05-26T16:39:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T16:40:43.754-07:00</updated><title type='text'>NTT perlu Belajar dari Boalemo</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CM3d14%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oleh :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Olyvianus Dadi Lado&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sehari yang lalu, saya membaca sebuah tulisan Lusia Handayani dalam buletin Bakti News Edisi 55, Maret-April 2010. Tulisan itu adalah review atas buku “Boalemo, Makna Sebuah Prestasi, Tak Berharap Pujian Menuai Penghargaan” yang ditulis oleh Iwan Bokings dan Shodoqin Nursa. Buku ini menceritakan praktek cerdas di kabupaten Boalemo provinsi Gorontalo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya tertarik dengan reformasi di semua lini yang dilakukan oleh pemerintah di kabupaten ini khususnya sang Bupati Iwan Bokings, yang juga penulis buku ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Salah satu contoh kecil yang menarik adalah jika selama ini (khususnya di NTT) publik sulit mengetahui berapa besar gaji dan penghasilan seorang pejabat maka di Boalemo infomrasi tentang gaji dan penghasilan aparat negara ini mudah diakses oleh publik karena di Boalemo, bupatinya menginisiasi untuk menempelkan daftar gajinya pada pintu ruang kerjanya, ia juga menginstruksikan kepada semua pejabat di sana untuk melakukan hal yang sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Terobosan lainnya yang sepertinya sederhana namun berdampak besar adalah untuk efisiensi anggaran pada belanja tidak langsung. Sang Bupati yang sudah mendapat banyak penghargaan ini melakukan pengurangan penggunaan AC dalam ruang kerja, mengurangi daya listrik 40-50% di setiap kantor pemerintah dan memangkas biaya perjalanan dinas dan ongkos operasional bupati dan wakil bupati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Untuk memberantas KKN, ia juga melakukan terobosan inovatif yakni memberikan bonus uang bagi pegawai yang melaporkan indikasi KKN di instansi masing-masing, hebatnya anggaran untuk bonus ini dianggarkan dalam APBD. Artinya eksekutif dan legislative di kabupaten ini sudah menunjukan sebuah upaya yang serius untuk memberantas KKN, bukan hanya sekedar jargon saat memberikan pidato, sambutana atau saat kampanye.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Untuk pelayanan publik di Boalemo, pengurusan dokumen kependudukan dan catatan sipil gratis. Padahal banyak banyak pemda yang justeru menggunakannya untuk meningkatkan PAD. Di Boalemo justeru sebaliknya, sang Bupati melakukan inovasi dengan memberikan rangsangan berupa pemberian penghargaan bagi SKPD yang kinerjanya baik misalnya SKPD yang mencapai target PAD 100% akan diberi reward begitu juga dengan kepala desa yang berhasil mencapai terget pajak bumi dan bangunan 100%. Langkahnya ini justeru memcau daya saing yang sehat antar skpd maupun desa yang pada akhirnya kekuatiran akan kurangnya PAD bukan lagi menjadi alasan untuk melakukan pungutan yang tidak semestinya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Untuk program-program pengentasan kemiskinan, ia memerintahkan pejabat eselon I dan II untuk live in di desa, tinggal bersama dengan keluarga masyarakat miskin. Menurut saya ini langkah yang jitu untuk; pertama, menekan cost operasional karena tidak perlu merekrut tenaga pendamping baru yang justeru menambah beban pembiayaan. Kedua, meningkatkan efisiensi tenaga kerja bagi pegawai negeri yang kebanyakan karena tidak ada kerjaan, hanya sekedar ke kantor untuk absensi, duduk-duduk, cerita panjang lebar, minum kopi, baca koran, main game sambil menunggu waktu untuk pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Untuk mengawal komitmen setiap SKPD dan pimpinan daerah maka setiap awal tahun anggaran, para pimpinan SKPD bersama Bupati akan menandatangani&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perjanjian kontrak kinerja juga setiap kepala SKPD yang baru dilantik diharuskan membuat program kerja 100 hari dengan indikator terukur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setelah membaca tulisan ini, sambil menghisap dalam-dalam sebatang rokok Gudang garam Filter ditemani segelas kopi Flores, saya merenung dan berandai-andai. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkinkah NTT bisa menjadi seperti ini? Bisakah kabupaten-kabupaten di NTT mereplikasi praktek cerdas di Boalemo ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya makin tenggelam dalam khayalan, ketimbang studi banding tanpa hasil yang selama ini dilakukan kecuali hanya untuk menghabiskan jutaan rupiah untuk perjalanan dinas mereka, sebaiknya mereka undang saja Iwan Bokings sang Bupati cerdas dan Inovatif ini untuk mengajari Bupati-bupati di NTT apa susahnya?, biayanya mungkin hanya sekuku hitam dibanding biaya yang dikeluarkan untuk membiayai perjalanan dinas seratusan orang seperti yang terjadi di kabupaten TTS?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menurut saya kunci utama praktek cerdas kabupaten Boalemo adalah ada niat baik dari pihak eksekutif dan legislatif untuk melakukan perubahan positif bagi Boalemo. Selain itu pimpinan daerahnya pun memiliki kreatifitas yang luar biasa sangat inovatif, artinya mereka di Boalemo terus belajar dan tak pernah berhenti bekerja sesuai dengan prinsip mereka yakni, kerja, kerja, dan kerja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jadi....masihkah kita ragu kesuksesan di Boalemo juga tak bisa tercapai di NTT? Hei NTT...bangkitlah..janganlah kau terus terpuruk. Saya katakan padamu! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mereka manusia, kita di NTT juga manusia. Mereka punya otak, kita juga punya otak. Mereka punya hati yang tulus melayani rakyatnya, kita juga bisa punya hati yang seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu..kalau kita mau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;26 Mei 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Renungan dari pojok RSS Oesapa - Kupang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-5552439629293573674?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5552439629293573674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5552439629293573674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2010/05/ntt-perlu-belajar-dari-boalemo.html' title='NTT perlu Belajar dari Boalemo'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-5536649421073723203</id><published>2009-11-30T00:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T00:35:45.705-08:00</updated><title type='text'>Berita atau Iklan antara Bisnis dan Profesionalisme Media *</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana pelaku media lokal di Kupang bekerja?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh : Olyvianus Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;beta&lt;/span&gt;... Timor Express lebih utamakan iklan,” kata Paul Sinlaeloe, ia seorang pria berbadan tegap, bekerja di sebuah organisasi non pemerintah yang bernama  Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) di kota Kupang. Kantor tempat ia bekerja berlangganan harian pagi Timor Express (Timex). Saya mewawancarainya di posko relawan CIS Timor pada suatu malam di awal Maret lalu. Ia biasa dipanggil Ompol oleh kawan-kawannya.&lt;br /&gt;“Kenapa begitu?”&lt;br /&gt;Srrrruuuuuutt... ia menyeruput kopi hitam dari segelas plastik warna biru, “Bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;katong&lt;/span&gt; lihat sendiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to&lt;/span&gt;, di halaman pertama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tu&lt;/span&gt; hampir-hampir tulisan Timor Express &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa tatutup&lt;/span&gt; iklan,” katanya. “Sementara beritanya hanya sepotong-sepotong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Harian pagi Timor Express berada di jalan RA Kartini no 1A kelapa lima , mudah ditemui. Sejajar dengan pintu gerbang ke area wisata Gua Monyet dan Hotel Sasando, sebuah hotel berbintang tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantornya sederhana, sebuah gedung satu lantai yang dicat biru. Memiliki halaman yang cukup luas semuanya disemen, berpagar terali besi di bagian depan dan tembok  setinggi pinggang pada kiri dan kanannya. Bagian belakang langsung berbatasan dengan area wisata Gua Monyet.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung itu selain menjadi kantor redaksinya, sekaligus kantor perusahaan PT Timor Express Intermedia. Harian ini juga dicetak di situ. Ruangan percetakan ada di bagian kiri. Ruang redaksi dan manajemen perusahaan di tengahnya. Di bagian kanan terdapat sebuah ruang yang cukup lega sebagai tempat pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang manajemen disekat menjadi tiga bagian, begitu pula dengan ruang redaksinya. Pemimpin redaksi menempati ruang kecil yang dibatasi oleh meja telepon dan lemari arsip dari kayu yang juga berfungsi sebagai meja komputer, ukuran ruang miliknya sempit sekitar satu meter persegi luasnya. Dekat pintu masuk ruang redaksi terdapat satu unit komputer yang dipakai Ronald Dio uantuk mendesain. Ruang lainnya adalah tempat para wartawan Timor Express bekerja. Ini ruangan paling ramai, ada sepuluh unit komputer di sana, dua lemari kayu untuk arsip di pojok. Meja-meja disusun menyusur tembok ruangan.&lt;br /&gt;Satu ruangan lagi berisi tiga unit komputer dan satu unit printer, tempat kerja desainer grafis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian ini hadir sejak tahun 2003. Kini sudah hampir enam tahun usianya. Awalnya hanya sepuluh orang, delapan wartawan, pemimpin redaksi dan redaktur pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami pakai nama harian pagi karena terbit sejak pagi. Periksa saja jam empat atau lima pagi pasti sudah didistribusi. Sekalipun isinya umum juga,” kata Simon Petrus Nilli, pemimpin redaksinya kepada saya saat pertama bertemu dua hari setelah saya menyampaikan surat permohonan dan pemberitahuan peliputan di harian tempat ia bekerja (25/02). Siang itu saya juga bertemu dengan direktur perusahaan PT Timor Intermedia Ekspres, Yusak Riwu Rohi dan Marthen Bana, salah satu redaktur pelaksana. Kami berbincang-bincang di ruang pertemuan mereka. Ruangan itu juga sering dipakai untuk keperluan rapat redaksi atau kegiatan-kegiatan lainnya. Bisa menampung sekitar 20-an orang. Mejanya ditaruh ditengah ruangan, kursi-kursi disusun mengelilinginya. Di depannya  terdapat sebuah papan tulis putih. Tempat mereka menuangkan ide-ide peliputan saat rapat redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, saya dikira mahasiswa yang hendak penelitian oleh Yusak Riwu Rohi, saya lalu menjelaskan isi surat kepadanya. Ia juga menanyakan alasan saya memilih Timor Express sebagai objek peliputan, “Karena Timor Express adalah koran besar di Kupang selain Pos Kupang, selain itu beberapa wartawan Timor Express sudah saya kenal,” kata saya.&lt;br /&gt;“Wah berarti nanti&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lu&lt;/span&gt; bisa nepotisme lagi,” katanya. Saya hanya tersenyum mendengarnya.&lt;br /&gt;Setelah ia jelas soal rencana peliputan saya, “Okelah kalau kamu mau tulis tentang Timex.” Akhirnya ia mengijinkan. Timor Express oleh publik Kupang lebih sering dikenal dengan nama Timex&lt;br /&gt;“Bagaimana Simon? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; saya sih tidak ada persoalan ada orang yang mau tulis tentang kita,” tanyanya kepada Simon, lalu ia kembali sibuk menekan tombol pada pesawat telepone selularnya.&lt;br /&gt;“Bolehlah, kapan mau mulai dan sampai kapan?” tanya Simon  pada saya.&lt;br /&gt;“Kalau bisa hari ini. Waktu saya hanya sampai 16 maret nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya lega, kesan saya dengan begitu akan lebih leluasa mendapat informasi dan data. Kemudian baru saya sadari kesan itu ternyata tak sepenuhnya benar. Saya memang leluasa berkunjung ke sana, bisa masuk ke ruang redaksi yang bagi orang luar dilarang keras, juga melihat langsung kerja mereka. Namun kesibukan mereka yang tinggi membuat mereka hampir tak punya waktu luang untuk diganggu dengan wawancara saya, maklum deadlinenya sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi jam sepuluh setelah rapat redaksi sampai jam sepuluh atau sebelas malam hampir-hampir tak ada waktu luang untuk mereka bersantai yang bisa bisa dimanfaatkan untuk wawancara. Ijin yang sudah saya dapatkan secara lisan dari para pimpinan itu juga tak berarti saya bisa mendapatkan dokumen-dokumen pendukung, untuk informasi oplah saja saya harus menunjukan surat tugas peliputan baru diberi tahu, itupun hanya oplah saat ini, tingkat perkembangan oplah per tahunnya tak saya dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama yang saya wawancarai adalah Simon Petrus Nilli, karena pemimpin redaksi, ia cenderung punya sedikit waktu luang ketimbang wartawan lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Simon  belum lama menjadi pemimpin redaksi ia menggantikan Yusak Riwu Rohi, pemimpin redaksi sebelumnya. Ia tamatan fakultas pertanian Universitas Nusa Cendana. Rambutnya dipotong pendek, penampilannya sederhana, bicaranya cepat, siang itu ia berbusana serba cokelat. Simon biasa ia dipanggil mengawali karirnya sebagai wartawan di harian umum NTT Ekspres, harian yang sudah tidak terbit lagi. “Tahun 1999, setelah tamat kuliah.” Setelah NTT Ekspres bubar, ia bergabung dengan Timor Express, “Waktu itu diajak pak Yusak,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu 21 Juni 2003. sejak pagi-pagi sekali Harian Pagi Timor Express mulai beredar di Kupang. “Waktu pertama terbit, oplahnya...kalau tidak salah, a..a..500 eksemplar,” kata Stenly Boimau kepada saya suatu malam di ruang pertemuan. Ia termasuk satu dari delapan wartawan pertama itu. Selama tiga hari, Timor Express dibagi gratis kepada pembaca di Kota Kupang, “Ya itu bagian dari promosi,” kata Stenly. Ia seorang anak muda yang selalu tampil necis. Malam itu ia mengenakan jaket jeans biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula ketertarikannya akan wartawan sudah sejak lama, “Saat itu saya masih kecil. Masih kelas enam SD”. Pada suatu sore di kampungnya di Oinlasi, ia serius mendengar siaran langsung pertandingan sepak bola di luar negeri dari stasiun Radio Republik Indonesia , suara reporter yang menceritakan jalannya pertandingan, jadi perhatian utamanya.&lt;br /&gt;“Saya pikir-pikir, ini orang siapa dia? koq bisa ada di mana-mana. Bisa sampai ke luar negeri, bisa ada di mana saja,” ceritanya. Diam-diam itu menjadi obsesi Stenly kecil.&lt;br /&gt;“Sempat hilang keinginan itu ketika kuliah dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000 ketika menunggu diwisuda sarjananya, ia mendengar ada lowongan jadi wartawan di harian Suara Timor, pimpinan Wens Rumung. “Tapi syarat utamanya harus sudah sarjana,” ia tak putus akal, setelah membuat lamaran, ia menemui sendiri pemimpin redaksi Suara Timor, “Saya sampaikan ke pak Wens, saya hanya menunggu wisuda saja.”  Ia-pun diterima.&lt;br /&gt;Di Suara Timor ia mengabdi setahun lebih, pada akhir 2002 ia bergabung ke harian Radar Timor. Di Radar Timor tak sampai setahun, pada pertengahan 2003 ia bergabung dalam pasukan Yusak Riwu Rohi di Timor Express.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran ini kemudian berkembang menjadi satu dari tiga koran besar di Kota Kupang, dua lainnya adalah Harian Umum Pos Kupang sekelompok dengan Kompas Gramedia Group dan Harian Umum Kursor sebuah harian lokal yang tak memiliki backing jaringan media besar. Timor Express sendiri berada dibawah Fajar Group bagian dari jaringan berita Jawa Pos Group, salah satu jaringan berita besar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari oplah awalnya 500, memasuki hampir enam tahun usianya oplah Timor Express meningkat tajam. “Saat ini oplahnya 25.000,” kata Haeruddin, manajer iklannya kepada saya suatu siang di ruang kerjanya. Haeruddin seorang pria asal Ujung Pandang, etnis Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan penerbit PT Timor Express Intermedia yang menerbitkan harian ini  dikomandani oleh Sultan Eka Putra  sebagai direktur utamanya, posisi kunci yang dipegang oleh orang dari luar Fajar hanya satu, direkturnya yaitu Yusak Riwu Rohi.&lt;br /&gt;Pembina perusahaan ini adalah HM Alwi Hamu, ia salah satu pemain lama dalam bisnis ini, ia juga pendiri harian Fajar, koran besar di luar Jawa bersama Aksa Mahmud dan HM Jusuf Kalla.  Saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Media Fajar.&lt;br /&gt;Sedang komisaris utama PT Timor Express Intermedia adalah Syamsu Nur, juga  menjabat sebagai wakil direktur di PT Media Fajar. Di jajaran komisaris ada Suwardi Thahir yang juga direktur Fajar TV, Ridwan Arif direktur keuangan PT  Media Fajar dan  ada Agus Salim Alwi yang juga direktur pemasaran di PT Media Fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timor Express memiliki 20-an wartawan, mulai dari pemimpin redaksi hingga yang baru magang. “Jumlah pastinya saya tidak tidak tahu, tapi sampai duapulhan lah,” kata Simon. Marthen Bana, salah satu redaktur pelaksananya-pun tak memberikan jawaban ketika saya tanyakan lewat SMS. Begitu juga dengan Stenly, redaktur Kota juga tak memberi jawaban angka pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekrutan wartawan di Timor Express-pun bertahap, “Syarat utamanya harus yang sudah sarjana,” kata Simon. Menurutnya mereka yang melamar menjadi wartawan di Timor Express harus mengikuti serangkaian tes, seperti menulis khususnya jenis straight news.&lt;br /&gt;“Awal diterima magang dulu,” kata Christo Embu menceritakan pengalamannya ketika masuk ke Timor Express. Ia termasuk angkatan pertama yang perekrutannya dilakukan secara resmi, “Saya masuk pada tiga agustus 2004,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christo berasal dari Maumere, ia seorang pria bertubuh kurus, berambut ikal, sebagian sudah memutih sekalipun usianya baru mau 30 tahun. Mengenal dunia menulis sejak kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana, “Waktu itu saya aktif di organisasi PMKRI. Di situ saya mulai belajar menulis karena organisasi kami punya buletin. ” PMKRI adalah kependekan dari Perkumpulan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia, sebuah organisasi ekstra universiter bagi mahasiswa Katholik.  Pada tahun 2002 setelah tamat kuliah, ia diajak seorang seniornya yang sudah menjadi wartawan di harian Cendana Pos untuk kerja di situ sebagai wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah ia menekuni profesi wartawan, “Awalnya hanya coba-coba. Tapi karena ada minat dan kemauan, saya terus belajar, akhirnya bisa.”&lt;br /&gt;Hanya enam bulan di Cendana Pos, ia lalu bergabung ke Suara Masyarakat. Masa itu di Kupang banyak sekali muncul media yang usianya seumuran jagung. Hanya setahun, ia kemudian bekerja pada tabloid Solusi, itu pun tak lama hanya enam bulan, “Jadi genap dua tahun saya kenal dunia wartawan baru saya bergabung ke Timor Express.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 20-an orang yang melamar jadi wartawan di Timor Express pada waktu itu, hanya tiga orang yang lolos seleksi, Christo termasuk salah satunya.&lt;br /&gt;Ia magang selama tiga bulan,”Di Timor Express itu, masuk pertama magang dulu, setelah itu kalau dilihat kinerja kita bagus baru statusnya jadi reporter. Tapi masih kontrak,” jelasnya. Ia hanya membutuhkan tiga bulan untuk magang, karena dinilai cukup produktif, ia diangkat jadi reporter pada desk kota, “Kawan lain masih magang. Ada yang sampai enam bulan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status karyawan di Timor Express dibagi dua bagian, “Organik dan non organik,” kata Simon. Ini mengingatkan saya akan istilah-istilah yang akrab dengan dunia militer. Kalau non organik, ia hanya terikat kontrak berdasarkan waktu tertentu, upahnya pun berbasis kinerja, “Kalau untuk wartawan upah tergantung jumlah berita yang dihasilkan,” kata Christo. Sedang yang organik, upahnya sudah tetap tiap bulannya. Biasanya yang organik namanya dicantumkan dalam kolom profil perusahaan di bagian bawah rubrik opini Timor Express.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai upah wartawannya, “Ohhhoo kalau saya mau bilang jauh di atas UMP. Gaji untuk karyawan paling rendah di sini saja jauh di atas,” kata Simon. Sayangnya ia tak menyebut berapa jumlahnya, mungkin ini rahasia perusahaan. Upah Minimum Provinsi (UMP) di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2007 adalah Rp. 650.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengembangan kapasitas wartawannya, secara regular, manajemen Timor Express selalu mengirimkan wartawannya mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh jaringannya maupun pihak lain. “Dalam setahun bisa empat sampai lima kali. Baik yang dibuat oleh grup maupun undangan dari luar,” kata Simon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christo mengaku kepada saya, sejak ia bekerja di Timor Express, belum sekalipun ia dikirimkan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh grup Jawa Pos maupun Fajar, “Tapi saya pernah ikut pelatihan jurnalistik yang dibuat oleh BII dan pelatihan jurnalistik bagaimana media meliput dan menulis tentang UKM di Ende oleh Pantau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantau adalah sebuah lembaga yang konsern pada pengembangan jurnalisme di Indonesia, pusatnya di Jakarta memiliki kantor sindikasi di Acheh dan Ende. Dulunya ia menerbitkan majalah Pantau, setelah majalah itu tak terbit lagi, tulisan dari puluhan kontributornya dimuat secara on line di www.pantau.or.id.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minimal sekali setahun itu ada pelatihan bagi wartawan grup Jawa Pos dan Fajar. Sampai satu bulan lamanya. Biasa di Surabaya atau di Makasar,” kata Christo. Menurut Simon, pelatihan untuk peningkatan kapasitas wartawan-wartawan Jawa Pos Group macam-macam, termasuk tentang hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Timor Express memiliki enam tenaga desainer atau layouter yang di Timor Express disebut sebagai bagian pra cetak. Masing-masing mendapat jatah libur sehari dalam seminggu, “Kadang dipanggil juga kalau ada kebutuhan mendesak,” kata Simon suatu malam pada saya di ruang redaksi. Jadual tugas mereka ditempel pada papan putih di tembok ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari mereka masuk kerja  pada malam hari mulai sekitar jam delapan terutama yang bertugas mendisain iklan harus masuk lebih awal.&lt;br /&gt;“Kadang beta sering terlambat karena biasa datang, berita belum beres, lama tunggu. Jadi beta biasa masuk tu jam-jam sembilan begitu,” kata Ronald Dio, ia sudah tiga tahun bekerja sebagai desainer di Timor Express. Biasa ia dipanggil teman-temannya Rolex. (beta : saya dalam bahasa Kupang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bertugas mendesain halaman enam sampai sembilan belas lebih dulu bertugas karena bagian ini yang harus dicetak lebih dulu, ”Biasanya itu dicetak sekitar jam 11. tapi tergantung juga, kadang bisa mundur atau maju,” kata Rolex kepada saya lewat telepon pada suatu malam di akhir Februari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian pagi Timor Express terdiri dari tiga bagian. Pertama halaman satu sampai delapan sebagai halaman utamanya, halaman sembilan sampai enam belas adalah bagian yang berisi informasi dari daerah, sedang bagian terakhir halaman 17 sampai 20 berisi informasi hiburan dan olah raga. Setelah bagian yang berisi informasi daerah, barulah dicetak bagian utamanya halaman satu sampai delapan. Yang paling akhir adalah olah raga dan hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian percetakan sebanyak enam orang sudah mulai beroperasi sejak jam sepuluh, mulai dengan memanaskan mesin cetak bermerk King press. Mereka baru berhenti setelah halaman terakhir selesai dicetak. Selanjutnya bagian sirkulasi mulai beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk distribusi di kota, Timor Express memiliki sebuah sepeda motor yang memiliki gandengan bak di belakangnya. Sejak pagi-pagi sekali, koran ini sudah tiba di tangan pelanggannya. Menurut Yan T Tandi, manajer keuangannya, pelanggan Timor Express saat ini mencapai angka 8000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepada para pelanggan Timor Express juga mengandalkan para agen dan pengecernya. “Tiap daerah ada satu sampai dua agen. Kalau di kota ada 15 agen,” kata Yan kepada saya saat bertemu dalam sebuah pesta syukuran wisuda di sebuah RSS di daerah Baumata di luar kota Kupang. Ia berasal dari Toraja, sudah bekerja di PT Timor Express Intermedia sejak awal berdirinya perusahaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita di Timor Express laiknya media mainstream lainnya, kebanyakan ditulis dengan gaya straight. “Ada juga yang jenis tulisan byline,” kata Simon. Yang dimaksud tulisan byline oleh Simon, menurut saya adalah jenis berita soft news atau feature.  Di Timor Express, ia biasa ditempatkan di halaman pertama di bagian bawah. Ia disebut byline karena pada tulisan ini juga dicantumkan nama penulisnya. Menurut Simon, pencantuman nama penulis pada bagian atas tulisan itu bermakna penghargaan karena tulisan itu adalah murni hasil kerja si wartawan sendiri, “Itu menandakan bahwa si wartawan memiliki kemampuan di atas rata-rata.” Menurutnya hal ini sudah menjadi ciri di lingkungan Jawa Pos Group. “Kita sangat menghargai karya jurnalistik seseorang”. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;byline&lt;/span&gt; dalam bahasa Inggris berasal dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘by’&lt;/span&gt; artinya oleh dan ‘line’ artinya baris. Ia merujuk pada sebuah baris dekat judul berita yang berisi nama orang yang menulis berita itu. Menurut kamus Merriam-Webster's Collegiate Dictionary, kata ini masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Inggris, artinya terekam pertama kalinya dalam perbendaharaan bahasa Inggris pada 1938 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah penggunaan byline sendiri mulai diperkenalkan oleh Charles S. Taylor, seorang jendral yang lantas jadi "publisher" harian The Boston Globe, sesudah perang saudara Amerika, pada tahun 1850-an. Taylor sering jengkel karena selama perang ada saja wartawan yang menulis dengan judul, "Berita Penting Jika Terbukti Benar." Ia memutuskan menaruh nama para wartawannya pada berita-berita yang diterbitkan The Boston Globe. Ini membuat wartawan the Boston Globe menjadi lebih berhati-hati dengan berita yang mereka laporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, masih sangat sedikit media yang menggunakan byline dalam setiap beritanya. Di tingkat nasional saya pernah membaca Harian Sinar Harapan, yang sudah menggunakannya pada semua beritanya, saya membacanya dalam penerbangan dari Jakarta ke Kupang pada pertengahan Februari lalu. Juga ada The Djakarta Post yang sudah menerapkannya sejak 2001.  Di Nusa Tenggara Timur, setahu saya baru Flores Pos yang mencantumkan nama wartawan pada beritanya, tak tanggung-tanggung nomor telepon si wartawan juga dicantumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bill Kovach dalam tulisan Andreas Harsono pada website pantau, esensi penggunaan byline adalah akuntabilitas wartawan kepada publik. Sehingga publik bisa tahu dan menilai kualitas tulisan dan liputan si wartawan, dengan sendirinya wartawan akan terpacu untuk menaikan kualitas tulisan dan liputannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon mengatakan bahwa pada straight news hanya dicantumkan kode wartawan dengan beberapa alasan. “Untuk keamanan si wartawan,” katanya. Selain itu straight news juga merupakan hasil kerja tim, ”Itu kenapa pada straight news kita hanya pakai kode.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, menurut Simon yang membedakan Timor Express dengan koran lain adalah, “Timex  bercirikan investigasi, makanya kita bilang Timor Express itu cerdas dan konsisten.” Ia mencontohkan berita tentang kasus dugaan keterlibatan Agus Talan, ketua DPRD kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam pembunuhan Paulus Usnaat. “Timor Express ikuti terus perkembangan kasusnya. Segala sisi kita telusuri, siapa itu Agus Talan, bagaimana keluarganya, kehidupan mereka, hubungan dengan korban, apakah benar dia terlibat? Jadi semuanya kita investigasi.” Jelasnya. Namun ia mengakui bahwa secara tertulis Timor Express tidak punya standar atau panduan tersendiri tentang peliputan investigatif, “Seperti tahapan yang umum dipakai. Hanya kita selalu menekankan agar semua sisi dilihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus Usnaat pada Juni 2008 lalu ditemukan tewas dalam sel polisi sektor Numpene. Di tubuhnya ditemukan dua sobekan luka akibat benda tajam dan kerusakan pada kemaluannya. Kematiannya mengundang reaksi masyarakat luas. Pihak kepolisian mulai dari tingkat resort di TTU, Kepolisian Daerah (Polda) NTT hingga Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) ikut turun tangan. Sampai sekarang kasus ini masih dalam penyidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timor Express konsisten memberitakan kasus ini sejak awal sampai sekarang. Penelusuran saya di situs online www.timorexpress.com menunjukan konsistensi pemberitaan itu. Mulai dari reaksi masyarakat, perkembangan penyidikan, hingga sisi lain korban dan para tersangka ikut diberitakan.&lt;br /&gt;Pemberitaannya makin intens pada bulan januari hingga maret 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ini jika dilihat dari nilainya, relevan dan perlu diketahui publik karena ada keterlibatan pejabat publik di sana (polisi dan DPRD) ini mengindikasikan terjadinya pelanggaran HAM dan yang terutama ada nyawa manusia yang dihilangkan secara paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, kecenderungan minat baca masyarakat di NTT lebih tinggi kepada berita-berita kriminal dan politik ikut menyumbang pada kontinuitas pemberitaan di media lokal terkait kriminalitas dan  politik. Dalam sebuah diskusi yang pernah saya ikuti bertajuk “Kermana Memajukan Katong Pung Jurnalisme” di Studio I RRI pada 2005 lalu, hal ini menjadi bahan diskusi para pelaku media yang berkumpul saat itu, mayoritas peserta mengatakan bahwa media di Kupang lebih sering mengangkat  isu kriminalitas dan politik karena tuntutan pembaca yang dalam bahasa Dion DB Putra saat diskusi itu, “Ini provinsi PNS bung”. Dion DB Putra adalah pemimpin redaksi Harian Umum Pos Kupang. Ia menjadi salah satu pembicara dalam diskusi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelusuran terhadap arsip pemberitaan di Timor Express melalui situs on line-nya, ada kecenderungan yang dimaksud dengan liputan investigatif ala Timor Express lebih pada berita kriminal sedang berita-berita politik jarang sekali diliput secara mendalam. Sebagai contoh, pemberitaan mengenai Setya Novanto calon legislatif DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) NTT II hanya berkisar tentang kegiatan-kegiatan sosialnya yang bernuansa kampanye dan penolakan terhadap pencalonan kembali dirinya oleh Forum Komunikasi dan Silahturahmi Pemuda NTT Bersaudara (Forsatu)  yang mengaku mewakili masyarakat NTT di empat kabupaten di pulau Sumba. Pulau Sumba masuk dalam Dapil II NTT.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setya Novanto adalah politisi partai Golongan Karya yang menjadi wakli rakyat NTT di DPR RI periode 2004-2009, saat ini ia kembali dicalonkan lewat partai yang sama. Ia kelahiran Bandung dan dibeasrkan di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 2005 dan Juli 2006 di beberapa media nasional ia pernah diberitakan memiliki kaitan dengan dugaan penyelundupan 60 ribu ton beras asal Vietnam . Lainnya yang juga sempat heboh adalah soal kunjungannya bersama Allen Marbun ke gedung KPK pada Oktober 2008 lalu terkait usulan anggaran pembangunan gedung kantor KPK sebesar 90 miliar, sempat menjadi pemberitaan di beberapa media nasional hingga februari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain Setya Novanto ini tak disinggung dalam setiap pemberitaan tentang dirinya di media lokal Kupang termasuk Timor Express sekalipun dalam arsip berita di JPNN, jaringan berita milik Jawa Pos Group, terdapat dua berita tentang kunjungan Setya Novanto ke KPK.  Dari sisi relevansi berita, ini menjadi penting diketahui oleh publik NTT karena ia adalah calon wakil rakyat NTT di senayan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemris Foentuna, ketua AJI kota Kupang dalam sebuah wawancara, kepada saya mengatakan, dalam mengelola sebuah media, urusan bisnis dan redaksi jalan sama-sama, yang kemudian menjadi soal adalah ketika ada berita yang yang memiliki dampak luas bagi masyarakat dan saat yang bersamaan pihak yang terkait berita itu memasang iklan dengan harga tinggi, “Di situlah independensi media di pertaruhkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsistensi Timor Express dalam observasi saya lebih mengarah kepada berita. Bagaimana dengan tampilannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap terbitan berubah tata letaknya, mulai dari halaman depan hingga belakang. “Di depan itu, yang tetap hanya kolom kiri dengan kolom bawah atau banner,” kata Rolex.  Perubahan tata letak itu dipengaruhi oleh jumlah iklan.&lt;br /&gt;Tata letak di tiap halamannya oleh tim pra cetak dimulai dengan penempatan iklan, setelah itu baru penempatan beritanya. Ini memberi peluang kepada para desainernya untuk memotong berita -umumnya ini adalah tugas editor- agar bisa muat pada ruang yang tersisa. Untungnya struktur penulisan yang dipakai adalah piramida terbalik sehingga pemotongan yang dilakukan oleh para desainer tidak mengurangi substansi pemberitaan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini yang dimaksudkan Stenly, ketika saya tanyakan tentang ciri khas Timor Express yang membedakannya dari koran lain di Kupang, ia mengatakan Timor Express itu memberikan sesuatu sesuai selera pembaca di daerah itu, “Orang Kupang khan sukanya yang pedis dan rame. Jadi kita juga menyesuaikan dengan itu,” katanya. Kata yang tepat untuk itu mungkin dinamis bukan konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Timex itu fleksibel, jika iklan banyak kita tambah halaman. Intinya iklan jangan mempengaruhi berita,” kata Simon ketika saya tanyakan apakah ada standar jumlah iklan pada setiap halaman Timor Express. Pada terbitan Jumad tanggal 06 Maret 2009, karena banyaknya iklan yang masuk, Timor Express menambah empat halaman dari biasanya hanya 20 halaman menjadi 24 halaman. Iklan yang menyebabkan penambahan halaman pada edisi saat itu adalah ucapan selamat atas pelantikan Bupati dan Wakil Bupati kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) periode 2009-2014 memakan tiga halaman penuh. TTS adalah sebuah kabupaten di sebelah timur yang berkarak sekitar 100-an kilometer dari Kupang.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan antara iklan dan berita di Timor Express masih kabur, hampir setiap halaman Timor Express ada iklannya, selain itu garis pembatas antara iklan dan beritapun tak ada, mungkin ini kebijakan internal Timor Express. Pada media-media besar di luar negeri yang budaya jurnalismenya sudah maju, garis batas antara iklan dan berita dibuat tegas. Garis batas itu disebut Firewall (pagar api).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran pagar api ini menjelaskan kepada publik bahwa iklan terpisah dari editorial. Ini juga bagian dari pertanggungjawaban kepada publik. Banyak media sekarang mencampuradukan iklan dan berita, ini kemudian memunculkan istilah advertorial. Advertorial berasal dari dua kata, advertising  dan editorial. Ini dua hal yang berbeda. Parahnya lagi advertorial yang dimuat tidak dijelaskan secara jujur kepada publik, sehingga terkadang publik menganggapnya sebagai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Timor Express menurut Simon, setiap advertorial ada penjelasan atau tulisan advertorial di atasnya sebagai tanda. “Atau kita beri kode adv di bagian bawahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan pada akhir Februari lalu, saya menunjukan sebuah tulisan yang dimuat di Timor Express pada Selasa 3 Februari 2009 kepada Paul Sinlaeloe, ia aktifis yang bekerja di PIAR NTT. Lembaga tempat ia bekerja termasuk pelanggan Timor Express.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu berada di halaman pertama bagian bawah. Judulnya “Berjuang Untuk Orang Timor”. Di situ ada gambar tokoh dalam tulisan itu, Eurico Guterres. Ia terkenal ketika pecah konlik setelah referendum di Timor Timur pada 1999 lalu, saat itu ia dikenal sebagai wakil pejuang pro integrasi. Sempat diadili di Jakarta dan dipenjara tapi kemudian dibebaskan karena terbukti tak bersalah di pengadilan.  Ia juga ketua Partai Amanat Nasional di NTT, saat ini ia dicalonkan untuk mewakili rakyat NTT di senayan pada pemilu legislatif 2009 nanti. Tulisan itu menceritakan tentang visi dan misinya. Panjang tulisan itu 17 alinea, empat kolom. Dua alinea di halaman pertama, sisanya bersambung ke halaman tujuh. Pada akhir tulisan terdapat kode (*/vit/adv). Itu tanda bahwa tulisan ini adalah sebuah advertorial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lantas menanyakannya kepada Paul SinlaELoe, yang oleh sesama aktivis sering dipanggil dengan nama Ompol.  &lt;br /&gt;“Ompol, menurut lu tulisan ini apa?”&lt;br /&gt;“Itu berita, tapi terkesan penuh promosi,” katanya.&lt;br /&gt;Saya tak heran, karena sebelumnyapun ketika pertama membaca tulisan ini, sangka saya berita, kemudian baru saya ketahui sebagai advertorial setelah mendengar cerita beberapa kawan wartawan tentang arti kode adv pada akhir tulisan itu. Ini menimbulkan tanya dalam hati, mungkinkah pembaca atau masyarakat lain juga tahu akan hal ini? &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Berkaitan dengan penegakan profesionalisme wartawan, Simon mengatakan bahwa rujukan Timor Express ada pada Undang Undang Pers No 40 tahun 1999 dan Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI). Timor Express sangat tegas, jika ada wartawannya yang melanggar kode etik,”Apalagi berkaitan dengan “Amplop”. Bisa langsung dipecat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dikategorikan sebagai “Amplop” menurut Timor Express, ”Pemberian uang oleh seseorang dengan tujuan untuk kepentingan dimuat atau tidak berita tentang dirinya.” Kata Simon, lebih mengarah kepada sogokan. Sedang pemberian uang transport atau uang duduk oleh nara sumber untuk peliputan kegiatan pejabat atau perusahaan yang mengundang wartawan atau saat konferensi pers, “Itu bagian dari sponsorship. Ada MoU-nya,” kata Simon. Sangka saya yang dimaksud dengan sponsorhip itu adalah yang sering diistilahkan dengan advertorial, ternyata oleh Simon, yang dikatakan advertorial beda dengan sponsorship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Haeruddin, manajer iklan Timor Express, dulu istilahnya advertorial, “Sekarang kita di media memakai istilah iklan layanan masyarakat atau sponsorhip,” katanya. Sementara itu menurut Yan Tandi, manajer keuangan Timor Express, advertorial memiliki kontrak atau MoU sedang undangan peliputan atau konferensi pers, “Tidak ada MoU-nya. Kalau ada pemberian dari nara sumber itu langsung pada wartawan yang liput, perusahaan tidak minta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christo Embu, kepada saya suatu pagi di minggu kedua Maret belum lama ini mengatakan pemberian “Amplop” oleh nara sumber sangat sering terjadi dan itu tantangan tersendiri bagi wartawan karena kadang pemberian itu dengan kompensasi tertentu, “Saya jujur saja, kalau pemberian uang atau fasilitas oleh nara sumber pernah saya terima. Tapi itu memang karena diberi, saya tidak pernah minta.” Ia mengatakan sangat pantang baginya untuk meminta sesuatu dari nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamannya, jika peliputan yang dilakukan karena undangan oleh nara sumber atau pihak yang menginginkan publikasi, perusahaan tidak menanggung ongkos peliputan seperti transportasi dan akomodasi, “Itu tanggungjawab yang mengundang,” katanya.  “Dan tidak ada MoU-nya, kecuali yang memang advertorial baru ada MoU,” lanjut Christo ketika saya tanyakan apakah peliputan seperti itu ada kontrak dengan perusahaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, biasanya kalau diundang untuk ikut konferensi pers itu ada alokasi anggaran untuk uang duduk atau pengganti transport wartawan, “Kalau yang begitu, dikasih saya terima. Tapi saya bilang ke nara sumber, isi berita saya tidak akan dipengaruhi oleh pememberian ini. Berita saya tidak pernah di luar dari fakta yang ada atau menyerang pribadi seseorang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjadi wartawan ia baru dua kali mendapat komplain dari pembaca, “Itu ketika saya sudah pegang desk kriminal. Tapi waktu masih reporter lapangan atau di daerah dulu tidak pernah ada komplain pembaca,” katanya. Ia pernah tiga tahun menjadi wartawan di Maumere kabupaten Sikka di pulau Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon mengatakan pada prinsipnya, jangan pernah ada wartawan yang minta atau melakukan pemerasan terhadap nara sumber, “Ketahuan bisa langsung di eksekusi.” Ia menceritakan baru beberapa bulan lalu ada seorang wartawannya yang ketahuan mencoba memeras seorang pejabat dipecat, “Tidak ada ampun.” Katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defenisi “Amplop” yang beragam di kalangan wartawan bukan hal yang baru, dalam survey media dan jurnalis Indonesia oleh AJI di 17 kota pada tahun 2005, ditemukan bahwa penilaian responden (wartawan) tentang pemberian narasumber yang  dikategorikan sebagai “Amplop” paling banyak masih menilai “Amplop” sebatas pemberian sejumlah uang (85,5%), barang bernilai seperti tape recorder, handphone dsb sebanyak 65,0%, pemberian akomodasi peliputan seperti narasumber menanggung biaya penginapan dan keperluan wartawan selama liputan bersama narasumber sebanyak 36,8%, perjalanan liputan seperti pemberian fasilitas transportasi gratis kepada wartawan yang menyertai narasumber sebanyak 33,0%, pemberian souvenir seperti kalender, stiker dan kaos 26 %, fasilitas gratis untuk liputan seperti tiket pertandingan olah raga atau pertunjukan musik, hiburan dan film sebanyak 24,0% dan hanya 18,8% yang menilai bahwa jamuan makan malam oleh narasumber sebagai “Amplop”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragaman pemahaman wartawan atas defenisi “amplop” seperti yang ditemukan AJI dalam surveynya itu juga terjadi di Timor Express sekalipun menurut Simon Petrus Nilli, pemimpin Redaksinya, kerja wartawan Timor Express selalu merujuk pada UU Pers No 40 thn 1999 dan KEWI. Timor Express sendiri menurutnya tak punya standar tertulis bagi wartawannya terkait amplop kecuali SOP perusahaan yang berlaku bagi semua karyawan.  “Tapi setiap wartawan kita selalu briefing,” kata Simon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam KEWI, tentang “Amplop” ada pada pasal 5, berbunyi “Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi”, penjelasan atas pasal itu berbunyi, “Wartawan Indonesia selalu menjaga kehormatan profesi dengan tidak menerima imbalan dalam bentuk apapun dari sumber berita/nara sumber berita, yang berkaitan dengan tugas-tugas kewartawanannya, dan tidak menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi atau kelompok.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saya dan Ompol berdiskusi hingga jelang subuh tentang media lokal di Kupang. Menurutnya Timor Express termasuk koran yang cukup berani, “Kalau berita tentang korupsi cukup vulgar. Ini sangat membantu untuk kerja-kerja advokasi kasus korupsi.”&lt;br /&gt;Saat membaca koran ia selalu mencari berita tentang kasus korupsi. Itu yang akan ia baca lebih dulu, “Baru yang lain,” katanya.&lt;br /&gt;“Cuman yang beta jengkel, katong baca berita musti basambung pi halaman lain tu yang bikin malas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Katong : kita, basambung : bersambung, pi : ke)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keterangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Tulisan ini adalah bagian dari keikutertaan saya dalam program fellowship yang diselenggarakan AJI Indonesia. Tulisan ini sudah dipublikasikan bersama tulisan peserta lainnya dalam buku Wajah Retak Media yang diproduksi AJI bersama Tifa Foundation setelah melewati tahap editing dengan judul Menjala Iklan Ala Timex.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Referensi :&lt;br /&gt; 1.www.pantau.or.id&lt;br /&gt; 2.www.pantau.or.id&lt;br /&gt; 3.Arsip berita SELASA, 30 SEP 2008, | 143 www.timorExpress.com.&lt;br /&gt; 4.www.kompas.com, www.detiknews.com, dan www.tempointeraktif.com.  &lt;br /&gt; 5.www.sinarharapan.co.id, www.fajar.co.id, www.jawapos.com, dan www.gatra.com&lt;br /&gt; 6.Baca halaman 1 Harian Pagi Timor Express edisi Selasa 3 Februari 2009.&lt;br /&gt; 7.Potret Jurnalis Indonesia, suvey AJI tahun 2005 tentang Media dan Jurnalis Indonesia di 17 Kota&lt;br /&gt; 8.Menggugat Pratek Amplop Wartawan Indonesia, 2003&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-5536649421073723203?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5536649421073723203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5536649421073723203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2009/11/berita-atau-iklan-antara-bisnis-dan.html' title='Berita atau Iklan antara Bisnis dan Profesionalisme Media *'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-7913960908870622947</id><published>2009-11-30T00:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T00:05:11.740-08:00</updated><title type='text'>Dari Kebun ke Dapur dulu baru ke Pasar (Pengkajian tingkat kesejahteraan petani di lima desa di kabupaten Belu 2009)</title><content type='html'>Oleh :  Olyvianus Dadi Lado &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Juni 2009 lalu, NTT Policy Forum (NTT PF) bersama Oxfam GB melakukan studi lapangan mengenai  Ketahanan Pangan Berkelanjutan di desa Mandeu Raimanus, Teun, Baudaok, Tukuneno dan Naekasa di Belu. Respondennya berasal dari rumah tangga petani yang ditentukan berdasarkan tingkat kesejahteraan. Total respondennya 10% dari populasi penduduk desa. Keterwakilan setiap kategori kesejahteraan didasarkan pada &lt;br /&gt;proporsi kategori kesejahteraan dalam populasi.  Keempat kategori kesejahteraan itu adalah : Rumah tangga kategori Mampu, kategori Sedang, kategori Kurang dan Rumah tangga kategori Perempuan kepala keluarga. Metode pengambilan datanya dilakukan melalui FGD, Survey Pasar dan Testimoni perwakilan setiap kategori kesejahteraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil studi lapangan juga sudah dipresentasikan di Atambua dalam kegiatan NTT PF III yang diselenggarakan oleh NTT PF, Bappeda Belu, Oxfam GB dan CIS Timor pada akhir Oktober lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ada beberapa pertanyaan kunci untuk membawa kita masuk ke cerita dibalik hasil studi lapangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimiliki rumah tangga petani di desa untuk memproduksi pangan?&lt;br /&gt;Lebih dari 80% penduduk di lima desa lokasi studi lapangan ini bermata pencaharian sebagai petani. Musim hujan yang pendek hanya 3-4 bulan saja dalam setahun membuat mereka hanya mampu mengolah kebun atau sawah sekali setahun, hanya beberapa keluarga yang beruntung yang memiliki lahan pertanian dekat sumber air yang bisa menanam dua kali dalam setahun dan menanam lebih dari satu jenis tanaman pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi lapangan ini juga ditemukan bahwa sekalipun rata-rata setiap rumah tangga memiliki lahan pertanian sendiri namun mereka hanya mampu mengerjakan 25-40% dari keseluruhan potensi lahan yang mereka miliki (rerata luas lahan yang digarap &lt; 1 Ha). Kategori rumah tangga yang mengolah lahan paling sempit dibanding kategori rumah tangga lainnya adalah Rumah Tangga Perempuan Kepala Keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses akan sarana produksi yang terbatas menjadi salah satu penyebabnya. Rata-rata rumah tangga petani hanya memiliki 3-4 jenis alat pertanian yakni cangkul, tajak, linggis dan parang. Hanya 1-2 rumah tangga kategori Mampu yang memiliki akses yang cukup akan peralatan pertanian yang lebih modern seperti traktor tangan dan perontok padi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab lainnya adalah terbatasnya tenaga kerja produktif, rata-rata dalam sebuah keluarga hanya ada 1-2 tenaga kerja yang produktif dengan tingkat pendidikan formal kepala keluarga rata-rata pada tingkat SD bahkan sebagian besar di antara mereka terutama dari rumah tangga kategori Sedang, Kurang dan Perempuan, tidak tamat SD. Selain itu, berdasarkan hasil FGD dan verifikasi saat workshop ditemukan bahwa penyuluhan pertanian di desa-pun masih rendah dan belum merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan ini dalam workshop di Atambua pada akhir Oktober lalu juga dibenarkan oleh peserta workshop dari unsur perwakilan petani desa, menurut mama Margawati Luan dari desa Mandeu Raimanus, tahun ini kemungkinan besar mereka akan terlambat menanam.  Itu berarti masa paceklik atau krisis pangan petani di desa menjadi semakin panjang. Rata-rata dalam setahun rumah tangga petani di desa mengalami krisis pangan selama 6- 8 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kondisi pangan rumah tangga petani saat ini?&lt;br /&gt;Hampir semua kategori rumah tangga petani di lima desa lokasi studi lapangan mengatakan hasil panen mereka tak mencukupi kebutuhan makan keluarga dalam setahun. Kebutuhan makan anggota keluarga setiap kategori rumah tangga petani berkisar antara 200-300 kg/kk/tahun tidak sebanding dengan hasil panen rata-rata setiap rumah tangga petani dalam setahun yang hanya berkisar  100 s.d 300 kg. Jika melihat pada kisaran angka reratanya bisa diasumsikan hasil panennya cukup untuk makan keluarga setahun, namun pada kenyataannya hasil panen itu tidak hanya untuk dimakan namun juga dijual sebagian untuk membeli keperluan rumah tangga yang lain, biaya kesehatan dan biaya sekolah anak maka dalam setahun rumah tangga petani terutama kategori Kurang dan Perempuan selalu mengalami kekurangan pangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diharapkan rumah tangga petani untuk bertahan?&lt;br /&gt;Umumnya rumah tangga petani menggunakan beberapa cara yang sudah ada seperti, merubah porsi makan dari 3 kali sehari menjadi hanya 2 kali sehari, merubah menu makan harian, meminjam bahan pangan dengan sistim pinjam 1 ganti 2 saat panen, mengharapkan bantuan gratis dari kerabat dan yang terakhir adalah membeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengandalkan hasil tanaman pangan yang dijual, rumah tangga petani di desa juga memiliki alternatif pendapatan yang bisa mendatangkan uang bagi mereka. Rata-rata pendapatan keuangan mereka berkisar  &lt; 1  s.d 7 juta rupiah. Yang paling kecil pendapatan keuangannya adalah Rumah tangga kategori Sedang, Kurang dan Perempuan, sedang rumah tangga kategori mampu rata-rata memiliki pendapatan hingga tujuh juta rupiah dalam setahun, ini karena rumah tangga kategori ini rata-rata bekerja sebagai PNS yang memiliki gaji, memiliki usaha kios serta memiliki usaha alternatif lainnya yang menghasilkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aset lain yang bisa diandalkan saat krisis pangan terjadi adalah barang berharga mereka seperti peralatan elektronik, perhiasan dan kain tenun. Sekalipun semua kategori rata-rata memiliki barang berharga namun rerata nilainya hanya mencapai dua juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, rumah tangga petani juga bisa menjual ternak peliharaannya membeli bahan pangan namun sangat jarang karena justeru kebanyakan petani menjual ternaknya untuk keperluan pendidikan anak, pengobatan, ongkos acara adat atau pembangunan rumah. Pada aspek ini, kembali rumah tangga kategori mampu yang paling memiliki ketahanan karena ia memiliki lebih banyak ternak seperti sapi, babi, kambing, dan ayam sedang rumah tangga kategori Kurang dan Perempuan adalah yang paling rentan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengandalkan kapasitas mereka yang ada, rumah tangga petani juga memanfaatkan dukungan pemerintah untuk bertahan. Beberapa kebijakan pemerintah seperti Raskin, PNPM, ADD dan beberapa yang lain, dirasakan cukup membantu mereka untuk bertahan pada saat krisis pangan terjadi. Sekalipun begitu dalam setahun presentase bulan rumah tangga untuk membeli pangan tetap tinggi yakni 50-60%. Selain itu, kebijakan pemerintah seperti ADD, PNPM dan yang sejenisnya selain raskin lebih banyak diarahkan pada pembangunan fisik bukan untuk peningkatan ketahanan pangan rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sedih diatas belum berakhir, berdasarkan survey harga di pasaran sejak tahun 2003 hingga 2009, nampak bahwa laju peningkatan harga beli konsumsi rumah tangga jauh lebih tajam dan cepat dibanding harga jual produksi pertanian, ini bisa berarti bahwa setiap tahun daya beli rumah tangga petani di desa-pun semakin menurun dengan kata lain cerita sedih ini akan terus berlanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sedih ini bisa berakhir jika, sektor ketahanan pangan betul-betul menjadi prioritas dalam rencana dan anggaran pembangunan daerah, kebijakan yang ada seperti ADD dan PNPM diarahkan untuk menguatkan sektor ketahanan pangan, penguatan kapasitas petani, dan pengembangan usaha  alternatif skala rumah tangga. Pertanyaannya maukah kita mengakhiri cerita sedih ini atau tidak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-7913960908870622947?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/7913960908870622947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/7913960908870622947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2009/11/dari-kebun-ke-dapur-dulu-baru-ke-pasar.html' title='Dari Kebun ke Dapur dulu baru ke Pasar (Pengkajian tingkat kesejahteraan petani di lima desa di kabupaten Belu 2009)'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-292698372107869915</id><published>2009-03-16T00:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T00:43:29.399-07:00</updated><title type='text'>Mati lagi...mati lagii ahhhhhh</title><content type='html'>Sebuah cerita pendek menyongsong Kopi darat Forum academia NTT  akhir maret nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Olyvianus Dadi Lado&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi di hari selasa (09/3), Ale Mesak Lewedalu sudah bangun sejak jam enam di kos-nya, pagi ini tugasnya di warung internet (warnet) menggantikan Jener temannya yang bertugas semalam suntuk. Ia seorang anak muda dari Kisar-Maluku Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam delapan, ia sudah menuju Unum Net, nama warnet tempat ia bekerja. Unum Net adalah sebuah warnet milik CIS Timor, ia hadir sebagai tempat belajar berwira usaha, selain itu sebagai sebuah LSM lokal yang sudah hampir sepuluh tahun berdiri, CIS masih bergantung sepenuhnya pada donorship. Ini sebuah usaha awal untuk membangun kemandirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unum Net terletak di jalan Timor Raya sekitar 50 meter dari pertigaan Oesapa-Kupang-Penfui. Sebuah bilik kecil berukuran 5x4 meter persegi yang disewa selama lima tahun untuk keperluan usaha ini. Modal awalnya juga masih berupa pinjaman. Memiliki delapan unit komputer untuk client dan satu unit sebagai server, beroperasi 24 jam seminggu dengan tarif Rp. 4500 per jam, selama bulan pertama pelanggan diberi pemotongan 20% bagian dari promosi. Ia dibuka sejak tanggal 02 Maret lalu.  Seminggu beroperasi Unum Net rata-rata menghasilkan Rp. 650.000,- atau setiap hari menghasilkan Rp. 92.857, setiap jamnya diasumsikan menghasilkan Rp. 3.869,- (perhitungan bersih setelah potongan 20% per jam selama sebulan promosi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setibanya di Unum Net, “Bos listrik mati,” kata Jener Bana setelah membukakan pintu warnet. Jener adalah seorang pemuda asal SoE, ia baru saja tamat dari Fakultas Teknik dan Science Universitas Nusa Cendana.&lt;br /&gt;“Ahhhhhhhhhhh...PLN pukara’a dong ni..” umpat Ale, “Kamarin dulu malam mati...masa ini pagi mati lai.” Senyum sejak berangkat dari kos dibibirnya yang hitam akibat kebanyakan rokok itu hilang. &lt;br /&gt;Ia kesal karena sejak warnet beroperasi, sudah tiga kali mati, padahal belum sebulan. &lt;br /&gt;“Karmana mau kas kambali utang cepat kalo model bagini tarusss,” keluhnya.&lt;br /&gt;“Ho PLN ni sakarang mati su sambarang sa...kapan mau mati na mati sonde pake giliran lai,” kata Jener. “Katong yang di Oesapa deng Penfui mati tarus-tarus sa.. su bagitu lama lai.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ale dan Jener pantas kesal karena untuk membuka usaha ini pinjaman untuk modal awal mencapai 50-an juta rupiah. Menurut perhitungannya jika berjalan normal maka dalam  satu setengah tahun sudah kembali modal awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak bisa beroperasi, mereka memutuskan pergi ke posko CIS Timor di Walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olkes terkejut melihat mereka berdua muncul di ruang media sepagi itu. “Sapa yang jaga warnet?” tanya Olkes&lt;br /&gt;“Listrik mati na ka. Jadi katong datang sini sa dari pada tanganga di sana,” jawab Jener. &lt;br /&gt;Olkes adalah koordinator unit media di CIS Timor, Unum Net ada dalam tanggungjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jener dan Ale duduk tak jauh dari meja kerja  Olkes. “Jadi kermana su ni kaka?” tanya Ale.&lt;br /&gt;“Mau kermana lai ko ais listrik mati bagitu,” jawab Olkes. “Ais komputer dong aman ko?” &lt;br /&gt;“Aman ka’. Tapi kalo bagini tarus bisa lewat e..” jawab Ale (lewat : rusak)&lt;br /&gt;“Nah nanti katong usaha satu UPS sa untuk taro di server pung,” kata Olkes. “Beta yang nanti omong deng om Win ko ame UPS satu dari posko Atambua pung taro tahan di warnet.” (om Win adalah nama panggilan Winston Rondo ia direktur CIS Timor; UPS : alat untuk penyimpan energi listrik sementara).&lt;br /&gt;“Iya kaka itu perlu karna sama ke kapan hari mati tiba-tiba tu..katong sonde tau orang su pake brapa lama, akhirnya katong kas farei sa su ma,” timpal Jener.&lt;br /&gt;“Ho e.. nanti katong tambah rugi lai tu ma kalo sonde pake UPS,” sambung Ale pula. &lt;br /&gt;Theo Wetangterah yang baru selesai mengambil segelas kopi di dapur ikut nimbrung, “Iyo yang mati kapan malam tu...pung lama lai, ada hampir empat jam ko, beta sampe pamalas tunggu.” Theo juga anggota bagian media, kadang ia membantu menjaga warnet pada malam hari karena kos-nya tak jauh dari warnet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan yang dialami keempatnya bukan tak mungkin juga dialami oleh banyak pengusaha kecil yang mengandalkan listrik sebagai sumber energinya. Maklum mereka tak mampu mengadakan generator laiknya para pengusaha besar. Pada hal perputaran uang dalam kota Kupang banyak andilnya dari para pengusaha kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berandai dalam sebulan jika berjalan normal, Unum Net mungkin bisa menghasilkan 150-200 ribu perhari atau sebulannya Rp.4.500.000 sampai Rp. 6.000.000,-. Dikurangi dengan ongkos sewa provider speedy sebesar dua juta-an, biaya listrik dan air plus honor dua orang karyawan dan pajak, keuntungan bersihnya berkisar satu sampai dua juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya situasi tak berjalan normal, lebih parahnya lagi tak tahu sampai kapan situasi tak normal ini akan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theo, Ale, Jener dan Olkes hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menghembuskan nafas sekeras mungkin seolah dapat mengusir bayangan utang dalam kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-292698372107869915?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/292698372107869915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/292698372107869915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2009/03/mati-lagimati-lagii-ahhhhhh.html' title='Mati lagi...mati lagii ahhhhhh'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-1482015985631741070</id><published>2008-08-30T20:31:00.000-07:00</published><updated>2008-08-30T21:31:24.215-07:00</updated><title type='text'>'Tamu Kehormatan' di Jatilaran</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;'Tamu Kehormatan' di Jatilaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;“Kami terima kamu sebagai seorang perempuan cantik di rumah kami...”&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SLoUzGjOYLI/AAAAAAAAAAM/G1ePAebZ5XA/s1600-h/u+blog.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 134px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SLoUzGjOYLI/AAAAAAAAAAM/G1ePAebZ5XA/s320/u+blog.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240523984563232946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suatu sor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;e pada awal Mei lalu di permukiman mandiri Jati Laran, sinar mataha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ri &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;udah mulai pudar menyisakan semburat jingga di ufuk barat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; langit. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tujuh orang perempuan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;tu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;a berpakaian adat lengkap dengan segala aksesorisnya duduk di atas sebuah tikar yang digelar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di tengah-tengah permukiman, di belakang mereka ada sekelompok bapak-bapak yang juga duduk dengan penuh khidmat, seolah men&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;anti kedatangan tamu terhormat . Suasana hening, degup jantung serasa makin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di antara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; mereka bertujuh yang tertua adalah Martina Da Costa dan Francelina Baros. Kedua nenek inilah yang duduk dibarisan depan. Mereka me&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;nghadap ke moncong sebuah pipa besi berukuran satu dime. Sebuah tempat sirih terbuat dari anyaman daun tuak yang bermotif dan berwarna-warni diletakan tak j&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;auh dari moncon&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;g pipa itu.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik demi detik...mereka terus menunggu, degup jantung serasa sem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;akin kencang berdetak, hingga pada suatu saat dari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; mon&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;cong pipa itu keluar aliran air yang mengucur kian lama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; kian keras.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dari mulut lima perempuan tua itu keluarlah ungkapan-ungkapan dalam bahasa Mambai, “Kami terima kamu sebagai seorang perempuan cantik di rumah kami. Kami minta &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;supaya kamu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;tinggal bersama-sama dengan kami sampai selama-lamanya dan beri kami makan dan minum, beri kami hidup, rawat kami dan beri kami hidup baik.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mereka lalu menyodo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;rkan tempat sirih yang sudah diisi dengan sirih, pinang dan kap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ur sebagai tanda penghormatan dan selamat datang bagi tamu kehormatan yang telah ditunggu-tunggu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu kehormatan itu adalah air.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Be ne mak bele halo ami moris*,” &lt;/span&gt;kata  Lemos De Jesus, ia seorang lelaki peru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;h baya, bertubuh pendek. Nama sebenarnya adalah Lemos De Deus entah mengapa nama di KTP-nya berubah menjadi De Jesus. Ia biasa dipanggil bapak Lemos, ia adalah koordinator 18 warga baru penghuni permukiman Jati Laran. Ia mengatakan kepada saya kemudian dalam suatu wawancara pada minggu kedua Juni lalu, Air bagi mereka berarti Hidup, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Be la iha, ita mate e**,” &lt;/span&gt;tegasnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(*Air ini yang bisa membuat kami bisa hidup, **Air tak ada, kita mati : bahasa tetum)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Maka itu kita harus terima dengan adat,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima perempuan tua yang dipilih untuk menyambut masuknya air ke lokasi itu juga adalah yang sudah berusia lanjut, “Karena perempuan itu adalah tuan rumah jadi mereka yang harus menerima &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e&lt;/span&gt;,” jelasnya soal acara adat penyambutan saat air mengalir masuk ke lokasi mereka.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pergumulannya sejak pertama kali melihat lokasi itu terjawab sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemos de Jesus mengaku satu hal yang menja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di beban pikiran bagi dia dan komunitasnya ketika memutuskan untuk pindah ke Jati Laran adalah masalah ketersediaan air bersih.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Waktu saya datang di sini, saya duduk-duduk, -lalu-saya pikir bagaimana supaya bisa dapat air di sini,” kata Lemos.&lt;br /&gt;Memang sangat sulit karena letaknya yang berada di punggung bukit yang lumayan curam dan berbatu makanya sangat sukar jika harus dibikinkan sebuah sumur di situ.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Permukiman Jati Laran adalah sebuah permukiman warga baru yang sudah ada sejak tahun 2005-2006. Lemos De Jesus dan komunitasnya pindah ke sana pada tahun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; lalu. Mereka berhasil membeli lahan di lereng bukit yang penuh dengan pohon jati itu seharga enam juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permukiman ini secara administratif masuk dalam wilayah dusun IV Rt 09 desa Lakekun Barat. Terletak di sebelah kiri jalan menuju Metamauk. Dari tepi jalan permukiman ini sudah bisa terlihat jelas karena letaknya yang berada di ketinggian. Jalan masuk ke sana sekitar seratusan meter jauhnya namun cukup curam sehingga  bisa dipastikan jika berjalan kaki maka nafas kita akan tersengal dan sudah pasti berkeringat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini merupakan salah satu kelompok penerima bantuan bahan bangunan rumah dalam kegiatan Shelter proyek ATUP II yang dibiayai Uni Eropa dan Oxfam GB. Mereka didampingi oleh CIS Timor sebagai mitra lokal Oxfam GB Timor Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain rumah sebanyak 18&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; unit, mereka juga mendapatkan dukungan bibit ternak kambing dari kegiatan peningkatan ketahanan pangan serta pembangunan sarana air bersih dan sanitasi lingkungan juga dilakukan kegiatan penyuluhan kesehatan umum bagi para warga.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya lokasi ini tidak masuk dalam lokasi target kegiatan pembangunan sarana air bersih karena dari rencana awal berupa sumur ternyata sulit maka lokasi ini kemudian dicoret.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tapi Lemos De Jesus dan komunitasnya tidak berputus asa, setiap hari saat bertemu dengan staf lapangan CIS Timor, mereka selalu mengajak disk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;usi untuk memecahkan masalah air. Tak segan-segan mereka juga pergi ke kantor program CIS Timor di Betun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lalu teringat akan sebuah sumber air yang mereka temukan tak sengaja setahun yang lalu, “Kami dulu kan masih pergi pulang untuk urus tanah di sini. Nah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; tidak ada uang kami jalan kaki saja ikut belakang ini. Jalan potong, waktu itu kami ada lihat mata air” kata Lemos. Rupanya di hutan Jati di belakang bukit itu terdapat jalan pintas menuju Numponi. Lemos dan komunitasnya dulu tinggal di sebuah kamp darurat di desa Numponi, tepatnya di cabang Koloweuk. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sumber air itu kemudian diinformasikan ke tim Watsan CIS Timor. Bersama-sama dengan Lemos dan beberapa bapak-bapak dari kelompok ini, Adi Tuaty, ko&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ordinator teknisi CIS Timor di Betun pergi melihat sumber air itu. Setelah melihat sumber air dan topografi sekitar serta memperkirakan jaraknya ke lokasi, Adi menemukan bahwa yang bisa dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan air bersih bagi 18 keluarga itu adalah dengan membangun jaringan pipa. Masalah barupun muncul, apakah debit air itu cukup untuk dialirkan sampai ke permukiman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu mengemuka dalam pikiran Adi, ia lalu meminta Lemos dan kawan-kawannya untuk mencoba membendung air itu secara sederhana menggunakan lumpur. Setelah dilihat hasilnya, berdasarkan pengalamannya selama ini, ia menaksir &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;debit air itu cukup besar. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selesai masalah itu, muncul pula masalah lainnya lagi. Jati Laran bukan lagi target intervensi Watsan, kalaupun belum dicoret ia bukan lokasi yang dintervensi dengan pembangunan jaringan pipa, hanya tiga lokasi saja yakni Molosoan I, II dan Namfalus.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beta&lt;/span&gt; ke Atambua ketemu dengan Nona Lina, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;katong&lt;/span&gt; dua mulai diskusi dan cari cara supaya bisa dapat celah untuk bantu di Jati Laran, karena setelah kita usulkan ke Oxfam, sudah tidak ada lagi budget untuk itu,” kata Adi Tuaty kepada saya. Nona Lina adalah koordinator teknisi Watsan CIS Timor dalam proyek ATUP II.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya jalan keluar itupun mereka dapatkan, dengan mengguna&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;kan sisa-sisa material watsan dan pipa-pipa sisa dari proyek ATUP I, maka jaringan pipa air bersih sepanjang 500 meter di Jati Laran bisa dimungkinkan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan kuat yang membuat Adi Tuaty dan timnya membantu memperjuangkan hadirnya sarana air bersih di Jati Laran adalah di lokasi itu hanya terdapat sebuah sumur yang terletak di permukiman sebelah bawah tepat di pinggir jalan besar.&lt;br /&gt;Sumur itu yang menjadi sumber air bagi 60 keluarga termasuk 18 keluarga Lemos dan komunitasnya, juga letak sumur yang berada di bawah sekalipun jaraknya masih ada dalam toleransi standar sphere tapi sangat menyulitkan bagi kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak yang pergi mengambil air karena harus berjalan mendaki dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; membawa beban berat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tantangan belum selesai, sumber air terletak di luar lahan yang dibeli lemos dan kawan-kawan. Ia berada di dalam kawasan hutan jati milik desa Lakekun Barat, maka ijin dari pemerintah desa dan tokoh adat-pun harus mereka kantongi sebelum pembangunan jaringan pipa itu dilakukan. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lemos dan tetua dalam komunitas itu kemudian berkonsultasi dengan pemerintah desa, mereka menemui kepala desa dan tokoh adat desa Lakekun Barat untuk meminta ijin, “Kami pergi ketemu dan minta juga di tuan air itu,” kata Lemos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan air yang dimaksud adalah orang yang pertama kali menemukan sumber air itu dan merawatnya. “Waktu kami ketemu mata air itu kami lihat ada pagar, juga ada pohon tempat orang buat adat di situ jadi pasti ada orang yang lebih dulu ketemu dan jaga itu air &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e..&lt;/span&gt;,” jelasny&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;a lanjut.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tak ada keberatan dari pihak-pihak itu. Bahkan mereka menyambut baik jika ada yang hendak membangun jaringan pipa dari sumber air itu ke permukiman dengan syarat harus diadakan upacara adat di sumber air itu sebelum mulai melakukan pekerjaan dan setiap tahun secara rutin mereka harus mengundang ‘Tuan Air’ untuk memimpin upacara adat di situ.  &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beres semua perijinan, pada 04 Mei 2008 dilakukanlah upacara adat di sumber air yang terletak di tengah –tengah hutan di atas bukit itu. Darah seekor kambing dan seekor babi mengucur membasahi tanah di sekitar sumber air sebagai tanda penghargaan dan penghormatan kepada alam maka mulailah pekerjaan pembangunan jaringan pipa itu dilakuk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;an. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang mereka lakukan adalah membangun lebih dahulu bak penampungan utama karena sumber air itu ada dua. Satunya terletak di ujung bak, satunya lagi dekat sebatang pohon  kesambi yang jadi tempat dilangsungkannya ritus adat. Dari kedua sumber air yang berbentuk sumur kecil itulah air meresap ke dalam tanah dan mengalir ke bak yang dibangun agak ke bawah. Setelah itu barulah jaringan pipa siap untuk dipasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan pipa sepanjang 500 meter itu bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan apalagi jaringan pipa itu harus melalui lekukan-lekukan tanah di sepanjang bukit Jati Laran.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasangan jaringan pipa sendiri memakan waktu tiga hari. Hari pertama,  dengan penuh percaya diri dibawah bimbingan Adi, mereka memasang pipa dari dari bak penampung utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mencoba aliran air dengan memasang pipa kecil airnya langsung mengalir maka giranglah hati semua orang yang ada saat itu. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mereka kemudian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;mencoba mengganti dengan pipa yang lebih besar diameternya, “Waktu ganti pipa besar, air &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sonde&lt;/span&gt; jalan,” kata Adi pada saya di rumah Lemos De Jesus, pada suatu siang di minggu kedua Juni lalu. Lemos dan beberapa bapak yang ada saat itu ikut menganggukan kepala mengiyakan. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;“Semua heran. Periksa sana-sini sonde ada yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tasumbat&lt;/span&gt;. Dudukan –pipa- juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sonde&lt;/span&gt; berubah.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Su&lt;/span&gt; coba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; turun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ju&lt;/span&gt; sama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;,” kata Adi.&lt;br /&gt;Semuanya bingung. Hampir seharian mereka hanya duduk dan bingung memikirkan hal itu. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hari sudah sore barulah mereka menemukan sumber masalahnya. “Ternyata ada anak-anak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt; yang mandi di mata air,” kata Lemos menyambung penjelasan Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditimbang-timbang mereka meyakini bahwa telah terj&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;adi pelanggaran terhadap upacara adat yang sudah di buat maka diutuslah Martino Pereira, salah seorang tetua di situ untuk melakukan acara adat, ia meminta maaf dalam bahasa Mambai di sumber air itu. Barulah air mulai mengalir memasuki pipa tadi.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua, ketika jalur pipa itu mulai terpasang hampir setengahnya, timbul-lah percekcokan antara Adi dan Lemos. Keduanya bertengkar hebat mengenai jalur mana yang harus dilalui oleh pipa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemos menginginkan agar jalur pipa itu langsung lurus saja menuju ke lokasi, Adi mengusulkan agar digeser sedikit ke bawah agak melingkari gundukan melalui arah bawah barulah dibelokan ke lokasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Saya tidak mau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e..&lt;/span&gt;saya pikir nanti pipa itu masuk di lokasi bawah. Saya mau langsung di kami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung&lt;/span&gt; lokasi,” ujar Lemos menjelaskan alasannya saat itu. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran itu semakin memanas hingga akhirnya Adi mulai mengalah ketika mendengar perkataan terakhir Lemos De Jesus, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; begitu biar batal saja. Kita tidak usah kerja lagi,” kata Lemos tak mau kalah. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemos dan kawan-kawanya melanjutkan pemasangan pipa mengikuti jalur yang ia usulkan. Jalur itu memang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sedikit &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;lebih pendek namun ia harus melewati sebuah gundukan yang lumayan tinggi sebelum sampai ke permukiman.&lt;br /&gt;Alhasil pipa yang sudah dipasang itu tak mengeluarkan air sedikitpun. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lemos lemas melihat itu, ia tersentak.&lt;br /&gt;“Wah ternyata pak Adi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung &lt;/span&gt;-pendapat-&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;yan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;g benar. Memang dasar kita orang bodoh ini maunya ikut kita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung&lt;/span&gt; padahal air tidak keluar,” ujarnya saat itu.  &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Adi yang sudah pulang, sepanjang malam terus gelisah. Ia gelisah karena ia sangat yakin jika mengikuti usulan Lemos maka air tak akan bisa mengalir sampai ke lokasi. “Sepanjang malam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;beta&lt;/span&gt; tidur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sonde&lt;/span&gt; tenang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beta&lt;/span&gt; kuatir sekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; air di Jati Laran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sonde&lt;/span&gt; jadi maka beta pung pengalaman selama ini sonde ada artinya dan beta akan malu sekali. Beta hanya bisa berdoa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt; harap supaya air bisa sampai ke lokasi” cerita Adi pada saya diatas motor dalam perjalanan pulang dari lokasi.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketiga, Lemos yang sudah menyadari kesalahannya kembali mengubah jalur pipa sesuai anjuran Adi. Sepanjang pagi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; hingga siang mereka habiskan dengan bongkar pasang pipa  sepanjang 500 meter itu. Menjelang sore pipa itu mulai memasuki lokasi permukiman membawa tamu kehormatan yang telah dinanti-nantikan dan disambut dengan upacara adat. Hari itu tepat pada tanggal 08 Mei 2008.  &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lemos De Jesus yang selalu gelisah soal ketersediaan air bersih akhirnya bisa bernapas lega saat melihat percikan air yang mengalir keluar dari moncong pipa sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa akhirnya kami bisa dapat air. Kami terima kasih juga kepada Tuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;an karena bisa bantu kami lewat Uni Eropa, Oxfam dan CIS yang turun langsung ke sini,” kata Lemos, matanya berkaca-kaca mengenang saat pertama kali air yang dianggap sebagai seorang perempuan yang cantik, sebagai seorang ibu, sebagai seorang tamu kehormatan itu tiba di lokasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kini ‘tamu kehormatan’ itu menempati sebuah bak air berkapasitas 2500 liter dan terus mengalir tak henti-hentinya. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hingga saat wawancara s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;aya dengan-nya pada 12 Juni 2008 lalu, “Kami sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pake&lt;/span&gt; air ini selama satu bulan,” kata Lemos De Jes&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;us tersenyum lebar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SLoWt_sa8VI/AAAAAAAAAAU/6s4nriKUeH0/s1600-h/u+blog+2.gif"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 258px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SLoWt_sa8VI/AAAAAAAAAAU/6s4nriKUeH0/s320/u+blog+2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240526095846666578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;catatan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto 1, oleh Buce Ga : Seorang anak gadis warga baru eks Timor Timur  penghuni permukiman baru Jatilaran sedang mengambil air untuk kebutuhan keluarganya dari jaringan pipa yang belum selesai dikerjakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Foto 2, oleh Olkes : permukiman baru Jatilaran dilihat dari tepi jalan raya.&lt;br /&gt;Beta : Saya (bahasa Kupang)&lt;br /&gt;Katong : Kami&lt;br /&gt;Dong : dorang atau mereka&lt;br /&gt;Kalo : Kalau&lt;br /&gt;Kasi : beri&lt;br /&gt;Sa : saja&lt;br /&gt;Ju : Juga&lt;br /&gt;Tasumbat : tersumbat&lt;br /&gt;Pung : punya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-1482015985631741070?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/1482015985631741070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/1482015985631741070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2008/08/tamu-kehormatan-di-jatilaran.html' title='&apos;Tamu Kehormatan&apos; di Jatilaran'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SLoUzGjOYLI/AAAAAAAAAAM/G1ePAebZ5XA/s72-c/u+blog.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-6119273069107695950</id><published>2007-10-16T02:27:00.000-07:00</published><updated>2007-10-16T02:35:52.119-07:00</updated><title type='text'>Arti Sebuah Kesetiaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Tulisan ini untuk mengenang “ambei koster katuas”  yang telah berpulang pada awal Juni 2007 lalu. Yang mengajarkan arti sebuah kesetiaan dan totalitas melayani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-size:85%;" &gt;Oleh :&lt;br /&gt;Olyvianus Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Jumad, 8 Juni 2007. Tit…tit….tit ...bunyi sms dari HP Nokia 1100 butut milik saya. Ternyata sms dari kakak tertua saya di Besikama, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;“Oll, om koster tua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;su&lt;/span&gt; meninggal tadi malam”. Sontak saya terhenyak beberapa saat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Tubuhnya kurus, pendek, berkulit hitam. Rambut dikepalanya sudah memutih dan jarang-jarang karena termakan usia. Sebagian besar giginya yang hitam karena sirih pinang sudah tanggal. Ia tak mengenal baca-tulis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Terakhir saya bertemu dengannya akhir april lalu saat mengikuti kebaktian di gereja Imanuel Maktihan di Besikama, sebuah desa di kecamatan Malaka Barat bagian selatan kabupaten Belu. Gereja Imanuel Maktihan termasuk dalam wilayah Klasis Belu. Merupakan gereja induk dari 12 mata jemaat di wilayah kependetaan Maktihan. Awalnya gereja ini berlokasi di desa Maktihan kemudian pindah ke Besikama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ia adalah koster pertama di gereja itu. Sejak gereja Maktihan hadir pada tahun 50-an ia sudah melayani. Menurut cerita banyak orang, dulunya ia adalah seorang pencuri ulung yang ditakuti dimana-mana. Kemudian ia bertobat dan  melayani sebagai koster. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ia bersama mama Robe, sang isteri memiliki tujuh orang anak. Dua diantaranya sudah berkeluarga. Mereka tinggal tak jauh dari gedung gereja Imanuel Maktihan di kampung Makfatin, hanya sekitar dua ratusan meter jauhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sesampai saya di Besikama, pada sabtu sore sehari setelah mendapat berita duka, malamnya bersama beberapa teman pemuda gereja dan pak Pendeta Angkol Tangwal dan isterinya yang juga pendeta di wilayah Loomaten, pdt. Loni Tangwal – Ndoen, kami pergi melayat. Pendeta Angkol mulai bertugas di Besikama sekitar enam tahun lalu. Sekalipun berasal dari Alor, ia sudah bisa berbahasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fehan&lt;/span&gt; bahkan sangat fasih melafalkan lagu-lagu rohani dalam bahasa fehan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Malam itu angin dingin serasa menusuk langsung ke tulang saya. Tanah yang becek dan berlumpur karena hujan yang turun selama seminggu sebelumnya turut menambah dingin malam itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Jenasah koster tua itu disemayamkan di rumahnya, sebuah rumah yang sederhana. Beratap rumput ilalang, berdinding bebak, namun hanya seperempat bagian rumah itu yang berdinding, hanya sebuah kamar di bagian depan berukuran kira-kira 2x3 meter tempat jenasahnya dibaringkan. Halaman rumah yang berlumpur, memaksa tenda duka digelar lebih ke depan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sudah banyak orang hadir disana, hampir semuanya saya kenal, ada tokoh-tokoh jemaat, ada tetangga sekampung saya, ada teman-teman sepermainan semasa kecil dulu, juga ada orang-orang yang sengaja datang untuk berjudi sebuah kebiasaan buruk yang sudah berakar urat di Belu ketika ada kedukaan, bukannya mereka datang untuk menghibur keluarga yang berduka tapi datang untuk mencari untung ditengah kedukaan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Setelah tegur sapa dengan beberapa orang tua, saya langsung menuju ke ruang kosong di rumah duka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Di dalam kamar tepat di bagian kiri pintu masuk, Mama Robe duduk lemas di samping ranjang kayu sederhana tempat suaminya berbaring, rambutnya yang kusut  diikat asal jadi. Kain hitamnya sudah bercampur lumpur coklat pada bagian bawah dan belakang, kebaya putihnya sudah hampir berganti warna menjadi kuning.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saya menyalami tangan dinginnya, sepasang mata tua itu nanar menatap saya, “Oll, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ambei ba tia’an&lt;/span&gt;”, ujarnya lirih hampir tenggelam dalam hiruk pikuk suara dari luar. (Oll, bapak tua sudah pergi - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fehan&lt;/span&gt;). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ia mengatakan, menjelang kepergiannya, koster katuas hanya menanyakan kapan anak-anaknya datang untuk menengok dia. Anak-anak yang dimaksud adalah anak-anak dari alm pendetanya dulu, yakni saya dan saudara-saudara saya yang sudah lama tak pergi melihatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Loron-loron nusu emi dei.”&lt;/span&gt; Lanjut mama Robe, tangannya sesekali mengelus-elus pinggiran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tais&lt;/span&gt; berwarnah merah penuh motif khas Fehan yang menutupi sekujur tubuh suaminya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(tais : sarung tradisional-fehan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saya tak mampu berkata-kata, hanya tepekur dalam diam mendengarnya. Rasa bersalah perlahan menyelimuti sudut-sudut hati. Mata saya mulai berkaca-kaca, bukan karena kepergiannya tapi menyesal karena tak sempat menemuinya pada saat-saat terakhir hidupnya. Di sisi lain, saya juga bersyukur ia telah dipanggil pulang, bersyukur karena ia telah dilepaskan dari penderitaan di dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ia sudah lama menderita sakit “bengek”, ISPA akut. Batuk parah yang dideritanya membuat ia sering kesulitan bernafas, bahkan untuk berjalan-jalan di sekeliling rumahnya saja ia harus berulang kali berhenti sejenak mengatur nafas. Setiap melangkah hampir seluruh anggota tubuhnya gemetar, begitu juga ketika ia berbicara atau mencoba tersenyum. Sudah berulang kali diobati entah itu obat-obatan dari puskesmas maupun obat tradisional sudah dikonsumsinya namun penyakit itu tetap tak sembuh. Tubuh ringkihnya itu kian hari kian menyusut. Mukanya yang tirus kian menampakan tulang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Satu kelebihannya yang selalu saya ingat adalah selalu tersenyum sepanjang saya bertemu dengannya baru sekali saya melihat ia bersedih dan meneteskan air mata, yakni saat ayah saya, yang biasa dia panggil dengan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ama&lt;/span&gt; pendeta Dadi” meninggal pada 2001 lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Malam itu ditengah suasana duka, saya mencoba merangkai kembali ingatan saya akan sosok seorang koster katuas yang terbujur kaku dihadapan saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ada banyak kenangan bersamanya, bukan hanya saya namun seluruh jemaat Imanuel Maktihan tak mengingkari kalau banyak suka dan duka yang telah dilewati bersamanya hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Pada masa aktifnya sebagai koster gereja sekitar akhir tahun 50-an hingga akhir 80-an, Besikama belum seramai sekarang. Belum ada angkutan kota (angkot) dan ojek. Saat itu alat transportasi yang paling banyak digunakan adalah kuda, itu bagi yang memilikinya, yang tidak ya harus berjalan kaki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Mata jemaat dalam wilayah Maktihan saat itu meliputi daerah perbatasan Belu dan TTS di Biudukfoho hingga daerah di sebelah sungai Benenai di Kobudiin, Angkaes dan Makwar yang secara pemerintahan termasuk wilayah kecamatan Malaka Tengah. Pada masa itu sarana jalan raya dan jembatan belum sebagus sekarang, jembatan Benenai baru ada pada sekitar tahun 1983. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Persebaran jemaat GMIT di wilayah Maktihan yang begitu luas membuat komunikasi dan koordinasi antara pendeta wilayah di gereja induk Maktihan saat itu pendetanya adalah alm. Pendeta Lambertus E. Dadi Lado, dengan penanggungjawab di setiap mata jemaat, hanya mengandalkan kurir untuk menyampaikan pesan. Entah dalam bentuk surat maupun lisan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Penyampai pesan yang paling sering melakukan itu adalah koster &lt;span style="font-style: italic;"&gt;katuas&lt;/span&gt;. Kadang ia ditemani oleh beberapa pengurus gereja, namun pada saat mendesak ia harus melakukannya sendiri. Ini membuat ia tak lagi dikenal dan ditakuti sebagai seorang pencuri ulung  namun dikenal dan dihormati sebagai seorang pelayan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saya termenung, sering kita menganggap remeh peran seorang koster. Sering kita menganggap dia sebagai seorang pesuruh. Bayangkan betapa repot dan susahnya jika harus membagi tugas diantara jemaat atau, pemuda atau majelis gereja sekalipun hanya untuk membersihkan gedung gereja, menyiapkan peralatan dan lain-lainnya sebelum kebaktian setiap minggunya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Tanpa disiplin koster untuk bangun setiap pagi di hari minggu mungkin kita kesulitan mendengar irama bunyi lonceng gereja, bukankah bunyi sebuah lonceng gerejapun bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi banyak orang Kristen? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Lonceng gereja su babunyi gandong..e..e...”&lt;/span&gt;. Baris pertama dari lagu yang pernah dinyanyikan Melki Goeslaw, bukti lonceng gereja yang dibunyikan oleh seorang koster bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Irama lonceng yang membahana di Besikama setiap pagi di hari minggu yang memberi motivasi, semangat hidup, panggilan bahkan inspirasi bagi jemaat itu juga yang membuat gangguan permanen pendengaran pada telinga Koster &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katuas&lt;/span&gt;. Namun itu tak membuatnya berhitung untung – rugi. Sunggingan senyum di bibirnya justeru semakin lebar ketika melihat bangku-bangku kayu yang disusunnya itu terisi penuh oleh jemaat yang pergi beribadah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Menurut saya, ini bentuk paling sederhana dari arti sebuah kesetiaan, totalitas dan ketulusan melayani. Setiap hari minggu, ia adalah orang pertama yang hadir di gereja, sehabis kebaktian ia juga yang paling akhir pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Kesetiaannya hampir tak ada duanya di Besikama menurut saya. Dalam keadaan sakit, empat hari sebelum kepergiannya pada hari minggu pagi, 03 Juni 2007, ia masih pergi berbakti di gereja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Dengan tertatih-tatih sambil memegang tongkat kayu kusam miliknya, ia tetap bersemangat menuju gereja. Jarak sejauh dua ratusan meter itu ditempuhnya dalam waktu yang cukup lama bahkan lebih lama dari seorang anak kecil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sekalipun ia harus berhenti hingga belasan kali untuk mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga, ia tetap berjalan memenuhi panggilan Tuhannya lewat bunyi lonceng gereja yang dulu sering ia lakukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Pada hari kamis, 7 Juni 2007, sekitar jam delapan malam, kesunyian malam di Besikama terusik bunyi lonceng gereja. Lonceng yang dulunya sering dibunyikannya untuk memberi kabar kepada jemaat wilayah maktihan untuk pergi beribadah, berbunyi lagi memberi kabar tentang kepergian seorang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; koster katuas&lt;/span&gt;, koster pertama di gereja itu. Lonceng itu dibunyikan oleh koster muda penerusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Inspirasi yang pernah ia berikan lewat bunyi lonceng, semangat melayani yang telah ia tunjukan membuat rasa duka saya dan jemaat yang malam itu hadir terobati. Kami justeru seharusnya bersyukur atas peristiwa ini. Karena kepergiannyalah kami bisa melakukan permenungan atas apa yang sudah pernah dibuatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sepanjang malam hingga pukul tiga dini hari, kami terus bernyanyi memuji Tuhan. Laki-laki, perempuan. Tua, muda semuanya ikut bernyanyi. Kecuali sekelompok orang yang masih terus bicara soal politik tanpa juntrungan di tenda yang digelar tak jauh dari rumah duka dan sekelompok lagi yang kecewa karena keinginan berjudi mereka malam itu tak bisa diwujudkan setelah ditegur oleh polisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Senin, 11 Juni 2007. Langit di atas Besikama hitam, tak setitikpun warna biru nampak. Matahari sore tak menampakan sinarnya. Tanah masih becek dan berlumpur seperti hari-hari kemarin, sekalipun hujan sudah tak turun sejak empat hari lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Orang-orang mulai berkumpul di bawah tenda duka. Beberapa tokoh jemaat di kampung Makfatin sibuk mengatur kursi dan mempersiapkan keperluan kebaktian. Sore itu, empat hari sudah koster katuas berbaring kaku di ranjang kayu sederhana miliknya. Ia akan dikuburkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Kuburan untuknya sudah disiapkan, seratus-an meter dari rumahnya di seberang jalan kampung. Saya dan beberapa pemuda gereja juga sudah bersiap membawakan lagu dalam kebaktian itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sekitar jam empat kebaktian dimulai. Kepala-kepala kami hanya menunduk  sepanjang kebaktian berlangsung mendengar renungan yang disampaikan pendeta Angkol Tangwal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;“Tuhan memang Maha Kuasa. Ia memakai potensi yang ada pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ambei koster katuas&lt;/span&gt;, bapak Hendrikus Klau ini untuk pekerjaannya,” ujar pendeta Angkol. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Seketika saya mendongakkan kepala, nama itu baru saya ketahui. Selama ini saya hanya mengenalnya dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ambei koster katuas&lt;/span&gt;. Nama Hendrikus Klau seakan asing bagi telinga ini. “Ah...hh, ternyata sayapun tak begitu mengenalnya” batin saya. Kepala ini kembali tertunduk, mata saya kembali basah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Pendeta Angkol mengibaratkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koster katuas&lt;/span&gt; dengan cerita tentang pertobatan rasul Paulus. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koster katuas&lt;/span&gt; yang dulunya adalah seorang pencuri kemudian bertobat dan menjadi saksi Kristus lewat pekerjaan sebagai koster. Begitu juga dengan rasul Paulus yang dulunya bernama Saulus, adalah seseorang yang namanya membuat gentar banyak orang Kristen pada masanya. Namun lewat cara Tuhan, ia bertobat dan Tuhan memakai keahliannya dan potensinya menjadikan ia seorang penginjil yang militan, setia dan total dalam melayani Tuhan bahkan hingga ia mati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sekitar jam lima jelang enam sore, peti kayu sederhana berisi tubuh kaku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koster katuas&lt;/span&gt; dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kuburannya juga sederhana, tak ada keramik atau porselin dari marmer seperti kuburan pejabat gereja lainnya. Yang mengantarnyapun bukan orang-orang “besar”, hanya orang-orang kecil, jemaat yang pernah menikmati  alunan irama bunyi lonceng gereja dari tangannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Loro atu monu onan kroman lakon ba ti’an....”&lt;/span&gt; syair sebuah lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fehan&lt;/span&gt; yang menjadi pembuka saat kebaktian tadi serasa seirama dengan malam yang mulai turun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Kuburan itu kembali sunyi, hanya terdengar desiran angin mempermainkan dedaunan pohon kapuk yang menaunginya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ia memang telah meninggalkan jemaat Imanuel Maktihan namun teladannya telah ditinggalkan bagi penerus-penerusnya. Kesetiaan dan totalitas melayaninya yang tanpa pamrih adalah pelajaran berharga dari Hendrikus Klau yang lebih dikenal dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koster Katuas&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-6119273069107695950?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/6119273069107695950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/6119273069107695950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2007/10/arti-sebuah-kesetiaan.html' title='Arti Sebuah Kesetiaan'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-1211526973286256838</id><published>2007-10-16T02:11:00.000-07:00</published><updated>2007-10-16T02:16:03.036-07:00</updated><title type='text'>Surat dari seorang Ayah</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ini adalah sebuah surat dari sepasang orang tua yang berjuang bagi kesembuahan puteri semata wayang mereka yang baru berusia 3 bulan lebih, yang mengalami gangguan pada jantung dan infeksi paru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;"Setelah 6 tahun berumah tangga, kami akhirnya diperkenankan Tuhan untuk memiliki seorang anak yang terlahir pada 20 Juni 2007, setelah sebelumya istri saya; Pdt Desiana Rondo Effendy sempat mengalami keguguran sebanyak 4 kali. kami begitu gembira dan bahagia atas anugerah terindah yang kami terima. Bayi perempuan yang cantik ini kami beri nama Liliane Gratia Imanuela Rondo, kami sangat bersukur karena penantian panjang kami diberkati Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Gratia terlahir melalui proses bedah Cesar karena dokter Alfonsius Anapaku, Spog. mendiagnosa placenta bayi kami mulai kering padahal belum ada tanda-tanda melahirkan. Waktu itu, jantung sang bayi tidak dapat dideteksi karena sangat lemah. setelah proses Cesar yang menegangkan, Gratia terlahir dengan panjang badan 51 cm serta berat badan 3,1 kg. Gratia nampak sehat dan gemuk, walau tubuhnya memang terlihat agak kuning serta pucat. Ia juga minum susu dot dengan sangat lancar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Pada hari kelima, Dr Simplicia Fernandes (spesialis anak) berkomentar saat kami bawa Gratia untuk diperiksa  bahwa ia menduga gratia mengalami VSD (ventrikel septhal deffect) atau kebocoran pada bilik jantung, karena 'bising' jantungnya terdengar. Tetapi menurutnya perlu pemeriksaan lebih lanjut pada dokter ahli jantung anak di Surabaya atau Jakarta. Kami shock dan kaget, karena Gratia nampak sehat. karena penasaran kami bawa Gratia ke ahli anak lainnya yakni: Dr Sammy Nalley dan Dr. Frans Taolin, kedua dokter ini membuat kesimpulan sama bahwa ada indikasi VSD tetapi mungkin relatif kecil dan pada sejumlah kasus dapat sembuh sendiri karena pertumbuhan dan gizi. ia kami periksa seperti biasa dan diimunisasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Setelah 3 bulan kami mulai melihat kondisi Gratia semakin menurun, pertumbuhan bobot badannya kecil sekali, semakin sering sesak napas, sering menangis, sulit sekali untuk minum susu, batuknya juga tidak sembuh-sembuh, denyut napasnya juga selalu terlihat memburu walaupun dalam keadaan tidur. karena situasi tidak banyak berubah maka persis seminggu setelah Gratia dibaptis, atas desakan dan rujukan Dr simplicia, kami membawanya periksa di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Pada tanggal 28 September setelah diperiksa marathon via EKG, ECHO, Rontgen dan pemeriksaan darah Dr. Poppy Roebiono, SpJp memastikan bahwa pada jantung kecil Gratia putri kami ada kebocoran sekat jantung di 3 tempat berbeda, ukurannya bervariasi hingga 9mm. Prof Bambang ahli jantung anak lainnya juga memastikan bahwa ada infeksi paru-paru karena dampak masalah pada jantung. Dokter merekomendasi perlunya Operasi Jantung, mereka memberikan waktu 2 mnggu bagi keluarga untuk pikir-pikir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Kami menangis sedih sekali dan sangat terpukul, kami tak sangka, bayi cantik dan lucu ini ternyata menyimpan derita yang berat sekali. kami menelpon semua sahabat dan keluarga memohon dukungan Doa, kami masih berharap mujizat Tuhan Yesus terjadi, kami percaya Gratia milik Tuhan,  semua cara dan maksud Tuhan pasti indah walaupun sering pahit dan tak terselami oleh kemanusiaan kami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saat ini sebagai keluarga kami bingung untuk memberi jawab pada dokter poppy pada 10 oktober mendatang soal rencana Operasi jantung Gratia, kami sangat terbebani dengan besarnya biaya yang harus ditanggung untuk operasi seperti ini. sehari-hari pekerjaan saya adalah aktifis LSM pada Perkumpulan Relawan CIS TIMOR yang bekerja untuk penanganan eks pengungsi Timor-timur di Kamp-kamp Pengungsi  di Kabupaten Belu, dekat perbatasan Timor leste. Sedangkan istri saya Desy adalah Pendeta GMIT di jemaat kecil wilayah Airkom, 40 km dari kota Kupang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Melalui surat ini, kami mohon  dukungan doa dan sekiranya memungkinkan dukungan Dana  yang dapat membantu kami dalam pembiayaan operasi bayi kami Gratia. Kami sungguh-sungguh mohon maaf atas kelancangan kami mengirim surat seperti ini. Kami percaya kami tak pernah sendirian dalam persoalan ini,  Selalu ada cahaya terang diujung lorong paling gelap sekalipun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saat ini kami tinggal dirumah keluarga di Semper-plumpang- Jakarta Utara. Komunikasi lebih lanjut bisa dilakukan  melalui telp (021) 4409887 atau HP: 0811383960 (Winston) atau 0811382643 (Desy)".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kami seluruh relawan di CIS Timor mengharapkan dukungan dari semua pembaca situs ini bagi kesembuhan buah hati saudara kami Winston Rondo dan Deasy Effendy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relawan CIS Timor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps.&lt;br /&gt;Buat yang ingin membantu biaya operasi Gratia Rondo bisa mengirimkan ke rekening,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;An. Winston Rondo, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bank Mandiri Cabang Moh. Hatta No. 145-0005186198&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang  mau bikin International Transfer, Swift Code - BEIIIDJA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-1211526973286256838?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/1211526973286256838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/1211526973286256838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2007/10/surat-dari-seorang-ayah.html' title='Surat dari seorang Ayah'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-5073517806259910744</id><published>2007-10-16T02:07:00.000-07:00</published><updated>2007-10-16T02:08:55.687-07:00</updated><title type='text'>Koleduki Sudah Berubah</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: arial;"&gt;Koleduki yang dulunya dipenuhi semak belukar dan tak terurus kini berubah wajah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-style: italic;"&gt;Oleh : Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hampir jam sepuluh pagi di hari rabu, 18 Juli 2007, dua mobil kijang mengkilap memasuki jalan berdebu kampung Koleduki, desa Manusak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mereka adalah rombongan dari Oxfam GB, sebuah LSM Internasional dari Inggris yang saat ini beroperasi di Timor Barat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ada Joseph Curtin, Area Program Manager-nya, para koordinator sektor dari proyek ATUP fase II, baik sektor Food security, AP-Shelter, PHP maupun PHE, seperti Jhon Ello, Frans Panthur, Mei, dan Toni Leik. Juga ada staff lapangan, seperti Yoris, elen, Nur, Merry dan Yaret. Saya juga turut dalam rombongan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mereka pergi untuk melihat kemajuan kegiatan di pemukiman mandiri Koleduki. Sedangkan saya pergi untuk meliput kegiatan di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dari jalan Timor raya, jalan sumbu yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste, tepat di belokan yang sering dikenal dengan sebutan Asam Tiga, ada sebuah cabang jalan tanah menuju ke sana, jauhnya sekitar 2-3 kilometer, saya tak tahu persis, tak ada penunjuk jarak di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ini merupakan lokasi pemukiman baru yang tanahnya diusahakan oleh komunitas eks pengungsi dari Tuapukan dan Naibonat. Alfredo Ximenes dan kawan-kawannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;(Cerita awal tentang mereka ada dalam LL edisi 72)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dua kali sudah saya datang ke lokasi ini. Ketika datang pertama kali, lokasi ini masih kosong, hanya terlihat ilalang dan semak belukar yang belum  selesai ditebas. Beberapa bidang lahan sudah bersihkan dan diberi tanda, sebagian lagi belum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pemandangan pertama itu kini berganti deretan rumah-rumah setipe yang berdiri rapi dari timur ke barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Rumah-rumah setengah tembok, beratap seng, berukuran 5x6 meter itu, adalah unit rumah yang dibangun dari proyek bantuan perumahan hasil kerja sama departemen Sosial RI dan TNI. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ada 28 unit yang dibangun. Semuanya hampir rampung, “Sisa, pintu, jendela, plester tembok dengan cor lantai bagian dalam sa,” ujar Alfredo. Rumahnya tepat di ujung pemukiman dari jalan kampung. Tak jauh dari situ, di bagian belakang rumahnya terdapat sebuah sumur berair dangkal sedalam 13 meter yang belum rampung. Beberapa cincin sumur dari campuran semen dan beton tergeletak di sekitar sumur itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Kami gali itu dari bulan empat lalu,” ujar Feliciano Henriques. salah satu calon penghuni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Karena debit airnya mulai berkurang, direncanakan akan digali lagi lebih dalam. “Akan aman kalau pada bulan Oktober nanti airnya tidak kering,” ujar Yoris, sosial worker Oxfam GB yang menadampingi komunitas di lokasi itu pada protek ATUP fase II ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ia mengatakan jika airnya tidak kering pada oktober nanti maka sepanjang tahun kemungkinan persediaan air sumur akan selalu ada sepanjang tahun. Ini karena, di NTT, khususnya Timor, puncak musim panas pada bulan Oktober.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pembuatan sumur itu menurut Norberth Bere Tarak, teknisi Watsan Oxfam GB saat saya temui di kantornya pada kamis pagi, 19 juli lalu, mengatakan ini dilakukan karena mereka melihat semangat dan kemauan keras dari komunitas untuk pindah namun terhalang ketersediaan air, sehingga dengan adanya sumur ini bisa membantu percepatan pembangunan di lokasi, selain untuk kebutuhan air minum ketika bekerja juga membantu dalam pekerjaan pembangunan rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sumur tersebut belum rampung, baru dipasang tiga buah cincin dibagian dasar, sedangkan sisanya belum. “Masih harus digali lagi karena debit airnya semakin menurun sehingga kita kuatir nanti setelah selesai pasang justeru persediaan airnya sedikit dan tak mencukupi,” kata Norbert. Pagi itu ia ditemani oleh Jhon Ello, koordinator PHE atau teknisi watsan Oxfam GB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Alfredo dan komunitasnya berencana pindah setelah pembangunan unit rumah bantuan pemerintah ini rampung. “Sehingga kami bisa mulai kerja WC, kamar mandi ka atau sumur dengan dapur,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Bahkan niatan untuk pindah ini sudah ada sejak selesai urusan pembelian tanah pada akhir maret lalu. “Biar rumah kecil seperti inipun saya tetap mau pindah, karena sudah punya tanah sendiri to,” lanjutnya sambil menunjuk pondok sederhana dari daun gebang tempat kami beristirahat siang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Awalnya rencana pindah, ditentang oleh sebagian anggota komunitasnya. “Waktu itu rame, kami sampai pertemuan tiga hari,” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Mereka kuatir nanti kalau sudah pindah, tidak dapat bantuan rumah dari pemerintah lagi,” lanjut Alfredo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Karena, sepengetahuannya, jika sudah dapat dukungan dari LSM maka, pemerintah tidak akan bantu lagi padahal mereka sudah memasukan usulan untuk mendapat bantuan perumahan dari proyek perumahan kerja sama Departemen Sosial RI dan TNI. Setelah beberapa kali pertemuan disepkatai untuk hal tersebut dikoordinasikan dengan pihak TNI sebagai pelaksana teknis proyek perumahan tersebut. Antara lain dengan Koramil di Camplong hingga tingkat Korem. Oxfam GB sebagai pendamping di wilayah itu juga intensif melakukan koordinasi hingga mendapat kepastian pembangunan 28 unit rumah di lokasi mereka, barulah anggota komunitas yang lain setuju untuk rencana pindah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Setiap hari Alfredo dan saudara-saudaranya pulang balik Tuapukan – Koleduki untuk memantau perkembangan pembangunan disana, bahkan terkadang mereka juga ikut bekerja membantu para tukang bangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Waktu material bangunan turun di sini itu tanggal lima juni, tanggal empatnya kami sudah tidur di sini tunggu,” timpal Feliciano Henriques.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Saking bersemangatnya, mereka sampai harus membangun tenda-tenda darurat untuk menginap sementara di lokasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sebulan telah terlewati, lokasi pemukiman baru di Koleduki sudah menunjukan perubahan wajahnya. Sekalipun belum selesai pembangunan rumah namun kehadiran rumah-rumah yang belum rampung, dan kesibukan calon-calon warganya memberi warna tersendiri. Selain sebidang lahan itu, juga membawa perbedaan bagi warga lokal di sekitarnya. Lokasi yang dulunya sepi, hanya dipenuhi semak belukar dan tanaman jagung serta singkong saat musim berkebun, kini sudah mulai ramai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Salah seorang warga lokal yang menurut pendapat Alfredo dan kawan, bahkan juga diakui Yoris, senang dengan kehadiran warga baru di lokasi ini adalah bapak Meno, seorang petani yang berkebun tak jauh dari lokasi itu. Setiap pagi dan sore, selesai mengiris tuak di kebunnya, ia selalu menyampiri mereka dengan membawa, hasil kebunnya. Entah itu tuak manis, laru putih, gula air hingga singkong rebus. Yoris, Nur, Yaret, staff lapangan Oxfam GB, juga pernah menikmati hasil kebunnya saat berkunjung ke sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Dia orang baik. Malam pertama kami datang gali sumur itu saja, dia sudah pikul bawa tikar dengan bantal datang tidur di sini temani kami kerja, ” ujar Feliciano sambil menunjuk ke arah sumur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Suatu hari, dia pung anak dua orang yang tinggal di kampung sebelah datang ke kami. Mereka bilang, tolong perhatikan kami punya bapak karena bapak tinggal di kebun di kebun sini sa. Saudara dong di sini yang paling dekat jadi tolong perhatikan dia, kalo ada apa-apa tolong kasi tahu kami,” cerita Alfredo. Ia mengatakan mereka juga bertekad untuk berusaha sebias mungkin beradaptasi dengan kebiasaan dan adat setempat. “Kami masuk di sini berarti kami harus ikut aturan di sini e,” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di lokasi ini, Oxfam GB akan membantu pembangunan shelter untuk dapur. Sesuai kesepakatan yang telah dibuat dengan komunitas shelter tersebut akan dibangun dibelakang rumah yang dibangun pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Alfredo dan komunitasnya menargetkan pembangunan yang akan dimulai setelah pemindahan warga ke lokasi tersebut akan selesai pada akhir agustus nanti, jika materialnya sudah didistribusi pada awal bulan agustus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Menurut Norbert dan Jhon Ello, Selain itu direncanakan akan dibangun sebuah kamar mandi umum, dan dua septic tank  di dua WC yang letaknya berdekatan dengan sumur yang ada. Karena standar kesehatan yang dipakai dalam proyek ATUP fase II yakni standar sphere mengahruskan jarak antara septic tank dengan smumur itu harus 30 meter. Standar sphere adalah sebuah standar untuk proyek-proyek kesehatan yang sering dipakai oleh LSM-LSM dari tingkat lokal hingga internasional di seluruh dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Sebelumnya tentu kita harus melewati tahapan perencanaan bersama komunitas dulu,” ujar Norbert.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Untuk menata pemukiman ini, Alfredo dan komunitasnya, terutama yang berasal dari kamp Tuapukan sekitar dua puluhan keluarga, berencana untuk membuat pagar di sekeliling pemukiman dan setiap rumah, “Sehingga kelihatan rapi,” ujar Alfredo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Untuk menghijaukan lingkungan, Yoris yang siang itu sangat senang melihat semangat yang ditunjukan Alfredo dan kawan-kawannya mengatakan telah berencana dengan mereka untuk menanam anakan Angsana di sekeliling lokasi, “Cuma saya belum tahu mau ambil dari mana anakan angsana itu,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kini, Alfredo dan komunitasnya sudah cukup lega karena telah memiliki tanah dan rumah sendiri. “Saya bersyukur sekali akhirnya bisa punya tanah sendiri, dapat bantuan rumah. Sekarang saya tidak perlu kuatir untuk orang usir karena ini tanah milik saya.” Tuturnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Senada dengan itu juga dikatakan Joao, seorang kawannya yang juga ada siang itu, “Saya senan karena su puna tanah sendiri dibanding kalo kita masih di kamp, tiap hari kita tinggal di oran puna tanah kita malu juga e”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mama Ana Teresa Dos Santos (30) yang siang itu sedang menimba air dari sumur baru mereka, mengaku senang dengan kondisi mereka saat ini, “Pasti senang e..mau apalagi. Sekarang kita sudah punya tanah, rumah juga sudah ada, nanti dapur lagi, sumur juga sudah ada. Saya sudah senang,” ujarnya sambil tangannya terus menarik seember berisi air dari dalam sumur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Itu semua bukan akhir dari perjuangan panjang menuju sebuah solusi yang layak dan bertahan, sebagai sebuah syarat menuju tertatanya sebuah kehidupan baru bagi komunitas eks pengungsi Timor Timur. Alfredo, Feliciano, Joao, mama Ana dan keluarga-keluarga lain calon warga baru Koleduki, masih harus berjuang mendapatkan sebidang lahan garapan untuk bertani. “Memang itu masih jadi persoalan bagi kami. Sekarang kami sudah coba untuk minta tapi belum semuanya berhasil dapat, baru sebagian saja,” ujar Alfredo. Saat ini mereka masih konsentrasi pada penataan lokasi tinggal yang baru, “Setelah kami semua tinggal di sini baru kami mulai dekati lagi saudara-saudara di kampung sini,” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Siang itu saya senang, komunitas yang dulunya pesimis bahkan menolak dimotivasi untuk mencari lahan secara mandiri, kini telah sadar dan sudah menunjukan tindakan nyata atas pilihan yang mereka putuskan bersama. Lebih dari separuh jalan menuju solusi layak telah terlewati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-5073517806259910744?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5073517806259910744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/5073517806259910744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2007/10/koleduki-sudah-berubah.html' title='Koleduki Sudah Berubah'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-115833779390647988</id><published>2006-09-15T09:24:00.000-07:00</published><updated>2006-09-15T09:36:00.076-07:00</updated><title type='text'>9/9/99</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Renungan seorang relawan saat pagi menjelang di hari ulang tahun CIS Timor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Jarum jam sudah menunjukan angka 12 lewat, tersisa sembilan menit lagi sudah pukul satu dini hari. Pertanda sudah hampir sejam lamanya hari berganti, jumad berganti sabtu. Tanggal delapan ke sembilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Teman-teman sudah tertidur, tersisa saya, entah kenapa belum bisa menutup mata sejak tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hati saya gelisah. Memang ada ganjalan di hati tapi itu sangat personal dan tak layak di ceritakan di sini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bunyi kokok ayam jantan terdengar samar. Di luar sunyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sesekali terdengar lolongan anjing di kejauhan pertanda si anjing ingin kawin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ditemani segelas teh panas dan sebungkus rokok LA light, saya masih terus terjaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hari ini (9/9), CIS berusia tujuh tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;CIS Timor adalah adalah sebuah lembaga perkumpulan relawan yang bermarkas di Timor Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pada saat yang sama tujuh tahun yang lalu, di jalan pendidikan II no 2 Kota Baru, beberapa aktivis dari GMKI cabang Kupang dan GAMKI DPD I NTT berkumpul dan mendeklarasikan berdirinya sebuah organisasi dengan nama posko relawan CIS GAMKI-GMKI NTT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Nama CIS adalah akronim dari Center for Internaly Displaced People’s Service. Nama ini diberikan oleh ibu Stien Djalil, seorang pengurus PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Berganti nama menjadi CIS Timor kemudian, saat pengurusan status legalnya pada 2004 lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;CIS hadir karena kepedulian akan kondisi pengungsian yang terjadi akibat konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur 1999 lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dalam kesendirian dengan iringan lagu "Ku tak Bisa Jauh" milik Slank dari winamp komputer, saya kembali mengingat kenangan bersama CIS.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kumpulan anak-anak muda yang umumnya adalah aktivis GMKI dan GAMKI, kebanyakan mahasiswa ada juga yang sudah selesai bahkan ada yang barusan tamat SMA, pada waktu itu hanya bergerak dengan sumber daya terbatas, mereka tergerak untuk menolong pengungsi Timor Timur dengan apa yang ada pada mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hampir pasti pada saat itu, hanya tenaga dan semangat yang menjadi modal dasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pada akhir 1999, dengan difasilitasi CD Bethesda Yogyakarta dan Church World Service. Mereka diberikan pelatihan bagaimana menjadi seorang relawan yang baik dalam workshop for volunteers.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sebutan relawan-pun disandang oleh mereka. Saat itu jumlah relawan sekitar 40-an orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sejak itu CIS mulai menata dirinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dengan donasi kecil dari CD Bethesda, juga dari CWS bahkan ada juga dari dewan Gereja Australia, mereka mulai melakukan pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mulai dari sekedar menjadi teman cerita para pengungsi di kamp Noelbaki, Tuapukan, Naibonat juga kamp-kamp dalam kota Kupang seperti GOR, Koni sampai ke Batakte di Kupang Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hingga membantu tim dokter CD Bethesda melakukan pelayanan kesehatan dan PMT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Membuka sekolah tenda dan juga taman bermain anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sampai hal-hal yang menyerempet bahaya, yakni mengumpulkan informasi tentang pelanggaran HAM dari para milisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;CIS bukan hanya terlibat dalam isu pengungsi Timor Timur semata. Pada periode pertengahan 2000, CIS juga turut membantu penanganan korban bencana banjir dan longsor di seluruh kabupaten TTS, sebagian Belu dan Kupang dengan dukungan dari CWS dan Yayasan Selamat Pagi dari Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kini CIS bisa dikatakan sudah cukup mapan sebagai sebuah lembaga lokal. Sejak lepas dari US Aid pada periode 2001-2002, CIS kemudian menjadi mitra kerja Oxfam GB sejak 2003 hingga sekarang. Sudah dua funding ECHO pada 2003-2004 dan Uni Eropa, 2005 hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sejalan dengan itu, model kerja CIS pun mulai berubah. Dari sekedar sebuah kerja bakti pada awal kelahirannya, sekarang sudah mengarah pada community development. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dari sekedar memberi informasi, mendorong pengambilan keputusan hingga memfasilitasi tindakan dan realisasi atas keputusan komunitas dampingnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Masih tetap pada komitmen kediriannya, hingga saat ini CIS masih memberikan perhatian utama pada isu penyelesaian masalah pengungsi di Timor Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Secara kelembagaanpun CIS sudah menjadi lebih baik, mulai dari pembenahan manajemen organisasi, perumusan visi, misi hingga penetapan rencana strategis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pengembangan jaringan kerjapun sudah semakin luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bahkan dengan pemerintah sekalipun dalam perspektif pemerintah sebagai partner dengan tetap menjaga jarak kritis, CIS menjalin suatu hubungan yang sinergis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Perjalanan CIS hingga tahap ini, juga tak lepas dari onak dan duri. Mulai dari konflik internal antara para pendirinya tentang status CIS, masalah pendanaan operasional organisasi ketika tak ada funding hingga konflik antar person di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Relawan CIS-pun sesuai hukum alam, tak semuanya bertahan, ada yang pergi, ada yang pula yang datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saat ini relawan CIS mendekati angka 60.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;CIS pernah mengalami masa sulit selama hampir setahun lamanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tanpa funding pada akhir pertengahan 2000 hingga pertengahan 2001, CIS bergerak dengan dukungan dana seadanya dari para pendiri yang masih komit, ada Early Laukoli yang memberikan rumahnya dengan rela untuk dijadikan posko, ada David Radja yang selalu setia memberikan dukungan, Emy Nomleni, Alex Yakob dan masih banyak lainnya, tak kalah penting kesetiaan relawan-relawannya. Juga dukungan dari kedua lembaga pendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;CIS juga pernah mendapat caci maki, hujatan, cemooh, bahkan mungkin sumpah serapah dari mitra, relawannya sendiri, juga komunitas dampingannya, mungkin juga dari orang tua relawan karena anaknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk CIS.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Suka, duka, cerita sukses dan pengalaman pahit di CIS mengajarkan banyak hal buat relawan-relawannya. CIS turut membentuk diri saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hampir sejam sudah saya merenung dan menulis tentang perasaan dan ingatan akan CIS selama kurun waktu tujuh tahun ini. Serasa tak cukup menuliskan semua yang pernah saya alami bersama CIS, sekalipun baru tujuh tahun kebersamaan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tujuh tahun, bukan sebuah usia yang matang, CIS masih harus bertumbuh dan terus mengembangkan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak mimpi yang perlu diraih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ada mimpi kemandirian CIS, ada mimpi CIS untuk melayani lebih banyak orang, ada mimpi CIS juga melayani di luar Timor Barat, ada mimpi akan hadirnya sebuah keadilan dan kesetaraan gender, ada mimpi akan hadirnya sebuah komunitas yang menghargai keberagaman dan HAM dan masih banyak mimpi lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Semoga saat ini dalam tidurnya, semua relawan CIS sedang mengejar mimpi yang sama. Winston Rondo, koordinator relawan pernah mengatakan "Sebuah mimpi akan cepat menjadi kenyataan kalau impian itu diimpikan bersama".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Alunan syair lagu "Bunda" Melly Goeslaw dari winamp komputer terdengar menyejukan hati saya saat pagi menjelang di posko Atambua. Membantu saya mengingat masa-masa ketika CIS turut membentuk saya. Mata ini masih sulit terpejam.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tiiit…..tiiit….bunyi sms masuk di hp usang bermerek nokia milik saya, mengusik lamunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ternyata sms dari Frits Lake, seorang relawan CIS di Kupang, ia menulis sebuah pesan pendek,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Satu alasan mengapa Allah menciptakan waktu adalah agar kita punya tempat untuk menguburkan kegagalan-kegagalan dan masa lalu dan menemukan kesempatan di masa sekarang untuk dapat lebih maju. Dirgahayu CIS Timor"&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ternyata bukan saya saja relawan CIS Timor yang masih terjaga menjelang pagi di hari yang spesial ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hampir jam tiga subuh, suasana sekitar posko masih sepi, dengkuran-dengkuran halus teman-teman lirih terdengar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dalam tidur mereka, saya yakin kami semua mempunyai keinginan yang sama, keinginan akan masa depan CIS yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini dengan tetap menjaga semangat kerelawanan yang menjadi ciri dan identitas CIS itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dalam hati, saya bersyukur dan memohon penyertaan dari Tuhan agar dalam pertumbuhannya CIS selalu menjadikan kasih sebagai dasar dalam setiap langkahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Selamat Ulang Tahun CIS Timor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Terima kasih  buat semua relawan CIS Timor dan semua orang yang pernah dan tetap peduli dengan CIS Timor yang tidak bisa disebutkan satu per satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Juga buat semua komunitas dampingan yang turut membesarkan CIS Timor hingga saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-115833779390647988?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833779390647988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833779390647988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/09/9999.html' title='9/9/99'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-115833737028104008</id><published>2006-09-15T08:57:00.000-07:00</published><updated>2006-09-15T09:40:35.526-07:00</updated><title type='text'>Dari Manumutin, Tubaki ke Soro-Webua</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tiga kali berpindah tempat karena alam dan ulah manusia tak menyurutkan semangat mereka dalam menggapai sebuah solusi yang layak dan bertahan bagi masa depan mereka dan anak-cucu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sebuah plang sederhana berwarna putih dari tripleks dan kayu terpampang di mulut sebuah jalan tanah sebelah kanan arah Wemasa. Di situ tertulis “Antonio Cardoso”, “RT 04/ RW 01 dusun Webua 150 m” dengan gambar anak panah warna hitam. Di ujung kanan bawah tertulis “tamu harap lapor 1 x 24 jam”. Ini tanda penunjuk ke lokasi pemukiman mandiri Soro Webua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dari Betun ke lokasi ini hanya membutuhkan 15 – 20 menit perjalanan menggunakan ojek maupun bemo (angkutan kota).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kamis (10/8), sekitar jam sepuluh, saya dan Ken, staf &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Food security&lt;/span&gt; Oxfam GB memasuki jalan itu. Ini kali pertama saya mengunjunginya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sekitar 50 meter sebelum memasuki pemukiman, terdapat galian saluran dengan kedalaman sekitar 1-2 meter di samping kiri dan kanan jalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Ini rencana saluran irigasi yang baru”, ujar Ken.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Beberapa lelaki sibuk mengangkut tanah bekas galian dari dalam saluran, sebagian lagi sibuk merapikan dinding saluran. Debu beterbangan memenuhi udara sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Atap seng rumah-rumah milik warga baru sudah kelihatan, sekitar seratus meter lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Rumah-rumah di pemukiman baru yang dihuni 64 keluarga warga baru eks Timor Timur ini sederhana bahkan terkesan masih darurat, rata-rata atapnya dari seng bekas, ada yang masih memakai tambahan terpal , dindingnya dari bebak (pelepah gebang-red), ada juga dari belahan bambu, tak berpondasi. Namun tata letaknya cukup teratur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ince, staf lapangan Oxfam GB lainnya yang mendampingi kelompok ini sejak masih di kamp, sudah menunggu di depan pintu masuk, sedang berbincang-bincang dengan sekelompok pemuda. Di depan mereka, di belakang sebuah rumah, samping kanan jalan masuk kompleks itu, sekelompok lelaki dan dua orang perempuan setengah baya sibuk membangun sebuah kamar mandi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Setelah bertegur sapa dengan mereka, Ince membawa kami memasuki kompleks lebih dalam lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di kiri kanan jalan kompleks yang berdebu itu berdiri rumah-rumah dengan bermacam-macam ukuran, tergantung kemampuan dan bahan yang dipunyai pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di tengah-tengah kompleks terdapat sebuah tanah yang sengaja dibiarkan kosong, sebuah sumur permanen tepat di sebelah kiri tak jauh dari sumur itu sekitar empat meter terdapat sebuah WC, di sebelah utara berdiri sebuah pondok tanpa dinding beratap daun gebang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kami memasuki sebuah rumah di selatan tanah kosong itu. Rumah milik Manuel Da Silva.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Manuel demikian nama panggilannya, siang itu hanya bercelana pendek tak berbaju, tersenyum ramah menyambut kami. Rumahnya terbilang kecil untuk ditempati sebuah keluarga. Berdinding bebak seperti rata-rata rumah lainnya. Bagian depan rumahnya terdapat sebuah dipan bambu, di sampingnya dekat pintu masuk terdapat sebuah rangka lemari kayu, “Saya rencana untuk tempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;taro&lt;/span&gt; piring &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ka&lt;/span&gt; gelas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;”, kata Manuel. Ia berusia 36 tahun, sudah mempunyai empat orang anak. “Dua orang s&lt;span style="font-style: italic;"&gt;u&lt;/span&gt; meninggal, sisa dua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;”, lanjutnya pelan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dong pung&lt;/span&gt; mama ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pi&lt;/span&gt; kebun jadi saya yang jaga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong &lt;/span&gt;di rumah”, sambil mengelus kepala anaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saya teringat kisah di Asuulun. Tanpa belajar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teori gender&lt;/span&gt;, mereka mampu untuk membagi peran dalam keluarga, ketika sang isteri pergi bekerja ke kebun, sang suami akan mengambil peran "domestik" seperti menjaga rumah dan mengurus anak.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Kami pindah ke sini itu pada September tahun 2005, waktu itu Oxfam yang bantu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; pindah”, katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Terhitung kurang sebulan lagi komunitas ini akan merayakan ulang tahun pertama mereka di lokasi baru, hampir setahun sudah pemukiman mandiri Soro Webua hadir  di desa Lakekun Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sebelum pindah, menurut Manuel, mereka terlebih dahulu mempersiapkan lokasi. Persiapan lokasi yang mereka lakukan antara lain pembersihan lahan, membagi kapling untuk setiap keluarga calon penghuni dan membangun rumah-rumah sementara, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ami halo uluk uma ho ke’e sumur, hetan be mak ami mos pindah mai”&lt;/span&gt;, lanjutnya dalam bahasa tetun. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Terlebih dahulu kami bangun rumah dan menggali sumur, setelah dapat air barulah kami pindah kemari--red)&lt;/span&gt;. Ia mengatakan bahwa kebutuhan air sangat penting karena itulah mereka mendahulukan kehadiran sumur di lokasi ini sebelum pindah, “Waktu itu Romo Sipri yang bantu cari titik airnya”. Ia mengangkat sang anak ke pangkuannya untuk menenangkan anaknya yang mulai merengek. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sekalipun baru pertama kali ke lokasi ini, namun cerita komunitas warga baru ini sudah tidak asing lagi bagi saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pada awal Juni tahun lalu, saya pernah mengunjungi komunitas ini ditemani Frans Panthur,kepala staf lapangan Oxfam GB. Waktu itu mereka masih tinggal di kamp Tubaki-Kamanasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mereka mempunyai cerita kehidupan yang panjang dan berliku, Soro Webua merupakan tempat tinggal mereka yang ketiga selama masa pengungsian mereka di Timor Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bruno de Araujo ketua kamp Tubaki B1 pada waktu itu kepada saya, saat ditemui di rumahnya pada tanggal 10 Juni setahun yang lalu, mengatakan “ Awal kami datang itu di desa Manumutin sana, nah kemudian karena banjir tepatnya 16 Mei 2000, baru pindah ke Tubaki sini ”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Letak tempat tinggal kedua ini tepat di lereng bukit hutan Kateri sekitar satu kilometer sebelum kota Betun. Kemiringan tanah ciri khas lereng bukit dengan kandungan batuan yang tinggi membuat mereka harus bekerja keras meratakannya agar bisa dibangun rumah di atasnya. “Waktu kita datang itu baru kita guling ini batu dong ini sehingga bisa dapat tempat yang agak rata untuk bangun rumah di situ”, lanjut Bruno, saat itu di rumahnya sedang sibuk mempersiapkan acara tabur bunga buat mendiang anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Lokasi itupun tak lama mereka tempati. Jika lokasi pertama mereka tinggalkan karena faktor alam, yakni bencana banjir bandang, maka lokasi kedua mereka di Tubaki ditinggalkan karena faktor manusia. Belum lama mereka menempati kamp Tubaki B1, B2 dan B3, pada tahun 2002 bertepatan dengan momen pemilu waktu itu, mereka sudah diminta keluar oleh pemilik lahan yang baru dengan alasan lahan tersebut akan diolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dari Ainaro di Timor Timur, mengungsi karena konflik akibat ulah manusia, mereka ke Manumutin, karena ulah alam, mereka pindah lagi ke Tubaki, kembali mereka harus angkat kaki dari Tubaki karena diusir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mariano Felix, tokoh masyarakat dari kumpulan kamp di wilayah Tubaki, saat saya dan Frans temui di rumahnya di lokasi trans Kamanasa, ia sedang menikmati segarnya hembusan angin siang sambil menatap hijaunya hamparan padi dan rumput di areal persawahan di bawah naungan pohon mangga di belakang rumahnya, mengatakan pengusiran itu bukan dilakukan oleh pemilik tanah yang lama yang menerima mereka pada tahun 2000 yang biasa dipanggil dengan sebutan Bei Mali, namun oleh pemiliknya yang baru. Rupanya tanah itu sudah dijual oleh Bei Mali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Termasuk saya juga diminta keluar. Saat itu saya lagi sibuk karena terlibat dalam KPPS setempat saat pemilu lalu, sehingga saya bilang ke dia bahwa kalau begitu silahkan kamu gantikan saya karena saat ini saya sedang bertugas untuk Pemilu sedangkan saya diminta untuk keluar dalam waktu seminggu, sehingga saya bilang ke dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; saya waktu sebulan lagi setelah selesai Pemilu saya akan keluar”, jelasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kondisi inilah kemudian mendorong mereka untuk  melakukan pertemuan komunitas guna mencari jalan keluarnya. Hasilnya seluruh komunitas bersepakat untuk mencari tanah sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Proses pencarian lahan baru bukan hal yang mudah untuk dilakukan, menurut laporan yang ada, sejak inisiatif ini keluar, sudah enam lokasi yang dinegosiasikan namun selalu gagal. Entah itu karena ketidak cocokan lokasi dengan keinginan komunitas maupun karena harga lahannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Akhirnya kami dapat yang satu hektar ini, pemiliknya itu bernama Simon Bere”, kata Felix Mariano. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sesungguhnya komunitas di kamp Tubaki B1 hingga B3 berhasil mendapatkan dua bidang, selain di Soro Webua, lahan lainnya berada di Aimalae tak jauh dari lokasi pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dari lahan seluas satu hektar di Soro Webua itu, setiap keluarga mendapat lahan seluas 9x16 meter persegi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Lahan yang didapat juga bersertifikat sehingga mempunyai status hukum yang kuat, Felix Mariano saat itu (10/6/2005) juga menunjukan kepada saya dan Frans sertifikatnya yang diterbitkan pada tahun 1982.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Setelah semua urusan legalitas lahan selesai dilakukan, tak ketinggalan persiapan lokasinya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pada September 2005, dengan dukungan trasportasi dari Oxfam GB, komunitas eks pengungsi di kamp Tubaki B1, B2 dan B3 pindah ke Soro Webua (64 KK) dan Aimalae (20 KK).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di Soro Webua, mereka masuk menjadi warga baru desa Lakekun Barat kecamatan Kobalima kabupaten Belu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di lokasi baru Soro Webua inilah,  Keluarga Manuel  Da Silva bersama keluarga lainnya tinggal hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Umumnya sebuah pemukiman, kehadiran penghuninya berakibat pada munculnya kebutuhan sarana dan pra sarana pendukung. Komunitas sudah mengupayakan secara mandiri lahannya, rumahpun dibangun menggunakan bahan bekas dari kamp, bahkan komunitas secara swadaya telah menggali sebuah sumur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pertanyaannya, apakah semua itu cukup untuk menghadirkan sebuah solusi yang layak bagi mereka?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;64 keluarga bukan sebuah jumlah yang kecil, jumlah mereka sudah bisa menghadirkan sebuah RT baru di dusun Webua desa Lakekun Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kebutuhan akan sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK) sangat dibutuhkan keluarga-keluarga baru ini. Manuel mengatakan salah satu kesulitan yang dihadapi pada awal kedatangan mereka di Soro Webua adalah ketiadaan sarana  MCK. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Akhirnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ami ida-ida iha ailaran deit&lt;/span&gt;”, katanya tersipu malu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ami ida-ida iha ailaran dei = &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;masing-masing ke hutan)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Karena tak tahan melihat mimik wajahnya, sayapun tertawa, Ken yang duduk tepat di belakang saya tertawa terbahak-bahak, senyuman Manuel berubah tertawa, membayangkan masa-masa sulit saat itu, panasnya udara siang itu hilang sejenak berganti keceriaan canda kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dua bulan setelah pindah, Oxfam GB, sebuah LSM Internasional asal Inggeris yang melayani di wilayah Betun dan Kobalima Kabupaten Belu dengan dukungan dana dari Uni Eropa, mulai melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;intervensi&lt;/span&gt; dengan kegiatan promosi kesehatan umum dan pembangunan WC serta memperbaiki sumur yang ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Ada 22 unit WC di sini dan satu sumur”, kata Manuel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kamar mandinya tak ada karena tak disetujui komunitas untuk dibangun karena alasan sempitnya lahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Menurut Manuel, sekalipun hanya satu sumur namun bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga baru karena debitnya besar, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo pas&lt;/span&gt; musim hujan kita timba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pake&lt;/span&gt; tangan saja, tidak usah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pake&lt;/span&gt; tali”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Beberapa warga dipilih secara bersama untuk menjadi Relawan Penyuluh Kesehatan Masyarakat (RPKM) dan komite air, ini merupakan bagian dari kegiatan promosi kesehatan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mereka dibekali dengan pengetahuan dasar tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya juga kegiatan-kegiatan lain yang menunjang bagi peningkatan hidup sehat masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Manuel selain mengurus rumah tangganya, juga membantu mengawasi dan merawat sarana MCK yang ada, “Kadang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; yang lain sibuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pi&lt;/span&gt; kebun dan tidak sempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; bersih saluran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ka&lt;/span&gt; wc, pasti saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pi kasi&lt;/span&gt; bersih”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ia mengakui cukup merasakan perbedaan ketika masih tinggal di kamp, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; dulu di kamp kami juga punya wc tapi darurat saja dan jumlahnya sedikit jadi kadang kami harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pi&lt;/span&gt; hutan di atas bukit. Sekarang, di sini kami bisa pake wc karena jumlahnya cukup”. Satu WC di pakai bersama oleh tiga keluarga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Perbedaan ini juga diakui beberapa RPKM lain yang saya temui beberapa saat sesudah dari rumah Manuel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di bawah naungan tenda bekas bantuan UNHCR yang masih layak pakai yang oleh pemiliknya dipasang di depan rumah sebagai tempat beristirahat saat penat atau tempat bercengkerama warga -&lt;span style="font-style: italic;"&gt;setidaknya menurut pikir saya saat itu&lt;/span&gt;-, kami berdiskusi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ada mama Flamina Fernandes (32), Rosantina Pareira Dos Santos dan Marcia Dos Reis Soares juga Daniel David Da Silva (23).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mereka mengakui adanya perbedaan itu, namun itu saja belum cukup karena sampai saat ini meskipun telah melakukan kegiatan promosi kesehatan namun masih ada warga yang belum betul-betul sadar akan pentingnya hidup sehat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kami berdiskusi banyak hal, mereka juga menyinggung soal gizi anak, sekalipun setiap bulan diadakan posyandu di pemukiman ini namun belum begitu nampak perubahan pada tingkat gizi bayi maupun balita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Kalo pas posyandu kita timbang anak dong di situ kita isi di KMS (Kartu Menuju Sehat), nah di KMS ini kadang naik kadang turun, jadi tidak tetap begitu”. Kata mama Flamina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Menurut mama, kenapa jadi begitu?” Tanya saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Saya juga kurang tahu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e&lt;/span&gt; pak kenapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ko&lt;/span&gt; dia bulan ini baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;abis&lt;/span&gt; bulan berikut turun lagi”, jawabnya, bingung menghadapi masalah itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Jangan sampai makanannya kurang?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Kalo makanan biasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; tidak ada beras ya makan jagung, biar sedikit pasti ada saja”, bantahnya lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Mungkin karena orang tua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong &lt;/span&gt;kurang perhatikan”, sambung Rosantina dari sebelahnya, sejak tadi ia hanya diam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Iya pak, kadang orang tua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt; hanya mau perhatikan diri mereka sendiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;na&lt;/span&gt;”, celetuk Daniel sinis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Menurut Daniel, faktor perhatian dan pengawasan dari orang tua juga turut menyumbang bagi peningkatan gizi anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mereka mengakui bahwa masa awal berada di Soro Webua, komunitas cukup kesulitan dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan. Menurut saya, cukup wajar mengingat saat itu mereka baru saja pindah dan masuk ke lokasi yang sama sekali baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, Manuel dan warga lainnya masih tetap menggarap lahan di kebun lama mereka semasa di kamp dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agora ami sei halo to’os iha estadu nian rain, iha&lt;/span&gt; perbatasan Kateri”, ujar Manuel. (&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agora ami sei halo to’os iha estadu nian rain, iha = sekaranng kami masih kerja kebun di tanah pemerintah, di &lt;/span&gt;perbatasan Kateri&lt;span style="font-style: italic;"&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ia sadar bahwa lokasi itu sudah dilarang untuk dijadikan lahan pertanian, namun tuntutan kebutuhan akan pangan keluarga memaksanya untuk tetap melakukan hal itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Ne’e bodik moris”&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Ne’e bodik moris = ini untuk hidup)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tanamannya beragam, mulai dari jagung hingga sayuran seperti pare. Hasilnya, menurut Manuel hanya untuk kebutuhan makan keluarga, kecuali panennya bagus barulah dijual sebagian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Komunitas ini juga mendapat dukungan program ketahanan pangan dari Oxfam berupa bibit pertanian dan peternakan. Daniel salah satu penerima bantuan pertanian dari 18 keluarga sasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kebunnya di sebelah barat, tak jauh dari kompleks sebanyak 22 bedeng dengan panjang sekitar dua meter setiap bedengnya, yang ia tanami dengan lombok, namun belum panen. Lahan tersebut adalah milik warga lama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(asli setempat)&lt;/span&gt; yang dikontrak oleh kelompok pertanian selama dua tahun, ”Tapi tanpa bayar atau bagi hasil. Pemiliknya bilang pake saja dulu selama dua tahun”, kata Daniel yang semasa di kamp dulu mengaku tak mempunyai kebun. Siang itu berpakaian serba hijau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ala&lt;/span&gt; tentara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mereka mulai mengerjakan lahan itu sejak April. Tiap anggota kelompok mendapat dukungan bibit yang beragam tergantung keinginan mereka, ada terung, tomat, lombok dan pare.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sedangkan mayoritas warga lainnya, lebih memilih untuk beternak kambing. ”Kemarin (9/8) kami baru dibagikan kambing oleh Oxfam. Itu baru sebagian, katanya akan ada lagi ”, kata Manuel sebelumnya saat bertemu di rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Seikat daun lamtoro digantungnya di tiang penyangga tanaman markisa di halaman depan. ”Kandangnya sudah kami buat tapi sudah rusak lagi, jadi rencananya hari minggu nanti baru kami gotong royong untuk perbaiki”, jelasnya lanjut saat saya tanyakan mengapa kambingnya tidak dikandangkan. Terdapat 53 keluarga yang menerima bantuan serupa Manuel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Perjuangan komunitas ini untuk menggapai sebuah solusi yang layak dan bertahan, mulai menampakan titik cerah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Perjuangan ini tidak bisa mereka lakukan sendiri, mereka juga membutuhkan dukungan pelengkap bagi modal dasar yang ada pada komunitas, modal tekad dan semangat kemandirian. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Titik cerah solusi layak di Soro Webua juga tak lepas dari dukungan pemerintah lokal, Flamina Fernandes dan teman-teman RPKM-nya, sudah tiga bulan terakhir menjadi kader kesehatan tingkat desa. Manuel juga mengaku bahwa bantuan beras untuk masyarakat miskin-pun telah mereka terima termasuk bantuan langsung tunai kompensasi BBM (BLT BBM). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hubungan antara warga lama dan warga baru semakin hari semakin baik, menurut Manuel. ”Sore-sore begitu, biasanya dong datang main-main ke sin. Kalo ada main voli di sini atau di sana, kami main sama-sama.” contohnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Guna mendukung hubungan yang sudah terjalin ini, keluarga terseleksi dari warga lama sebanyak 25 keluarga juga menerima bantuan bibit peternakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;Jelang perayaan kemerdekaan Republik tercinta ini, komunitas warga baru Soro Webua-pun tak mau ketinggalan. Tak ada kegiatan akbar yang disiapkan, hanya melakukan penataan pemukiman baru mereka. Sederhana, tak membutuhkan biaya banyak namun bermakna dan berarti bagi mereka. Kehadiran mereka di tempat ini merupakan bukti cinta mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Olkes, Frans, Ken dan Ince.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-115833737028104008?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833737028104008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833737028104008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/09/dari-manumutin-tubaki-ke-soro-webua.html' title='Dari Manumutin, Tubaki ke Soro-Webua'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-115833551440503757</id><published>2006-09-15T08:40:00.000-07:00</published><updated>2006-09-15T08:55:47.646-07:00</updated><title type='text'>Nikmatnya Kerapu Bakar di Tulakaboak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Jalan-jalan ke Tulakaboak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Cuaca panas mulai terasa menyengat, hembusan angin laut seakan tak mampu mengusirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dalam sebuah ruangan berukuran 4x2 meter persegi, di rumah milik Agus, berkumpul belasan lelaki dan tiga orang perempuan. Mereka serius menyimak materi yang disampaikan seorang pemuda yang duduk di hadapan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mereka adalah anggota kelompok perikanan, kelompok sasaran program food security Oxfam GB dan CIS Timor di UPT Tulakaboak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hari ini (13/7), mereka mendapat pelatihan tentang manajemen pembukuan kelompok oleh Lodowyk Huna Koreh, seorang sarjana Perikanan lulusan Undana. Ken nama panggilannya, adalah salah seorang staf &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Food Security&lt;/span&gt;-nya Oxfam GB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;UPT Tulakaboak terletak di utara Teluk Kupang. Perjalanan ke sana selain dengan perahu motor, juga bisa menggunakan alat transportasi darat. Kupang ke Tulakaboak bisa ditempuh selama empat hingga lima jam perjalanan. Jalannya rusak parah, sejak dari cabang Oelmasi. Tak ketinggalan, beberapa jembatan di jalur ini masih terbuat dari kombinasi beton dan kayu, entah sudah berapa usianya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di Tulakaboak, terdapat enam kelompok penerima bantuan perikanan dari Oxfam GB dan CIS Timor dengan dukungan dana dari Uni Eropa. Yang hadir dalam pelatihan hari itu adalah para ketua dan bendahara kelompok. Pelatihan kali ini merupakan kelanjutan dari pelatihan manajemen kelompok pada akhir april  lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dalam pengantarnya, Ken mengatakan pelatihan ini diadakan sebagai bentuk penguatan terhadap kelompok yang sudah terbentuk, "Sehingga ke depannya nanti kelompok-kelompok ini bisa lebih mandiri", kata Ken.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Secara khusus, Ken mengharapkan pengetahuan yang didapat bisa membantu kelompok untuk melakukan monitoring terhadap tingkat pendapatan mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pasca pendistribusian enam unit motor perahu pada awal April lalu, lima kelompok diantaranya sudah mulai melakukan kegiatan penangkapan di perairan sekitar Tulakboak dan Barate. Kecuali kelompok "Mata mea", karena perahunya masih dalam tahap pengerjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Rata-rata kami bisa dapat sampai seratusan ekor ikan, satu kali turun", ujar Ande Lusi, ketua kelompok "Angsa"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sayangnya, menurut mereka, daya beli di Tulakaboak sangat rendah sehingga keuntungan yang didapatpun kecil."&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; kita pergi jual ke Sulamu bisa lebih baik", kata Steven Therik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;" &lt;/span&gt;Jadi&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, kalo&lt;/span&gt; hasilnya banyak baru kami ke Sulamu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; tidak, jual di sini saja", sambungnya .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Kenapa tidak jual ke Kupang?" Tanya saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; laut tenang kita jual ke sana, karena di sana harganya bagus, tapi sekarang laut begini ini kita paksa ke sana, boros bensin", sambung Alberto Da Costa, ketua kelompok "Ikan Di’ak" menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kendati demikian dari penghasilan yang telah diperoleh, beberapa kelompok telah menyepakati secara internal agar sebagian penghasilan mereka disisihkan untuk cadangan biaya perawatan perahu, motor dan alat tangkap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Selama ini mereka hanya menjual ikan segar, belum ada upaya untuk melakukan pengawetan ikan atau mengolahnya menjadi produk yang lebih tahan lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;David Natun, pendamping lapangan food security di wilayah ini, kepada saya seusai pelatihan manajemen kelompok pada april lalu, mengatakan, kemungkinan agenda penguatan kapasitas kelompok berikut adalah teknologi pengolahan hasil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;“Sehingga ikan-ikan yang tidak terjual bisa diolah menjadi produk lain yang juga punya nilai jual dan tahan lama”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Selain masalah pemasaran kelompok-kelompok ini juga mengalami kendala cuaca di laut, “Musim pancaroba begini, kita sulit hitung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(prediksi)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dia pung&lt;/span&gt; cuaca”, ujar Ronald anggota kelompok “Angsa”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Siang itu, sebelum mulai pelatihan, badan perahu kelompok Angsa baru saja mengalami kerusakan karena hantaman gelombang pasang, saat mencoba mendarat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di sepanjang pantai Tulakaboak, hampir tak ada tempat yang layak atau cukup aman untuk digunakan sebagai tempat pendaratan perahu. Sepanjang wilayah pantai di UPT Tulakboak, 80 % terdiri dari karang-karang terjal, hanya 20% yang berpasir, dekat muara sekitar 200 meter bagian selatan pemukiman. Itupun diakui, harus pandai-pandai menghitung pukulan gelombang, karena dasarnya berupa karang dan lidah ombaknya dalam keadaan normal mencapai satu meter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Kalo di Panfolok sana pantainya berpasir. Dasarnya juga, jadi kita bisa mendarat di sana", ujar Yus Banoet. Panfolok terletak di sebelah utara, berjarak sekitar dua kilometer. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pelatihan berakhir sekitar jam dua. Siang itu kami disuguhi ikan hasil tangkapan kelompok Angsa. Panasnya udara laut Tulakaboak seakan hilang diganti nikmatnya kuah asam ikan "Kamerak" dan Kerapu bakar siang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-115833551440503757?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833551440503757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833551440503757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/09/nikmatnya-kerapu-bakar-di-tulakaboak.html' title='Nikmatnya Kerapu Bakar di Tulakaboak'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-115833400452261167</id><published>2006-09-15T08:05:00.000-07:00</published><updated>2006-09-15T09:44:23.100-07:00</updated><title type='text'>Perempuan Tangguh</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Kisah kemandirian perempuan pengungsi di Timor Barat, berjuang melawan kerasnya kehidupan di kamp penampungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elisabeth Namok, belum genap 30 tahun. Tidak terlalu tinggi sekitar 150-an sentimeter, gemuk, berambut ikal. Oleh anak-anak asuhnya akrab dipanggil ma Elis.&lt;br /&gt;Ini kali kedua saya bertemu dia. Pertama saat pelatihan Relawan Informasi Komunitas (RIK)di Emaus-Nenuk, akhir Nopember setahun yang lalu. Ia bersedia menjadi RIK di kamp Weraihenek hingga saat ini. Orangnya cerewet, supel, enak diajak diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu, (13/08). Saya, Ape dan Jacko berkunjung ke kiosnya di Haliwen, samping stadion olah raga setengah jadi milik kabupaten Belu.&lt;br /&gt;Sebuah kios sederhana, berdinding bebak, beratap seng. Tepat di pertigaan jalan Haliwen-Silawan dan Weraihenek. Di sebelahnya ada lapak billiard yang selalu ramai dikunjungi orang.&lt;br /&gt;“Masuk dulu, saya baru pulang misa ini”, ajak Elis.&lt;br /&gt;Di ruangan berukuran 4x2 meter yang bersebelahan dengan kios kecil miliknya, ada beberapa pemuda tanggung sedang asyik menonton pertandingan tinju &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rahman vs Maskaev&lt;/span&gt; lewat layar sebuah tv 14 inch dekat pintu masuk pintu. Juga ada beberapa anak kecil duduk lesehan di bawah beralaskan selembar tikar lusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang ini, ada sembilan anak yang kami asuh”, kata Elis menunjuk kumpulan anak kecil di hadapan kami.&lt;br /&gt;Dari kesembilan anak yang diasuhnya itu, cuman dua anak yang belum sekolah, masih kecil. Sedang tujuh lainnya sudah, dua di SMU, satu di SMP dan empat lainya masih di bangku Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;“Kami ada tiga orang yang urus ini anak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;. Saya, ma Eny dengan ma Ela”, sambungnya.&lt;br /&gt;Elis Namok, berasal dari Dafala-Wedomu. Eny Mooy dari Rote, ia berambut lurus, kulit putih  sedangkan  Ela atau Angelina Bui adalah sepupu Elis.&lt;br /&gt;Ketiganya sama-sama bekerja di Dili dan mengungsi ke Atambua setelah konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur pada 1999 lalu.&lt;br /&gt;“Ceritanya cukup panjang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e..&lt;/span&gt;sampai kami tiga orang ini bisa jadi begini”, kata Ma Elis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Elisabeth Namok dan kakak perempuannya, telah kehilangan kedua orang tuanya sejak masih duduk di bangku SD. “Kami hanya dua bersaudara”.&lt;br /&gt;Kemudian ia diangkat dan diasuh oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;om&lt;/span&gt;-nya, hingga tamat SD.&lt;br /&gt;“Masuk SMP saya ikut dengan seorang pater orang Amerika, namanya, Romo Robert Riise. SVD di Noemuti sana sampai tamat”.&lt;br /&gt;Lalu melanjutkan sekolahnya ke SMEA di Oekusi-Ambeno (sekarang district Oecusee-RDTL).&lt;br /&gt;“Waktu itu, saya pilih SMEA dengan pikiran supaya tamat bisa jadi PNS, tapi sampai sekarang tidak pernah jadi”. Cerita perempuan yang juga pernah punya keinginan untuk menjadi suster ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulangnya dari Oekusi, setelah tamat SMEA, ia hendak dijodohkan orang tua angkatnya dengan salah seorang kerabatnya, “Masih pangkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;om&lt;/span&gt;”, katanya.&lt;br /&gt;Pertemuan antara kedua keluarga sudah digelar. Tapi hatinya berontak, kebebasan masa muda akan hilang dalam sekejap. “Saya tidak setuju waktu itu”, kenangnya.&lt;br /&gt;“Tapi saya pung orang tua bilang, kamu ini perempuan. Biar sekolah tinggi ju, pulang tetap masuk dapur”, ceritanya lanjut.&lt;br /&gt;Ia kurang setuju dengan pandangan itu, menurutnya, “Saya sadari bahwa urusan dapur itu mau tidak mau, sedikit atau banyak pasti akan kita urus. Tapi bukan begitu caranya. Saya juga kepingin untuk kerja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e..&lt;/span&gt;, masa sekolah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cape-cape abis&lt;/span&gt; langsung kawin”.&lt;br /&gt;Pertentangan dengan kedua orang tua angkatnya dirasakan tak menemui jalan keluar terbaik baginya. Iapun memutuskan untuk pergi dari rumahnya.&lt;br /&gt;Akibat pertentangan itu pula ia menuai kemarahan kedua orang tua angkatnya. Semua pakaian hingga ijasahnya dibakar. “Saya lari dengan pakaian di badan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;. Pertama saya lari ke Weraihenek”.&lt;br /&gt;Di Weraihenek, ia menumpang pada rumah salah seorang temannya. Namun tak lama. Ia kemudian menuju Dili, berniat mencari pekerjaan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodalkan ongkos bis seadanya, ia berangkat mengejar impiannya. Di Dili ia ditolong oleh seorang saudaranya, “Saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung&lt;/span&gt; sepupu laki-laki”.&lt;br /&gt;“Dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung&lt;/span&gt; gaji selama dua bulan itu hanya dipakai untuk beli &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; saya pakaian, karena saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pi&lt;/span&gt; hanya dengan yang ada di badan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa to…&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;Tiga bulan pertama, ia masih menggantungkan harapan pada pertolongan sepupunya. “Masuk bulan keempat, saya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; su&lt;/span&gt; mulai kerja di toko Bintang Dili di Kuluhun. Waktu itu tahun 93”.&lt;br /&gt;Selama itu ia tak pernah berhubungan dengan kedua orang tua angkatnya.&lt;br /&gt;Hingga suatu saat di tahun 1996, ia terkejut saat Yanto, anak pertama kakaknya datang menemuinya di toko tempat ia bekerja dan memintanya untuk menemui kedua orang tua angkatnya yang sudah berada di kosnya di kawasan Becora.&lt;br /&gt;“Mereka datang langsung turun di kos, suruh Yanto datang panggil saya di toko, karena Yanto ini makanya saya mau terima mereka”, kenangnya, raut mukanya berubah muram.&lt;br /&gt;Namun menurut dia, hatinya masih belum melupakan semua kejadian yang dialaminya pada masa lalu.&lt;br /&gt;“Saya betul-betul terima mereka pas tahun 2003 itu, setelah acara adat di kampung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal ilmu ekonomi yang diperoleh semasa di SMEA dulu, sambil bekerja di toko, ia juga membuka sebuah kios kecil di Becora-Dili.&lt;br /&gt;“Ma Ela yang bantu-bantu”.&lt;br /&gt;“Dia juga punya cerita yang mirip dengan saya”, tambahnya.&lt;br /&gt;Angelina Bui yang biasa dipanggil Ela ini juga hampir dinikahkan setelah tamat SMP di Lahurus. “Saya dengar itu, jadi saya suruh dia datang ikut saya di Dili”, ujar ma Elis. “Bahkan sampai sekarang kami masih sama-sama e”, lanjutnya sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; ma Eny ini, kami bakawan itu mulai tahun 96. Dia kerjanya di tempat lain, tapi kosnya di depan toko tempat saya kerja”.&lt;br /&gt;Karena Eny Mooy, sering belanja di toko Bintang Dili, keduanya kemudian berkenalan dan jalinan persahabatanpun dimulai sejak saat itu.&lt;br /&gt;“Sore-sore begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; pas ada hari libur, kami biasa pesiar-pesiar”.&lt;br /&gt;Karena semakin akrab dan merasakan susahnya hidup terpisah dari keluarga, keduanya memutuskan untuk indekos bersama.&lt;br /&gt;Persahabatan mereka terus terjalin hingga mengungsi ke Timor Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Impian dan hasil kerja keras Elisabeth Namok selama di Dili, hilang tak berbekas saat kerusuhan pasca jajak pendapat 1999 di Timor Timur.&lt;br /&gt;“Kami lari datang hanya bawa pakaian satu lemari, VCD, dengan sepeda motor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;supra fit &lt;/span&gt;satu”, ujarnya.&lt;br /&gt;Semua barang dagangan di kiosnya ditinggalkan, tidak bisa dibawa karena kesulitan kendaraan.&lt;br /&gt;“Karena agak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stress&lt;/span&gt; waktu datang, kami langsung ke Surabaya, sekalian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt;”, kata Elis.&lt;br /&gt;“Wah beruntung juga mereka masih punya sedikit simpanan sehingga sempat refreshing menghilangkan stress akibat konflik, tak tanggung-tanggung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt;nya ke Surabaya”, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan Oktober itu baru kami mulai tinggal di kamp Weraihenek”, ungkap Elis.&lt;br /&gt;Sejak itulah, Elis, Eny dan Ela memulai usaha kios kecil mereka.&lt;br /&gt;“Modal awalnya itu 250 ribu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;”. Kata Elis.&lt;br /&gt;“Itu uang yang masih tersisa setelah kami pulang dari Surabaya”, sambung Eny.&lt;br /&gt;Dari waktu ke waktu, modal awal 250 ribu rupiah ditambah sedikit pengalaman dan ilmu wira usaha Elis dan Eny,  usaha mereka kian berkembang. Hingga bisa menyewa tanah untuk membangun rumah mereka. Eny juga tamatan dari SMEA negeri Kupang.&lt;br /&gt;Sebuah rumah sudah mereka miliki, sekalipun di atas tanah orang, namun bangunan rumahnya adalah buah dari usaha keras mereka.&lt;br /&gt;“Rumah itu juga kami hanya beli bahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ais&lt;/span&gt; ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kaka dong&lt;/span&gt; dari kampung datang bantu kerja dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung&lt;/span&gt; rangka dengan atap, sedangkan dindingnya itu, kami tiga yang bikin sendiri. Bebaknya kami beli baru kami buat dindingnya”, ujar Eny.&lt;br /&gt;“Lebih murah dibanding beli dinding jadi”, timpal Elis.&lt;br /&gt;“Ternyata lumayan berat juga kerjanya, tapi saya senang karena saya jadi tau cara buat dinding dari bebak”,kata Eny yang sebelumnya semasa di Kupang tak punya pengalaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka telah mempunyai dua kios kecil di Weraihenek dan di samping stadion Haliwen.&lt;br /&gt;Setiap harinya, mendapatkan penghasilan kotor sebesar 50 ribu rupiah per kios.&lt;br /&gt;“Tapi sekarang ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;su&lt;/span&gt; berkurang jauh, kalo dulu, waktu masih tahun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;99-2000&lt;/span&gt; itu, banyak orang yang beli. Abis dapat bantuan macam uang lauk begitu pasti mereka datang belanja”, jelas Elis mencoba membandingkannya.&lt;br /&gt;Penghasilan yang didapat selain disisihkan untuk menjaga keberlanjutan kedua kios mereka, juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan biaya pendidikan anak-anak asuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dalam keterbatasan mereka saat tiba di Weraihenek- Atambua 1999 lalu, hati mereka tersentuh melihat kondisi anak-anak saudara mereka yang tak terurus, khususnya masalah pendidikan.&lt;br /&gt;Dalam sebuah perbincangan antara dua sahabat yang boleh dikatakan sudah seperti saudara sekandung, Elis dan Eny, terbesit keinginan untuk membantu anak-anak yang putus maupun tidak bersekolah karena kesulitan biaya.&lt;br /&gt;“Kami mulai asuh anak ini tahun 1999 itu. Kami mulai dari anak saudara”, ungkap Elis.&lt;br /&gt;Mereka mulai dari empat orang anak kakak perempuan Elis. Bahkan ada anak yang diasuh sejak berumur 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini sudah sembilan anak yang berada dalam asuhan mereka. Semuanya masih mempunyai pertalian saudara dengan tiga perempuan tangguh ini.&lt;br /&gt;“Kami ini maunya bukan hanya anak saudara saja yang kami tolong tapi anak orang lain juga”, kata Elis.&lt;br /&gt;“Masalahnya orang belum percaya kita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e…,&lt;/span&gt;orang kira kita mau rampas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong pung&lt;/span&gt; anak, jadi ya kami mulai dulu dengan saudara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pung&lt;/span&gt; anak”, timpal Eny menjelaskan. Padahal menurut Elis, tujuan mereka murni ingin membantu anak-anak untuk bisa bersekolah.&lt;br /&gt;“Kami paling bisa bantu itu sampai SMA, itu juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; banyak orang mungkin agak berat. Paling tamat SMP-lah”, ujar Elis.&lt;br /&gt;“Rasanya tidak tega &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; lihat ada anak yang putus sekolah”, sambung Eny.&lt;br /&gt;“Kami bilang ke orang tua mereka, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; kesulitan biaya sekolah anak, mari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ko&lt;/span&gt; kita duduk sama-sama pikir jalan keluarnya”, lagi kata Elis.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mereka hanya mau menampung dan mengasuh anak-anak yang sudah mendapat persetujuan dari para orang tua.&lt;br /&gt;Syarat utamanya sangat sederhana, “Yang penting itu anak mau sekolah”, ujar Eny.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; tidak mau sekolah, kami tolak”, tegas Elis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sembilan anak yang ada sebagian adalah keluarga dari Elis dan Ela, sisanya adalah keluarga Eny.&lt;br /&gt;Orang tua kandung anak-anak ini, semuanya masih lengkap. “Ada yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pi&lt;/span&gt; jadi TKI di Malaysia sana. Yang lain, orang tuanya di Kupang”, jelas Elis.&lt;br /&gt;“Itu ada satu dari Baumata sana. Elsa tu, sekarang dia su kelas dua SMA”, celetuk Eny, sambil menunjuk seorang gadis remaja yang tersenyum malu, duduk di sebelah kanan tak jauh dari Elis dan Eny.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baumata, terletak di kelurahan Penfui-Kupang, terkenal dengan sumber airnya yang melimpah ini dimanfaatkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)  Kupang dan perusahaan air minum swasta Aguamor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara anak-anak ini dengan orang tua kandung mereka tetap terjalin, lewat kunjungan langsung maupun surat.&lt;br /&gt;“Idus ini”, kata Eny, sambil menunjuk seorang anak lelaki kecil yang duduk di tikar tepat di depan kami, nama lengkapnya Alfridus Nahak, masih duduk di bangku SD. “Dia baru saja menerima surat dari mamanya yang kerja di Malaysia sana kemarin sore &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sabtu, 12/08)&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran anak-anak, seperti Edny yang masih balita hingga Elsa yang sudah remaja dengan berbagai tingkah dan polah laku mereka menjadi hiburan tersendiri bagi, Elis, Eny dan Ela.&lt;br /&gt;“Yang paling nakal itu Idus dengan Maxi”, kata Elis, lanjutnya, “Kadang kita musti marah-marah bahkan hukum dengan rotan”.&lt;br /&gt;Perhatian dan kasih sayang yang harus diberikan sama kepada ke sembilan anak ini, terkadang mendatangkan kecemburuan di antara anak-anak.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dorang&lt;/span&gt; yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;su&lt;/span&gt; besar ini kadang bilang, ma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong ni&lt;/span&gt; hanya sayang Edny &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;”, cerita Eny.&lt;br /&gt;Edny Permata nama lengkapnya, seorang bocah yang baru berumur sekitar dua tahun. Sudah diasuh sejak masih bayi. “Karena kita ambil dia ini dari masih belum bisa omong, belum bisa jalan jadi, mau tidak mau perhatian lebih banyak ke dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e..&lt;/span&gt;”, jelas Eny. Hal itu yang coba dijelaskan kepada anak lainnya.&lt;br /&gt;Nama Edny-pun dicarikan oleh Elis dan Eny, “Sampai satu hari pikir dia pung nama ini”, aku Elis, sambil mengelus kepala Edny yang duduk santai di pangkuannya. Edny Permata  berarti Permatanya Elis dan Eny.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalo&lt;/span&gt; sakit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt; semua manja, seperti minta kita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; perhatian lebih begitu”, ujar Eny, “Satu itu, Melda. Dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; sakit, kita harus peluk dulu baru tenang”, sambungnya. Melda, gadis cilik yang duduk dekat pintu samping Idus hanya tersenyum malu sambil memainkan rambutnya yang pendek sebahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membantu membiayai kebutuhan hidup dan sekolah anak-anak seperti biaya buku-buku hingga uang jajan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;transport&lt;/span&gt;, Elis, Eny dan Ela juga mendorong minat belajar anak sebisa mungkin.&lt;br /&gt;“Misalnya ada PR  yang tidak bisa mereka kerja, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; kami tahu kami bantu kasi tunjuk caranya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalo&lt;/span&gt; tidak tahu juga kami usaha cari orang yang mungkin lebih tahu untuk bimbing ini anak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;”, cerita Eny.&lt;br /&gt;Dari tujuh anak yang sudah bersekolah, menurut Elis ada tiga yang prestasinya di sekolah bagus.&lt;br /&gt;Elsa Haumeni, saat ujian kenaikan kelas yang baru lewat, mendapat rangking dua. Yanto, kakak pertama, Melda, Maxi dan Idus juga selalu dalam sepuluh besar terbaik di kelasnya di SMP N I. Begitu juga dengan Melda di SD Katholik I Atambua, saat naik ke kelas enam belum lama ini mendapat juara II mengungguli teman-temannya yang kebanyakan anak keluarga mampu.&lt;br /&gt;Hal ini tentunya membawa kebahagiaan tersendiri bagi ketiga mama angkat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang diharapkan ketiga perempuan tangguh ini selain harapan akan masa depan yang baik bagi kesembilan anak asuhan mereka.&lt;br /&gt;“Kami hanya bantu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasi&lt;/span&gt; sekolah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa&lt;/span&gt;, soal masa depan, ada di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong pung&lt;/span&gt; tangan sendiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e..&lt;/span&gt;” ujar Eny.&lt;br /&gt;“Kami hanya harap supaya suatu saat, apapun yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt; pilih entah sekolah lanjut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ka&lt;/span&gt; atau buka usaha, jangan bikin malu kami sebagai orang tua ini”, harap Elis. Ela yang baru tiba dari kios satunya dan bergabung bersama kami siang itu, hanya menganggukan kepala mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sekarang, keluarga besar ini sedang menanti waktu yang tepat untuk pindah ke lokasi baru, ke tanah mereka sendiri yang dibeli secara bersama dengan 82 keluarga lainnya dari kamp Haliwen, Weraihenek dan Karantina II di dusun Haliwen desa Kabuna.&lt;br /&gt;Elisabeth Namok termasuk salah satu yang mewakili kelompok perempuan dalam negosiasi lahan tersebut.&lt;br /&gt;“Di sana nanti, saya tidak pusing lagi dengan masalah tanah, kami bisa lebih tenang untuk tinggal”, ujar Elis.&lt;br /&gt;Menurutnya persoalan rumah di sana juga bukan prioritas, sekalipun rumah yang telah dibangun dengan susah payah di Weraihenek harus dibongkar ulang, “Paling penting itu, kami pung anak dong ini bisa sekolah dengan tenang” ujarnya mengakhiri wawancara kami siang itu.&lt;br /&gt;Elsa dan adik-adiknya termasuk anak-anak yang beruntung dibanding jutaan anak lain di Republik Tercinta ini yang kurang beruntung hingga ulang tahun ke 61 negeri ini, kehilangan kasih sayang orang tua akibat konflik, bencana alam bahkan menjadi korban perdagangan anak. Setidaknya, menurut saya, Elsa dan kedelapan adiknya masih bisa menikmati hak-hak mereka sebagai seorang anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Obrigado barak buat Ape, Jacko, Ma Elis, Ma Eny dan Ma Ela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-115833400452261167?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833400452261167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115833400452261167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/09/perempuan-tangguh.html' title='Perempuan Tangguh'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-115324941971241521</id><published>2006-07-18T11:56:00.000-07:00</published><updated>2006-07-18T12:03:41.490-07:00</updated><title type='text'>Kisah Penikmat BBM di Tanah Sandelwood</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Melihat rantai ketergantungan BBM di Sumba Timur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Oleh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Olkes Dadi Lado &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Jumad (7/7) siang. Pasar Inpres Waingapu, penuh sesak dengan pengunjung. Para penjual sibuk menawarkan dagangannya dengan beragam cara. Di sebelah jalan depan pasar, di sebuah pangkalan ojek, Oktav juga sibuk menawarkan jasa ojeknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kurus, tinggi, berkulit hitam akibat terbakar panasnya terik matahari kota Waingapu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:85%;"&gt;Oktavianus Riwu (21), pemuda asal Padadita. Siang itu memakai baju kaos putih, jeans hitam pudar. Ia bersedia mengantar saya pulang ke Kambaniru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:85%;"&gt;Orangnya ramah, selalu tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Sudah menggeluti pekerjaan ini selama setahun, menggunakan sepeda motor omnya. Setiap hari ia harus menyetor 25 ribu rupiah kepada pemilik sepeda motor.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Tapi waktu minyak lagi susah itu, dia mengerti. Kalo jalan setengah hari kasi masuk berapa saja dia terima”, lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Jajaran pertokoan sudah kami lewati, perbincangan di atas sepeda motor terus berlanjut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Saat tiba di pompa bensin Matawai, serempak kami menolehkan kepala, ”Baru kemarin sama hari ini tidak lagi antrian, mungkin sudah normal”, celetuk Oktav, demikian nama panggilannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Kalau tidak,... padat sekali orang yang antri”. Sambungnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Hampir tiga minggu setiap hari kita harus antri dari subuh supaya bisa dapat bensin, itu juga mujur kalo bisa terisi”, lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Selama itu, aktifitas ojek tidak pernah dilakukan sehari penuh, karena setengah harinya dihabiskan untuk mengantri bensin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Sejak subuh sekitar jam empat pagi, Oktav dan semua penikmat BBM sudah berlomba menuju ke SPBU yang ada di Waingapu, ibukota kabupaten Sumba Timur yakni SPBU Hambala dan Matawai. SPBU Hambala terletak di Km 2 sedang SPBU Matawai tepat di jantung kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Beruntung ada siaran piala dunia jadi kita ada hiburan sedikit”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Selain menyalurkan hobi menonton sepak bola, ia mengatakan, siaran piala dunia ini juga membantu mereka tetap terjaga sehingga bisa pergi meng-antri bensin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Bahkan ada yang sudah pergi tidur memang di pompa bensin sejak tengah malam”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Selain itu ada juga yang hanya menitipkan sepeda motornya di SPBU. ”Di kilo dua sana itu ada yang ban motornya dipotong orang”, ujar Oktav.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Berbagai keresahan sosial mulai bermunculan. Minggu pertama terjadi konflik antara anggota kepolisian dengan anggota Brimob di SPBU Matawai, pertengkaran-pertengkaran bahkan sampai pada pemukulan terhadap sesama terjadi. Semuanya demi seliter bensin. Hubungan antara sesama manusia seakan tak ada artinya, bisa ditukar dengan seliter bensin—energi fosil, energi yang tak terbarukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Kesulitan-kesulitan inilah menurut Oktav, kemudian membuat ia dan juga tukang ojek sepeda motor lain di Waingapu menaikan tarif ojek hingga 5000 rupiah untuk wilayah dalam kota dari normalnya antara 2000-3000 rupiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Kenaikan tarif itu tidak serta merta memberi keuntungan bagi mereka, menurutnya walaupun tarifnya besar tapi tak sebanding dengan hasil yang mereka dapat, karena sepinya penumpang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Minyak susah ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya pemalas keluar rumah, kalo tidak ada yang terlalu penting”, ujar Ferry Daniel, salah seorang teman semasa kuliah dulu saat bertemu di pasar inpres Waingapu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Biasanya, satu hari dalam keadaan normal itu, saya bisa dapat 40 ribu bersih diluar minyak”, ujar Oktav. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Hembusan angin dingin di sekitar daerah persawahan Ana Dara, seolah berusaha mengusir panasnya terik matahari siang itu (7/7), sepeda motor bebek yang kami pakai terus melaju pelan mendekati wilayah kelurahan Kambaniru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Selama tiga minggu sulit bensin ini, saya hanya bisa dapat 30 ribu rupiah, itu juga belum termasuk bensin”. Sehingga menurutnya lagi terkadang ia harus merogoh koceknya sendiri untuk membeli bensin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Terkadang Oktav membeli bensin pada pengecer, jika dalam keadaan terdesak. Harganya bisa dua sampai tiga kali lipat harga pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Harga bensin di tingkat pengecer bervariasi tergantung jarak dan waktu. Dalam kota 10 ribu rupiah per botol pada siang hari. Malam harinya menjadi 15-20 ribu per botol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Di Melolo, sekitar 40-an kilometer dari Waingapu, selama masa sulit ini terjadi, harga bensin per botolnya mencapai 30 ribu rupiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Di kabupaten tentangga, Sumba Barat yang hanya mengandalkan jatah dari depot di Sumba Timur, harganya melonjak hingga 50 ribu rupiah per botol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Dalam keadaan normal, ia biasanya mendapatkan 15 ribu per hari sisa dari uang yang harus disetor ke pemilik motor, namun sudah tiga minggu sejak ketersediaan BBM di Sumba menipis, hampir pasti tak ada yang masuk ke kantongnya ”Untung kalo bisa dapat kembali uang bensin”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Beruntung juga saya ini belum berkeluarga”, ujarnya, sesaat sebelum tiba di Kambaniru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Di sudut lain kota Waingapu, di bagian belakang pasar tak jauh dari menara milik Telkomsel, tepat di simpang jalan Palapa dan Pemuda, Mama Marselina sibuk menjajakan sayur putih miliknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Apa yang dialami oleh Oktav, juga dialami oleh perempuan setengah baya penjual sayur asal Mauliru itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Naiknya tarif ojek oleh Oktav dan teman-teman seprofesinya, selama tiga minggu terakhir di Waingapu juga membawa dampak bagi ibu ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;”Biasanya hanya bayar tiga ribu saja. Mulai ada antri minyak ini kami harus bayar lima ribu untuk datang ke pasar, pulang juga begitu”. Ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Ia biasanya berjualan di pasar sejak pagi hingga siang hari, ”Siang-siang begini sudah habis”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Namun hari itu tak seperti biasanya, sebagian besar sayur masih menumpuk di atas karung plastik putih kusam, tergeletak begitu saja di pinggir jalan, tanpa pelindung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Tangannya sibuk membuka ikatan-ikatan sayur yang ada, ”Ini musti ikat ulang lagi terlalu sedikit. Orang tidak mau beli, bilang terlalu mahal”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Sayur-sayur itu tidak ditanamnya sendiri, ia membelinya langsung dari petani sayur di Mauliru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Kami beli dengan lima ratus satu ikat, kadang juga dapat dengan tiga ikat dua ribu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:85%;"&gt;”Lalu dijual berapa di sini?” &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Tanya saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;“Kami jual dengan tiga ikat 2500”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Hanya untung lima ratus rupiah per tiga ikatnya” pikir saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Setiap hari kami dapat untung seratus sampai duaratus ribu”, lanjutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Mulutnya tak henti mengunyah sirih pinang, tangannya tetap sibuk menata ulang jualannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Tapi mulai orang antri minyak ini, harga ojek mereka kasi naik, satu hari kami hanya untung enam puluh ribu”. Keluhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Mama Marselina, tidak bersentuhan langsung dengan urusan BBM. Dalam mata rantai ketergantungan terhadap BBM, entah ibu paruh baya ini dan masih banyak sesamanya menempati mata rantai yang mana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Yang terjadi adalah, langsung tidak langsung mereka juga turut merasakan akibatnya. Berkurangnya pendapatan harian mereka, berarti ada sekian kebutuhan dalam rumah tangga mereka yang tak terpenuhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Hari menjelang malam, sekitar sembilan sepeda motor nampak antri mengisi bensin di SPBU Hambala, di sebelahnya lebih dekat ke jalan besar, terdapat dua truk sedang mengisi solar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;SPBU yang mulai beroperasi sejak tahun 2003 ini, mempunyai tiga mesin pengisian. Pada mesin kedua yang terletak di bagian tengah, duduk seorang petugas, tak ada yang dikerjakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Suasana kali ini nampak sepi, berbeda dengan suasana tiga minggu lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Selama tiga minggu, halaman SPBU Hambala tumpah ruah pengunjung dengan berbagai merek kendaraan bermotor, bahkan meluber hingga ke jalan besar di depannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Menipisnya persediaan BBM di Sumba Timur, terjadi sejak 20 Juni 2006, cerita Markus Behi, petugas SPBU Hambala. Saat ditemui di ruangan kantor SPBU, sedang siap-siap untuk menutup SPBU yang telah dikelolanya sejak tiga tahun lalu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Di sebelah etalase kaca, samping kiri tak jauh dari tempat duduk saya, ada tiga orang bawahannya sedang menghitung pemasukan hari itu. Jam dinding di ruangan itu menunjukan hampir pukul delapan malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Biasanya Pertamina kasi kita 10 ribu liter setiap harinya, tapi mulai 20 juni itu turun jadi 5000 liter saja”, katanya. Tangannya sibuk mengikat gepokan-gepokan uang kertas yang sudah dihitungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Menurut Pertamina, karena keterlambatan kapal dari Kupang”, lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kondisi itu berlangsung selama empat hari, ”Pas 24 Juni itu kapal masuk, besoknya stok dari pertamina kembali naik jadi 10 ribu liter”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Namun keadaan tetap tidak pulih, ”Karena masyarakat panik to jadi rame-rame datang antri takut tidak kebagian. Ditambah lagi dengan ada orang-orang yang melakukan aksi borongan”. Kata Markus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Mendengar kata ”Aksi borongan”, saya teringat percakapan saya dengan Gerus, salah seorang petugas beberapa saat sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Ada yang datang ulang-ulang untuk isi, pulang ke rumah, dia salin lalu balik lagi untuk antri”, kata Gerus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Sebagian orang memanfaatkan kondisi ini untuk mencari keuntungan. Berbagai trik digunakan untuk mendapatkan bahan bakar lebih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Menurut Gerus, sekalipun mereka mengetahui hal itu, tak ada yang bisa mereka lakukan, ” A..a kita sebagai operator ini kan sulit e..kalau dorang sudah datang dua kali, kita mau batasi juga takut kena pukul. Baru tidak ada aturan yang jelas tentang itu”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Persediaan BBM kembali menipis, seperti empat hari sebelumnya. ”Akhirnya suplai BBM untuk kami turun kembali jadi 5000 liter per hari”. Kata Markus Behi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;SPBU yang bisanya beroperasi hingga malam hari pukul delapan hingga sembilan itu, terpaksa ditutup pada pukul 12 atau satu siang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Bahkan hari minggu kemarin (2/7), kami terpaksa tidak buka karena tidak ada stok sama sekali”. Lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Akibatnya menurut Markus, sekalipun pada hari senin (3/7), suplai BBM yang diterima dari Pertamina melebihi kuota normal, tetap tidak mencukupi permintaan konsumen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Senin itu kami dapat 25 ribu liter bensin dan 20 ribu liter solar. Tapi tetap kurang karena orang yang antri sejak sabtu itukan banyak yang tidak dapat, apalagi hari minggunya tidak buka. Jadi tetap saja kurang”. Jelasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kondisi kembali normal pada hari selasa (4/7) dari sisi ketersediaan stok di SPBU. Namun kepanikan masyarakat masih saja terlihat. Kondisi betul-betul normal pada hari Rabu (5/7), saat saya berkeliling ke ke dua SPBU yang ada di Waingapu, nampak sepi, tidak terlihat antrian seheboh tiga minggu terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Pada kesempatan lain, Kepala Pertamina Waingapu, Supilen. Saat ditemui di ruang kerjanya, ia ditemani Ndoy Hamanay, salah seorang stafnya, mengatakan, menipisnya persediaan BBM di pulau Sumba, lebih dikarenakan keterlambatan pasokan BBM dari depot Kupang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;”Mungkin karena cuaca di laut yang buruk menyebabkan kapal itu terlambat tiba di sini”, katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Selain itu sependapat dengan Markus Behi dan Gerus, ia mengatakan, kepanikan warga yang berujung pada aksi sebagian orang yang menimbun BBM juga menyumbang terhadap kondisi tiga minggu terakhir di Sumba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Sepanjang percakapan kami hampir pasti tak ada kalimat yang memberikan jaminan kondisi tiga mingggu terakhir di Sumba tidak akan terjadi lagi dikemudian hari, masih mengambang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Sumba sebagai salah satu pulau terbesar di NTT, hanya mengandalkan satu depot, yakni depot Waingapu di Kabupaten Sumba Timur. Sumba juga bukan daerah penghasil minyak laiknya Jawa Timur dengan Blok Cepu-nya, maka hampir pasti para penikmat BBM di pulau Sumba sangat bergantung pada pasokan BBM dari luar. Jika aliran distribusi BBMnya tidak terjamin lancar maka tidak heran kondisi ”kelangkaan” BBM bisa kembali terjadi, termasuk di seluruh wilayah NTT. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Terima kasih kepada :&lt;br /&gt;Jalinan Energi Indonesia Timur (JEIT), Teman-teman GMKI Cab Waingapu dan Elthon, Ma'e, Ren, Jacki, Ako dan semua kawan di Kambaniru.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-115324941971241521?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115324941971241521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/115324941971241521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/07/kisah-penikmat-bbm-di-tanah-sandelwood.html' title='Kisah Penikmat BBM di Tanah Sandelwood'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-114554292684173360</id><published>2006-04-20T07:15:00.000-07:00</published><updated>2006-04-20T07:22:07.476-07:00</updated><title type='text'>Iko Paskah di Tengah Banjir</title><content type='html'>(Catatan dari orang yang "jarang" ke Gereja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olkes Dadi Lado&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu cuaca tak seperti hari-hari sebelumnya yang mendung dan hujan sepanjang hari.&lt;br /&gt;Jumad (14/08), cuaca di Besikama cerah, sedikit awan putih menggantung di langit bagian utara dan selatan.&lt;br /&gt;Jam dinding berwarna emas yang tergantung dinding bebak rumah menunjukan angka tujuh. &lt;br /&gt;Saya baru selesai menikmati segelas kopi panas dan beberapa batang rokok.&lt;br /&gt;Ka’ Etha, Ka’ Paul, dan sebagian besar anggota keluarga di rumah sudah selesai mandi, semuanya sibuk mempersiapkan diri ke gereja. Saya juga bergegas mempersiapkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah Jumad Agung. Bagi umat Nasrani/Kristen, hari ini adalah peringatan akan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib di Golgota, ribuan tahun lalu.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan umat Kristen di Besikama, semuanya sibuk menyambut hari besar ini.&lt;br /&gt;Besikama adalah pusat kota kecamatan Malaka Barat kabupaten Belu, berjarak 80 kilometer dari Atambua. Mayoritas penduduk di sini adalah bergama Katholik, lalu Protestan dan sisanya Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana untuk merayakan paskah di Besikama berawal dari tugas peliputan untuk Lorosae lian—media tempat saya bekerja—di Belu pada tanggal 11-13 April, sehingga saya memutuskan untuk sekalian merayakan paskah bersama mama dan keluarga di kampung kelahiran saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam setengah sembilan, kebaktian memperingati kematian Yesus Kristus dimulai. Kebaktian dipimpin oleh Pendeta Angkol Tangwal, S.Th.&lt;br /&gt;Gedung gereja jemaat Imanuel Maktihan yang berjarak sekitar 150 meter dari rumah itu terkesan lengang, hampir setengah bagian kursinya tak terisi, entah kemana perginya jemaat-jemaat itu--mungkin karena banjir--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran pada hari besar seperti ini umumnya di berbagai tempat justeru jemaatnya membludak sampai-sampai kursi yang disiapkan tidak sebanding dengan orang yang hadir karena banyak orang yang biasanya jarang ke gereja pada hari minggu---seperti saya—akan memakai momen ini untuk kembali berbakti atau mungkin juga sekedar untuk menunjukan “bahwa saya ini orang Kristen”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaktianpun mengalir mengikuti liturgi yang ada. Sekalipun keheranan masih meliputi benak, tapi saya mencoba berkonsentrasi untuk mendengarkan firman Tuhan yang pagi itu diambil dari Injil Yohanes 19 : 28-30 tentang kematian Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeta Angkol, memulai renungannya dengan sebuah ilustrasi. &lt;br /&gt;“Sepasang anak manusia yang sibuk mencari Tuhan Allah, setelah bertanya ke sana ke mari tak seorangpun yang mereka temui bisa menjelaskan dimana Tuahn Allah yang mereka cari itu berada, akhirnya mereka berdua menyimpulkan bahwa orang banyak yang mereka temui itu telah membunuh Tuhan Allah yang mereka cari”, diakhir ilustrasi itu dikisahkan kedua anak manusia itu diusir dari lingkungan orang banyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khotbahnya, pendeta Angkol mengatakan bahwa kematian Tuhan oleh orang Kristen dikatakan terjadi pada ribuan tahun lalu di bukit Golgota dan kematian itu ditimpakan kepada kaum yahudi, bahkan tuduhan itu terus berlanjut hingga saat ini. Dalam perspektif yang berbeda Angkol mengatakan bahwa Pembunuhan, penyaliban dan kematian Allah bukan hanya terjadi pada ribuan tahun lalu tetapi juga hingga saat ini.&lt;br /&gt;“Dan siapa pelakunya?” Tanya Angkol, “Pelakunya adalah saudara dan saya” lanjut pendeta yang menamatkan studinya di Fakultas Tehologi UKAW Kupang ini lantang.&lt;br /&gt;Menurutnya, secara sadar kita telah menyalibkan dan membunuh Tuhan dalam setiap aktifitas kehidupan kita.&lt;br /&gt;“Ketika Tuhan mau hadir di Pasar, kita bilang,.. aduuuh sebaiknya Dia jangan hadir di sini. Karena kalo Dia ada maka kita kita tidak bisa ambil untung yang banyak. Begitu juga dengan di pemerintahan atau di perusahaan, ketika Tuhan hadir di sana, kita berusaha menyingkirkannnya karena kita tidak mau dihalangi ketika kita ingin korupsi atau menyingkirkan saingan kita secara tidak sehat”, contohnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kantuk yang sempat mengganggu pada awal kebaktian karena do’a yang panjang hilang seketika saat mendengarnya. Dalam hati saya membenarkan apa yang dikatakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khotbah ini menurut saya, merupakan sebuah gugatan terhadap pertumbuhan dan kondisi iman kita saat ini. Dalam setiap aspek kehidupan kita hampir tak kedengaran lagi kabar yang bisa menyejukan hati, di mana-mana ada berita pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga, pemboman, penipuan, peperangan, penggundulan hutan, pengrusakan lingkungan demi lembaran rupiah dan masih banyak lagi berita lainnya.&lt;br /&gt;Memang terkesan pesimis, namun bagi saya ini adalah bentuk pengaduan kita sebagai anak manusia kepada Tuhan Allah Sang Bapa.&lt;br /&gt;Ini menunjukan sebuah keakraban antara manusia dan Sang Pencipta. &lt;br /&gt;Juga menunjukan bahwa saking akrabnya, manusia bisa berkeluh kesah, bercerita tentang hidupnya dengan Allah.&lt;br /&gt;Di sisi lain khotbah ini juga merupakan otokritik terhadap diri kita. Jaman sekarang ini sulit kita dapatkan orang yang mau dan rela melakukan kritik terhadap diri sendiri, yang ada hanyalah kecenderungan untuk menyalahkan orang atau pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setahun saya tak pernah menginjakan kaki di gedung gereja hingga hari ini tepat peringatan hari kematian Yesus di atas kayu salib. Saya beruntung masih bisa ke gereja sehingga mendapatkan kesempatan untuk mendengar dan merenung hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur karena sekalipun Besikama sedang dilanda banjir namun masih diberi kesempatan beribadah kepada Allah yang saya yakini selama ini.&lt;br /&gt;Khotbah ini menurut saya, menjadi sebuah refleksi bagi semua fehan oan atau ema fehan untuk memberikan kekuatan dalam menghadapi kecemasan dan kekuatiran akan bencana banjir yang hampir setiap malam terjadi di Besikama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah genangan air dan beceknya lumpur banjir akibat keserakahan manusia, saya mengucapkan selamat PASKAH bagi semua fehan oan iha rai wewiku-wehali, rai Malaka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-114554292684173360?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114554292684173360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114554292684173360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/04/iko-paskah-di-tengah-banjir.html' title='Iko Paskah di Tengah Banjir'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-114207996851692703</id><published>2006-03-11T04:13:00.000-08:00</published><updated>2006-03-11T04:32:38.123-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Cerita dari Kamp Pengungsi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/320/Kebakaran_Tuapukan.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;17 Desember 2004, Kamp Tuapukan lengang. Kamp Tuapukan adalah sebuah kamp pengungsi terbesar di kabupaten Kupang, saat ini masih dihuni 500-an keluarga pengungsi asal Timor Timur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Jalan berbatu yang membelahnya menuju Olio kampung tetanggapun sepi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Rumah-rumah darurat beratap gebang, berdinding bebak (&lt;em&gt;pelepah gebang&lt;/em&gt;) kosong tak kelihatan penghuninya, kecuali sebuah rumah dekat pabrik garam yang sudah tidak berfungsi lagi sejak 1998, seorang ibu hanya bersarung tais (&lt;em&gt;kain khas Timor&lt;/em&gt;) sedang mencari kutu di kepala anak perempuannya, sebagian besar berada di kebun di kampung Olio, sebagian lagi sedang tidur siang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Cuaca siang itu panas sekali, ciri khas Kupang walaupun sudah memasuki minggu kedua Desember. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dominggos Soares, biasa dipanggil Ameu baru saja selesai makan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Pemuda berambut panjang sebahu, tanpa baju hanya bercelana loreng seragam tentara yang dipotong pendek itu, kembali meraih pahat dan sebuah martil kecil, mulai membuat ukiran pada sebilah papan jati mengikuti motif yang sudah digambarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Ia berasal dari Los Palos-Timor Timur, mengungsi ke Timor Barat pada September 1999 akibat konflik pasca Referndum di sana. Semenjak 2002, ia mulai berprofesi sebagai tukang kayu, hasil pelatihan ketrampilan pertukangan yang dilakukan CWS (Curch World Service).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sesekali ia menyeka keringat di keningnya dengan selembar handuk yang tak jelas lagi warnanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Angin kencang yang bertiup dari arah laut siang itu tak banyak membantu mengusir panas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Seratus meter dari tempatnya, terdapat sekumpulan rumah darurat lebih tepat dikatakan gubuk milik pengungsi asal Dillor kabupaten Viqueque juga kosong tak kelihatan penghuninya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sebagian besar penghuninya pergi melayat ke kamp Noelbaki-kamp lainnya yang berjarak 10 km dari Tuapukan- ada anggota keluarga mereka yang meninggal di sana. Yang lainnya sedang berada di kebun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tempat tinggal mereka berbatasan dengan kampung Olio. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Belum lama Ameu asyik dengan pekerjaannya, sekitar pukul 12.15. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Ia mendengar suara teriakan, “ Hoooi… ada kebakaran..hooi”, berulang-ulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Ia melepas peralatan kerjanya, menoleh ke asal suara itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Asap tebal membumbung di atas lingkungan orang-orang Dillor.Ia segera berlari ke sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Penghuni kamp yang lainpun ikut ke sana. Api menjalar dengan cepat, rumah dari daun gebang dan dinding bebak serta tiupan angin yang kencang mempercepatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Rumah-rumah orang Dillor terbakar, tidak tau apinya dari mana” kata Delio, adiknya yang lebih dahulu tiba. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Siang itu ia sedang berada di rumah paling ujung lingkungan Los Palos dekat lingkungan Dillor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Di sebelah utara ke arah laut, orang-orang lokal dari kampung Olio sudah banyak berkumpul, asal teriakan itu dari sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Kaum lelakinya sibuk mengangkut barang dari rumah-rumah yang belum sempat terbakar. Berbeda dengan ituDi sebelah selatan tempat Ameu dan orang-orang Los Palos berkumpul tepat di batas antara lingkungan mereka dan lingkungan orang Dillor. Tak ada gerakan untuk membantu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sekelompok orang berlarian dari arah kebun, di seberang jalan dekat kali kecil pinggir kampung Olio, melewati lahan milik RRI Kupang. Marcelino koordinator kamp Viqueque berada paling depan, tanpa mempedulikan panas api dan asap yang menyesakan dada, ia menerjang masuk ke rumahnya yang terletak di bagian Timur. Tak ada barang lain yang dibawanya kecuali sebuah motor bermerk Honda Win yang didorongnya keluar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Di sebelah timur, sekelompok mama-mama berusaha memadamkan api dengan air dalam ember, tapi tak berhasil. Nyala api makin besar. Rumah-rumah darurat itu roboh satu demi satu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Ameu dan lima temannya berusaha merobohkan sebuah rumah di lingkaran luar lingkungan itu untuk mencegah api menjalar rumah-rumah lainnya di lingkungan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tangisan, teriakan komando, makian, bunyi daun dan dinding yang terbakar bercampur menjadi satu.Orang makin banyak berkumpul tapi tak banyak yang bisa dibuat, api menjalar sangat cepat. 39 rumah yang ditinggali penghuninya siang itu habis terbakar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Semuanya rata dengan tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tak sampai sejam kemudian api mulai padam. Suasana berangsur tenang, teriakan komando tak lagi terdengar, hanya isakan tangis dua janda sambil memandangi kotak tempat uang tabungan mereka sudah menjadi arang, gambaran uang-uang kertas 10 ribuan masih terlihat. Sesekali terdengar letupan-letupan kecil bara api sisa pembakaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tangisan histeris terdengar saat sebuah angkot berhenti di situ. Mereka yang pergi melayat kembali mengeluarkan air matanya karena melihat rumah mereka yang berubah bentuk menjadi seonggok arang.Dari jauh terdengar sirene mobil pemadam kebakaran perlahan mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-114207996851692703?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114207996851692703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114207996851692703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/03/sebuah-cerita-dari-kamp-pengungsi.html' title='Sebuah Cerita dari Kamp Pengungsi'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-114207910446582510</id><published>2006-03-11T04:06:00.000-08:00</published><updated>2006-03-11T04:11:46.340-08:00</updated><title type='text'>Beri Hambamu Uang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Waktu kau lewat.., aku sedang mainkan gitar…”teriak Iwan Fals dilayar TV 24 inch milik kang Ujang,  penjaga kos tempat saya nginap, dalam acara 1 jam bersama Iwan Fals yang disiarkan langsung oleh Indosiar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Diatas pesawat TV merek Toshiba yang diletakan diatas rak kayu berwarna hitam, terdapat sebuah kotak tissue berwarna merah dari beludru, pinggirnya dilapisi kuningan dengan motif bunga, disampingnya kotak itu sebuah bingkai kayu coklat berisi foto Agus dan Novi, anak kang Ujang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Selembar kain bercorak kotak-kotak warna biru dan putih menutupi bagian atas TV itu, disebelahnya tergeletak dua lembar koran bekas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dibawahnya, terdapat sebuah DVD player yang juga ditutupi kain dengan corak yang sama tapi lebih dominan warna birunya. Ke bawahnya lagi setumpuk majalah dan buku-buku bekas tertata rapih. Bagian belakang rak TV itu terdapat dus-dus dan galon bekas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Diluar rumah berlantai dua itu sepi, hanya kedengaran deruman mesin mobil dari kejauhan, letak rumah itu sekitar 70 meter dari jalan besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Nyanyian Iwan masih terdengar, sebagian penghuni kos sudah masuk kamar masing-masing, kecuali saya, kang Ujang dan empat temannya yang masih terjaga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Saya duduk diatas sofa coklat sudah agak kusam di depan TV agak ke kiri rapat tembok putih sebelah dalam, di sebelah saya duduk seorang pemuda tetangga sebelah, bercelana panjang hitam, matanya sudah setengah tertutup menahan kantuk terus menatap layar TV, bajunya tak dipakai hanya disampirkan dibahu kirinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Di depan dekat tangga ke lantai II, terdapat sebuah meja kayu berwarna kelabu, dengan tatakan gelas merah muda di atasnya, di sebelah kiri kanan meja terdapat dua kursi plastik warna merah. Jendela dibelakangnya sudah tertutup rapat gordinnya berwarna hijau lumut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Pintu rumahpun sudah ditutup kang Ujang sejak jam 9 tadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tak jauh dari tempat saya duduk, diatas lantai keramik putih, dengan corak wajik berwarna hijau dibagian tengah duduk kang Ujang dan tiga temannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Bagi yang benar dong…”,kata pemuda yang berkaos merah duduk membelakangi TV, berhadapan dengan kang Ujang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sudah hampir sejam mereka bermain kartu, namanya “kartu sambung” kata kang Ujang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Lembar demi lembar kartu berjatuhan dihadapan masing-masing mereka hingga berjumlah empat kartu tiap orang, sisa kartunya di taruh di tengah lingkaran itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;4 lembar uang seribu-an diletakan di samping tumpukan kartu itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Plaaak…” kartu dibanting kang Ujang di lantai tak lama setelah kartu dibagikan, “Masuk”, teriaknya dengan senyum lebar dibibirnya yang kehitaman akibat kebanyakan rokok. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tiga temannya hanya bisa geleng kepala sembari menghela nafas panjang sambilo menatap gerakan tangan kang Ujang cekatan meraup lembaran seribu-an dihadapan mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dengkuran halus terdengar disamping saya, rupanya pemuda tadi suda tertidur pulas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Kang Ujang mengumpulkan kembali kartu-kartu yang berserakan tadi, permainan akan kembali dilanjutkan. Dari layar TV masih terdengar nyanyian “ Penguasa…penguasa beri hambamu uang…beri hamba uang…” Iwan mengakhiri lagu pesawat tempurnya disambut teriakan histeris ratusan penggemarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini adalah tugas saya ketika mengikuti kursus JS IX Pantau di Jakarta)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-114207910446582510?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114207910446582510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114207910446582510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/03/beri-hambamu-uang.html' title='Beri Hambamu Uang'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-114207839803089834</id><published>2006-03-11T03:52:00.000-08:00</published><updated>2006-03-11T04:05:08.726-08:00</updated><title type='text'>Indonesia di Mata Bang Jayus</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sekitar pukul 15.30, selesai kursus hari I di Pantau, saya dan Frans pulang ke penginapan di jalan kemandoran menumpang angkot 09, angkot itu kosong tak ada orangnya, hanya kami berdua di belakang dan satu orang di depan serta si abang supir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Berwarna biru muda, kusam tak terawat, dashboardnya sudah bolong entah penutupnya kemana, joknya berwarna coklat tua juga lusuh, berlubang di mana-mana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sekitar 300 meter berjalan penumpang di depan turun, baru jalan sekitar 10-an meter, angkotnya berhenti, macet di depan, “ 2007-2008 kalo gini terus banyak yang mati kelaparan di jalanan”, kata si supir, berkaos putih berambut lurus dipotong pendek, wajahnya tak kelihatan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“ Kenapa bang?” tanya saya, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Abis gimana nggak susah kondisi gini terus rakyatnya mau makan apa? Lama-lamakan orang bisa mati”. Keluhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Saya ini sudah berusaha mati-matian bang, tapi mau gimana lagi untuk makan sehari aja rasanya nggak cukup” tambahnya . &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Presiden udah kepilih malah nyengsarain rakyatnya, hanya ngomong doang, mereka enak duduk di belakang meja, coba kalo berani turun ke lapangan kalo mau bicara”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“ Emangnya sehari dapat berapa, bang”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Yahhhh nggak cukuplah bang, dulu kalo bensinnya belum naik sih bisa, tapi sekarang mana bisa, kalo setoran sih bisa diatur tapi bensin kan nggak bisa ngutang. Katanya subsidi untuk angkot 46 rebu, tapi dengan harga bensin sekarang ya paling ketutup sebagian aja, kan kalo ngisinya penuh 90 rebu, nah 46 nya dari subsidi tapi yang 42nya gimana coba malah pengeluarannya lebih besar dibanding dulu kalo dulu ngisi bensinnya cukup 40 rebo”. Katanya lagi sambil sesekali menengok ke belakang. bang Jayus namanya, biasa mangkal di depan universitas Widuri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Kalo gini terus mending misah aja deh bang, s'tuju kalo ada yang minta misah dari Indonesia kayak Tim Tim, saya ini putra bangsa asli bang, kakek saya dulu pejuang sebelum tahun 45, tapi buktinya apa… saya nggak pernah merasa jadi anak bangsa ini. Pemimpin-pemimpin kita ini gak ada yang beres, jelek-jelek ni bang ya..maaf… aku ini orang biasa nggak tau politik, tapi menurut saya ini semua karena pemerintah kita yang sekarang ini gak punya sistim kekompakan, jelek-jelek jamannya soeharto biarpun dia dibilang melanggar HAM tapi punya sistim yang jelas dan kuat, ekonomi bisa diatur, keamanan bisa diatur, lah yang sekarang jangan ngomong ekonomi keamanan aja nggak beres, ribuan nyawa rakyat udah jadi tumbalnya”, lanjutnya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Sekarang kalo ada negara lain yang bisa menampung aspirasi rakyat mending mereka aja yang mimpin deh, dari pada orang kita tapi nggak mau dengar rakyat, udah naik malah morotin uang rakyat masuk kantong sendiri”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sambil sesekali tangannya mengoper perseneling angkot 1,2, paling tinggi 3 tapi hanya sebentar udah kembali 2, angkot terus melaju perlahan, sesekali matanya melirik calon penumpang dan menawarinya, lain kali menengok ke belakang tapi hanya sebentar, tetap tidak jelas raut wajahnya, jalanan masih saja macet, deru mesin mobil bercampur motor seakan menyaingi suaranya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Apotik kemandoran ya bang”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Iya masih di depan bang”, jawabnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Kalo nggak bisa misah mending revolusi aja, saya lebih setuju kalo revolusi asal rakyatnya kompak, kalo gak ya pasti kalah, dia nggak takut karena pikirnya punya pasukan kan, kita rakyat ini takut kalo udah berhadapan sama pasukan”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Papan apotik kemandoran sudah kelihatan, “Sekarang ini pemerintah kita bukan hanya nggak punya nurani tapi udah kayak binatang bang”, ujarnya lagi dengan geram. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;”Yah entah sampai kapan kita nggak tau lah, makanya saya bilang 2007-2008 kalo nggak berubah banyak rakyat yang akan mati kelaparan” ujarnya sesaat sebelum kami turun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;“Makasih bang, Salam ya buat orang-orang di Timor sana”.ucapnya sambil menerima ongkos angkot.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Kisah ini saya tulis sewaktu di Jakarta ikut kursus JS angkatan IX Pantau)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-114207839803089834?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114207839803089834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/114207839803089834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/03/indonesia-di-mata-bang-jayus.html' title='Indonesia di Mata Bang Jayus'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-113851364366656679</id><published>2006-01-28T21:38:00.000-08:00</published><updated>2006-01-28T22:26:11.270-08:00</updated><title type='text'>Kursus Jurnalisme Sastrawi IX-Pantau</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 255);font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;09-20 Januari 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:trebuchet ms;" &gt;Olkes Dadi Lado&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/1600/JS%20IX%20Pantau.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/200/JS%20IX%20Pantau.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ini kali kedua saya ke Jakarta. Yang pertama pada tahun 2000, untuk mengikuti acara wisuda kakak.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;Kali ini karena diundang Pantau -Sebuah yayasan yang bertujuan memperbarui jurnalisme di Indonesia- untuk mengikuti Kursus Jurnalisme Sastrawi selama dua minggu.&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saya termasuk angkatan ke 9. Sebelumnya yang mewakili CIS Timor adalah Winston Rondo.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;Saya merasa beruntung bisa mengikuti kursus ini. Ini adalah pengalaman pertama mengikuti kursus dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;jumlah peserta yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt; kecil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pesertanya berjumlah 15 orang, menurut Yusrianti Pontojaf, koordinator program kursus Pantau, ag&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/1600/DSCF0002%20copy.2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/200/DSCF0002%20copy.2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;ar lebih efektif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pesertanya beragam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;. Ada wartawan dari Jakarta seperti, Ade Siregar dari Media Indonesia, A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;an Suryana dari The Jakarta Post, Andry Soekarnen dari Business Week, Mbak Eva Rahayu dari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt; Majalah Swa, Imam Sofwan dari Syirah, dan Samiaji Bintang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelancer&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Juga wartawan dari daerah, ada Nur Iskandar dari Equator-Pontianak, Frans Anggal dari Flores Pos-Ende, Romi Heatubun dan Sampe Sianturi dari Radar Timika.&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dari kalangan aktifis LSM yang punya media, ada Angela Flassy dari Suara Perempuan Papua, Muhamad Syukur dari FKMM-Bogor dan saya dari Lorosae Lian-Kupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Yang murni aktifis juga ada seperti Fadriah Syuaib dari LSM SenBud Ternate dan yang terakhir, seorang reporter radio dari Tobelo, Febiyola Lilipory yang juga koresponden radio 68 H Jakarta.&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Metode yang dipakai bagus. Lebih banyak tugas dan diskusi dibanding teori, sehingga peserta betul-betul dituntut untuk serius membaca bahan-bahan yang diberikan serta belajar langsung dari tulisannya sendiri maupun peserta lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Menurut saya penga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;pu kursuspun sangat berkualitas. Kali ini selain Janet Steele dan Andreas Harsono yang menggagas awal kursus jurnalisme sastrawi ini, juga ada pengajar tamu, penulis “Ngak Ngik Ngok” dalam buku Jurnalisme Sastrawi, Budi Setyono yang banyak memberikan tip dan trik memasang transisi dalam sebuah tulisan kepada peserta.&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Peserta diajak mengenal karya-karya jurnalis asing yang bagus seperti In Cold Blood-nya Truman Capote, The Girl of The Year oleh Tom Wolfe dan Hiroshima karya Jhon Hersey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Atau karya penulis dalam negeri seperti Kejarlah Daku Kau Ku Sekolahkan-nya Alfian Hamzah, Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft karya Chik Rini, Hikayat Kebo-nya Linda Christanty atau Kilometer Nol Republik Indonesia yang ditulis oleh Andreas Harsono dan tulisan Agus Sophian “Tikungan Terakhir”.&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bentuk dan struktur ala jurnalisme sastrawi ternyata bisa diterapkan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hard news&lt;/span&gt; seperti tulisan Anthony Shadid “A Boy Who Like A Flower” atau dalam tulisan pendek lainnya seperti “Its An Honor” karya Jimmy Breslin.&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ada juga tulisan unik (menurut saya) Arif Zulkifli “Dua Jam bersama Hasan Tiro”. Tulisan ini sekalipun tidak sepenuhnya memakai bentuk dan struktur ala jurnalisme sastrawi tetapi mempunyai ciri khas pada pencatatan detail tempat, gerak tubuh, kebiasaan dan simbol-simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Peserta juga diajak untuk membedakan antara fakta dan fiksi dengan membandingkan dua tulisan Linda Christanty, “Hikayat Kebo” dan “Kuda Terbang Maria Pinto”.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/1600/DSCF0023%20copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/200/DSCF0023%20copy.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Selain memepelajari semua karya-karya itu, peserta juga mendiskusikan tentang elemen-elemen jurnalisme dalam buku Elemen-elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Thomas Rosenstiel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran sebagai tujuan utama, Loyalitas pada masyarakat, disiplin dalam melakukan verifikasi, independensi, memantau kekuasaan, sebagai forum public, memikat sekaligus relevan, proposional dan komprehensif dan yang terakhir adalah etika dan tanggung jawab social adalah esensi dalam jurnalisme. Kesembilan elemen ini kedudukannya sama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;Dalam “Kegusaran Tom Wolfe” yang ditulis Septiawan Kurnia, menurut Tom Wolfe, Jurnalisme sastrawi atau jurnalisme naratif (Janet Steele lebih sering memakai istilah ini), mempunyai empat hal yang membedakannya dari jurnalisme konvensional, 1. Memakai konstruksi adegan per adegan. 2. Pencatatan dialog secara utuh. 3. Pemakaian sudut pandang orang ketiga. 4. Catatan yang rinci terhadap gerak tubuh, kebiasaan, dan pelbagai symbol dari status kehidupan tokoh dalam cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Genre ini, mungkin sebagian jurnalis melihatnya dengan penuh pesimisme namun bagi saya yang walaupun hanya mempelajarinya selama dua minggu, ini adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Real Journalism&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;Satu pesan yang paling saya ingat dari kursus ini adalah pesan Janet dan Andreas, "Temukan gaya kalian sendiri dalam menulis". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-113851364366656679?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/113851364366656679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/113851364366656679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2006/01/kursus-jurnalisme-sastrawi-ix-pantau.html' title='Kursus Jurnalisme Sastrawi IX-Pantau'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-113342958337947729</id><published>2005-12-01T01:27:00.000-08:00</published><updated>2005-12-01T01:57:55.986-08:00</updated><title type='text'>Istirahat Siang Bersama Evaristo</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sekelumit kisah keh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;idupan seorang lelaki muda yang mencoba bertahan hidup di kamp pengungsian di Haliwen-Atambua kabupaten Belu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Panas terik matahari siang itu (17/11) serasa membakar sekujur tubuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/1600/DSC00077.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/200/DSC00077.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;etel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;h berteriak memberi arahan sejak pagi, tenggorokan saya terasa kering, sayapun melangkah menuju s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ebuah ru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;mah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sederhana yang terletak ditepi jalan samping stadion, rumah berdinding bebak, beratap se&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ng itu be&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;rukuran kecil dan sudah agak miring hampir bisa dikatak mirip gubuk, di depannya terdapat dua pohon uk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;an kecil namun cukup rindang, pohon sirsak dan satunya lagi saya kurang yakin jenisnya, dibawahnya tumbuh beberapa rumpun bunga yang sengaja ditanam pemiliknya untuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;memperindah taman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; rumah sederhana itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Diteras rumah itu terdapat seb&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;uah bangku kayu yang kaki-kakinya langsung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; ditancapkan ke tanah, melihat suasana yang cukup rindang itu saya memutuskan untuk beristirahat sejenak, Yeani, Jhon, Dhanie dan Edu masih terus bersema&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ngat mengawasi aktifitas &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;masyarakat penghuni kamp Haliwen yang akan pindah ke Wesasuit. Ada 36 KK yang akan pindah siang itu, mereka adalah calon penghuni lok&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;asi pemukiman di Wesasuit-desa Kabuna sekitar 4 km jauhnya. Haliwen, terletak di pinggiran kota Atambua, ibu kota kab Belu-NTT. Saat ini di Haliwen masih terdapat ratusan keluarga warga eks Timor Timur yang mengungsi ke Timor Barat akibat konflik pasca jajak pendapat 1999 di bekas propinsi ke 27 Indonesia itu. Mereka menempati rumah-rumah darurat di dalam dan sekeliling stadion sepak bola milik pemkab Belu yang sejak selesai dibangun hingga kini belum pernah dipakai karena beralih fungsi sebagai tempat penampungan bagi pengungsi asal Timor Timur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saat menikmati istirahat yang singkat ditengah hiruk pikuk aktifitas bongkar kamp dan pengangkutan barang itu, saya dikejutkan o&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;leh kehadiran sesosok lelaki muda, dengan hanya bercelana jeans agak belel di bagian lutut, berwarna hitam dan tanpa baju, ia mengambil tempat duduk persis di samping saya, tanpa suara namun tersenyum ramah. “ Maun, rokok ini” tawar saya, sambil mengulurkan sebungkus rokok gudang garam filter kegemaran saya, Ia mengambil sebatang dan mengucapkan kalimat pertamanya “Terima kasih”. Selanjutnya kami berdua hanyut dalam kebisuan hanya asap rokok dari dua mulut yang terus mengepul. “ Saya tidak ikut”, ucapnya pelan tanpa ditanya. “Kenapa” Tanya saya, “ Biar kami di sini sa, kami belum beli tanah” jawabnya pelan seakan enggan melanjutkan pembicaraan soal hal itu, raut mukanya sedikit murung. Saya terdiam dan tidak bertanya lanjut lagi perihal pemidahan itu. Selang beberapa menit pandangan mata saya terhenti pada sebuah motor bebek yang diparkir di depan agak ke samping kiri rumah itu. Motor berwarna &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dasar hitam dengan les kuning yang sudah mulai pudar, di atas sadel motor itu ditaruh sebuah helm masker berwarna hitam agak kusam karena catnya yang terkelupas, “ Maun ojek ka” Tanya saya mencoba memulai percakapan dengan topik yang lain, “ Iya saya ojek, pake motor sendiri. Itu motor saya” jawabnya sambil menunjuk ke arah motor bebek merek smashnya itu, raut mukanya berubah penuh semangat seketika.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lelaki muda berkulit gelap ini berusia 21 tahun, sedikit berkumis dan janggut, namanya Evaristo Cardoso, “ Tapi orang biasa panggil saya dengan nama Aris”, akunya saat kami berkenalan. ia telah berkeluarga, isterinya bernama Helmina Bria, usianya lebih muda setahun, mereka telah dikaruniai seorang anak lelaki yang montok dan lincah, bernama Rendy “Tanggal 24 Nopember ini baru umur 9 bulan” kata Helmina sambil menggendong buah hatinya itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setiap pagi jam tujuh, Evaristo keluar mengais rejeki dengan motor bebeknya, “ Motor ini saya kredit. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sekarang sudah punya dua motor yang satu itu warna merah, smash juga. Itu sudah lunas, waktu kredit saya bayar uang muka sebesar lima juta”, ceritanya. Waktu yang diperlukan Aris untuk melunasi kredit motor pertamanya itu selama setahun. “ Setelah itu saya ambil lagi yang satu ini, waktu itu, uang mukanya enam juta lebih. Motor yang lama saya kasi adik yang pake ojek”. Motor keduanyapun menurutnya sudah hampir lunas “ Sisa delapan bulan lagi”. Setiap bulannya Aris menyetor Rp. 240 000 ke dealer motor itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setiap harinya, ia mengaku tidak harus mengojek sehari penuh, “ Kadang keluar pagi jam tujuh, siang itu kalo sudah dapat 40 ribu tambah tanki ful, saya istirahat nanti sore sekitar jam tiga atau empat begitu baru keluar lagi” aku Aris. Ia mengaku tanki motornya membutuhkan bensin seharga 20 ribu rupiah agar bisa penuh, sehingga menurutnya dalam sehari rata-rata ia bisa mendapat 60-80 ribu di luar biaya bensin. “Kalo muku (berusaha sekuat tenaga dan serajin mungkin-red) kita bisa dapat sampai 100 ribu”. Namun menurutnya lagi, “ Itu tergantung penumpang juga e..kalo pas hari raya itu bagus, juga kalo kita punya kenalan banyak itu kita bisa dapat banyak juga, karena sekarang ini orang mau naik ojek itu kalo dia punya kawan atau keluarga sa,”. Dari penghasilan bersihnya selama sehari sebagian ia pake untuk memenuhi kebutuhan rum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ah tangganya, sebagiannya lagi, “Saya simpan” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ia biasanya mangkal di pangkalan ojek Haliwen, jalurnya pun tidak tentu, tergantung tujuan pemakai jasa ojek, “ Kalo pi Atambua &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/1600/edisi_desember.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2849/1490/200/edisi_desember.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;rifnya tiga ribu rupiah, tapi kalo anak sekolah seribu, kadang ada yang kasi lima ratus, tapi ada juga yang kasi d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; ribu”, jelasnya soal tarif. Ia mengaku cukup mengerti jika yang menumpang adalah pelajar, “Kan dong belum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; bisa cari uang e..jadi kita mengerti sa…” sambungnya sambil tertawa pendek. Tak terasa perbincangan kami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; terus memanas ditengah keramaian siang itu, seakan tak peduli dengan aktifitas mereka yang akan pindah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Saya kepingin da&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ri hasil ojek ini nanti setelah ditabung dan cukup nanti saya pake beli motor , bukan kredit tapi kontan”, akunya soal rencananya ke depan. “ Bagaimana dengan tempat tinggal, apakah maun akan tetap di kamp ini”, Tanya saya mencoba untuk mengetahui pikirannya tentang rencana masa depan keluarganya, namun tak ada jawaban pasti yang bisa didapat dari mulutnya. Bagi Aris dan mungkin masih banyak sesamanya lagi rencana masa depa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;n mereka s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ederhana saja dan tidak perlu memikirkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sesuatu yang sangat jauh, cukup bagaimana mereka bisa hidup di hari esok. &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;@volkz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-113342958337947729?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/113342958337947729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/113342958337947729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2005/12/istirahat-siang-bersama-evaristo.html' title='Istirahat Siang Bersama Evaristo'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-112729116244868529</id><published>2005-09-21T01:21:00.000-07:00</published><updated>2005-09-26T02:58:08.590-07:00</updated><title type='text'>Panti Asuhan Sola Gracia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Panti asuhan Sola Gracia terletak di desa Dualaus Kecamatan Lakaritirai kab Belu, hingga kini telah menampung 52 anak yatim-piatu dan tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Beratap daun gebang, berdinding bebak namun tidak rapat, berlantaikan tanah, tak berjendela, pintunya pun terbuat dari rangkaian bebak (pelepah gebang-red), lebih mirip gubuk dibanding rumah layak huni terletak ditengah-tengah kamp Lakafehan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Jika kita melintasi ruas jalan utama ke Atapupu tepatnya di wilayah desa Dualaus, disebelah kiri jalan sekitar 40 meter dari SDK Lakafehan terlihat sebuah papan hitam yang menunjukan lokasi sebuah panti asuhan. Panti Asuhan itu bernama Sola Gracia. Mungkin dalam benak hampir semua orang yang mendengar kata panti asuhan maka yang terlintas dalam alam pikirnya adalah sebuah kompleks dengan beberapa gedung di dalamnya, berpagar, mempunyai sarana-sarana bermain anak-anak dll. Hal ini juga yang saya alami ketika memutuskan untuk meliput soal keberadaan panti asuhan Sola Gracia ini. Namun kenyataan yang ditemui justeru bertolak belakang dengan apa yang saya dan mungkin kebanyakan orang bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan itu beratapkan daun gebang, dindingnya dari bebak. Di pintu pagarnya terpancang papan nama panti. Halamannya bersih dari rumput liar. Ternyata ada dua bangunan kecil satunya adalah kantor dan juga rumah tinggal pemilik dan pengelola panti, satunya lagi digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat belajar anak-anak panti asuhan Sola Gracia.&lt;br /&gt;Saat kami tiba, disambut bapak Jose Soares, ketua pembina yayasan Sola Gracia. Bapak berumur 49 tahun ini berasal dari Liquica-Timor Timur yang turut mengungsi ke Timor Barat bersama ratusan ribu warga Timor Timur pasca konflik jajak pendapat 1999 lalu. Panti asuhan Sola Gracia bernaung dibawah yayasan ini.&lt;br /&gt;Kamipun dipersilahkan duduk, setelah memperkenalkan diri dan mengisi buku tamu, Nato menceritakan maksud kedatangan kami siang itu, sedangkan saya asyik mengamati keadaan sekeliling panti itu, bangunan panti terdiri dari tiga bagian, pertama ruang tamu merangkap ruang belajar dan ruang makan penghuni panti, kedua kamar tidur anak-anak perempuan dan ketiga kamar tidur anak laki-laki. Di ruang tamu yang multi fungsi itu terpampang Peta Indonesia, disebelahnya digantung sebuah papan tulis tepat dibawah papan tulis itu ada sebuah meja kayu yang cukup besar yang digunakan sebagai meja belajar diatas terdapat sebuah wadah plastic berisi air dengan seekor ikan di dalamnya, pada bagian dinding yang lain ada peta sederhana desa Dualaus dan bagan struktur pengurus yayasan Sola Gracia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca panas menjadi tak terasa selain karena saya lebih berkonsentrasi pada keadaan sekliling ruang juga karena perlindungan dari atap daun gebang dan semilir angin yang masuk melalui celah dinding bebak panti, dalam hati saya bertanya-tanya bagaimana tidur anak-anak ini saat musim hujan tiba? Namun pikiran itu tak bertahan lama, karena acungan tangan dari seorang gadis cilik mengajak bersalaman dan mencium tangan saya. Gadis cilik bernama Duarda Da Costa, ia berumur 8 tahun, saat ini duduk di kelas satu SD I Fatu Atis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 2004&lt;br /&gt;Sesuai akte notaris nomor 37 tertanggal 28 Juli 2004 yang disahkan di pengadilan negeri klas IB Atambua pada tanggal 03 Agustus 2004, Panti asuhan Sola Gracia berdiri pada tanggal 27 juni 2004. Menurut Jose Soares, pendirian panti ini awalnya merupakan ide dari putri sulungnya, Loumesa Hari Soares. Saat itu ia masih kuliah di STT Pryago Jakarta, sambil kuliah Loumesa juga bekerja di Yayasan Mahanaem pada divisi anak jalanan, “ Waktu dia kasi tahu lewat telepon “ tutur Jose, Iapun menyetujui ide itu karena menurutnya ide pendirian panti ini sesuai dengan dorongan hati nuraninya melihat kondisi pendidikan anak-anak eks pengungsi, “ Mereka ini hidup susah ketika mengungsi ada yang tidak membawa apa-apa, sebagian besar petani penggarap, tinggalpun menumpang ditanah orang, nah apalagi dengan pendidikan anak-anak mereka”, lanjut Jose dengan nada tanya. Ia bersyukur karena sekalipun mengungsi namun masih tetap menerima gaji sebagai seorang anggota polisi sehingga ia bisa membiayai anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Dengan keyakinan inilah, setelah Loumesa menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2004 lalu, Ia mulai mengurus proses pendirian panti ini, sebagai modal awal ia meminjam uang dari bank sebesar 18,5 juta rupiah. Uang itu digunakan biaya administrasi pengurusan akta pendirian panti asuhan Sola Gracia, pembelian tanah untuk bangunan panti dan modal awal pendirian panti (untuk pendirian panti ini dalam akta notaris, modal awalnya sebesar 10 juta rupiah) hingga kini ia masih terus mencicil pengembaliannya dengan memotong gaji setiap bulan. Karena ingin lebih berkonsentrasi pada pengelolaan panti di samping tekanan darah tinggi yang dideritanya, ia memutuskan untuk mengajukan permohonan pension dini, namun hingga kini permohonannya belum dikabulkan. Awal berdirinya panti ini di Leosama karena sebelumnya mereka menetap di desa Leosama, saat itu jumlah anak asuh sebanyak enam orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri diatas tanah sendiri&lt;br /&gt;Dengan modal awal panti tersebut, Jose dan anaknya mencari sebidang tanah untuk lokasi baru panti asuhan Sola Gracia. Di desa Dualaus mereka mendapatkan sebidang tanah dengan luas 30x30m seharga tiga juta rupiah. Di atas tanah ini dua bangunan sederhana, secretariat merangkap rumah tinggal Jose sekeluarga dan asrama panti asuhan Sola Gracia.&lt;br /&gt;Saat ini untuk perbaikan bangunan panti telah dibangun pondasi namun belum dilanjutkan karena kendala biaya, “ Itu pak, pondasi sudah dibangun ada empat ruangan rencananya, ruang tidur dua ruang, ruang makan dan ruang belajar”’ ujar Jose sambil menunjuk pondasi yang terletak di halaman depan secretariat panti.&lt;br /&gt;Anak usia sekolah yang ditampung di panti asuhan Sola Gracia saat ini berjumlah 52 orang, 35 anak perempuan dan 17 anak laki-laki dari maslok maupun eks pengungsi. Tingkat pendidikan merekapun bervariasi, dari kelas satu SD hingga kelas tiga SMP. “ Hanya satu anak saja yang duduk di kelas tiga SMP, yang lainnya masih duduk di bangku SD, sebenarnya kami belum bisa tampung yang tingkat SMP karena keterbatasan sumber daya, namun karena waktu kedua orang tuanya sudah meminta untuk diterima ya…kami mau bilang apalagi, apalagi kedua orang tuanya ini sudah tergolong lansia”, ungkap Loumesa Hari Soares (22 tahun) yang mendapatkan gelar sarjana theologinya tahun lalu ini sambil sesekali mengusap rambutnya. Selain itu panti asuhan ini juga melakukan bimbingan mental dan kerohanian kepada 80 anak terlantar dua kali setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat criteria dasar&lt;br /&gt;Penerimaan anak asuh di panti asuhan Sola Gracia yang beralamat di RT 01/RW 02 desa Dualaus ini didasarkan pada empat criteria dasar, yakni anak tersebut adalah anak yatim piatu, yatim atau piatu saja dan yang terakhir yang orang tuanya kurang mampu. Menurut Jose banyak diantara anak-anak panti asuhan ini kehilangan orang tuanya saat konflik pasca jajak pendapat di Timor Timur 1999 lalu. Ada yang orang tuanya hilang tak tahu ke mana ada juga yang orang tuanya mati terbunuh. Diantara ke 52 anak itu juga ada yang kedua orang tuanya masih ada namun karena kurang mampu akhirnya mereka menyerahkan anaknya untuk diasuh di panti.&lt;br /&gt;Selain empat criteria dasar tersebut diatas, penyerahan anak untuk diasuh harus disetujui dan dilakukan sendiri oleh orang tua atau wali anak itu, tentunya juga harus disetujui oleh anak itu sendiri “ Setelah orang tuanya datang mendaftar, kita melakukan wawancara dengan orang tua dan si anak, ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang kehidupan keluarga, motivasi mereka dan yang lain, setelah itu kita seleksi baru meminta persetujuan dan kerelaan dari orang tuanya”, jelas Loumesa.&lt;br /&gt;Ketika disinggung apakah ada pembedaan dalam penerimaan anak asuh, Loumesa menjawab dengan tegas bahwa penerimaan anak asuh di panti asuhan yang diketuainya itu tidak membeda-bedakan anak baik itu berdasarkan agama, suku, ras dan golongan. “ Kami di sini menghargai keyakinan dan agama setiap anak, memang sampai saat ini masih ada orang yang berprasangka bahwa kami hanya menerima anak yang agama Kristen Protestan saja, pada hal di sini ada juga yang agama Katholik, kami juga punya pengasuh dan pembimbing rohani bagi anak-anak yang beragama Katholik, setiap kali sembahyang sebelum makan anak-anak selalu berdoa bergiliran begitu juga kalo pas hari minggu setiap pengasuh dan pembimbing rohani mempersiapkan anak asuhnya untuk pergi beribadah, yang Katholik pergi ke kapela, yang Protestanpun begitu. Jadi sekali lagi kami mau bilang bahwa kami tidak membeda-bedakan anak-anak berdasarkan agamanya”ujar Loumesa tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersifat mendukung&lt;br /&gt;“Jadi begini pak, ke 52 anak yang ditampung di panti ini kami berikan bimbingan tambahan sesuai pelajaran yang didapat di sekolah mereka, contohnya membimbing mereka menyelesaikan PR, selain itu panti juga menanggung semua keperluan sekolah mereka seperti biaya, pakaian serangam juga makan minum sehari-hari mereka”, aku Jose.&lt;br /&gt;Selain anak-anak dibimbing untuk lebih memahami pelajaran yang sudah didapat di sekolah, mereka juga diberi latihan ketrampilan seperti membuat bunga dari sedotan bekas minuman dan bercocok tanam sayur-sayuran. “ Pernah satu kali mereka mencoba membuat kebun sayur, setelah ditanam dan tumbuh, tau-tau itu sayur dong tidak jadi”, cerita Loumesa sambil tertawa kecil. Sayapun berpikir walaupun gagal namun anak-anak ini mau berusaha, satu hal yang kadang sulit ditemui dikalangan orang dewasa, masih banyak orang yang hanya menunggu dan menunggu uluran tangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber dana&lt;br /&gt;Saat ini panti asuhan Sola Gracia belum mempunyai sumber dana yang tetap untuk meyokong kegiatan panti, menurut Loumesa saat ini mereka masih mengandalkan sumbangan-sumbangan dari teman-temannya di Jakarta dan orang-orang yang peduli terhadap apa yang mereka perjuangkan. Selain itu gaji sang ayahpun tak luput dalam memberikan andil bagi operasional panti ini setiap bulannya. “ Kami sudah mencoba memasukan proposal ke beberapa lembaga namun hingga kini belum ada jawabannya”, aku Jose dengan senyum tertahan. “Mudah-mudahan”, lanjutnya “ Dengan kunjungan pejabat dari bagian social propinsi pada lima september lalu membawa hasil yang positif ke depan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dukung&lt;br /&gt;Keberadaan panti asuhan di desa Dualaus ini menurut Jose Soares, juga didukung oleh masyarakat sekitar, pemerintah desa dan pihak gereja, “Waktu mau pendirian panti ini mereka setuju, semua pihak pemerintah desa, dusun, pihak gereja baik Katholik maupun Protestan ikut tanda tangan dalam rekomendasi ini”, ujarnya sambil menunjukan lembaran arsip berisikan rekomendasi tersebut. “ Begitu juga dengan pemerintah kabupaten Belu”, lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;Pada tanggal 11 Agustus lalu panti Sola Gracia bersama bagian panti social propinsi melakukan sosialisasi kepada masyarakat di desa Dualaus, “ Yang hadir waktu itu sekitar 100 orang, dari unsur pemerintah, adat, gereja maupun masyarakat biasa. Ini membuktikan bahwa secara umum masyarakat mendukung keberadaan panti ini”, lanjut Jose.&lt;br /&gt;Menurut Pedro Soares (37 th), sebagai orang yang merasakan dampak langsung dari kehadiran panti asuhan ini ia senang dan bersyukur sekali karena kekurangmampuannya dalam menyekolahkan anaknya bisa terbantu. “ Ha’u senang e… tamba ajuda haukan oan”, ujarnya bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka duka di panti&lt;br /&gt;Seperti halnya para orang tua, anak-anak penghuni panti asuhan juga merasa senang bisa berada di panti ini, Januario Masquita (15 th) siswa SMP kelas III ini mengaku, sekarang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk belajar, “ Saya rasa beda sekali dengan dulu waktu belum masuk, kalo dulu pulang sekolah itu malamnya saya hanya pergi nonton atau bermain saja, sekarang di panti kalo malam kami kerja PR dan belajar, saya pung nilai juga makin baik”, ungkap anak yang bercita-cita menjadi polisi ini sedikit malu-malu karena tidak menyangka akan diwawancarai saat itu. Begitu juga dengan Adelia Maria yang sehari-harinya membantu memasak dan mencuci di panti ini, mengaku setiap malam ia kebagian mengajarkan abjad, membaca dan menulis bagi anak asuh yang duduk di kelas satu SD. “Ada susahnya juga ada senangnya kadang lucu-lucu juga” ujar remaja putri ini malu-malu. Remaja yang hanya tamat SD ini mengaku senang membantu di panti karena senang dengan anak-anak selain itu ia juga kenal akrab dengan Jose Soares sekeluarga. Sedangkan Duarda da Costa, siswi kelas satu SD ini tidak berkomnetar namun menunjukan kepandaiannya dalam menghafalkan kosa kata bahas inggris yang dipalajarinya selama setahun berada di panti asuhan Sola Gracia, “…..yellow kuning, red merah, blue biru…..eye mata, ear telinga,…” lafalnya sambil tersenyum malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimis dalam keterbatasan&lt;br /&gt;Walaupun sudah menangani 52 anak di dalam dan 80 anak di luar. Panti asuhan Sola Gracia ini bisa dikatakan bergerak dengan segala keterbatasan baik sumber daya manusianya maupun sarana dan prasarana pendukung. Saat ini pihak panti memiliki empat pengasuh, sedangkan sarana prasarana pendukungnya cukup memprihatinkan, sebagai contoh kamar tempat anak-anak ini beristirahat untuk melepas lelah berisi dua ranjang sederhana dari bahan bamboo dan kayu satunya yang berukuran besar dibuat bertingkat menurut taksiran saya bisa memuat 10-20 anak sedangkan yang satunya kecil bisa memuat 4-5 anak, itu kalau tidak berdesak-desakan. Begitu juga dengan sarana belajar, hingga kini belum ada perpustakaan, hanya ada satu papan tulis dan dua meja kayu.&lt;br /&gt;Namun bagi Loumesa dan tiga temannya dibawah pembinaan ayahnya sendiri, segala kekurangan itu bukan berarti semangat mendidik, mengasuh, membantu dan melayani anak-anak menjadi surut, mereka bertekad untuk terus melanjutkan pelayanan ini sambil terus berdoa dan berharap kepada Yang Maha Kuasa, “Kami bercita-cita suatu saat nanti panti asuhan Sola Gracia juga bisa membuka cabang di Timor Leste”, ujar Jose Soares menerawang jauh ke langit siang itu.&lt;br /&gt;Dalam segala keterbatasan, mereka mencoba semampu mungkin memenuhi hak asasi anak-anak. Dalam alam pikir saya, terlintas mungkin sebaiknya Negara atau semua orang tua yang selama ini melalaikan pemenuhan hak asasi anak datang dan belajar di panti asuhan Sola Gracia ini.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;@volk's&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-112729116244868529?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/112729116244868529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/112729116244868529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2005/09/panti-asuhan-sola-gracia.html' title='Panti Asuhan Sola Gracia'/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15910996.post-112528959746871127</id><published>2005-08-28T21:18:00.000-07:00</published><updated>2005-08-28T21:33:11.626-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lahan Tiga Are Untuk  Menghidupi &lt;br /&gt;Sebelas Anggota Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“ Kalau untuk jualan biasanya kami membawa sayur-sayur ini kepasar Oeba&lt;br /&gt;sekitar jam 12 malam “&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sore itu (27/10), waktu terasa berhenti di sebuah bilik yang terletak di kamp Noelbaki kecamatan Kupang Tengah. Beranda rumah berukuran sekitar tiga kali lima meter itu dipenuhi tumpukan-tumpukan sayur. Clarina Fernandez (41 thn) sedang bekerja menyortir sayur-sayuran untuk dimasukan kedalam karung sambil menggendong anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Terlihat tangannya begitu cekatan memisahkan sayur-sayuran yang baik dan yang rusak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Satu karung harganya Rp. 30.000 sampai Rp. 50.000 “, ujar wanita sembilan anak ini. “ Biasanya satu kali panen kami dapat Rp. 100.000, tapi itu harus menunggu selama tiga minggu,” sambungnya. Dengan pendapatan Rp. 100.000 pertiga minggu, mama Clarina Fernandez, Suaminya dan sembilan orang anak  yang diantara mereka sudah sekolah, melewati hari-hari mereka dengan pertanyaan tunggal : apa masih bisa makan esok hari ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan dengan sembilan anak ini telah bermukim di lokasi ini sejak tahun 1999, namun mereka masih beruntung karena sudah memiliki rumah sendiri hasil dari bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR-red) yang dilakukan oleh pihak Nakertrans beberapa waktu lalu, walaupun rumah bebak dan berlantaikan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalau untuk jualan biasnya kami membawa sayur-sayur ini kepasar Oeba (Salah satu pasar di Kota Kupang-red) sekitar jam 12 malam, setelah jualan laku kami pulang untuk ke kebun ,“ ujar wanita 41 tahun ini. Lanjutnya untuk menanam sayur kami menyewa lahan orang selama tiga bulan dengan harga Rp. 150.000, dengan luas lahan tiga are.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk proses menanam dan panen bisanya mereka lakukan secara bersama-sama baik Bapak, Ibu maupun Anak-anak dan itupun dilakukan kalu sudah selesai sekolah.&lt;br /&gt; “ Untuk tanam biasanya kami lakukan bersama-sama, anak-anak biasa bantu kalau sudah pulang sekolah dan hanya membutuhkan waktu satu hari untuk tanam, mungkin karena lahannya kecil, sementara untuk panen bisanya kalau sayur  itu sudah berusia tiga minggu baru bisa panen.“ Lanjutnya sayur yang kami tanam itu ada sawi bangkok hijau dan sayur putih,” ujar mama Clarina sambil menggendong anaknya yang baru berusia tujuh bulan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya untuk saat ini ya.. kami hanya kasi pupuk dan bersihkan rumput-rumput, kalau untuk pupuk kami biasa pake pupuk urea dengan pupuk yang lain supaya itu sayur tumbuh subur,” lanjutnya tapi yang ini (sambil menunjukan sayur yang agak layu dan kecil) terpaksa kami potong karena baru taruh pupuk tapi kena hujan jadi diapung daun layu,” ujar mama Clarina sembari menetek anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya soal penghasilan yang didapatkan, jika digunakan untuk keperluan keluarga mama Clarina fernandez megatakan, “ Mau bilang cukup ya … dibuat cukup saja karena uang dari penghasilan itu harus untuk biaya anak-anak yang lagi sekolah belum lagi untuk kebutuhan setiap hari. Apalagi usaha ini baru kami lakukan tiga bulan ini jadi hasilnya belum terlalu baik, “ ucap wanita berdarah campuran Atambua dan Lospalos ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupannya yang serba pas-pasan keluarga ini masih memikirkan nasip dan kehidupan anak-anaknya dikemudian hari. Karena itu walaupun hanya sebagai seorang petani dan pedagang sayur, mereka masih bisa menyekolahkan anak-anak mereka. “ Saya punya anak ada sembilan, yang dua sekarang sudah SMA dan sekarang ada sekolah dikupang di SMA Yayasan Purnama Kasih, kemudian ada yang SMP dan ada yang  sementara ini sekolah di SD Inpres Noelbaki,” ungkap mama Clarina sambil terus mempersiapkan jualannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya soal keinginan untuk kembali ke Timor Leste mama Clarina sambil tersenyum mengatakan bahwa mungkin tidak akan kembali kesana, “ Kalau rencana kami, kami akan menetap disini dan untuk lihat keluarga pasti kami akan kesana kalau sudah ada uang karena keluarga kami ada di Timor Leste. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Harapan kami ya pemerintah tetap memperhatikan kami karena kami juga adalah anak-anak mereka, sehingga tidak ada pembedaan lagi antara kami sebagai masyarakat lokal baru dan masayarakat lokal lama dan untuk romo serta pastor agar selalu mendoakan kami agar kami tetap sehat sehingga bisa terus berusaha, ” ujar mama Clarina ketika ditanya soal harapannya, sambil terus mempersiapkan jualannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas pundak mama Clarina Fernandez dan suaminya seluruh persoalan hidup keluarganya dan masa depan kesembilan anak mereka bertumpuk dan menjadi suatu realitas hidup yang harus dihadapi setiap detik. @Theo.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15910996-112528959746871127?l=volkes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/112528959746871127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15910996/posts/default/112528959746871127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://volkes.blogspot.com/2005/08/lahan-tiga-are-untuk-menghidupi.html' title=''/><author><name>Olkes Dadi Lado</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12891326745526290257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ZS5x6wwzgyo/SWQRqbj3RuI/AAAAAAAAABE/7Yw4-hVxyHY/S220/Olkes.jpg'/></author></entry></feed>
